Share

Bab 3

Author: Wowo
Aku memejamkan mata dan perlahan meletakkan tanganku di atas perut.

Anak ini adalah anak Orlando.

Tadinya, aku mengira, dengan adanya seorang anak, Orlando akan lebih memperhatikan diriku dan lebih mencintaiku.

Aku teringat hari di saat aku tahu diriku hamil. Aku menangis karena begitu bahagia.

Aku lalu menelepon Orlando.

Dia sedang sibuk, lalu berkata dengan nada tidak sabar, “Aku tahu, jangan ganggu aku!”

Aku kira, dia hanya terlalu sibuk.

Baru sekarang aku sadar, dia memang tidak pernah peduli.

Setelah perawat membawaku keluar dari ruang perawatan dengan kursi roda, barulah aku tahu bahwa yang membawaku ke rumah sakit adalah pastor dari gereja.

Sementara Orlando, hanya mengirimkan satu kalimat kepadaku.

[Clarissa pingsan karena ketakutan mendengar suara tembakan tadi. Jadi, aku membawanya kembali ke Pulau Launa untuk beristirahat.]

Orlando dan Michael langsung mengajukan permohonan untuk menggunakan jet pribadi milik klan pada malam itu juga, lalu mengantar Clarissa kembali ke Pulau Launa.

Mengenai apakah aku terluka atau tidak?

Orlando sama sekali tidak peduli.

Rasa putus asa yang memenuhi hatiku, kini hanya menyisakan rasa sakit yang begitu menusuk, tetapi tetap membuat setiap tarikan napas terasa begitu menyakitkan.

Operasi dijadwalkan tiga jam lagi.

Selagi menunggu, aku dan teman pengacaraku merampungkan dokumen final pembatalan pertunangan.

Saat keluar dari aplikasi obrolan, aku justru melihat di grup obrolan klan bahwa ayahku, Robert, adikku Michael dan tunanganku Orlando, bergantian mentransfer uang kepada Clarissa.

Ternyata, hari ini adalah ulang tahun Clarissa dan mereka semua mengingat hari ulang tahun Clarissa.

Ayah mentransfer 100 juta, dengan pesan: [Selamat ulang tahun, Clarissa Sayang.]

Michael mentransfer 200 juta, dengan pesan: [Semoga Kakak tersayangku selalu bahagia.]

Orlando langsung mengirimkan tangkapan layar transfer sebesar satu miliar, dengan pesan: [Apa pun yang terjadi di masa depan nanti, aku cuma akan selalu mencintai Clarissa seorang.]

Tidak ada seorang pun yang ingat hari ulang tahunku.

Aku ingin tertawa, tetapi tidak bisa tertawa.

Aku diam-diam membaca semuanya, lalu keluar dari grup obrolan itu.

Detik berikutnya, Orlando menelepon dan langsung berkata dengan sinis, “Elena, apa lagi yang kamu lakukan sekarang?”

“Kamu memang nggak tahan melihat kami memperlakukan Clarissa dengan baik, ‘kan?”

“Waktu SMA dulu, kamu memfitnah Clarissa dan ibunya sebagai penyebab kematian ibumu, tapi apa hasilnya?”

“Ayahmu sudah sejak lama menceritakan yang sebenarnya padaku. Ibumu sendiri memang menderita gangguan jiwa dan dia bunuh diri.”

Orlando sama sekali tidak menyembunyikan penghinaan dan kebencian dalam suaranya.

“Aku juga sudah menyuruh orang untuk menyelidiki. Ibu Clarissa sama sekali nggak pernah menganiaya dirimu.”

“Michael juga bilang, kamulah yang menipunya untuk pergi ke sebuah pabrik terbengkalai, lalu membuat kepalanya terbentur, sampai hilang ingatan.”

“Akhirnya, Clarissa-lah yang merawatnya selama sebulan penuh.”

Seakan akhirnya menemukan tempat untuk meluapkan amarahnya, Orlando pun mencaci maki diriku habis-habisan.

“Sebenarnya, aku sama sekali nggak ingin menikahimu. Kalau bukan karena kamu nggak bisa lepas dariku dan sengaja hamil agar aku menikahimu, pasti sudah sejak lama aku putus hubungan denganmu.”

Dari awal sampai akhir, aku mendengarkan semuanya tanpa bersuara.

Akan tetapi, suara sistem tiba-tiba memotong perkataannya.

“Elena Austin, silakan menuju ke pintu ruang operasi.”

Napas Orlando tiba-tiba menjadi memburu dan tersengal-sengal.

“Kamu mau operasi? Kamu kenapa? Apa kamu terluka? Atau ada masalah dengan bayinya?”

Aku baru saja hendak berbicara, tetapi tiba-tiba aku mendengar Clarissa tertawa kecil di ujung telepon.

“Orlando, kamu ini benar-benar bodoh. Elena begitu peduli padamu dan anak kalian, mana mungkin dia tega melakukannya?”

Mendengar itu, nada bicara Orlando langsung menjadi dingin.

“Benar juga. Elena, kamu benar-benar membuatku sangat kecewa!”

“Aku nggak pernah menyangka, kamu bisa sekejam ini!”

“Kamu rela melakukan apa saja demi bisa menikah denganku dan sekarang masih mau menggunakan anak kita untuk mengancamku?”

“Kuberi tahu ya, aku nggak akan termakan trik murahan kayak gini. Kalau kamu terus bikin ulah kayak gini, jangan harap bisa menikah denganku!”

Setelah berkata seperti itu, Orlando menunggu dengan penuh rasa bangga, menunggu aku menangis, berteriak, meminta maaf dan memohon ampun.

Namun, tak disangka, setelah terdiam selama beberapa saat, aku malah menghela napas lega, seakan bebanku sudah terangkat.

“Oke.”

Setelah menutup telepon itu, aku berbalik dan melangkah masuk ke ruang operasi.

Begitu lampu ruang operasi menyala, aku merasa ada sesuatu yang diambil dari dalam tubuhku.

Bukan hanya anak itu.

Melainkan juga sisa-sisa harapan terakhirku pada Orlando.

Hingga aku selesai menjalani operasi dan kembali ke Pulau Launa, Orlando tidak pernah lagi meneleponku.

Orlando sepertinya mengira aku hanya sedang ngambek.

Berturut-turut, Orlando mengunggah status di akun media sosialnya.

Menemani Clarissa mencoba gaun pengantin, foto pre-wedding, memilih perhiasan ….

Aku mengabaikannya.

Kemudian, aku membuka surat wasiat yang ditinggalkan oleh mendiang ibuku.

Surat itu sudah kubaca berkali-kali dan tiap kali membacanya, hatiku terasa pilu.

Baris terakhir surat itu, ditulis Ibu dengan tangan gemetar.

[Kalau suatu hari nanti kamu nggak bisa bertahan hidup di kota ini, carilah Tuan Ronan.]

[Dia akan mengatur segalanya untukmu.]

Tuan Ronan Brighton, pemimpin mafia Klan Brighton dari Pulau Tiora di luar negeri.

Ibu pernah menyelamatkan nyawa Tuan Ronan waktu masih muda, sebelum Ibu menikah dengan ayah dan meninggalkan negaranya selamanya.

Akan tetapi, Tuan Ronan selalu mengingat budi itu.

Aku pun menelepon nomor yang sudah kusimpan selama belasan tahun itu, tetapi belum pernah kuhubungi sekalipun.

Telepon berdering dua kali, lalu diangkat.

Terdengar suara orang tua yang dalam, dengan aksen Pulau Tiora yang sangat kental.

“Siapa ini?”

“Aku Elena Austin, putri Rachel.”

Orang di ujung telepon terdiam cukup lama.

Lalu, dia mengucapkan kalimat yang langsung membuat mataku berkaca-kaca.

“Sepertinya, kamu sudah diperlakukan nggak adil, Nak.”

“Datanglah, Nak. Nggak akan ada seorang pun yang bisa menyakitimu di sini. Aku akan selalu jadi orang yang bisa kamu andalkan selamanya.”

Tiga hari kemudian, aku naik pesawat, menuju Kota Arion di luar negeri.

Sebelum menaiki pesawat, aku memblokir seluruh kontak Orlando dan Michael, mencabut kartu SIM ponselku dan mematahkannya sebelum membuangnya ke tempat sampah.

Sejak saat itu, aku tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengan mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 10

    EpilogSurat Terakhir Orlando.Surat itu disembunyikan Orlando di dalam map dokumen yang dia serahkan kepada pengacaranya, dengan instruksi agar surat itu baru diberikan kepadaku setelah dia dikremasi.Sesuai permintaannya tersebut, seminggu setelah pemakaman Orlando, pengacara itu mengantarkan surat yang tidak beramplop dan hanya diikat dengan pita hitam itu kepadaku.Saat aku membuka surat itu, hujan gerimis turun di luar jendela, persis seperti malam bertahun-tahun lalu, ketika ibuku menghilang.Aku membaca surat itu kata demi kata. Jariku dengan lembut menyentuh tanda tangan di ujung lembaran surat itu. Tanda tangan yang dahulu pernah membuat hatiku berdebar, tetapi kemudian menghancurkan hatiku.[Elena.][Kalau kamu membaca surat ini, itu artinya aku sudah nggak ada.][Aku nggak minta pengampunanmu.][Aku cuma ingin memberitahumu beberapa hal.][Pertama, aku sudah pergi menjenguk bayi kita. Lahan pemakaman itu dulunya atas namaku, tapi sekarang aku sudah memindahkannya atas namamu

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 9

    Tiga tahun kemudian.Sebagai seorang pemenang penghargaan, aku menghadiri Festival Film Dokumenter Dunia.Film dokumenter yang kubuat menceritakan kisah para perempuan yang terlupakan di berbagai belahan dunia.Mulai dari para janda di Pulau Tiora hingga para pengungsi di luar negeri, dari para istri korban kekerasan dalam rumah tangga, hingga gadis-gadis yang menjadi korban perdagangan manusia.Dalam pidato pemberian penghargaan itu, dikatakan, “Dia menggunakan lensa kameranya untuk memperjuangkan aspirasi mereka yang tertindas dan nggak berdaya.”Aku berdiri di atas panggung dan berkata, “Dulu aku juga orang yang tertindas dan nggak berdaya. Tapi, sekarang, aku nggak lagi seperti itu. Aku berharap ke depannya bisa terus memperjuangkan aspirasi lebih banyak perempuan.”Setelah upacara pemberian penghargaan selesai ….Aku kembali melayani para penggemar yang datang memberikan ucapan selamat dengan memberikan tanda tangan satu persatu kepada mereka.Selama tiga tahun ini, aku terus mend

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 8

    Keesokan harinya, aku pergi menghadiri pernikahan sahabatku.Sahabatku itu adalah teman baikku sejak SMA.Dahulu, ketika seisi kelas dihasut oleh Clarissa untuk merundungku dan mengucilkan diriku, hanya dia satu-satunya orang yang mau berteman denganku.Selama dua hari sejak pulang ke negara ini, aku juga mendengar dari berbagai pihak mengenai nasib Clarissa beserta ibu dan ayahnya.Sahabatku itu menceritakannya kepadaku.Enam bulan lalu, aku menghilang di hari pernikahan.Setelah Orlando mengetahui yang sebenarnya, dia merusak wajah Clarissa.Sementara, ibu dan ayah Clarissa masih sempat berusaha membuat keributan.Akan tetapi, Orlando sama sekali tidak memberi mereka kesempatan. Dia langsung membuat mereka menghilang dari kota ini.Setelah menceritakan semua itu, sahabatku menghela napas, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Makanya, orang nggak boleh berbuat jahat. Lihat kan, sudah pada kena karmanya.”Aku tersenyum, mencicipi kue mousse dan menyetujui kata-katanya.“Itu benar.”Me

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 7

    Enam bulan kemudian.Aku duduk di kediaman Klan Brighton di Pulau Tiora dan memandangi laut antarbenua yang berwarna biru.Selama setengah tahun ini, Tuan Ronan memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri.Semua orang di klan memanggilku “Nona”.Di sini, aku sudah mempelajari aturan dan cara bertindak orang Pulau Tiora, juga belajar bagaimana cara melindungi diri sendiri di dunia ini.Yang lebih penting lagi, aku sudah belajar untuk melepaskan.Aku mulai membuat film dokumenter.Karya pertamaku menceritakan tentang seorang wanita di Pulau Tiora, yang sudah bertahun-tahun mengalami kekerasan dalam rumah tangga.Akhirnya, dia membunuh suaminya dan mendekam di penjara selama sepuluh tahun.Pada hari dia dibebaskan, dia berkata, “Akhirnya aku bebas.”Aku menangis di balik lensa kamera.Itu karena aku tahu, bahwa akhirnya aku juga bebas.Menjelang senja, aku kembali ke kamarku dan menerima telepon dari Tuan Ronan.“Elena, hari peringatan kematian ibumu sudah dekat. Kamu harus pulang unt

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 6

    Ibu Clarissa yang berada di samping langsung marah besar dan berteriak histeris, “Hentikan! Lepaskan anakku, dasar kalian para pembunuh! Clarissa sama sekali nggak salah! Yang mencelakai Elena itu jelas-jelas kalian berdua! Apa hubungannya dengan kami?”Mendengar itu, Orlando menggigil, lalu mengangguk sambil tersenyum getir.“Benar. Yang selama ini menindas Elena memang kami berdua, para bajingan ini!”Orlando teringat hari itu di kediaman, saat dia mendorong Elena hingga jatuh tersungkur ke tanah.Sebuah peluru menembus perut Elena.Saat Elena terjatuh, pandangan mata Elena masih menatap ke arahnya.Namun, dia bahkan tidak menoleh sedikit pun.Kilatan kekejaman yang begitu menakutkan tiba-tiba melintas di mata Orlando.Dia menghubungi dewan klan melalui saluran telepon yang terenkripsi.Tiga hari kemudian, dewan klan mengadakan rapat tertutup.Orlando menyerahkan seluruh bukti yang ada di dalam flashdisk.Catatan di sekolah gereja, dokumen pembukuan palsu, hingga rekaman percakapan k

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 5

    Terutama ibu Clarissa, yang sedang mencemooh dengan nada sinis itu, “Clarissa kesayangan kita ini memang pintar. Pura-pura sakit dan mempermainkan si bodoh Orlando itu habis-habisan.”“Hahaha, dia itu bos mafia, tapi nggak bisa bedakan mana surat keterangan medis yang asli dan mana yang palsu.”Ibu Clarissa berbicara dengan nada suara yang begitu ketus dan tajam.Sambil berkata seperti itu, ibu Clarissa saling bertukar pandang dengan suaminya, lalu mencibir meremehkan.“Orlando sendiri juga pria rendahan. Dia menyia-nyiakan Elena yang sudah menyukainya selama 12 tahun dan malah nggak bisa lepas dari putriku.”“Ck ck, memang anakku yang paling memikat.”Ayah Clarissa pun menyesap anggur merahnya, lalu berkomentar dengan nada sombong, “Gadis bernama Elena itu nasibnya sial, sama seperti ibunya. Orang rendahan yang nggak ditakdirkan untuk menikmati hidup mewah.”“Dulu, kalau ibunya patuh dan menyerahkan uang itu, dia nggak akan sampai disiksa hingga melompat dari gedung. Kita juga nggak p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status