ANMELDENMeta berjalan memasuki lobi sebuah hotel bintang lima. Dia memang sudah diperintah Xander buat mendampingi Jenny siang itu. Manajer itu duduk tenang di ujung sofa, menanti kehadiran model utamanya.Tak lama kemudian, dia melihat Jenny turun dari mobil didampingi Vero. Meta langsung berdiri menghampiri. “Jenny,” panggilnya.Jenny tersenyum lalu melambaikan tangan dengan semangat. “Kak Meta, udah bawa semua berkasnya?” tanya Jenny sopan.Meta menyerahkan map berisi laporan program Jenny, lengkap dengan hasil rating beberapa episode terakhir yang sudah dia siapkan dari semalam.“Jen, Pak Xander minta aku menemani kamu bertemu Pak Andy.” Meta menatap Jenny dengan sangat serius. “Pria itu bukan orang yang gampang diatasi, Jen.”Jenny menghela napas pendek. Dia tahu suaminya tetap tidak bakal membiarkan dirinya menyelesaikan masalah ini sendirian. Tapi kali ini, dia beneran ingin membuktikan kalau dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.“Kak, Pak Andy mintanya ketemu berdua aja sama aku.
Jenny akhirnya memutuskan buat pulang bersama Laura dan Niko—suami Laura—sehabis acara pembukaan toko roti mereka selesai. Di dalam mobil, Jenny mulai menceritakan semua kelakuan Tante Amel, ibunya Viona, selama ini.“Gila! Aku gak nyangka Tante Amel seniat itu, loh! Masa dia masih berharap Xander balik sama Viona? Padahal jelas-jelas anaknya sendiri udah bisa move on dan terima kenyataan,” cerocos Laura menggebu-gebu tanpa jeda.Niko melirik dan tertawa geli melihat kehebohan istrinya di bangku depan, lalu kembali fokus menyetir.Jenny yang duduk di kursi belakang ikut menanggapi. “Iya kan! Masa dia masih ngarep suamiku jadi menantunya? Dia kira dengan meneror aku, terus aku bakal langsung ngelepasin Xander gitu aja? Mimpi kali tuh orang!”Niko terkekeh lagi sambil melirik Jenny lewat spion tengah. Dua wanita ini kalau disatukan memang pas banget, persis kaya minyak ketemu api—langsung menyala-nyala.Laura mendadak memutar badannya ke belakang. Tatapannya berubah serius mengunci mata
Pagi-pagi buta Jenny mengantar Xander menuju halaman depan. Ryan dan supir pribadi Xander sudah berdiri menunggu.“Xander… enggak bisa langung pulang malam ini aja? Harus banget nginap semalam disana?”Jenny yang kemarin terlihat santai, pagi ini malah mulai merengek menolak ditinggal. Ia bergelayut manja di lengan suaminya.Xander terkekeh kecil, lalu mengusap lembut kepala istrinya. “Aku juga maunya langsung pulang, tapi enggak keburu, Sayang.”“Terus nanti malam kamu tidur sama siapa? Kalau enggak bisa tidur gimana? Kamu kan kebiasaannya sekarang kalau tidur harus peluk aku.” Jenny memberikan rentetan pertanyaan tanpa jeda, yang membuat Xander kembali tertawa gemas.“Ya kalau aku enggak bisa tidur, kamu malam ini terbang ke Singapore aja,” rayu Xander.Jenny mendengus, seandainya hari ini tidak ada jadwal syuting, pasti dia akan mengekor kemanapun Xander pergi.Melihat wajah kesal Jenny, Xander langsung memeluk tubuh istrinya dengan lembut. “Nanti malam kita video call sampai tidur
Ruangan seketika hening. Sandra menatap Jenny dengan tatapan mengintimidasi, berharap Jenny bakal panik melihat ancamannya.Meta yang berdiri di samping Jenny ikut tegang. Dia menatap Jenny dengan perasaan harap-harap cemas.Jenny pelan-pelan mendongak. Air matanya sudah berhenti menetes. “Silakan.”“Apa?” Sandra melotot penuh kebingungan.Jenny tersenyum tipis, tak ada lagi ragu atau takut di wajahnya. “Aku udah capek hidup dalam ketakutan.”Sandra meremas ponselnya kencang-kencang, rahangnya mengetat lagi. Ternyata, gertakannya sudah tidak mempan sama sekali.Tok. Tok. Tok.Semua orang di ruangan langsung menoleh saat pintu rapat terbuka.Xander melangkah masuk dengan santai. Pandangannya langsung mengunci ke arah Jenny, seolah orang lain di ruangan itu cuma patung.“Maaf,” bisik Jenny sambil menghampiri suaminya, lalu menggenggam erat jemari Xander. “Aku harus pergi...”“Suamiku udah jemput.”Tanpa memedulikan respons Sandra, pasangan suami istri itu langsung berbalik dan jalan kel
Menjelang sore, ruang rapat agensi terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Meta sudah duduk di ujung meja. Beberapa menit kemudian, Sandra masuk dan ikut bergabung.Pintu kembali terbuka. Jenny melangkah masuk dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding beberapa hari kemarin.“Jen, kamu udah siap menentukan keputusanmu sore ini?” tanya Meta membuka percakapan.Jenny sempat melirik Sandra, melihat wanita itu tersenyum tipis ke arahnya dengan sangat percaya diri.“Mulai hari ini, Sandra resmi berhenti jadi mentor di reality show,” ucap Jenny mantap.Deg!Jantung Sandra rasanya berhenti mendadak. Matanya membelalak kaget, sama sekali tidak menyangka kalimat itu keluar begitu lancarnya dari mulut Jenny. Rahangnya mengetat menahan emosi.“Kamu gila ya, Jen?!” Sandra mendadak berdiri dari kursinya lalu memukul meja kencang-kencang. “Kamu gak bisa seenaknya ngeluarin aku!”Jenny tetap duduk tenang. Tatapannya tidak kalah tajam menatap balik Sandra.Jenny mengangkat kedua alisnya. “Ini a
Xander memijat pelipisnya, melepas dasinya dengan kasar, dan membuka dua kancing kemeja putihnya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menghela napas panjang dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat sangat lelah.Untuk pertama kalinya…Jenny melihat sisi Xander yang tidak pernah ia lihat. CEO yang selama ini selalu terlihat kuat…ternyata juga kelelahan.Air mata Jenny yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia menguatkan langkahnya menghampiri Xander, dan dengan cepat menghapus air matanya.“Xander…” Jenny memeluk bahu Xander dari belakang. Menempelkan pipinya di samping kepala suaminya.Mata Xander langsung terbuka lebar. Menoleh ke belakang dengan wajah terkejut, ia bahkan mengedipkan matanya berkali-kali memastikan ia sedang tidak bermimpi.“Sayang, kok tiba-tiba kesini? Mau ngajak makan?” Xander berdiri, berjalan memutari sofa menghampiri tubuh istrinya, dan menuntunnya untuk duduk.Xander menghentikan pertanyaannya, menatap lekat wajah Jenny yang sembap. Jantun







