LOGINSore hari menjelang gulita, Xander sudah menunggu di dalam tenda private area lokasi syuting. Pria itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening usai meneliti deretan laporan evaluasi yang masuk.“Pak Xander,” sapa Meta seraya melangkah masuk ke dalam tenda, diikuti oleh Jenny dan Sandra di belakangnya. “Proses syuting hari ini sudah selesai.”Xander menoleh dengan gerakan tenang. Namun, pandangannya seketika terkunci rapat pada sosok sang istri yang tampak lelah dan sedikit berantakan.Matanya melirik ke arah mata kaki Jenny yang memar dan terluka akibat goresan. Xander menghembuskan napas pelan, menahan pergolakan emosi di dadanya.“Bersihkan diri kalian dulu, baru kita bicara.”Tanpa menunggu balasan, Xander segera melangkah keluar dari tenda, memberikan ruang bagi kedua model itu untuk merapikan diri.“Vero,” tegur Xander begitu bertatap muka dengan asisten istrinya yang bersiap di luar. “Obati luka di kaki Jenny, dan pastikan tubuhnya tetap hangat.”Usai memberikan instruksi t
Reality show akhirnya dimulai. Kamera utama langsung menyorot para peserta yang berdiri berbaris di tepi persawahan, sementara kamera lain bergerak mengikuti langkah Jenny dan Sandra yang bersiap memberi arahan.“Tantangan pertama, kalian harus berjalan di atas area persawahan.” Jenny menunjuk hamparan sawah di sampingnya.Dengan rasa percaya diri yang tinggi, Jenny mulai maju satu langkah ke tanah berlumpur itu.“Dengar, lumpur ini bukan musuh kalian. Musuh terbesar kalian adalah kepanikan dan hilangnya kendali atas tubuh kalian sendiri,” lanjutnya sambil melangkah maju ke batas pematang yang basah.“Kalau kebanyakan teori, mereka malah bingung.” potong Sandra.Sandra segera menyusul Jenny dengan langkah penuh percaya diri, hingga membuat Jenny harus sedikit bergeser.“Saya akan memberi contoh bagaimana cara berjalan.” Sandra mengambil alih posisi Jenny. “Lihat langkah saya baik-baik. Kesempatan kalian belajar hanya satu kali, kita tidak akan memberi contoh untuk kedua kalinya.”Sand
Keesokan paginya Xander sengaja bangun lebih pagi dari Jenny. Ia segera bergegas menyiapkan diri dengan gerakan sangat pelan, menghindari suara berisik yang bisa membangunkan Jenny.“Lho, Bapak kok sudah bangun dan rapi gini?” tanya Mbok Ratih terheran-heran begitu melihat Xander turun dari tangga.Xander tersenyum tipis. “Saya mau menyiapkan bekal untuk Jenny,” sahut Xander sembari berjalan menuju dapur.Mbok Ratih ikut tersenyum dan segera membantu Xander menyiapkan beberapa bahan. Wanita paruh baya itu mengeluarkan beberapa telur, buah, roti, dan kotak bekal.Xander berdiri mematung dan terus menatap bahan-bahan itu dengan cermat. Ia memiringkan kepalanya beberapa kali.“Mbok,” panggil Xander sambil mengangkat dua telur. “Ini harus dipecahkan di mangkok dulu, atau langsung di pan?”Mbok Ratih tertawa kecil. “Biar saya aja yang buatin ya, Pak.”Xander menggeleng dan tetap menatap dua telur di tangannya. Ini pertama kalinya dirinya turun tangan di dapur.“Enggak Mbok, saya mau menyia
Xander berdiri dari kejauhan, mengamati interaksi antara Jenny dan Sandra. Dari luar, semuanya tampak wajar dan biasa saja, namun entah mengapa insting Xander menyuarakan sinyal lain.Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapan matanya tak sekali pun beralih dari sosok Jenny.“Ryan,” panggil Xander tanpa menoleh.Asisten pribadi yang selalu bersiap beberapa langkah di sampingnya segera bergeser mendekat.“Iya, Pak?”Xander terdiam sejenak. Garis rahangnya mengetat tegas dengan raut wajah datar mengintimidasi.“Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Ryan yang sudah mendampingi Xander selama lima tahun langsung menangkap maksud terselubung atasannya, terlebih saat membaca perubahan aura di wajah Xander.“Baik, Pak.” Ryan menunduk hormat lalu berniat melangkah mundur.Namun, langkah asisten itu terhenti. Dia kembali menatap atasannya dengan raut ragu-ragu.Xander menoleh, mengernyitkan dahi mendapati keraguan di wajah Ryan. “Ada apa?”“Pak, maaf sebelumnya... bukan
Jenny menunduk dalam-dalam, berusaha menghindari tatapan tajam Xander. Jemarinya meremas kuat ujung pakaian, sementara keringat dingin mulai membasahi dahinya.Di hadapannya, Xander masih menanti penjelasan dengan sisa kesabaran yang ada.“Jen, apa terjadi sesuatu yang aku enggak tahu” tanya Xander memastikan.Xander mengulurkan tangan, menyentuh lembut dagu Jenny untuk memintanya mendongak.Namun, Jenny menolak secara halus dan tetap memilih menunduk. Dia bungkam. Jenny benar-benar tidak tahu harus memberikan alasan apa, sebab keputusan ini merupakan hal tersulit yang pernah ia buat.Xander memijat pelipisnya yang mendadak pening, lalu mengusap wajahnya kasar. Dia kehabisan cara untuk membujuk istrinya agar mau terbuka.“Maaf...” bisik Jenny lirih seraya menarik pelan ujung jas Xander. “Aku belum bisa menjawabnya.”Xander menghembuskan napas panjang, menatap raut wajah Jenny yang tampak pucat pasi.“Oke. Kalau kamu memang belum siap cerita, aku tidak akan memaksa.”Jenny mendongak pe
Dua hari kemudian, hari untuk rapat akhir acara reality show pencarian bakat akhirnya tiba. Jenny turun dari mobil dengan menggenggam erat proposal barunya. Jemarinya berkeringat hingga sudut proposal sedikit tertekuk.“Cici…” teriakan cempreng Vero terdengar begitu nyaring di sekitar lobi gedung. “Tunggu aku.”Jenny menoleh dengan wajah datar. Tidak ada senyuman ramah seperti pagi-pagi sebelumnya.“Ci, maaf aku telat,” cicit Vero begitu berdiri di dihadapan Jenny, dengan napas terengah-engah. “Tadi ada demo, udah gitu jalannya pada ditutup.”Jenny hanya mengangguk, dan segera masuk ke dalam lift. Ia bahkan tidak terlalu mendengarkan celotehan asistennya. Ia kembali menatap proposal di tangannya, dan menghembuskan napas panjang dari bibirnya.“Vero, jangan ikutin aku dulu. Aku lagi pengen sendiri.”Jenny segera melangkah keluar begitu lift tiba di lantai sepuluh. Ia berjalan meninggalkan Vero begitu saja.Vero memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut bingung dan ikut melangkah kelua







