分享

Bab 4

作者: Arif
Itu benar-benar masa yang seperti mimpi buruk!

Setelah berganti pakaian bersih dan membersihkan luka-lukaku, barulah aku turun ke bawah.

Tepat saat jam makan.

Ibu langsung melihatku. Dia tampak sedikit tidak percaya, lalu melambaikan tangan kepadaku. Nada bicaranya menyiratkan sedikit teguran, "Kamu masih ingat pulang juga rupanya. Sudah pergi selama ini, bahkan nggak pernah telepon sekali pun."

Tiba-tiba, aku merasa sangat sedih dan ingin meluapkan semuanya. Namun baru saja aku membuka mulut dan mengucapkan satu suku kata, aku sudah dipotong, "Bu, Tante dari Keluarga Chandra undang Ibu minum teh sore. Jangan sampai terlambat lagi."

Barney, yang mengenakan setelan jas rapi, berjalan masuk dari pintu dengan nada santai.

Perhatian Ibu langsung teralihkan olehnya. Tatapannya juga berpindah dariku. "Oh ya, hampir saja lupa. Untung ada Barney yang ingatin."

Barney duduk di sofa, lalu menyunggingkan senyum kepadaku.

"Scott akhirnya mau pulang juga? Ke depannya jangan lagi ngambek sama Ayah dan Ibu. Kamu juga sudah harus belajar menjadi dewasa dan mandiri."

Semua orang langsung mengalihkan pandangan kepadaku mengikuti ucapannya. Aku menatap mata Barney yang penuh ejekan. Jantungku berdegup keras.

Namun, kali ini aku tidak marah seperti dulu. Ibu juga tidak membantah perkataan Barney. Dia hanya melirik Barney sebentar, lalu segera berkata dengan nada penuh perhatian, "Barney, beberapa hari ini kamu nggak makan teratur, ya? Lihat dirimu, kamu sampai kurusan."

"Bagaimanapun juga, kesehatanmu lebih penting daripada pekerjaan. Lagi pula, di perusahaan masih ada ayahmu."

Mendengar perkataan itu, diam-diam aku menyembunyikan telapak tanganku yang terbuka ke belakang punggung. Padahal aku berdiri begitu dekat dengan Ibu. Namun, dia sama sekali tidak memperhatikan punggung tanganku yang penuh memar kebiruan dan cara berjalanku yang aneh.

Sebaliknya ketika menyangkut Barney, dia bisa memperhatikan dengan sangat teliti apakah Barney makan dengan baik atau tidak.

Barney hanya tersenyum. "Scott sudah cukup membuat Ayah dan Ibu khawatir. Jadi aku harus lebih pengertian." Ibu melirikku seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya menghela napas.

Di meja makan, Ibu terus-menerus mengambilkan makanan untukku.

Aku tidak lagi bersikap seperti dulu. Dengan kepala tertunduk dan sikap patuh, aku mengucapkan terima kasih kepadanya.

Namun bukannya merasa lega, dia malah tampak semakin khawatir. Dia menghela napas pelan dan tidak lagi menasihatiku. Sebaliknya, dia mengembalikan kartu bank yang sebelumnya disita dariku ke telapak tanganku.

"Scott, kepergianmu dari rumah benar-benar membuat Ayah dan Ibu cemas."

"Mulai sekarang kami nggak akan terlalu membatasimu lagi. Kartu ini kami kembalikan. Ayahmu juga sudah menambahkan sejumlah uang ke dalamnya."

Aku menggenggam kartu itu erat-erat, lalu perlahan melepaskannya.

Terlambat. Kartu ini datang terlalu terlambat.

Buku-buku jari Barney yang memegang sumpit tampak memutih. Dia terus menatapku.

Baru setelah pandangan kami bertemu, dia kembali memasang senyumnya dan berkata kepada Salsa yang duduk di sampingnya, "Salsa makin hebat saja. Di acara lelang kemarin aku bahkan nggak bisa mengalahkanmu."

Salsa mengeluarkan sebuah kotak hadiah dan nada bicaranya menjadi lebih lembut, "Ini hadiah ulang tahun untukmu. Beberapa hari lalu aku sedang menghadiri rapat di luar negeri, jadi belum sempat kasih."

Barney bercanda, "Aku kira orang sesibuk kamu sudah melupakan ulang tahunku."

Sambil berbicara, dia membuka kotak hadiah itu. Di dalamnya terbaring sebuah jam tangan berwarna hijau tua yang elegan. Tanganku yang sedang mengambil makanan langsung terhenti.

Aku pernah melihat jam tangan itu di katalog lelang. Saat itu, aku langsung menyukainya pada pandangan pertama. Namun aku tidak memiliki undangan untuk memasuki acara lelang tersebut.

Kala itu, Salsa memperhatikan tatapanku yang tertuju pada jam tangan itu, lalu berkata dengan nada datar bahwa selama aku tidak membuat masalah, dia akan membelinya dan menjadikannya hadiah ulang tahunku.

Namun, sekarang ....

Dia malah memberikannya kepada Barney.

Salsa tidak memberikan penjelasan apa pun. Namun, aku tahu. Ini adalah hukuman untukku. Setelah selesai makan, aku menyapa mereka seperlunya lalu pergi. Di tikungan lantai dua, aku bertemu dengan Salsa.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 12

    Aku memejamkan mata, lalu melompat.Saat terbangun, hal pertama yang kulihat adalah wajah Hyora yang sembap karena menangis. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Begitu melihatku sadar, dia buru-buru memanggil dokter.Dengan susah payah, aku mengangkat tangan. "Jangan nangis lagi."Hyora langsung memelukku erat-erat. Baru setelah aku menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya, dia melepaskan pelukannya.Ayah dan Ibu berdiri di sisi lain, menatapku dengan penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.Hyora berbisik di telingaku, "Salsa sudah menemukan bukti bahwa Barney bersekongkol dengan rentenir untuk mencelakaimu. Sekarang mereka semua sudah masuk penjara."Ibu mengusap air matanya, lalu memanggilku, "Scott."Namun setelah memanggilku, dia tidak melanjutkan perkataannya untuk waktu yang lama.Aku tertawa mengejek diri sendiri dan berkata, "Ibu mau aku maafin Barney ya? Kalau kalian mau memakai jasa telah melahirkanku untuk menekanku, aku bisa menyetujuinya."Hyora melotot ke arahku.Namu

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 11

    Saat aku duduk di ranjang rumah sakit, Salsa akhirnya berbicara, "Scott, gimana keadaanmu?"Aku duduk di sana tanpa berkata apa-apa. Ternyata ... aku memang tidak pantas mendapatkan kehidupan yang bahagia. Semua yang terjadi bersama Hyora terasa seperti sebuah mimpi.Sekarang, mimpi itu telah berakhir. Aku juga harus kembali ke dalam kegelapan. Aku duduk di ranjang rumah sakit seolah tidak mendengar apa pun yang dia katakan. Salsa menunggu cukup lama, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban dariku.Perlahan dia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dengan ragu-ragu, dia mengulurkan tangan, seolah ingin memeriksa suhu dahiku."Jangan sentuh aku," kataku dengan suara serak. "Setiap kali kamu menyentuhku, aku ingin muntah."Salsa benar-benar menghentikan gerakannya. Lingkar matanya mulai memerah.Sejak kapan Salsa yang selalu tinggi hati dan tak tersentuh itu pernah menunjukkan ekspresi seperti ini di hadapanku?"Aku ... aku nggak tahu kalau kamu benar-benar ...."Aku menoleh dan me

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 10

    Bagaimana mungkin dia pantas?Bagaimana mungkin dia berani?....Ketika rasa sakit menjalar di wajahku, barulah aku tersadar. Salsa berdiri di hadapanku. Rasa muak dan jengkel di matanya hampir meluap.Sementara Barney sedang kutarik kerah bajunya dan kutekan ke dinding. Rambutnya berantakan, pipinya bengkak kemerahan. Untuk sesaat, aku bahkan tidak bisa membedakan siapa sebenarnya yang terlihat seperti orang gila.Salsa menarik kembali tangannya dan berkata dengan dingin, "Scott, apa kamu sudah gila? Lihat dirimu sekarang. Apa masih ada sedikit saja sikap yang pantas sebagai anggota Keluarga Junarwa? Kamu benar-benar seperti orang dengan gangguan jiwa.""Salsa, nggak apa-apa." Barney tersenyum tipis, lalu meringis kesakitan. "Wajar kalau Scott benci sama aku.""Lepaskan Barney sekarang juga," ucap Salsa.Aku hanya terpaku dan tidak bergerak. Melihat reaksiku, Salsa semakin tidak sabar dan langsung maju untuk menarikku. Namun saat itu, sebuah sentuhan hangat mendarat di lenganku.Aku m

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 9

    Hyora menertawakanku dengan penuh kemenangan untuk beberapa saat. Namun pada akhirnya dia tetap buru-buru mengenakan jaket dan turun ke bawah untuk membelikan obat sakit maag untukku.....Ketika bel pintu berbunyi nyaring dan tergesa-gesa, aku mengira Hyora lupa membawa ponselnya. Dia memang selalu ceroboh."Kamu keluar terlalu terburu-buru sampai lupa bawa ponsel, ya ...."Suaraku terhenti bersamaan dengan pintu yang kubuka. Orang yang berdiri di luar bukan Hyora. Melainkan Barney, yang berpakaian rapi bak seorang tuan muda bangsawan.Dia mengamatiku sambil membawa beberapa bungkus roti di tangannya. Aku bisa merasakan bahwa kedatangannya tidak membawa niat baik. Aku mengerutkan kening dan bertanya dengan dingin, "Kenapa kamu tahu aku tinggal di sini?"Barney menatapku seperti sedang melihat orang bodoh."Kamu nggak tahu? Gedung tempat kamu tinggal ini adalah properti milik Keluarga Indraguna. Alamatmu tentu saja diberitahukan oleh Salsa."Tanganku langsung mencengkeram gagang pintu

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 8

    Hyora memperlihatkan ekspresi mengerti. "Mau ikut aku jalan-jalan? Aku sudah tinggal di sini setengah tahun. Aku hafal daerah ini."Aku sedikit bingung. "Ke mana?"Seperti dulu, Hyora berjinjit, lalu mengetuk dahiku dengan jarinya. "Tentu saja pergi membeli perabot rumah. Lagian, kalau kamu terus di dalam rumah, gimana penyakitmu bisa membaik?""Tapi tenang saja. Aku yang akan bicara sama orang-orang. Kamu cukup berdiri di sampingku. Nggak usah terburu-buru."Aneh sekali. Aku sama sekali tidak merasa terganggu oleh sentuhannya. Rasanya seperti kembali ke masa SMA. Saat aku dipaksa mendaftar lomba lari seribu meter, hanya dia satu-satunya yang berteriak keras menyemangatiku.Ketika aku melewati garis finis, hanya dia yang datang membantuku berdiri. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada rasa muak. Yang ada hanya kehangatan.Aku mengangkat kepala dan bertemu dengan matanya yang penuh ketulusan dan kelembutan. Entah mengapa, aku mengangguk.....Sebenarnya, aku pernah diam-diam menyukai Hyora. P

  • Aku Tak Menginginkan Cinta yang Datang Terlambat   Bab 7

    Aku menyewa sebuah rumah di pinggiran kota.Jauh dari keramaian, tempat itu membuatku bisa menenangkan diri dan tidak terus memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Aku memesan makanan secara daring dan meminta kurir meletakkannya di depan pintu.Mendengar langkah kaki kurir yang semakin menjauh, aku menghela napas panjang lalu keluar untuk mengambil pesananku. Namun saat membungkuk, tiba-tiba rasa sakit yang tajam menjalar dari kakiku.Rasa sakit itu begitu hebat hingga keringat dingin langsung membasahi tubuhku dan aku jatuh terduduk di lantai. Ketika aku sedang berusaha menopang tubuh dan berdiri dengan berpegangan pada pintu, sebuah tangan muncul di hadapanku.Jari-jarinya ramping. Sekilas saja sudah terlihat bahwa itu tangan seorang gadis. Aku ragu sejenak, lalu tidak menerima bantuannya.Setelah rasa sakit sedikit mereda, aku berdiri sendiri. Tangan itu pun ditarik kembali. Aku tidak berani mengangkat kepala untuk melihatnya. Dengan suara pelan, aku mengucapkan terima kasih, lalu men

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status