Home / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya

Share

Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya

last update publish date: 2026-06-20 13:54:10

Kegaduhan di ruang VK akhirnya mereda seiring berjalannya waktu, namun gema pertanyaan Rani tentang kebahagiaan seolah masih menggantung tipis di udara, meski tak seorang pun berani mengungkitnya lagi. Aruna memilih untuk membenamkan diri dalam tumpukan berkas, menjadikan kesibukan sebagai tameng terbaik dari rasa hampa yang mulai merayap kembali.

Hari-hari pun berlalu seperti biasa ,pergantian shif, suara langkah petugas medis , serta tangisan bayi yang datang silih berganti kembali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Pelatihan

    Hari pertama pelatihan dimulai ,lokasi pelatihan tahun ini dipilih di sebuah hotel bintang lima di pusat kota, jauh dari hiruk-pikuk koridor rumah sakit tempat Aruna bekerja sehari-hari ,gedung yang megah dengan arsitektur kaca modern itu berdiri kokoh, memancarkan aura eksklusivitas yang jarang dirasakan oleh tenaga kesehatan lini depan ,peserta yang lolos seleksi berasal dari berbagai unit dan bahkan berbagai rumah sakit dalam satu grup kesehatan besar ,ada perawat dari IGD rumah sakit swasta ternama, bidan senior dari puskesmas daerah, hingga tenaga kesehatan dari cabang-cabang lain di kota tetangga. Suasana aula utama cukup ramai, dipenuhi dengung obrolan profesional dan pertukaran kartu nama ,sementara Aruna memilih duduk di barisan tengah, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok namun juga tidak tersembunyi ,ia membuka modul pelatihan yang dicetak di atas kertas tebal berlogo emas ,matanya menelusuri kata-kata di atas kertas tanpa benar-benar membacanya ,ia tidak ter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Dalam Jangkauan

    Sejak kejadian dipanggil ke lantai atas beberapa hari lalu, anak-anak praktik seperti menemukan bahan candaan baru yang tak pernah habis ,gosip tentang "panggilan romantis" dari CEO menjadi bumbu harian di ruang VK, mengubah setiap interaksi kecil menjadi peluang untuk menggoda Aruna. "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dengan nada bernyanyi, khas Rani yang sedang iseng. "Hm?" Aruna bahkan tidak perlu mengangkat kepala dari laporan kebidanan yang sedang dikerjakannya ,jemarinya terus menari di atas keyboard, fokus pada data pasien. "Cie." Aruna menghela napas pendek, mencoba mengabaikannya. "Cie apa sih?" tanyanya datar, meski sudut bibirnya berkedut sedikit menahan geli. "Cie dipanggil." "Itu kerjaan." Jawab Aruna singkat, matanya tetap tertuju pada layar monitor. "Cie." Rani tidak menyerah ,ia menarik kursi dan duduk bersila di samping meja Aruna, dagunya ditopang tangan, menatap wajah bi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya (2)

    Aruna sedang memeriksa berkas pasien, matanya menelusuri grafik dengan fokus penuh, ketika seorang staf administrasi menghampiri mejanya ,wajah wanita itu datar, khas pembawa pesan yang tidak ingin terlibat emosi. "Bidan Aruna." Aruna mendongak, pulpen di tangannya berhenti bergerak. "Iya?" "Diminta ke lantai atas " Jantung Aruna langsung mencelos ,sensasi dingin menjalar dari ulu hatinya hingga ke ujung jari-jarinya ,ia bahkan tidak perlu bertanya lantai atas yang mana karena hanya ada satu tempat yang langsung terlintas di pikirannya, sebuah tempat yang selalu diasosiasikannya dengan ketegangan dan kontrol. "Oh, iya." Jawabannya singkat hampir tanpa suara ,Nina yang kebetulan mendengar percakapan itu dari meja sebelahnya langsung mengangkat kepala ,tatapan mereka bertemu ,ada bahasa tubuh yang tersirat di sana seperti sebuah peringatan diam-diam ,Nina mengenal ekspresi itu ,ekspresi yang sudah bisa menebak bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi ,bahu Aruna s

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya

    Kegaduhan di ruang VK akhirnya mereda seiring berjalannya waktu, namun gema pertanyaan Rani tentang kebahagiaan seolah masih menggantung tipis di udara, meski tak seorang pun berani mengungkitnya lagi. Aruna memilih untuk membenamkan diri dalam tumpukan berkas, menjadikan kesibukan sebagai tameng terbaik dari rasa hampa yang mulai merayap kembali.Hari-hari pun berlalu seperti biasa ,pergantian shif, suara langkah petugas medis , serta tangisan bayi yang datang silih berganti kembali memenuhi ruang VK ,dan hari ini sejak pagi, ruang VK tidak benar-benar sepi ,udara di ruangan itu bergetar oleh aktivitas . "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dari sisi meja, memecah konsentrasi Aruna sesaat. "Hm?" Aruna tidak langsung menoleh ,jemarinya masih menari di atas keyboard, menyelesaikan kalimat terakhir dalam laporan sebelum ia mengalihkan perhatian sepenuhnya. "Kalau saya jadi Mbak, saya kayaknya nggak kuat deh." Aruna yang sedang menulis laporan akhi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Rahasia yang Tidak Diceritakan

    Kabar ternyata menyebar jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan Nina ,seperti api yang menjalar di atas jerami kering, gosip itu tidak butuh waktu lama untuk membakar imajinasi para siswa ,padahal ia hanya keceplosan satu kalimat ,satu kalimat singkat yang lolos dari penjagaan bibirnya di tengah keramaian koridor namun cukup untuk membuat rasa penasaran anak-anak praktik meledak seperti kembang api di malam tahun baru yang terang, yang bising, dan mustahil diabaikan. Akibatnya, sepanjang perjalanan kembali ke ruang VK, Rani dan teman-temannya sudah sibuk berbisik satu sama lain ,suara mereka bergema pelan di lorong rumah sakit yang steril, menciptakan konspirasi kecil di antara derap langkah sepatu karet mereka."Masa sih?" bisik seorang siswi dengan mata membulat, tangannya menutup mulut agar tidak terlalu keras."Kalau aku jadi Mbak Aruna, aku pasti bangga," sahut yang lain, nada suaranya penuh kekaguman naif."Iya.""Suaminya keren banget.""Masih muda lagi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Tidak Sesederhana yang Terlihat

    Sore itu rumah terasa hidup ,di ruang makan Aruna sedang duduk berhadapan dengan Bi Inah salah satu asisten rumah tangga yang sudah cukup lama bekerja dirumah Oxavio ,di antara mereka terdapat sepiring kue bolu yang masih mengepul ,aroma vanili dan mentega baru saja keluar dari oven memenuhi udara."Aduh, Mbak Aruna ini enak banget," puji Bi Inah sambil mengunyah potongan kecil dengan mata berbinar ,Aruna tertawa kecil "Masih kurang manis sebenarnya.""Nggak kok mbak ini pas," bantah Bi Inah antusias, lalu mengambil potongan kedua tanpa ragu. "Kalau begini saya bisa gemuk.""Ya jangan salahkan kuenya," sahut Aruna sambil menggeleng pelan, matanya menyipit jenaka ,mereka tertawa bersama, suara tawa itu bergema lembut, memecah keheningan dinding-dinding besar yang biasanya terasa begitu dingin bagi Aruna, wajah Aruna terlihat cerah ,tidak ada kerutan khawatir yang menggerogoti dahinya ,ia menikmati sore yang sederhana, seolah dunia luar tidak pernah ada ,namun su

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Di Bawah Kendaliku

    Aruna datang ke rumah sakit seperti biasa langit masih pucat ketika ia turun dari ojek di depan gerbang rumah sakit ,kabut tipis masih menggantung di udara ,beberapa perawat yang baru datang terlihat berjalan cepat sambil membawa tas kerja mereka suara ambulans terdengar samar dari kejauhan ,hari

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Batas yang Terus Didorong

    Ruangan itu semakin pengap karena sesuatu yang tidak terlihat sesuatu yang menggantung di antara dua orang yang berdiri saling berhadapan ,lampu kamar masih menyala redup bayangan mereka jatuh samar di lantai marmer yang dingin tidak ada suara selain napas yang terdengar berat di antara keheninga

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ketika Kendali Harus Selalu Ada

    Aruna sudah bangun sejak subuh ,kebiasaan yang ia pertahankan sejak lama bahkan sebelum menikah dengan Oxavio.Setelah shalat, ia langsung turun ke dapur, menyiapkan sarapan sederhana atau sekadar menata makanan yang sudah dimasak asisten rumah tangga ,lampu dapur menyala hangat di tengah rum

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Renyah ditengah Dingin

    Aruna masih berbaring di sisi tempat tidur ,lampu kamar sudah dimatikan hanya cahaya kecil dari lampu jalan di luar yang masuk melalui celah tirai ,ia tidak tidur matanya terbuka menatap langit-langit yang gelap ,tubuhnya masih terasa lelah namun yang lebih berat adalah pikirannya ,dua hari yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status