共有

Perintah Sang CEO

last update 公開日: 2026-03-15 13:00:00

Malam sudah turun ketika Pratama Medical Center mulai sedikit lebih tenang ,koridor yang tadi siang dipenuhi langkah kaki kini hanya terdengar sesekali dilewati oleh perawat yang sedang bertugas malam ,lampu-lampu putih di langit-langit membuat suasana terasa dingin dan steril ,di lantai paling atas gedung itu sebuah ruangan besar dengan dinding kaca menghadap langsung ke pemandangan kota yang penuh lampu di ruangan itulah Oxavio Pratama berdiri tangannya berada di saku celana jasnya tatapannya menatap ke luar jendela ,lampu kota terlihat seperti bintang-bintang kecil di bawah sana namun pikirannya tidak sedang memikirkan kota melainkan satu nama ,Aruna Larasati.

Pintu ruangan terbuka pelan asistennya, Rafael, masuk sambil membawa sebuah tablet.

“Data yang Anda minta sudah saya kumpulkan, Tuan.”

Oxavio tidak langsung berbalik.

“Bicaralah.”

Rafael membuka file di tabletnya

“Aruna Larasati, Usia dua puluh enam tahun.”

Oxavio masih diam “Bekerja di rumah sakit ini sejak dua tahun lalu, Lulusan sekolah kebidanan dengan nilai cukup tinggi.”

Rafael berhenti sebentar sebelum melanjutkan

“Tidak memiliki data ayah.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi ,Oxavio perlahan berbalik.

“Tidak ada ayah?”

“Di dokumen resmi tidak tercatat.”

Rafael menggeser layar tabletnya

“Ibunya bernama Saraswati.”

Nama itu membuat sesuatu di mata Oxavio berubah ,Dingin, Tajam, Seolah sebuah luka lama baru saja disentuh kembali.

“Alamat lama mereka…” Rafael melanjutkan.

“…ada di daerah yang cukup terkenal dengan aktivitas malam.”

Oxavio tidak berkata apa-apa namun rahangnya menegang sedikit sebuah potongan kenangan lama tiba-tiba muncul di pikirannya ,suara pertengkaran ayah dan ibunya tangisan ibunya di ruang tamu dan satu nama yang selalu disebut dengan kebencian ,Saraswati.

Wanita yang dituduh menghancurkan rumah tangga ayahnya ,wanita yang membuat ibunya pergi dari rumah itu dengan hati hancur dan sekarang anak wanita itu bekerja di rumah sakit miliknya ,oxavio tertawa kecil namun tawa itu tidak memiliki sedikit pun kehangatan

“Menarik.”

Rafael menunggu instruksi selanjutnya

“Apa Anda ingin memindahkannya?”

Oxavio menggeleng pelan “Tidak.”

Ia berjalan kembali ke arah jendela.

“Justru sebaliknya.” Rafael sedikit mengernyit

“Maksud Anda?”

Oxavio menatap pantulan wajahnya di kaca , wajah seorang pria yang sudah lama belajar menyembunyikan perasaan.

“Dekati dia.” Rafael terdiam.

“Maaf, Tuan?”

Oxavio menoleh sedikit matanya tajam seperti pisau.

“Wanita itu adalah anak dari orang yang menghancurkan keluarga saya.” suara Oxavio tenang namun dingin

“Bukankah menarik kalau dia yang harus menanggung akibatnya?” Rafael tidak langsung menjawab ia sudah lama bekerja untuk Oxavio

Ia tahu pria itu bukan orang yang mudah memaafkan namun kali ini…

“Dia tidak melakukan apa pun, Tuan.”

Oxavio tersenyum tipis “Dunia tidak pernah adil, Rafael.” Ia berjalan kembali ke mejanya

“Dan saya tidak berniat membuatnya adil sekarang.” Rafael akhirnya mengangguk

“Baik.”

Namun sebelum ia keluar dari ruangan itu, Oxavio menambahkan satu kalimat lagi.

“Cari tahu semua tentang hidupnya.”

“Semua?”

“Semua.”

Rafael keluar dari ruangan itu dan Oxavio kembali sendirian ia membuka laci meja di dalamnya ada sebuah foto lama ,foto keluarganya bertahun-tahun lalu ,ibunya tersenyum di sana namun Oxavio tahu senyum itu tidak bertahan lama karena tidak lama setelah foto itu diambil semuanya hancur dan nama yang selalu disebut sebagai penyebabnya adalah ,Saraswati.

Oxavio menatap foto itu beberapa detik sebelum menutup kembali lacinya ,matanya menjadi dingin lagi.

“Sudah waktunya membayar semuanya.”

Sementara itu, di bagian lain , Aruna baru saja pulang dari rumah sakit ,ia berjalan pelan menyusuri gang kecil menuju kostnya, langit malam terlihat gelap ,lampu jalan hanya menerangi sebagian kecil jalanan ,aruna memeluk tasnya erat hari ini terasa cukup melelahkan namun ia tetap bersyukur setidaknya hidupnya sekarang jauh lebih baik dari masa lalunya ,ia membuka pintu kamar kostnya ruangan kecil itu langsung menyambutnya dengan keheningan yang familiar ,aruna meletakkan tasnya di meja lalu duduk di tepi ranjang ,beberapa detik ia hanya diam kemudian tanpa sadar tangannya menyentuh pergelangan tangannya sendiri bekas luka lama itu masih ada di sana ,tipis, namun tidak pernah benar-benar hilang ,aruna menatapnya beberapa detik Kenangan malam itu masih terasa jelas di pikirannya namun ia segera menarik napas dalam.

“Itu sudah lewat,” bisiknya pada diri sendiri

Ia berdiri dan menuju jendela dari sana ia bisa melihat sebagian kecil langit malam, bintang-bintang tidak terlalu terlihat karena lampu kota terlalu terang namun Aruna tetap menatapnya lama ia tidak tahu bahwa di tempat lain di kota yang sama seseorang sedang memulai rencana yang perlahan akan menyeret hidupnya kembali ke dalam kekacauan dan orang itu adalah pria yang tadi siang berdiri di ruang bersalin, oxavio Pratama, seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya namun pria itu sudah memutuskan sesuatu tentang hidupnya, sesuatu yang bahkan tidak pernah Aruna bayangkan karena bagi Oxavio aruna bukanlah seorang wanita ,bukan seseorang yang perlu dipahami ,bukan seseorang yang perlu dilindungi melainkan hanya satu hal yaitu alat balas dendam dan tanpa ia sadari permainan itu sudah dimulai.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Manusia dari Masa Lalu

    Malam itu, setelah insiden panggilan mendadak di area lounge yang di mana Oxavio hanya meminta Aruna datang tanpa alasan jelas, membiarkannya menunggu selama dua puluh menit, lalu sekadar menanyakan konfirmasi data sepele sebelum mengusirnya kembali membuat suasana hati Aruna hancur berantakan ,rasa kesal bercampur malu karena dilihat oleh rekan-rekan lain yang mengira itu adalah momen romantis, membuat dada Aruna sesak , dan ia tidak bisa kembali ke kamar dengan perasaan seperti itu ,dinding kamar hotel yang sunyi justru akan membuatnya semakin memikirkan betapa terkendalinya hidupnya oleh pria itu ,jadi ketika jadwal pelatihan akhirnya benar-benar selesai tepat waktu pukul sembilan malam, membuat suasana para peserta lebih santai ,Aruna memilih untuk tidak langsung naik ke kamarnya .Beberapa orang memilih kembali ke kamar hotel untuk beristirahat, memanjakan diri dengan kasur empuk dan air panas ,sebagian lagi memanfaatkan waktu luang untuk berjalan-jalan di area hotel yang c

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Lagi- lagi

    Hari keenam pelatihan berlangsung cukup lancar ,setidaknya sampai pukul lima sore ,materi hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal ,moderator mengumumkan istirahat ,memberikan ruang bagi peserta untuk bersantai sebelum sesi malam yang opsional ,Aruna merasa bisa bernapas lega ,otot-otot bahunya yang tegang mulai melonggar ,ia bahkan sudah merencanakan makan malam tepat waktu hanya itu ,tidak ada ambisi untuk menjadi peserta terbaik demi pujian semu ,tidak ada tugas tambahan yang disembunyikan di balik amplop putih ,ia hanya ingin makan sebelum perutnya kembali protes, menikmati hangatnya sup krim jagung atau steak sederhana tanpa rasa was-was bahwa ponselnya akan berdering memanggilnya kembali ke "penjara" pribadi. "Mbak Aruna!" Sintya muncul sambil membawa tas selempangnya, wajahnya cerah penuh harap. "Mau ikut makan?" Aruna menoleh, melihat senyum tulus rekan barunya itu ,ia tersenyum kecil "Boleh." "Serius?" Sintya tampak tidak percaya, matanya memb

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Pelatihan

    Hari pertama pelatihan dimulai ,lokasi pelatihan tahun ini dipilih di sebuah hotel bintang lima di pusat kota, jauh dari hiruk-pikuk koridor rumah sakit tempat Aruna bekerja sehari-hari ,gedung yang megah dengan arsitektur kaca modern itu berdiri kokoh, memancarkan aura eksklusivitas yang jarang dirasakan oleh tenaga kesehatan lini depan ,peserta yang lolos seleksi berasal dari berbagai unit dan bahkan berbagai rumah sakit dalam satu grup kesehatan besar ,ada perawat dari IGD rumah sakit swasta ternama, bidan senior dari puskesmas daerah, hingga tenaga kesehatan dari cabang-cabang lain di kota tetangga. Suasana aula utama cukup ramai, dipenuhi dengung obrolan profesional dan pertukaran kartu nama ,sementara Aruna memilih duduk di barisan tengah, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok namun juga tidak tersembunyi ,ia membuka modul pelatihan yang dicetak di atas kertas tebal berlogo emas ,matanya menelusuri kata-kata di atas kertas tanpa benar-benar membacanya ,ia tidak ter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Dalam Jangkauan

    Sejak kejadian dipanggil ke lantai atas beberapa hari lalu, anak-anak praktik seperti menemukan bahan candaan baru yang tak pernah habis ,gosip tentang "panggilan romantis" dari CEO menjadi bumbu harian di ruang VK, mengubah setiap interaksi kecil menjadi peluang untuk menggoda Aruna. "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dengan nada bernyanyi, khas Rani yang sedang iseng. "Hm?" Aruna bahkan tidak perlu mengangkat kepala dari laporan kebidanan yang sedang dikerjakannya ,jemarinya terus menari di atas keyboard, fokus pada data pasien. "Cie." Aruna menghela napas pendek, mencoba mengabaikannya. "Cie apa sih?" tanyanya datar, meski sudut bibirnya berkedut sedikit menahan geli. "Cie dipanggil." "Itu kerjaan." Jawab Aruna singkat, matanya tetap tertuju pada layar monitor. "Cie." Rani tidak menyerah ,ia menarik kursi dan duduk bersila di samping meja Aruna, dagunya ditopang tangan, menatap wajah bi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya (2)

    Aruna sedang memeriksa berkas pasien, matanya menelusuri grafik dengan fokus penuh, ketika seorang staf administrasi menghampiri mejanya ,wajah wanita itu datar, khas pembawa pesan yang tidak ingin terlibat emosi. "Bidan Aruna." Aruna mendongak, pulpen di tangannya berhenti bergerak. "Iya?" "Diminta ke lantai atas " Jantung Aruna langsung mencelos ,sensasi dingin menjalar dari ulu hatinya hingga ke ujung jari-jarinya ,ia bahkan tidak perlu bertanya lantai atas yang mana karena hanya ada satu tempat yang langsung terlintas di pikirannya, sebuah tempat yang selalu diasosiasikannya dengan ketegangan dan kontrol. "Oh, iya." Jawabannya singkat hampir tanpa suara ,Nina yang kebetulan mendengar percakapan itu dari meja sebelahnya langsung mengangkat kepala ,tatapan mereka bertemu ,ada bahasa tubuh yang tersirat di sana seperti sebuah peringatan diam-diam ,Nina mengenal ekspresi itu ,ekspresi yang sudah bisa menebak bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi ,bahu Aruna s

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Yang Terlihat dan Yang Sebenarnya

    Kegaduhan di ruang VK akhirnya mereda seiring berjalannya waktu, namun gema pertanyaan Rani tentang kebahagiaan seolah masih menggantung tipis di udara, meski tak seorang pun berani mengungkitnya lagi. Aruna memilih untuk membenamkan diri dalam tumpukan berkas, menjadikan kesibukan sebagai tameng terbaik dari rasa hampa yang mulai merayap kembali.Hari-hari pun berlalu seperti biasa ,pergantian shif, suara langkah petugas medis , serta tangisan bayi yang datang silih berganti kembali memenuhi ruang VK ,dan hari ini sejak pagi, ruang VK tidak benar-benar sepi ,udara di ruangan itu bergetar oleh aktivitas . "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dari sisi meja, memecah konsentrasi Aruna sesaat. "Hm?" Aruna tidak langsung menoleh ,jemarinya masih menari di atas keyboard, menyelesaikan kalimat terakhir dalam laporan sebelum ia mengalihkan perhatian sepenuhnya. "Kalau saya jadi Mbak, saya kayaknya nggak kuat deh." Aruna yang sedang menulis laporan akhi

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Anak-anak Magang

    Hari-hari setelah perayaan kecil di ruang VK itu berlalu dengan cepat ,mungkin karena Aruna terlalu sibuk menjalaninya atau mungkin karena ia tidak lagi menghitung hari hanya untuk bertahan ,beberapa hari terakhir terasa menyenangkan seolah semesta sedang memberinya jeda setelah terlalu lama dipa

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Kebiasaan Baru

    Setelah liburnya bersama Nina ,hari hari Aruna berjalan tenang ,entah kebetulan entah memang waktu berpihak padanya ,masa perubahan jadwal yang sempat membuat hidupnya jungkir balik akhirnya benar-benar berakhir.Sejak awal, kebijakan itu memang hanya diberlakukan sebagai masa percobaan selam

  • Aku ,Target balas dendam CEO   perbedaan rasa

    Kali ini setelah beberapa minggu terakhir, Aruna terbangun tanpa suara alarm yang memaksanya beranjak dari tempat tidur ,tidak ada jadwal shift pagi yang harus dikejar ,tidak ada laporan pasien yang menunggu untuk diselesaikan dan yang paling penting tidak ada tubuh yang menggigil karena demam ,p

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Istirahat yang Dipaksakan

    Ruang VK masih dipenuhi suara napas berat seorang ibu yang sedang berjuang melewati kontraksi terakhirnya ,Aruna berdiri di sisi ranjang, tangannya menggenggam tangan pasien dengan lembut ,sesekali ia mengusap punggung tangan wanita itu untuk menenangkannya. "Tarik napas pelan, Bu..."

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status