Share

Bab 5

Penulis: Arif
Salsa berdiri di sana dengan sepasang sepatu hak tinggi. Penampilannya tegas, berwibawa, sekaligus memikat. Kalau aku yang dulu, aku pasti sudah menghampirinya tanpa ragu.

Namun sekarang, aku sudah tidak lagi merasakan debaran yang sama. Dia tidak menyadari perubahan dalam diriku.

"Scott, kamu berubah."

Salsa melangkah maju satu langkah. Bunyi hak tingginya bergema di lantai. Aku menundukkan pandangan dan tidak menatapnya. Yang kudengar hanyalah suaranya yang terdengar seperti sedang memberi belas kasihan.

"Aku tahu kamu suka sekali sama jam tangan itu. Tapi selama setengah bulan terakhir, masalah yang kamu buat terlalu besar. Jadi sebagai hukuman, hadiah ulang tahunmu dibatalkan."

"Tapi, hari ini kamu sangat patuh dan aku cukup puas. Karena itu, aku bisa mengabulkan satu permintaanmu, selama nggak berlebihan."

....

Aku mengangkat kepala dan menatap wajahnya, mencoba mencari jejak sosok yang tersimpan dalam kenanganku. Saat pertama kali bertemu Salsa, itu terjadi di sebuah jamuan makan.

Pada waktu itu, para berandal kaya diperintahkan oleh keluarga mereka untuk bersikap baik kepadaku, si anak kampung yang berpakaian norak. Karena cara berpakaianku, mereka mengejekku di depan banyak orang.

Saat itu, aku sangat rendah diri. Aku bahkan tidak tahu bagaimana membalas mereka. Aku tidak berani berbicara dengan suara keras.

Salsalah yang membantuku keluar dari situasi itu. Dia menampar salah satu dari mereka, lalu memarahi mereka dengan sikap angkuh dan dingin karena tidak becus melakukan apa pun.

Kelompok itu pun pergi dengan wajah muram. Saat itu, dia mengernyitkan alis dan berkata kepadaku, "Kamu ini tuan muda Keluarga Junarwa. Kamu nggak perlu bersikap pengecut seperti ini. Merekalah yang seharusnya berusaha menyenangkanmu. Tunjukkan wibawamu."

"Aku ... aku takut mereka membenciku."

"Membencimu?"

"Ingat baik-baik. Selama margamu Junarwa, bahkan kalau kamu menampar wajah mereka, mereka tetap hanya bisa memujimu dan mengatakan bahwa tamparanmu bagus. Mengerti?"

Aku mengingat kata-kata itu selama lebih dari lima tahun.

Namun kemudian, malah Salsa yang memarahiku di depan banyak orang. Dia mengatakan bahwa aku gila, mudah meledak hanya karena sedikit masalah. Padahal jelas-jelas mereka yang lebih dulu mempersulitku.

Di wajah Salsa, tidak ada lagi perhatian dan perlindungan yang dulu pernah dia tunjukkan kepadaku. Dia kembali mendesakku, "Sudah kepikiran? Jangan serakah. Aku sedang terburu-buru."

Aku menopang tubuhku pada dinding. Rasa nyeri samar dari kaki kiriku terus datang silih berganti, membuat pikiranku tetap jernih.

Karena dia, penderitaan seperti apa yang telah kualami? Saat memohon ampun kepada mereka, aku pernah menyebut identitasku. Aku bahkan memberikan nomor telepon Salsa, deretan angka yang sudah kuhafal di luar kepala. Nomor itu malah memberiku pukulan yang begitu telak.

Dia semakin tidak sabar saat berkata, "Kali ini kamu mau main trik apa lagi?"

"Setiap hari bergaul sama para anak orang kaya itu. Menurutku, kamu sama sekali nggak punya keinginan untuk maju. Keluarga Junarwa nggak butuh pecundang sepertimu."

Tegurannya membuatku teringat lagi. Sebelumnya, dia pernah memarahi para rentenir itu hingga mereka dipermalukan. Mereka tidak berani melampiaskan kemarahan kepada Salsa, jadi mereka melampiaskannya kepadaku.

Mereka memaksaku menampar wajahku sendiri. Tamparan demi tamparan. Sampai pipiku membengkak parah dan gusiku terasa nyeri, barulah mereka berhenti.

Karena wajahku bengkak, makan pun menjadi sulit. Roti kukus terlalu keras dan aku tidak sanggup memakannya. Mereka lalu menginjak-injak roti itu hingga hancur berkeping-keping.

Kotor, hitam, bercampur debu. Lalu mereka menyumpalkannya ke dalam mulutku.

Mengingat semua itu, perutku kembali dilanda rasa mual. Aku berusaha keras menahannya.

"Maaf. Nggak ada yang aku inginkan."

Alis Salsa berkerut. Dia menatapku dengan curiga dan sorot matanya menyiratkan peringatan. "Kesempatan sudah kuberikan. Kalau kamu nggak manfaatkan, nanti jangan cari masalah denganku. Kesabaranku nggak sebesar itu."

Aku mengangguk pelan. Aku hanya berharap dia segera pergi. "Aku nggak akan melakukannya."

Salsa juga tidak memaksaku untuk meminta sesuatu. Mungkin sejak awal dia memang tidak benar-benar ingin memberiku apa pun.

"Bagus kalau begitu."

Setelah berjalan beberapa langkah, dia berhenti dan membelakangiku. "Jangan lagi mengganggu Barney. Aku dan dia nggak punya hubungan apa-apa."

Sebelum sempat kuberi jawaban, dia sudah pergi meninggalkanku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 12

    Aku memejamkan mata, lalu melompat.Saat terbangun, hal pertama yang kulihat adalah wajah Hyora yang sembap karena menangis. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Begitu melihatku sadar, dia buru-buru memanggil dokter.Dengan susah payah, aku mengangkat tangan. "Jangan nangis lagi."Hyora langsung memelukku erat-erat. Baru setelah aku menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya, dia melepaskan pelukannya.Ayah dan Ibu berdiri di sisi lain, menatapku dengan penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.Hyora berbisik di telingaku, "Salsa sudah menemukan bukti bahwa Barney bersekongkol dengan rentenir untuk mencelakaimu. Sekarang mereka semua sudah masuk penjara."Ibu mengusap air matanya, lalu memanggilku, "Scott."Namun setelah memanggilku, dia tidak melanjutkan perkataannya untuk waktu yang lama.Aku tertawa mengejek diri sendiri dan berkata, "Ibu mau aku maafin Barney ya? Kalau kalian mau memakai jasa telah melahirkanku untuk menekanku, aku bisa menyetujuinya."Hyora melotot ke arahku.Namu

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 11

    Saat aku duduk di ranjang rumah sakit, Salsa akhirnya berbicara, "Scott, gimana keadaanmu?"Aku duduk di sana tanpa berkata apa-apa. Ternyata ... aku memang tidak pantas mendapatkan kehidupan yang bahagia. Semua yang terjadi bersama Hyora terasa seperti sebuah mimpi.Sekarang, mimpi itu telah berakhir. Aku juga harus kembali ke dalam kegelapan. Aku duduk di ranjang rumah sakit seolah tidak mendengar apa pun yang dia katakan. Salsa menunggu cukup lama, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban dariku.Perlahan dia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dengan ragu-ragu, dia mengulurkan tangan, seolah ingin memeriksa suhu dahiku."Jangan sentuh aku," kataku dengan suara serak. "Setiap kali kamu menyentuhku, aku ingin muntah."Salsa benar-benar menghentikan gerakannya. Lingkar matanya mulai memerah.Sejak kapan Salsa yang selalu tinggi hati dan tak tersentuh itu pernah menunjukkan ekspresi seperti ini di hadapanku?"Aku ... aku nggak tahu kalau kamu benar-benar ...."Aku menoleh dan me

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 10

    Bagaimana mungkin dia pantas?Bagaimana mungkin dia berani?....Ketika rasa sakit menjalar di wajahku, barulah aku tersadar. Salsa berdiri di hadapanku. Rasa muak dan jengkel di matanya hampir meluap.Sementara Barney sedang kutarik kerah bajunya dan kutekan ke dinding. Rambutnya berantakan, pipinya bengkak kemerahan. Untuk sesaat, aku bahkan tidak bisa membedakan siapa sebenarnya yang terlihat seperti orang gila.Salsa menarik kembali tangannya dan berkata dengan dingin, "Scott, apa kamu sudah gila? Lihat dirimu sekarang. Apa masih ada sedikit saja sikap yang pantas sebagai anggota Keluarga Junarwa? Kamu benar-benar seperti orang dengan gangguan jiwa.""Salsa, nggak apa-apa." Barney tersenyum tipis, lalu meringis kesakitan. "Wajar kalau Scott benci sama aku.""Lepaskan Barney sekarang juga," ucap Salsa.Aku hanya terpaku dan tidak bergerak. Melihat reaksiku, Salsa semakin tidak sabar dan langsung maju untuk menarikku. Namun saat itu, sebuah sentuhan hangat mendarat di lenganku.Aku m

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 9

    Hyora menertawakanku dengan penuh kemenangan untuk beberapa saat. Namun pada akhirnya dia tetap buru-buru mengenakan jaket dan turun ke bawah untuk membelikan obat sakit maag untukku.....Ketika bel pintu berbunyi nyaring dan tergesa-gesa, aku mengira Hyora lupa membawa ponselnya. Dia memang selalu ceroboh."Kamu keluar terlalu terburu-buru sampai lupa bawa ponsel, ya ...."Suaraku terhenti bersamaan dengan pintu yang kubuka. Orang yang berdiri di luar bukan Hyora. Melainkan Barney, yang berpakaian rapi bak seorang tuan muda bangsawan.Dia mengamatiku sambil membawa beberapa bungkus roti di tangannya. Aku bisa merasakan bahwa kedatangannya tidak membawa niat baik. Aku mengerutkan kening dan bertanya dengan dingin, "Kenapa kamu tahu aku tinggal di sini?"Barney menatapku seperti sedang melihat orang bodoh."Kamu nggak tahu? Gedung tempat kamu tinggal ini adalah properti milik Keluarga Indraguna. Alamatmu tentu saja diberitahukan oleh Salsa."Tanganku langsung mencengkeram gagang pintu

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 8

    Hyora memperlihatkan ekspresi mengerti. "Mau ikut aku jalan-jalan? Aku sudah tinggal di sini setengah tahun. Aku hafal daerah ini."Aku sedikit bingung. "Ke mana?"Seperti dulu, Hyora berjinjit, lalu mengetuk dahiku dengan jarinya. "Tentu saja pergi membeli perabot rumah. Lagian, kalau kamu terus di dalam rumah, gimana penyakitmu bisa membaik?""Tapi tenang saja. Aku yang akan bicara sama orang-orang. Kamu cukup berdiri di sampingku. Nggak usah terburu-buru."Aneh sekali. Aku sama sekali tidak merasa terganggu oleh sentuhannya. Rasanya seperti kembali ke masa SMA. Saat aku dipaksa mendaftar lomba lari seribu meter, hanya dia satu-satunya yang berteriak keras menyemangatiku.Ketika aku melewati garis finis, hanya dia yang datang membantuku berdiri. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada rasa muak. Yang ada hanya kehangatan.Aku mengangkat kepala dan bertemu dengan matanya yang penuh ketulusan dan kelembutan. Entah mengapa, aku mengangguk.....Sebenarnya, aku pernah diam-diam menyukai Hyora. P

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 7

    Aku menyewa sebuah rumah di pinggiran kota.Jauh dari keramaian, tempat itu membuatku bisa menenangkan diri dan tidak terus memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Aku memesan makanan secara daring dan meminta kurir meletakkannya di depan pintu.Mendengar langkah kaki kurir yang semakin menjauh, aku menghela napas panjang lalu keluar untuk mengambil pesananku. Namun saat membungkuk, tiba-tiba rasa sakit yang tajam menjalar dari kakiku.Rasa sakit itu begitu hebat hingga keringat dingin langsung membasahi tubuhku dan aku jatuh terduduk di lantai. Ketika aku sedang berusaha menopang tubuh dan berdiri dengan berpegangan pada pintu, sebuah tangan muncul di hadapanku.Jari-jarinya ramping. Sekilas saja sudah terlihat bahwa itu tangan seorang gadis. Aku ragu sejenak, lalu tidak menerima bantuannya.Setelah rasa sakit sedikit mereda, aku berdiri sendiri. Tangan itu pun ditarik kembali. Aku tidak berani mengangkat kepala untuk melihatnya. Dengan suara pelan, aku mengucapkan terima kasih, lalu men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status