LOGINMalam sudah turun ketika Pratama Medical Center mulai sedikit lebih tenang ,koridor yang tadi siang dipenuhi langkah kaki kini hanya terdengar sesekali dilewati oleh perawat yang sedang bertugas malam ,lampu-lampu putih di langit-langit membuat suasana terasa dingin dan steril ,di lantai paling atas gedung itu sebuah ruangan besar dengan dinding kaca menghadap langsung ke pemandangan kota yang penuh lampu di ruangan itulah Oxavio Pratama berdiri tangannya berada di saku celana jasnya tatapannya menatap ke luar jendela ,lampu kota terlihat seperti bintang-bintang kecil di bawah sana namun pikirannya tidak sedang memikirkan kota melainkan satu nama ,Aruna Larasati.
Pintu ruangan terbuka pelan asistennya, Rafael, masuk sambil membawa sebuah tablet. “Data yang Anda minta sudah saya kumpulkan, Tuan.” Oxavio tidak langsung berbalik. “Bicaralah.” Rafael membuka file di tabletnya “Aruna Larasati, Usia dua puluh enam tahun.” Oxavio masih diam “Bekerja di rumah sakit ini sejak dua tahun lalu, Lulusan sekolah kebidanan dengan nilai cukup tinggi.” Rafael berhenti sebentar sebelum melanjutkan “Tidak memiliki data ayah.” Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi ,Oxavio perlahan berbalik. “Tidak ada ayah?” “Di dokumen resmi tidak tercatat.” Rafael menggeser layar tabletnya “Ibunya bernama Saraswati.” Nama itu membuat sesuatu di mata Oxavio berubah ,Dingin, Tajam, Seolah sebuah luka lama baru saja disentuh kembali. “Alamat lama mereka…” Rafael melanjutkan. “…ada di daerah yang cukup terkenal dengan aktivitas malam.” Oxavio tidak berkata apa-apa namun rahangnya menegang sedikit sebuah potongan kenangan lama tiba-tiba muncul di pikirannya ,suara pertengkaran ayah dan ibunya tangisan ibunya di ruang tamu dan satu nama yang selalu disebut dengan kebencian ,Saraswati. Wanita yang dituduh menghancurkan rumah tangga ayahnya ,wanita yang membuat ibunya pergi dari rumah itu dengan hati hancur dan sekarang anak wanita itu bekerja di rumah sakit miliknya ,oxavio tertawa kecil namun tawa itu tidak memiliki sedikit pun kehangatan “Menarik.” Rafael menunggu instruksi selanjutnya “Apa Anda ingin memindahkannya?” Oxavio menggeleng pelan “Tidak.” Ia berjalan kembali ke arah jendela. “Justru sebaliknya.” Rafael sedikit mengernyit “Maksud Anda?” Oxavio menatap pantulan wajahnya di kaca , wajah seorang pria yang sudah lama belajar menyembunyikan perasaan. “Dekati dia.” Rafael terdiam. “Maaf, Tuan?” Oxavio menoleh sedikit matanya tajam seperti pisau. “Wanita itu adalah anak dari orang yang menghancurkan keluarga saya.” suara Oxavio tenang namun dingin “Bukankah menarik kalau dia yang harus menanggung akibatnya?” Rafael tidak langsung menjawab ia sudah lama bekerja untuk Oxavio Ia tahu pria itu bukan orang yang mudah memaafkan namun kali ini… “Dia tidak melakukan apa pun, Tuan.” Oxavio tersenyum tipis “Dunia tidak pernah adil, Rafael.” Ia berjalan kembali ke mejanya “Dan saya tidak berniat membuatnya adil sekarang.” Rafael akhirnya mengangguk “Baik.” Namun sebelum ia keluar dari ruangan itu, Oxavio menambahkan satu kalimat lagi. “Cari tahu semua tentang hidupnya.” “Semua?” “Semua.” Rafael keluar dari ruangan itu dan Oxavio kembali sendirian ia membuka laci meja di dalamnya ada sebuah foto lama ,foto keluarganya bertahun-tahun lalu ,ibunya tersenyum di sana namun Oxavio tahu senyum itu tidak bertahan lama karena tidak lama setelah foto itu diambil semuanya hancur dan nama yang selalu disebut sebagai penyebabnya adalah ,Saraswati. Oxavio menatap foto itu beberapa detik sebelum menutup kembali lacinya ,matanya menjadi dingin lagi. “Sudah waktunya membayar semuanya.” Sementara itu, di bagian lain , Aruna baru saja pulang dari rumah sakit ,ia berjalan pelan menyusuri gang kecil menuju kostnya, langit malam terlihat gelap ,lampu jalan hanya menerangi sebagian kecil jalanan ,aruna memeluk tasnya erat hari ini terasa cukup melelahkan namun ia tetap bersyukur setidaknya hidupnya sekarang jauh lebih baik dari masa lalunya ,ia membuka pintu kamar kostnya ruangan kecil itu langsung menyambutnya dengan keheningan yang familiar ,aruna meletakkan tasnya di meja lalu duduk di tepi ranjang ,beberapa detik ia hanya diam kemudian tanpa sadar tangannya menyentuh pergelangan tangannya sendiri bekas luka lama itu masih ada di sana ,tipis, namun tidak pernah benar-benar hilang ,aruna menatapnya beberapa detik Kenangan malam itu masih terasa jelas di pikirannya namun ia segera menarik napas dalam. “Itu sudah lewat,” bisiknya pada diri sendiri Ia berdiri dan menuju jendela dari sana ia bisa melihat sebagian kecil langit malam, bintang-bintang tidak terlalu terlihat karena lampu kota terlalu terang namun Aruna tetap menatapnya lama ia tidak tahu bahwa di tempat lain di kota yang sama seseorang sedang memulai rencana yang perlahan akan menyeret hidupnya kembali ke dalam kekacauan dan orang itu adalah pria yang tadi siang berdiri di ruang bersalin, oxavio Pratama, seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya namun pria itu sudah memutuskan sesuatu tentang hidupnya, sesuatu yang bahkan tidak pernah Aruna bayangkan karena bagi Oxavio aruna bukanlah seorang wanita ,bukan seseorang yang perlu dipahami ,bukan seseorang yang perlu dilindungi melainkan hanya satu hal yaitu alat balas dendam dan tanpa ia sadari permainan itu sudah dimulai.Hari-hari pertama Aruna di apartemen barunya terasa tenang ,apartemen itu tidak besar namun nyaman. Cahaya matahari masuk setiap pagi melalui jendela besar di ruang tamu ,dari sana Aruna bisa melihat sebagian kota yang mulai hidup sejak dini hari ,orang-orang berangkat kerja, kendaraan mulai memenuhi jalan, dan langit yang perlahan berubah warna. Hari pertama ia bangun di sana, Aruna duduk di tepi tempat tidur ,tidak ada rasa takut ,ia hanya duduk, menatap cahaya pagi yang masuk ke kamarnya lalu tanpa sadar… ia menarik napas panjang seperti paru-parunya akhirnya bebas dari sesuatu yang selama ini menekan dari dalam. “Aku masih hidup,” gumamnya pelan. Kali ini kalimat itu tidak terdengar seperti kesedihan ,lebih seperti kesadaran baru. Beberapa minggu pertama berlalu dengan tenang , Aruna mulai membangun rutinitas baru ,bangun pagi, membuat kopi untuk dirinya sendiri, lalu berjalan ke rumah sakit ,jarak dari apartemen ke rumah sakit hanya sekitar sepuluh menit, m
Aruna tetap tinggal di rumah itu ,semua tampak normal di permukaan ,namun nyatanya tidak seluruh harapannya kosong. Malam ini hujan turun pelan Aruna sedang duduk di meja makan dengan beberapa berkas yang sedang ia baca, Oxavio mendekat. “Aruna.” Aruna mengangkat kepalanya pelan. “Iya.” Nada suaranya tetap sama seperti beberapa minggu terakhir, Oxavio menarik kursi di hadapannya ,beberapa detik berlalu tanpa kata, Akhirnya Oxavio berbicara. “Aku ingin bicara.” Aruna menutup berkasnya perlahan. “Silakan.” Tidak ada rasa gugup dalam suaranya ,ia menunduk sebentar, lalu menghela napas panjang. “Aku selalu merasa bersalah.” Aruna tidak bergerak, Oxavio melanjutkan dengan suara yang pelan. “Sejak hari itu.” Ia mengusap wajahnya sebentar. “saat aku mengirimmu pesan tentang ibumu.” Aruna menatapnya tanpa ekspresi Oxavio menelan ludah. “Aku tidak benar-benar ingin menjadikan ibumu sebagai gantinya
Sore mulai turun ketika Nina akhirnya kembali ,pintu kamar terbuka dengan suara cukup keras.“Runaa!”Nina masuk sambil membawa dua kantong plastik besar di kedua tangannya ,wajahnya ceria “Lihat aku bawa apa!”Ia meletakkan semua kantong itu di atas meja.“Aku tadi dapat voucher TikTok banyak banget ,jadi sekalian borong makanan ,ada ayam, minuman, dessert juga ,kita makan yuk kamu belum makan, kan?”Tidak ada jawaban ,Nina yang sedang sibuk mengeluarkan satu per satu makanan akhirnya menoleh ,baru saat itulah ia menyadari sesuatu ,Aruna duduk dengan wajah murung , matanya sembap dan di atas kasur tepat di samping tubuhnya, ada sebuah tas yang sudah terisi pakaian ,senyum Nina perlahan menghilang.“Run…” Aruna menunduk.“Kamu mau ke mana?”Beberapa detik berlalu tanpa jawaban ,kemudian satu air mata jatuh dari sudut mata Aruna.“Aku harus kembali, Nin.”Tangan Nina yang masih memegang kotak makanan langsung berhenti.“Hah?”Aruna
Tiga hari ,sudah tiga hari sejak ambulans itu membawa Aruna pergi, dan sejak itu, rumah besar Oxavio terasa dingin dan hampa.Oxavio tidak tidur nyenyak ,setiap kali ia menutup mata, bayangan wajah pucat Aruna dan jeritan kesakitannya pagi itu masih menghantuinya. Ia merasa kehilangan ,rasa bersalah itu menggerogoti dirinya namun egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya ,sebagai gantinya, ia menghabiskan waktu berjam-jam di ruang keamanan, menonton rekaman CCTV dari malam kejadian berulang-ulang.Di layar monitor, ia melihat Aruna yang lemah dibawa keluar oleh Nina ,ia melihat bagaimana Nina memeluk Aruna dengan protektif, bagaimana Aruna menangis di pelukan sahabatnya Oxavio tidak mengusik mereka ,ia membiarkan mereka pergi karena pada saat itu, ia tahu jika ia menghalangi, ia mungkin akan melakukan hal yang lebih buruk lagi atau mungkin... ia takut melihat tatapan jijik di mata Aruna sekali lagi.Namun, ketiadaan Aruna mulai membuatnya gerah ,rasa tidak nyaman itu
Suara sirine ambulans membelah keheningan pagi di kompleks perumahan elit itu ,Nina duduk di sampingnya, tangannya terus memegang tangan lain Aruna yang sehat, sementara paramedis lain seorang pria muda bernama Dika yang kebetulan mereka kenal dari jaringan rumah sakit lain sedang mempersiapkan peralatan stabilisasi leher dan bahu.“Bu Aruna, kami akan bawa ke RS Medika Utama ya? Itu paling dekat dan fasilitas traumanya lengkap,” kata Dika sambil memeriksa tensi Aruna.Aruna menggeleng lemah, matanya setengah tertutup karena rasa sakit yang menyengat setiap kali ambulans melewati jalan bergelombang kecil. “Tidak… jangan ke sana.”Nina menatap Dika, lalu menoleh ke Aruna ,ia mengerti ,RS Medika Utama adalah rumah sakit rekanan tempat Oxavio sering datang ,jika mereka masuk ke sana, data medis Aruna akan tercatat, dan bukan tidak mungkin Oxavio akan mengetahuinya dalam hitungan jam ,dan yang paling parah dia tidak mau ada kabar yang tidak baik kalau ada yang menganalinya
Nina datang lebih awal , seperti biasa ia membawa beberapa bungkus cemilan dari rumah memang bukan sesuatu yang istimewa ,hanya makanan ringan yang hampir selalu mereka habiskan bersama sebelum pergantian shift.Nina meletakkan kantong plastik itu di meja ruang jaga, kemudian mulai menyusun beberapa buku laporan yang nanti akan ia periksa ,sesekali matanya melirik ke arah pintu. Biasanya, pada jam seperti ini, Aruna sudah muncul, seharusnya perempuan itu sudah selesai menjalankan shift malam dan sedang bersiap pulang.Namun Nina belum melihatnya ,ia melihat jam tangannya kemudian kembali menatap pintu.“Aruna belum pulang kan?”Tasya yang sedang membereskan beberapa dokumen menoleh. “Aruna?”“Iya.” Nina menunjuk kantong camilan di atas meja. “Biasanya sebelum dia pulang kita ngemil dulu.”Tasya terdiam ,wajahnya berubah sedikit. “Nin...”“Hm?”“Aruna semalam nggak masuk.”Nina langsung mengernyit. “Bukan jadwal OFF dia kan hari ini ?”“Iya.”
Pagi di Pratama Medical Center selalu dimulai dengan kesibukan Para perawat berjalan cepat di koridor ,dokter keluar masuk ruang pemeriksaan suara mesin medis dan percakapan pelan bercampur menjadi satu ,di ruang bersalin, Aruna Larasati sedang memeriksa peralatan seperti biasa ,ia selalu datang
Hari di Pratama Medical Center berjalan seperti biasa Koridor rumah sakit dipenuhi suara langkah kaki yang tergesa, bunyi roda ranjang pasien yang didorong perawat, dan percakapan pelan antara keluarga pasien yang menunggu kabar dari dalam ruangan ,Bagi banyak orang, suasana itu terasa menegangka
Delapan tahun bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang ,beberapa luka memudar beberapa mimpi akhirnya tercapaiDan beberapa kenangan… tetap tinggal seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.Pagi itu, udara di kota jakarta masih terasa dingin ketika Aruna Larasati berdiri
Malam itu terasa berbeda ,Aruna menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumah. Langit sudah gelap ketika ia pulang dari perpustakaan sekolah seharian ia sengaja pulang lebih lama, Rumah selalu terasa lebih aman ketika ibunya belum membawa tamu Namun begitu ia membuka pintu, ia la







