LOGINHari keenam pelatihan berlangsung cukup lancar ,setidaknya sampai pukul lima sore ,materi hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal ,moderator mengumumkan istirahat ,memberikan ruang bagi peserta untuk bersantai sebelum sesi malam yang opsional ,Aruna merasa bisa bernapas lega ,otot-otot bahunya yang tegang mulai melonggar ,ia bahkan sudah merencanakan makan malam tepat waktu hanya itu ,tidak ada ambisi untuk menjadi peserta terbaik demi pujian semu ,tidak ada tugas tambahan yang disembunyika
Malam itu, setelah insiden panggilan mendadak di area lounge yang di mana Oxavio hanya meminta Aruna datang tanpa alasan jelas, membiarkannya menunggu selama dua puluh menit, lalu sekadar menanyakan konfirmasi data sepele sebelum mengusirnya kembali membuat suasana hati Aruna hancur berantakan ,rasa kesal bercampur malu karena dilihat oleh rekan-rekan lain yang mengira itu adalah momen romantis, membuat dada Aruna sesak , dan ia tidak bisa kembali ke kamar dengan perasaan seperti itu ,dinding kamar hotel yang sunyi justru akan membuatnya semakin memikirkan betapa terkendalinya hidupnya oleh pria itu ,jadi ketika jadwal pelatihan akhirnya benar-benar selesai tepat waktu pukul sembilan malam, membuat suasana para peserta lebih santai ,Aruna memilih untuk tidak langsung naik ke kamarnya .Beberapa orang memilih kembali ke kamar hotel untuk beristirahat, memanjakan diri dengan kasur empuk dan air panas ,sebagian lagi memanfaatkan waktu luang untuk berjalan-jalan di area hotel yang c
Hari keenam pelatihan berlangsung cukup lancar ,setidaknya sampai pukul lima sore ,materi hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal ,moderator mengumumkan istirahat ,memberikan ruang bagi peserta untuk bersantai sebelum sesi malam yang opsional ,Aruna merasa bisa bernapas lega ,otot-otot bahunya yang tegang mulai melonggar ,ia bahkan sudah merencanakan makan malam tepat waktu hanya itu ,tidak ada ambisi untuk menjadi peserta terbaik demi pujian semu ,tidak ada tugas tambahan yang disembunyikan di balik amplop putih ,ia hanya ingin makan sebelum perutnya kembali protes, menikmati hangatnya sup krim jagung atau steak sederhana tanpa rasa was-was bahwa ponselnya akan berdering memanggilnya kembali ke "penjara" pribadi. "Mbak Aruna!" Sintya muncul sambil membawa tas selempangnya, wajahnya cerah penuh harap. "Mau ikut makan?" Aruna menoleh, melihat senyum tulus rekan barunya itu ,ia tersenyum kecil "Boleh." "Serius?" Sintya tampak tidak percaya, matanya memb
Hari pertama pelatihan dimulai ,lokasi pelatihan tahun ini dipilih di sebuah hotel bintang lima di pusat kota, jauh dari hiruk-pikuk koridor rumah sakit tempat Aruna bekerja sehari-hari ,gedung yang megah dengan arsitektur kaca modern itu berdiri kokoh, memancarkan aura eksklusivitas yang jarang dirasakan oleh tenaga kesehatan lini depan ,peserta yang lolos seleksi berasal dari berbagai unit dan bahkan berbagai rumah sakit dalam satu grup kesehatan besar ,ada perawat dari IGD rumah sakit swasta ternama, bidan senior dari puskesmas daerah, hingga tenaga kesehatan dari cabang-cabang lain di kota tetangga. Suasana aula utama cukup ramai, dipenuhi dengung obrolan profesional dan pertukaran kartu nama ,sementara Aruna memilih duduk di barisan tengah, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok namun juga tidak tersembunyi ,ia membuka modul pelatihan yang dicetak di atas kertas tebal berlogo emas ,matanya menelusuri kata-kata di atas kertas tanpa benar-benar membacanya ,ia tidak ter
Sejak kejadian dipanggil ke lantai atas beberapa hari lalu, anak-anak praktik seperti menemukan bahan candaan baru yang tak pernah habis ,gosip tentang "panggilan romantis" dari CEO menjadi bumbu harian di ruang VK, mengubah setiap interaksi kecil menjadi peluang untuk menggoda Aruna. "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dengan nada bernyanyi, khas Rani yang sedang iseng. "Hm?" Aruna bahkan tidak perlu mengangkat kepala dari laporan kebidanan yang sedang dikerjakannya ,jemarinya terus menari di atas keyboard, fokus pada data pasien. "Cie." Aruna menghela napas pendek, mencoba mengabaikannya. "Cie apa sih?" tanyanya datar, meski sudut bibirnya berkedut sedikit menahan geli. "Cie dipanggil." "Itu kerjaan." Jawab Aruna singkat, matanya tetap tertuju pada layar monitor. "Cie." Rani tidak menyerah ,ia menarik kursi dan duduk bersila di samping meja Aruna, dagunya ditopang tangan, menatap wajah bi
Aruna sedang memeriksa berkas pasien, matanya menelusuri grafik dengan fokus penuh, ketika seorang staf administrasi menghampiri mejanya ,wajah wanita itu datar, khas pembawa pesan yang tidak ingin terlibat emosi. "Bidan Aruna." Aruna mendongak, pulpen di tangannya berhenti bergerak. "Iya?" "Diminta ke lantai atas " Jantung Aruna langsung mencelos ,sensasi dingin menjalar dari ulu hatinya hingga ke ujung jari-jarinya ,ia bahkan tidak perlu bertanya lantai atas yang mana karena hanya ada satu tempat yang langsung terlintas di pikirannya, sebuah tempat yang selalu diasosiasikannya dengan ketegangan dan kontrol. "Oh, iya." Jawabannya singkat hampir tanpa suara ,Nina yang kebetulan mendengar percakapan itu dari meja sebelahnya langsung mengangkat kepala ,tatapan mereka bertemu ,ada bahasa tubuh yang tersirat di sana seperti sebuah peringatan diam-diam ,Nina mengenal ekspresi itu ,ekspresi yang sudah bisa menebak bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi ,bahu Aruna s
Kegaduhan di ruang VK akhirnya mereda seiring berjalannya waktu, namun gema pertanyaan Rani tentang kebahagiaan seolah masih menggantung tipis di udara, meski tak seorang pun berani mengungkitnya lagi. Aruna memilih untuk membenamkan diri dalam tumpukan berkas, menjadikan kesibukan sebagai tameng terbaik dari rasa hampa yang mulai merayap kembali.Hari-hari pun berlalu seperti biasa ,pergantian shif, suara langkah petugas medis , serta tangisan bayi yang datang silih berganti kembali memenuhi ruang VK ,dan hari ini sejak pagi, ruang VK tidak benar-benar sepi ,udara di ruangan itu bergetar oleh aktivitas . "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dari sisi meja, memecah konsentrasi Aruna sesaat. "Hm?" Aruna tidak langsung menoleh ,jemarinya masih menari di atas keyboard, menyelesaikan kalimat terakhir dalam laporan sebelum ia mengalihkan perhatian sepenuhnya. "Kalau saya jadi Mbak, saya kayaknya nggak kuat deh." Aruna yang sedang menulis laporan akhi
Alarm ponsel berbunyi pukul lima pagi ,suara itu memecah keheningan kamar yang masih gelap ,Aruna membuka mata perlahan ,tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin, tetapi belum benar-benar pulih ,kepalanya masih berat ,sendi-sendinya masih terasa nyeri dan ada lemas yang belum sepenu
Setelah percakapan yang tidak menghasilkan apa pun itu berakhir, Nina akhirnya pergi dengan suara mesin mobil yang semakin menjauh meninggalkan halaman ,Oxavio masih berdiri di teras rumah, tatapannya kosong mengarah ke depan sementara kata-kata Nina terus terngiang di kepalanya ,ia tidak menyuka
Malam semakin larut ,setelah memastikan cairan infus Aruna mengalir dengan baik dan suhu tubuhnya mulai sedikit turun, Nina akhirnya keluar dari kamar dengan langkah pelan, sebelum pergi ia sempat menarik selimut Aruna hingga menutupi bahunya ,Nina memandang sahabatnya ada rasa sesak yang sulit d
Cairan infus menetes perlahan ,Aruna terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam ,tubuhnya masih terasa berat, namun menggigil yang sejak siang tadi menyiksanya perlahan mulai berkurang ,Nina masih duduk di kursi di samping tempat tidur ,tangannya sesekali menyentuh dahi Aruna yang masih







