登入Aku memejamkan mata, lalu melompat.Saat terbangun, hal pertama yang kulihat adalah wajah Hyora yang sembap karena menangis. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Begitu melihatku sadar, dia buru-buru memanggil dokter.Dengan susah payah, aku mengangkat tangan. "Jangan nangis lagi."Hyora langsung memelukku erat-erat. Baru setelah aku menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya, dia melepaskan pelukannya.Ayah dan Ibu berdiri di sisi lain, menatapku dengan penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.Hyora berbisik di telingaku, "Salsa sudah menemukan bukti bahwa Barney bersekongkol dengan rentenir untuk mencelakaimu. Sekarang mereka semua sudah masuk penjara."Ibu mengusap air matanya, lalu memanggilku, "Scott."Namun setelah memanggilku, dia tidak melanjutkan perkataannya untuk waktu yang lama.Aku tertawa mengejek diri sendiri dan berkata, "Ibu mau aku maafin Barney ya? Kalau kalian mau memakai jasa telah melahirkanku untuk menekanku, aku bisa menyetujuinya."Hyora melotot ke arahku.Namu
Saat aku duduk di ranjang rumah sakit, Salsa akhirnya berbicara, "Scott, gimana keadaanmu?"Aku duduk di sana tanpa berkata apa-apa. Ternyata ... aku memang tidak pantas mendapatkan kehidupan yang bahagia. Semua yang terjadi bersama Hyora terasa seperti sebuah mimpi.Sekarang, mimpi itu telah berakhir. Aku juga harus kembali ke dalam kegelapan. Aku duduk di ranjang rumah sakit seolah tidak mendengar apa pun yang dia katakan. Salsa menunggu cukup lama, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban dariku.Perlahan dia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dengan ragu-ragu, dia mengulurkan tangan, seolah ingin memeriksa suhu dahiku."Jangan sentuh aku," kataku dengan suara serak. "Setiap kali kamu menyentuhku, aku ingin muntah."Salsa benar-benar menghentikan gerakannya. Lingkar matanya mulai memerah.Sejak kapan Salsa yang selalu tinggi hati dan tak tersentuh itu pernah menunjukkan ekspresi seperti ini di hadapanku?"Aku ... aku nggak tahu kalau kamu benar-benar ...."Aku menoleh dan me
Bagaimana mungkin dia pantas?Bagaimana mungkin dia berani?....Ketika rasa sakit menjalar di wajahku, barulah aku tersadar. Salsa berdiri di hadapanku. Rasa muak dan jengkel di matanya hampir meluap.Sementara Barney sedang kutarik kerah bajunya dan kutekan ke dinding. Rambutnya berantakan, pipinya bengkak kemerahan. Untuk sesaat, aku bahkan tidak bisa membedakan siapa sebenarnya yang terlihat seperti orang gila.Salsa menarik kembali tangannya dan berkata dengan dingin, "Scott, apa kamu sudah gila? Lihat dirimu sekarang. Apa masih ada sedikit saja sikap yang pantas sebagai anggota Keluarga Junarwa? Kamu benar-benar seperti orang dengan gangguan jiwa.""Salsa, nggak apa-apa." Barney tersenyum tipis, lalu meringis kesakitan. "Wajar kalau Scott benci sama aku.""Lepaskan Barney sekarang juga," ucap Salsa.Aku hanya terpaku dan tidak bergerak. Melihat reaksiku, Salsa semakin tidak sabar dan langsung maju untuk menarikku. Namun saat itu, sebuah sentuhan hangat mendarat di lenganku.Aku m
Hyora menertawakanku dengan penuh kemenangan untuk beberapa saat. Namun pada akhirnya dia tetap buru-buru mengenakan jaket dan turun ke bawah untuk membelikan obat sakit maag untukku.....Ketika bel pintu berbunyi nyaring dan tergesa-gesa, aku mengira Hyora lupa membawa ponselnya. Dia memang selalu ceroboh."Kamu keluar terlalu terburu-buru sampai lupa bawa ponsel, ya ...."Suaraku terhenti bersamaan dengan pintu yang kubuka. Orang yang berdiri di luar bukan Hyora. Melainkan Barney, yang berpakaian rapi bak seorang tuan muda bangsawan.Dia mengamatiku sambil membawa beberapa bungkus roti di tangannya. Aku bisa merasakan bahwa kedatangannya tidak membawa niat baik. Aku mengerutkan kening dan bertanya dengan dingin, "Kenapa kamu tahu aku tinggal di sini?"Barney menatapku seperti sedang melihat orang bodoh."Kamu nggak tahu? Gedung tempat kamu tinggal ini adalah properti milik Keluarga Indraguna. Alamatmu tentu saja diberitahukan oleh Salsa."Tanganku langsung mencengkeram gagang pintu
Hyora memperlihatkan ekspresi mengerti. "Mau ikut aku jalan-jalan? Aku sudah tinggal di sini setengah tahun. Aku hafal daerah ini."Aku sedikit bingung. "Ke mana?"Seperti dulu, Hyora berjinjit, lalu mengetuk dahiku dengan jarinya. "Tentu saja pergi membeli perabot rumah. Lagian, kalau kamu terus di dalam rumah, gimana penyakitmu bisa membaik?""Tapi tenang saja. Aku yang akan bicara sama orang-orang. Kamu cukup berdiri di sampingku. Nggak usah terburu-buru."Aneh sekali. Aku sama sekali tidak merasa terganggu oleh sentuhannya. Rasanya seperti kembali ke masa SMA. Saat aku dipaksa mendaftar lomba lari seribu meter, hanya dia satu-satunya yang berteriak keras menyemangatiku.Ketika aku melewati garis finis, hanya dia yang datang membantuku berdiri. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada rasa muak. Yang ada hanya kehangatan.Aku mengangkat kepala dan bertemu dengan matanya yang penuh ketulusan dan kelembutan. Entah mengapa, aku mengangguk.....Sebenarnya, aku pernah diam-diam menyukai Hyora. P
Aku menyewa sebuah rumah di pinggiran kota.Jauh dari keramaian, tempat itu membuatku bisa menenangkan diri dan tidak terus memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Aku memesan makanan secara daring dan meminta kurir meletakkannya di depan pintu.Mendengar langkah kaki kurir yang semakin menjauh, aku menghela napas panjang lalu keluar untuk mengambil pesananku. Namun saat membungkuk, tiba-tiba rasa sakit yang tajam menjalar dari kakiku.Rasa sakit itu begitu hebat hingga keringat dingin langsung membasahi tubuhku dan aku jatuh terduduk di lantai. Ketika aku sedang berusaha menopang tubuh dan berdiri dengan berpegangan pada pintu, sebuah tangan muncul di hadapanku.Jari-jarinya ramping. Sekilas saja sudah terlihat bahwa itu tangan seorang gadis. Aku ragu sejenak, lalu tidak menerima bantuannya.Setelah rasa sakit sedikit mereda, aku berdiri sendiri. Tangan itu pun ditarik kembali. Aku tidak berani mengangkat kepala untuk melihatnya. Dengan suara pelan, aku mengucapkan terima kasih, lalu men







