Share

Bab 29 : Jangan Pergi

Author: Amoora bee
last update publish date: 2026-07-13 20:57:05

“Mama... aku harus ke sana.” Air mata Jenny luruh begitu saja, mengaburkan pandangannya. Seluruh persendian tubuhnya bergetar hebat. “Mama—”

 

“Jenny, tenang dulu.” Rosa langsung mencengkeram kedua bahu Jenny, meremasnya kuat-kuat seolah ingin menarik menantunya kembali ke realitas. “Orang-orang Mama sudah bergerak ke lokasi. Kita tunggu kabar di sini dulu.”

Jenny tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa begitu sesak. Pria yang baru saja mulai membukakan ruang di hatinya, mengapa harus mendadak dihadapkan pada situasi hidup dan mati seperti ini? bayangan-bayangan buruk yang terus berputar di kepalanya.

 

“Mama... aku enggak bisa kalau cuma duduk diam dan menunggu di sini. Aku mohon, Ma,” isak Jenny dengan suara yang tersedat.

 

Rosa menatap Jenny dengan pandangan mata yang sarat akan kepiluan. Bendungan air mata di kelopak mata wanita paruh baya itu akhirnya pecah juga. Sebagai seorang ibu, ia meratapi nasib putra semata wayangnya dan dicekam ketakutan yang teramat besar. Namun di sisi lain, ia juga tidak sanggup membiarkan menantu yang disayanginya ikut melangkah masuk ke dalam zona bahaya. Ia tidak ingin kehilangan keduanya sore ini.

 

“Jenny... dengerin Mama dulu. Di sana itu sangat berbahaya. Pabrik itu penuh dengan bahan kimia, Nak,” Rosa menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Mama bakal hancur kalau kamu juga sampai terluka di sana.”

 

“Tapi, Ma, aku akan—” Kalimat Jenny mendadak menggantung di udara.

 

Sepasang kelopak mata Rosa mendadak bergerak goyah, pandangannya menggelap. Kedua tangan wanita paruh baya itu seketika bertumpu lemas pada pundak Jenny.

 

“Mama? Mama kenapa?!” pekik Jenny. Detak jantungnya bertalu semakin kacau saat merasakan tubuh Rosa limbung ke samping.

 

Jenny dengan sigap menuntun tubuh Rosa untuk bersandar di ujung sofa panjang. Ia menggenggam erat telapak tangan mertuanya yang mendadak berubah menjadi teramat dingin. Wajah anggun Rosa kini tampak pucat pasi, diiringi oleh ritme napas yang memburu pendek dan sesak.

Belum sempat Jenny mencerna kabar mengejutkan tentang suaminya, sekarang ia harus menghadapi sang ibu mertua yang sedang dilanda serangan panik ekstrem akibat tekanan mental. Jenny tahu betul, Rosa memiliki riwayat medis yang rentan ambruk setiap kali menghadapi situasi darurat.

 

“Mama... lihat aku. Lihat Jenny, Ma,” panggil Jenny, menepuk lembut pipi Rosa untuk mengembalikan kesadarannya. Ia mengusap sisa keringat dingin di wajah Rosa, mencoba menyalurkan kehangatan dari telapak tangan sendiri.

 

“Jen... maafkan Mama. Mama malah semakin mempersulit keadaan kamu sekarang,” bisik Rosa dengan suara yang teramat lemah.

 

Jenny menggelengkan kepalanya cepat sembari menyeka air matanya. “Enggak, Ma. Enggak sama sekali.” Jenny meremas jemari mertuanya dengan erat, sementara di dalam batinnya, ia tidak berhenti merapalkan doa keselamatan untuk suaminya.

 

“Selamat malam, Bu Rosa,” sapa seorang pria tegap yang merupakan orang kepercayaan keluarga William, melangkah masuk ke ruang tengah. Ia segera membuka sebuah tablet dan memperlihatkan rekaman dari arah gerbang utama pabrik. “Kita baru saja mendapatkan informasi valid. Pak Xander tiba di lokasi pabrik pada pukul tiga lebih sepuluh menit sore. Dan ledakan kebakaran terdeteksi terjadi pada pukul empat lebih dua puluh lima menit.”

 

Jenny memejamkan matanya rapat-rapat, menahan napasnya yang naik-turun setelah melihat visual dari layar CCTV tersebut. Di sana terlihat jelas siluet tubuh Xander dan Ryan yang melangkah masuk ke dalam area pabrik yang memang masih dalam tahap uji coba operasional.

 

“Saat ini seluruh tim pemadam dan penyelamat telah dikerahkan secara maksimal di lapangan. Namun, karena di dalam area gudang terus-menerus terjadi ledakan susulan, tim medis mengalami kesulitan besar untuk melakukan evakuasi. Proses pemadaman masih terus diupayakan,” sambung pria itu.

 

Rosa menatap lekat wajah menantunya. Ia mencoba menegakkan punggung, berusaha menampilkan raut tegar di depan Jenny. “Jenny... lihat Mama,” pintanya sembari menangkup sepasang pipi pucat Jenny.

 

“Xander itu pria yang kuat. Dia enggak akan pernah tega pergi meninggalkan kita berdua di sini. Kamu harus percaya sama suamimu.”

 

Jenny hanya bisa terdiam, air matanya terus mengalir membasahi pipi tanpa bisa dihentikan. Kepala Jenny terus memutar ulang kalimat terakhir Xander di dalam ponselnya sore tadi; pria itu bilang akan pulang sedikit terlambat malam ini, bukan pergi menghilang seperti ini.

 

“Ma... tolong izinkan Jenny ke sana. Jenny harus mencari Xander.”

 


Setelah perdebatan yang teramat panjang dan menguras energi, mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat bersama menuju lokasi kejadian. Di sepanjang perjalanan di dalam mobil, keheningan di antara mereka hanya diisi oleh jalinan doa dan harapan yang membumbung tinggi.

 

Begitu roda mobil berhenti di depan gerbang pabrik, Jenny melangkah keluar dan langsung terpaku menatap kekacauan di hadapannya. Kobaran api di beberapa titik bangunan masih tampak menyala merah, melesatkan asap pekat ke udara. Sistem penerangan area yang mati total membuat proses pencarian tim penyelamat menjadi berkali-kali lipat lebih sulit.

 

Jenny melangkah lebar, mencoba menerobos garis polisi yang terpasang. Meskipun beberapa petugas keamanan sempat menahannya, Jenny terus memberontak, menyelinap di antara kerumunan dibantu oleh asisten pribadi Rosa yang mengamankan jalannya.

 

“Bu Jenny, kita cuma bisa memantau sampai di titik ini saja. Terlalu berbahaya kalau melangkah lebih dekat ke area dalam, potensi ledakan susulan masih sangat tinggi,” peringat asisten Rosa sembari menahan lengan Jenny.

 

Jenny sama sekali tidak menggubris peringatan tersebut. Pandangan matanya menyapu beberapa korban yang baru saja berhasil dikeluarkan oleh tim medis. Jemarinya mencengkeram erat sebuah tabung oksigen kecil portabel yang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga.

 

“Kenapa... kenapa ada anak-anak kecil di dalam area pabrik ini, Pak?” tanya Jenny, dadanya berdenyut pilu saat melihat beberapa anak kecil terbaring lemas dengan masker oksigen melekat di wajah mereka.

 

Pria di sampingnya ikut melemparkan pandangan miris ke arah para korban anak-anak tersebut. “Di balik dinding belakang pabrik ini sebenarnya masih berupa lahan kosong, dan area itu sering dijadikan tempat bermain bola oleh anak-anak warga sekitar. Kemungkinan besar, saat ledakan pertama terjadi, mereka panik dan malah terjebak di dalam koridor belakang gudang.”

 

Jenny tidak memberikan respon lagi. Di dalam benaknya saat ini, nama Xander William seolah bergaung tanpa henti. Xander... kamu di mana? Kamu sendiri yang bilang kalau tugas utamamu di dunia ini adalah jaga aku. Tapi kenapa sekarang kamu malah menghilang gini? Aku beneran bakal marah besar kalau kamu sampai berani mengingkari janji kamu sendiri, batin Jenny sembari terus melangkah hati-hati memutari puing bangunan.

 

Langkah kaki Jenny mendadak terkunci rapat di atas tanah. Tubuhnya menegang kaku. Ia langsung berjongkok, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih selembar kain panjang yang tergeletak di atas tanah yang menghitam. Itu adalah dasi hitam milik Xander—dasi yang tadi pagi sempat ia rapikan posisinya di kerah kemeja sang suami. Ujung kain dasi itu tampak koyak dan kotor, menyisakan bau hangus yang menyengat. Isi kepala Jenny seketika menjadi semakin berantakan.

 

Kenapa dasi ini bisa tergeletak di sini? Xander... please... aku janji aku bakal langsung membalas seluruh perasaan kamu sekarang juga. Tapi aku mohon, kamu harus kembali ke aku sekarang juga.

 

Jenny akhirnya terduduk lemas di atas tanah, persendian kakinya benar-benar kehilangan kekuatan untuk kembali melangkah. Asisten Rosa sudah berkali-kali membujuknya untuk kembali ke dalam mobil sembari menunggu tim evakuasi menyelesaikan tugas, namun Jenny tetap bergeming, menggelengkan kepala menolak. Matanya terus melirik ke setiap sudut bangunan yang apinya mulai berhasil dipadamkan perlahan. Ia bertahan di sana meskipun dadanya sendiri mulai terasa sedikit sesak akibat bauran asap yang menggantung di udara.

 

“Ada yang keluar dari koridor barat! Siapkan tandu medis sekarang!”

 

Sebuah teriakan lantang dari salah satu anggota tim penyelamat di barisan depan seketika memecah ketegangan. Sorot lampu senter berdaya tinggi langsung diarahkan lurus ke satu titik yang sama.

 

Jenny spontan mendongak, memaku pandangannya pada arah sorot lampu tersebut. Di antara sisa kepulan asap yang menipis, sesosok pria bertubuh tegap tampak berjalan keluar dengan langkah yang tertatih-tatih. Kemeja putih yang dikenakannya kini telah berubah menjadi hitam pekat akibat asap. Wajah tampannya dipenuhi oleh noda hitam, dan napasnya tampak memburu berat.

 

Di kedua lengan kekarnya, pria itu tampak mendekap erat tubuh dua orang anak kecil yang pingsan. Tubuh mungil kedua anak itu dibalut rapat menggunakan jas mewah milik sang pria untuk menghalau panas.

 

“Xander...!” teriak Jenny, suaranya melengking membelah malam. Ia langsung bangkit berdiri dan berlari kencang menghampiri sosok pria yang mulai tampak kehilangan keseimbangan tubuhnya tersebut.

 

Xander menolehkan kepalanya perlahan, memaku pandangan matanya yang lelah pada sosok Jenny yang tengah berlari ke arahnya.

 

Sebuah senyuman tipis terukir di belahan bibirnya. “Aku... aku sudah bilang, kan? Aku bakal pulang malam.”

 

BRUK!

 

Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan seutuhnya, tubuh kekar Xander mendadak ambruk, jatuh kehilangan kesadaran tepat di hadapan Jenny.

 

“Xander...!” pekik Jenny histeris.

 

Jenny dengan gerakan kilat langsung berlutut, menyandarkan kepala dan tubuh bagian atas pria itu di atas pangkuannya sebelum terbentur keras ke tanah. “Xander! Buka mata kamu! Xander!”

Namun, tubuh tegap di dalam dekapannya tetap bergeming dalam keheningan, sama sekali tidak memberikan respons apa pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 131 : Perintah Itu

    Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 130 : Pintar

    Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 129 : Tetap Santai

    Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 128 : Baru Permulaan

    “Sayang, permintaanmu enggak masuk akal.”Jenny langsung mengerucutkan bibirnya. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Kenapa enggak masuk akal? Kamu kan bisa melakukan apapun demi istri dan anakmu.”“Ya enggak mungkin bisa adopsi Koala, kalau kamu mintanya ikan, anjing, hamster atau apapun itu aku bisa usahakan. Kalau koala ya mana mungkin sih?” Xander berusaha menyadarkan logika Jenny yang mula tersesat.“Kamu enggak mau berjuang buat kita berarti.”Xander memijat pelipisnya. Baru beberapa menit matanya terbuka, tapi istrinya sudah mulai mencari masalah yang sangat tidak bisa dinalar. “Aku belikan boneka koala yang banyak.” Xander menyibakkan selimut, berpikir masalah sudah teratasi.“Aku mau yang asli, yang bisa dipeluk.”“Enggak bisa, Jenny Wong.”“Xander!” pekik Jenny tetap tak mau kalah. Ia pun sebenarnya juga tak paham mengapa pagi itu sangat ingin memelihara koala. Sebuah ide yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Pokoknya aku mau koala, titik!”Xander langsung

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 127 : Serba Salah

    Begitu tiba di kamar hotel, Jenny langsung menuju ke kamar mandi. Ia membersihkan diri jauh lebih cepat dari biasanya. Tidak sampai setengah jam, Jenny sudah keluar dengan piyama tidurnya.“Xander… aku capek,” rengeknya manja, lalu memeluk pinggang suaminya dari belakang.Xander yang sedang membongkar koper Jenny, langsung berhenti. Ia membalikkan badannya, memeluk Jenny dan mencium keningnya beberapa kali. “Ya udah ayo istirahat sekarang.”“Gendong…” bisik Jenny lirih, sambil menempelkan pipinya ke dada Xander.Xander terkekeh kecil. Dua hari terakhir kamarnya terasa begitu sepi, tetapi malam ini sudah kembali ramai oleh rengekan manja istrinya. Perlahan ia menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Jenny dan satu lagi menopang punggungnya, lalu mengangkat istrinya menuju ranjang.Ia merapikan rambut Jenny yang menutupi wajah. “Sayang, kamu kesini bukan karena berita gila itu kan?” tanya Xander demi memastikan kondisi istrinya.“Hah? Bukan lah!” Jenny mengerucutkan bibirnya, menahan kesa

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 126 : Suamiku Galak

    Bandara internasional cukup ramai siang itu.Jenny duduk sendirian di salah satu restoran, mengenakan setelan pakaian sederhana tetapi tetap terlihat mencolok. Kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, sementara tangannya sibuk menyendok makanan.“Itu Jenny Wong kan?” bisik seseorang.Beberapa orang di meja mulai ramai berbisik.“Iya.”“Beneran sendirian?”“Iya. Berarti benar dong berita yang beredar. Padahal menikahnya masih barusan.Seseorang diam-diam mengangkat ponsel dan mulai mengambil foto Jenny.Tak lama kemudian, sebuah unggahan muncul di media sosial.“Jenny Wong terlihat sendirian di bandara setelah muncul rumor. Benarkah rumah tangganya dengan pewaris tunggal William Grup bermasalah?”Foto Jenny yang sedang makan langsung menyebar dengan cepat. Komentar pun kembali berdatangan.“Kasihan banget.”“Kayaknya mereka benar-benar pisah.”“Mereka sudah jarang terlihat tampil bersama.”“Jangan-jangan sudah bercerai?!”Sementara orang-orang sibuk membuat kesimpulan sendiri, Jenn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status