Share

Bab 2

Author: Wowo
Kembali ke apartemenku di Kota Maliyan, hari sudah larut malam.

Setelah asal mencari hotel untuk membersihkan diri, aku pun tertidur dalam keadaan linglung.

Menjelang subuh, aku terbangun karena dering telepon yang terus terdengar.

Nada suara bosku terdengar cemas sekaligus antusias.

“Elena, terjadi kekacauan di Kawasan Timur. Orang-orang Klan Leonard dan Klan Brighton saling baku tembak di gereja pinggir kota. Aku tahu, itu wilayah tunanganmu. Tapi, kalau kamu bisa dapatkan foto eksklusif ….”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah langsung menutup teleponnya.

Orlando tidak akan pernah mengizinkanku mendekati tempat itu.

Namun, justru karena alasan itulah, aku harus pergi.

Aku menyalakan ponselku.

Akan tetapi, yang kulihat justru unggahan terbaru Clarissa di media sosialnya.

Hanya ada satu foto.

Di dalam foto itu, tangan Clarissa digenggam erat oleh tangan Orlando yang besar dan jari manis mereka berdua mengenakan cincin kawin.

Menatap bekas luka lama di punggung tangan Orlando …. Hatiku yang sudah mati rasa, langsung terasa begitu sakit.

Luka itu didapatkan Orlando saat berusia 18 tahun demi melindungiku dari tindak kekerasan yang dilakukan ayahku, saat lengannya terkena pecahan botol anggur.

Hal itu juga yang selama ini kuyakini sebagai bukti bahwa dia peduli padaku.

Tapi ternyata, semua itu hanya khayalanku saja.

Sisa rasa sayang terakhir di hatiku, akhirnya benar-benar lenyap.

Aku membuka laptopku, merampungkan pekerjaanku, lalu meminta bantuan seorang teman pengacara untuk menyusun surat pembatalan pertunangan.

Saat kembali ke gereja, situasi di sana sudah sangat kacau.

Aku mengesampingkan emosi pribadiku, lalu mulai menghubungi dokter untuk membantu orang-orang yang terluka di lokasi kejadian.

Entah mengapa, insiden penembakan kali ini begitu parah.

Melihat area konstruksi baru di dekat gereja, serta detonator yang disimpan secara ilegal di sana, aku mulai mencurigai ada sesuatu yang tidak beres.

Namun, sesaat kemudian, aku ditendang dengan keras dari arah belakang.

Tubuhku tersungkur jatuh ke tanah, tangan dan wajahku tergores oleh kerikil-kerikil tajam.

Lalu, suara Michael terdengar dari belakang.

“Elena, kenapa kamu selalu mengikuti kami? Demi memergoki perselingkuhan, kamu mengejar sampai ke tempat ini? Kamu sudah gila, ya?”

Entah sejak kapan, Michael sudah lama melupakan kondisi tragis saat ibu kami dipaksa mati bunuh diri oleh ibu Clarissa.

Aku akan selalu mengingat hari itu.

Ibu berdiri di atas atap dan angin menerpa rambutnya.

Ibu menoleh ke arahku, matanya dipenuhi keputusasaan.

Ibu lalu berkata kepadaku, “Elena, Ibu minta maaf.”

Lalu, Ibu melompat ke bawah.

Belakangan, Ayah mengatakan bahwa Ibu menderita gangguan jiwa dan bunuh diri.

Tepat di hari kedua setelah Ibu meninggal, ibu Clarissa langsung membawa putrinya pindah ke rumah kami.

Sambil tersenyum sinis, ibu Clarissa berkata kepadaku, “Aku dan ayahmu sudah lama bersama. Ibumu bunuh diri karena nggak tahan.”

Aku menceritakannya kepada Orlando, tetapi dia tidak percaya.

Orlando berkata, “Ayahmu sendiri bilang itu bunuh diri. Siapa lagi yang mau kamu fitnah?”

Michael juga tidak percaya padaku. “Ibu Clarissa itu orang yang sangat baik. Bisakah kamu berhenti memfitnahnya?”

Michael yang sekarang, sudah menjadi antek Clarissa.

Aku tidak lagi menginginkan adik seperti itu.

Aku bangkit tanpa suara, lalu menepuk-nepuk debu di pakaianku dengan santai.

Dengan wajah tanpa ekspresi, aku berjalan menghampiri Michael, lalu melayangkan tamparan keras ke wajahnya.

Michael tersentak, sampai kepalanya menoleh ke samping. Dia menatapku dengan terkejut, karena tidak menyangka aku akan melawan.

Sebelum Michael sempat bereaksi, aku menatapnya tajam dan penuh penghinaan.

“Jangan terlalu percaya diri. Kalau kamu memang sangat menyukai Clarissa, jadilah anteknya yang baik dan teruslah bersamanya.”

“Tamparan ini untuk melunasi utangmu yang dulu. Mulai sekarang, kita nggak punya hubungan apa-apa lagi.”

Aku mengabaikan tatapan Michael yang penuh amarah dan hendak berbalik untuk pergi.

Namun, tidak jauh dari sana, Orlando berjalan mendekat sambil menggendong Clarissa yang wajahnya pucat pasi.

Sedikit rasa bersalah melintas di wajah Orlando dan dia mulai menjelaskan, “Elena, semalam aku lupa mengucapkan selamat ulang tahun padamu.”

“Setelah aku selesai mengurus masalah di sini, aku akan pulang dan mengadakan pesta ulang tahun lagi untukmu ….”

Aku mengalihkan pandangan dengan tenang dari jari-jari mereka yang saling bertaut erat, lalu menggelengkan kepala dengan acuh tak acuh.

“Nggak perlu.”

Reaksiku yang tenang membuat ketiga orang di tempat itu menjadi tertegun.

Michael, yang baru saja menyusul, langsung mencibir.

“Elena, sandiwara apa lagi yang kamu mainkan sekarang? Jangan berakting lagi!”

“Kamu sudah mengandung anak Orlando, masih saja main jual mahal kayak gini?”

“Dasar konyol!”

“Sudah kubilang, meski kamu sedang hamil, kamu bahkan nggak pantas untuk jadi pembantu Clarissa!”

Jika ini terjadi di masa lalu, mendengar Michael berkata seperti itu, aku pasti akan merasa sangat sedih.

Hanya saja sekarang, aku sudah tidak peduli lagi.

Melihat ekspresiku yang tetap dingin dan acuh tak acuh ….

Orlando pun ikut merasa kesal. Dia mengerutkan kening dan berkata dengan suara yang dalam, “Elena, kamu membuntuti dan mengganggu urusan pentingku saja sudah keterlaluan. Kenapa sekarang masih saja bikin ulah di sini?”

“Kuberi tahu, ya. Kesabaranku ada batasnya. Clarissa butuh istirahat. Kehadiranmu cuma akan mengganggu dia!”

“Pulang sekarang juga!”

Sambil berkata seperti itu, Orlando mencengkeram tanganku, berusaha menyeretku pergi secara paksa.

Namun, tak disangka, sedetik kemudian suara tembakan kembali terdengar.

Baik Orlando maupun Michael, hampir secara bersamaan menerjang ke arah Clarissa yang berdiri di tempat terbuka.

Bahkan, Orlando tanpa sadar mendorongku hingga terjatuh ke tanah.

Padahal, Orlando sendiri jelas-jelas melihat ada seseorang di belakangku yang sedang mengarahkan senjata kepadaku.

Peluru itu pun dengan tepat mengenai pinggangku.

Aku benar-benar kehilangan kesadaran, karena rasa sakit yang luar biasa.

Begitu kembali tersadar, aku sudah berbaring di rumah sakit.

Tidak ada seorang pun di samping tempat tidurku.

Melihatku terbangun, seorang perawat mendekat untuk mencabut jarum infusku, lalu berkata dengan nada khawatir, “Kamu nggak tahu kalau kamu lagi hamil? Kenapa masih pergi ke tempat yang begitu berbahaya? Karena luka tembak itu, bayi dalam kandunganmu nggak bisa diselamatkan.”

Aku menatap langit-langit kamar dengan tenang dan berkata dengan suara yang begitu pelan, “Aku mengerti, terima kasih.”

Perawat itu pun menghela napas. “Kamu keguguran dan sebentar lagi harus dikuret.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 10

    EpilogSurat Terakhir Orlando.Surat itu disembunyikan Orlando di dalam map dokumen yang dia serahkan kepada pengacaranya, dengan instruksi agar surat itu baru diberikan kepadaku setelah dia dikremasi.Sesuai permintaannya tersebut, seminggu setelah pemakaman Orlando, pengacara itu mengantarkan surat yang tidak beramplop dan hanya diikat dengan pita hitam itu kepadaku.Saat aku membuka surat itu, hujan gerimis turun di luar jendela, persis seperti malam bertahun-tahun lalu, ketika ibuku menghilang.Aku membaca surat itu kata demi kata. Jariku dengan lembut menyentuh tanda tangan di ujung lembaran surat itu. Tanda tangan yang dahulu pernah membuat hatiku berdebar, tetapi kemudian menghancurkan hatiku.[Elena.][Kalau kamu membaca surat ini, itu artinya aku sudah nggak ada.][Aku nggak minta pengampunanmu.][Aku cuma ingin memberitahumu beberapa hal.][Pertama, aku sudah pergi menjenguk bayi kita. Lahan pemakaman itu dulunya atas namaku, tapi sekarang aku sudah memindahkannya atas namamu

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 9

    Tiga tahun kemudian.Sebagai seorang pemenang penghargaan, aku menghadiri Festival Film Dokumenter Dunia.Film dokumenter yang kubuat menceritakan kisah para perempuan yang terlupakan di berbagai belahan dunia.Mulai dari para janda di Pulau Tiora hingga para pengungsi di luar negeri, dari para istri korban kekerasan dalam rumah tangga, hingga gadis-gadis yang menjadi korban perdagangan manusia.Dalam pidato pemberian penghargaan itu, dikatakan, “Dia menggunakan lensa kameranya untuk memperjuangkan aspirasi mereka yang tertindas dan nggak berdaya.”Aku berdiri di atas panggung dan berkata, “Dulu aku juga orang yang tertindas dan nggak berdaya. Tapi, sekarang, aku nggak lagi seperti itu. Aku berharap ke depannya bisa terus memperjuangkan aspirasi lebih banyak perempuan.”Setelah upacara pemberian penghargaan selesai ….Aku kembali melayani para penggemar yang datang memberikan ucapan selamat dengan memberikan tanda tangan satu persatu kepada mereka.Selama tiga tahun ini, aku terus mend

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 8

    Keesokan harinya, aku pergi menghadiri pernikahan sahabatku.Sahabatku itu adalah teman baikku sejak SMA.Dahulu, ketika seisi kelas dihasut oleh Clarissa untuk merundungku dan mengucilkan diriku, hanya dia satu-satunya orang yang mau berteman denganku.Selama dua hari sejak pulang ke negara ini, aku juga mendengar dari berbagai pihak mengenai nasib Clarissa beserta ibu dan ayahnya.Sahabatku itu menceritakannya kepadaku.Enam bulan lalu, aku menghilang di hari pernikahan.Setelah Orlando mengetahui yang sebenarnya, dia merusak wajah Clarissa.Sementara, ibu dan ayah Clarissa masih sempat berusaha membuat keributan.Akan tetapi, Orlando sama sekali tidak memberi mereka kesempatan. Dia langsung membuat mereka menghilang dari kota ini.Setelah menceritakan semua itu, sahabatku menghela napas, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Makanya, orang nggak boleh berbuat jahat. Lihat kan, sudah pada kena karmanya.”Aku tersenyum, mencicipi kue mousse dan menyetujui kata-katanya.“Itu benar.”Me

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 7

    Enam bulan kemudian.Aku duduk di kediaman Klan Brighton di Pulau Tiora dan memandangi laut antarbenua yang berwarna biru.Selama setengah tahun ini, Tuan Ronan memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri.Semua orang di klan memanggilku “Nona”.Di sini, aku sudah mempelajari aturan dan cara bertindak orang Pulau Tiora, juga belajar bagaimana cara melindungi diri sendiri di dunia ini.Yang lebih penting lagi, aku sudah belajar untuk melepaskan.Aku mulai membuat film dokumenter.Karya pertamaku menceritakan tentang seorang wanita di Pulau Tiora, yang sudah bertahun-tahun mengalami kekerasan dalam rumah tangga.Akhirnya, dia membunuh suaminya dan mendekam di penjara selama sepuluh tahun.Pada hari dia dibebaskan, dia berkata, “Akhirnya aku bebas.”Aku menangis di balik lensa kamera.Itu karena aku tahu, bahwa akhirnya aku juga bebas.Menjelang senja, aku kembali ke kamarku dan menerima telepon dari Tuan Ronan.“Elena, hari peringatan kematian ibumu sudah dekat. Kamu harus pulang unt

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 6

    Ibu Clarissa yang berada di samping langsung marah besar dan berteriak histeris, “Hentikan! Lepaskan anakku, dasar kalian para pembunuh! Clarissa sama sekali nggak salah! Yang mencelakai Elena itu jelas-jelas kalian berdua! Apa hubungannya dengan kami?”Mendengar itu, Orlando menggigil, lalu mengangguk sambil tersenyum getir.“Benar. Yang selama ini menindas Elena memang kami berdua, para bajingan ini!”Orlando teringat hari itu di kediaman, saat dia mendorong Elena hingga jatuh tersungkur ke tanah.Sebuah peluru menembus perut Elena.Saat Elena terjatuh, pandangan mata Elena masih menatap ke arahnya.Namun, dia bahkan tidak menoleh sedikit pun.Kilatan kekejaman yang begitu menakutkan tiba-tiba melintas di mata Orlando.Dia menghubungi dewan klan melalui saluran telepon yang terenkripsi.Tiga hari kemudian, dewan klan mengadakan rapat tertutup.Orlando menyerahkan seluruh bukti yang ada di dalam flashdisk.Catatan di sekolah gereja, dokumen pembukuan palsu, hingga rekaman percakapan k

  • Aku Tak Sudi Menerima Cinta yang Datang Terlambat   Bab 5

    Terutama ibu Clarissa, yang sedang mencemooh dengan nada sinis itu, “Clarissa kesayangan kita ini memang pintar. Pura-pura sakit dan mempermainkan si bodoh Orlando itu habis-habisan.”“Hahaha, dia itu bos mafia, tapi nggak bisa bedakan mana surat keterangan medis yang asli dan mana yang palsu.”Ibu Clarissa berbicara dengan nada suara yang begitu ketus dan tajam.Sambil berkata seperti itu, ibu Clarissa saling bertukar pandang dengan suaminya, lalu mencibir meremehkan.“Orlando sendiri juga pria rendahan. Dia menyia-nyiakan Elena yang sudah menyukainya selama 12 tahun dan malah nggak bisa lepas dari putriku.”“Ck ck, memang anakku yang paling memikat.”Ayah Clarissa pun menyesap anggur merahnya, lalu berkomentar dengan nada sombong, “Gadis bernama Elena itu nasibnya sial, sama seperti ibunya. Orang rendahan yang nggak ditakdirkan untuk menikmati hidup mewah.”“Dulu, kalau ibunya patuh dan menyerahkan uang itu, dia nggak akan sampai disiksa hingga melompat dari gedung. Kita juga nggak p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status