Home / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / Perhatian yang terlalu jelas .

Share

Perhatian yang terlalu jelas .

last update publish date: 2026-03-16 09:00:21

Pagi di Pratama Medical Center selalu dimulai dengan kesibukan Para perawat berjalan cepat di koridor ,dokter keluar masuk ruang pemeriksaan suara mesin medis dan percakapan pelan bercampur menjadi satu ,di ruang bersalin, Aruna Larasati sedang memeriksa peralatan seperti biasa ,ia selalu datang lebih pagi dari sebagian besar staf lainnya bukan karena diwajibkan melainkan karena ia merasa lebih tenang ketika bisa mempersiapkan semuanya dengan baik , Aruna merapikan beberapa alat medis di atas meja namun dari belakang, tiba tiba suara nina terdengar

“Aruna.” Aruna menoleh

“Kenapa?” Nina terlihat sedikit bingung

“Direktur rumah sakit memanggil kamu.”

Aruna mengerutkan kening “Memanggilku?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Nina mengangkat bahu “Aku juga tidak tahu.”

Aruna merasa sedikit heran ,ia jarang sekali dipanggil oleh manajemen rumah sakit ,Apalagi oleh direktur.

“Baiklah,” katanya pelan.

Ia melepas sarung tangan medisnya dan berjalan keluar ruangan ,Sepanjang koridor, beberapa staf terlihat masih sibuk dengan pekerjaan mereka ,Aruna mencoba mengingat apakah ia melakukan kesalahan dalam pekerjaannya beberapa hari terakhir amun ia tidak menemukan apa pun ia selalu bekerja sesuai prosedur dan selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik jadi kenapa ia dipanggil?

Aruna akhirnya sampai di lantai administrasi seorang sekretaris duduk di meja depan.

“Aruna Larasati?” tanyanya.

“Iya.”

“Silakan masuk"

Aruna mengangguk pelan namun ketika pintu ruangan itu terbuka ia langsung berhenti Karena orang yang duduk di dalam ruangan itu bukan hanya direktur rumah sakit melainkan juga seseorang yang langsung ia kenali ,Pak Oxavio Pratama.

Pria itu duduk dengan tenang di kursi besar di sisi ruangan jas hitamnya terlihat sempurna seperti biasa tatapannya tajam dan sekarang matanya tertuju langsung pada Aruna, direktur rumah sakit berdiri.

“Ah, Aruna. Silakan duduk.”

Aruna mencoba tetap tenang ia duduk di kursi yang disediakan namun entah kenapa suasana di ruangan itu terasa sedikit menekan.

“Aruna,” kata direktur.

“Kami sedang melakukan evaluasi terhadap beberapa bagian rumah sakit." Aruna mengangguk pelan.

“Dan dari laporan yang kami terima, kinerjamu di ruang bersalin sangat baik.”

Aruna sedikit terkejut. “Terima kasih, Dok.”

Direktur tersenyum kecil

“Namun ada rencana perubahan kecil dalam sistem kerja.”

Aruna menunggu penjelasan selanjutnya, namun sebelum direktur melanjutkan, Oxavio akhirnya berbicara ,suaranya tenang tapi memiliki tekanan yang sulit dijelaskan.

“Saya ingin melihat langsung bagaimana ruang bersalin bekerja.” aruna menoleh sedikit ke arahnya tatapan mereka bertemu lagi yang kali ini terasa lebih lama

“Dan saya memilih beberapa staf yang akan bekerja lebih dekat dengan manajemen,” lanjut Oxavio direktur mengangguk setuju.

“Salah satunya adalah kamu.”

Aruna sedikit terdiam “Maaf?”

Oxavio berdiri dari kursinya langkahnya tenang ketika ia berjalan mendekat dan sekarang jarak mereka hanya beberapa langkah saja

“Mulai hari ini,” katanya pelan

“saya ingin kamu menjadi penghubung antara ruang bersalin dan manajemen rumah sakit.”

Aruna benar-benar tidak menyangka

“Saya?”

“ Iya.”

Aruna ragu sejenak

“Tapi… saya hanya bidan biasa.”

Oxavio menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca

“Justru itu.”

Ia berhenti tepat di depan meja

“Menurut saya orang yang bekerja langsung di lapangan biasanya lebih jujur dalam melihat masalah.”

Aruna tidak langsung menjawab ada sesuatu dalam cara pria ini berbicara yang membuatnya merasa sedikit tidak nyaman seolah semua ini sudah direncanakan namun ia tidak memiliki alasan jelas untuk menolak.

Direktur kembali berkata,

“Ini kesempatan bagus untukmu, Aruna.”

Aruna akhirnya mengangguk pelan

“Baik.”

Namun ketika ia berdiri untuk keluar dari ruangan itu suara Oxavio menghentikannya.

“Aruna.”

Aruna menoleh ,Oxavio menatapnya beberapa detik.

“Kerjamu kemarin di ruang bersalin cukup mengesankan.”

Aruna sedikit terkejut ia tidak menyangka pria ini memperhatikan hal seperti itu.

“Terima kasih.”

ia lalu keluar dari ruangan itu namun begitu pintu tertutup napasnya terasa sedikit lebih ringan ia berjalan kembali ke ruang bersalin nina langsung menghampirinya.

“Kenapa lama sekali?”

Aruna duduk di kursinya.

“Mereka bilang aku dipilih sebagai penghubung ruang bersalin dengan manajemen.” Nina membelalakkan mata,

“Serius?”

Aruna mengangguk.

“Wah itu bagus sekali!”

Namun Aruna tidak terlihat terlalu senang,

“Entahlah.”

“Kenapa?”

Aruna menatap ke arah koridor sebentar,

“Rasanya aneh.”

Nina tertawa kecil.

“Aneh bagaimana?”

Aruna tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

“Seperti… dia terlalu memperhatikanku.”

Nina langsung tahu siapa yang dimaksud.

“CEO ganteng itu?”

Aruna tidak menjawab namun itu sudah cukup menjadi jawaban ,Sementara itu di lantai atas rafael berdiri di depan meja kerja Oxavio

“Tuan.”

Oxavio tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang ia baca.

“Apa?”

“Semua data tentang bidan Aruna Larasati sudah lengkap.”

Oxavio akhirnya mengangkat kepala

“Dan?”

Rafael ragu sejenak sebelum berkata,

"Sebagian besar informasi tentang masa kecilnya tidak terlalu baik.”

Oxavio tersenyum tipis

“Itu sudah saya duga.”b Rafael melanjutkan,

“Ibunya masih tinggal di alamat lama.”

Oxavio sedikit menyipitkan mata

“Masih?”

“Iya.”

Ruangan itu menjadi sunyi beberapa saat lalu Oxavio berkata pelan,

“Menarik.” ia menutup dokumen di depannya.

“Sepertinya permainan ini akan lebih mudah dari yang saya kira.”

Rafael tidak langsung menjawab ia hanya bertanya,

“Apa langkah selanjutnya?” lalu Oxavio berdiri dan berjalan menuju jendela dari sana ia bisa melihat sebagian area rumah sakit beberapa staf berjalan di halaman dan di antara mereka ia melihat seseorang yang langsung ia kenali , Aruna, Wanita itu sedang berjalan bersama seorang perawat lain wajahnya terlihat tenang seperti biasa tidak tahu apa pun tentang rencana yang sedang dibuat untuknya ,Oxavio menatapnya lama kemudian berkata pelan,

“Biarkan dia percaya bahwa saya memperhatikannya karena pekerjaannya.” Rafael mengangguk.

“Dan setelah itu?”

Senyum tipis muncul di wajah Oxavio tapi senyum itu dingin.

“Saya akan membuatnya percaya bahwa saya benar-benar peduli padanya.” Rafael terdiam

karena ia tahu apa arti kalimat itu, Oxavio menambahkan satu kalimat lagi kalimat yang jauh lebih pelan hampir sama seperti bisikan.

“Lalu ketika dia sudah benar-benar percaya…” tatapan Oxavio kembali dingin,

“barulah saya menghancurkannya.”

Di luar jendela, Aruna masih berjalan tanpa mengetahui apa pun ia tidak tahu bahwa perhatian seorang CEO padanya bukanlah kebetulan bukan pula kekaguman melainkan awal dari sebuah rencana yang sangat berbahaya dan rencana itu baru saja dimulai.

.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Akhir dari semua .

    Hari-hari pertama Aruna di apartemen barunya terasa tenang ,apartemen itu tidak besar namun nyaman. Cahaya matahari masuk setiap pagi melalui jendela besar di ruang tamu ,dari sana Aruna bisa melihat sebagian kota yang mulai hidup sejak dini hari ,orang-orang berangkat kerja, kendaraan mulai memenuhi jalan, dan langit yang perlahan berubah warna. Hari pertama ia bangun di sana, Aruna duduk di tepi tempat tidur ,tidak ada rasa takut ,ia hanya duduk, menatap cahaya pagi yang masuk ke kamarnya lalu tanpa sadar… ia menarik napas panjang seperti paru-parunya akhirnya bebas dari sesuatu yang selama ini menekan dari dalam. “Aku masih hidup,” gumamnya pelan. Kali ini kalimat itu tidak terdengar seperti kesedihan ,lebih seperti kesadaran baru. Beberapa minggu pertama berlalu dengan tenang , Aruna mulai membangun rutinitas baru ,bangun pagi, membuat kopi untuk dirinya sendiri, lalu berjalan ke rumah sakit ,jarak dari apartemen ke rumah sakit hanya sekitar sepuluh menit, m

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Hal kecil dari Oxavio

    Aruna tetap tinggal di rumah itu ,semua tampak normal di permukaan ,namun nyatanya tidak seluruh harapannya kosong. Malam ini hujan turun pelan Aruna sedang duduk di meja makan dengan beberapa berkas yang sedang ia baca, Oxavio mendekat. “Aruna.” Aruna mengangkat kepalanya pelan. “Iya.” Nada suaranya tetap sama seperti beberapa minggu terakhir, Oxavio menarik kursi di hadapannya ,beberapa detik berlalu tanpa kata, Akhirnya Oxavio berbicara. “Aku ingin bicara.” Aruna menutup berkasnya perlahan. “Silakan.” Tidak ada rasa gugup dalam suaranya ,ia menunduk sebentar, lalu menghela napas panjang. “Aku selalu merasa bersalah.” Aruna tidak bergerak, Oxavio melanjutkan dengan suara yang pelan. “Sejak hari itu.” Ia mengusap wajahnya sebentar. “saat aku mengirimmu pesan tentang ibumu.” Aruna menatapnya tanpa ekspresi Oxavio menelan ludah. “Aku tidak benar-benar ingin menjadikan ibumu sebagai gantinya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ketika Pulang Bukan Lagi Pilihan

    Sore mulai turun ketika Nina akhirnya kembali ,pintu kamar terbuka dengan suara cukup keras.“Runaa!”Nina masuk sambil membawa dua kantong plastik besar di kedua tangannya ,wajahnya ceria “Lihat aku bawa apa!”Ia meletakkan semua kantong itu di atas meja.“Aku tadi dapat voucher TikTok banyak banget ,jadi sekalian borong makanan ,ada ayam, minuman, dessert juga ,kita makan yuk kamu belum makan, kan?”Tidak ada jawaban ,Nina yang sedang sibuk mengeluarkan satu per satu makanan akhirnya menoleh ,baru saat itulah ia menyadari sesuatu ,Aruna duduk dengan wajah murung , matanya sembap dan di atas kasur tepat di samping tubuhnya, ada sebuah tas yang sudah terisi pakaian ,senyum Nina perlahan menghilang.“Run…” Aruna menunduk.“Kamu mau ke mana?”Beberapa detik berlalu tanpa jawaban ,kemudian satu air mata jatuh dari sudut mata Aruna.“Aku harus kembali, Nin.”Tangan Nina yang masih memegang kotak makanan langsung berhenti.“Hah?”Aruna

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ancaman Terakhir

    Tiga hari ,sudah tiga hari sejak ambulans itu membawa Aruna pergi, dan sejak itu, rumah besar Oxavio terasa dingin dan hampa.Oxavio tidak tidur nyenyak ,setiap kali ia menutup mata, bayangan wajah pucat Aruna dan jeritan kesakitannya pagi itu masih menghantuinya. Ia merasa kehilangan ,rasa bersalah itu menggerogoti dirinya namun egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya ,sebagai gantinya, ia menghabiskan waktu berjam-jam di ruang keamanan, menonton rekaman CCTV dari malam kejadian berulang-ulang.Di layar monitor, ia melihat Aruna yang lemah dibawa keluar oleh Nina ,ia melihat bagaimana Nina memeluk Aruna dengan protektif, bagaimana Aruna menangis di pelukan sahabatnya Oxavio tidak mengusik mereka ,ia membiarkan mereka pergi karena pada saat itu, ia tahu jika ia menghalangi, ia mungkin akan melakukan hal yang lebih buruk lagi atau mungkin... ia takut melihat tatapan jijik di mata Aruna sekali lagi.Namun, ketiadaan Aruna mulai membuatnya gerah ,rasa tidak nyaman itu

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang Tak Terucap

    Suara sirine ambulans membelah keheningan pagi di kompleks perumahan elit itu ,Nina duduk di sampingnya, tangannya terus memegang tangan lain Aruna yang sehat, sementara paramedis lain seorang pria muda bernama Dika yang kebetulan mereka kenal dari jaringan rumah sakit lain sedang mempersiapkan peralatan stabilisasi leher dan bahu.“Bu Aruna, kami akan bawa ke RS Medika Utama ya? Itu paling dekat dan fasilitas traumanya lengkap,” kata Dika sambil memeriksa tensi Aruna.Aruna menggeleng lemah, matanya setengah tertutup karena rasa sakit yang menyengat setiap kali ambulans melewati jalan bergelombang kecil. “Tidak… jangan ke sana.”Nina menatap Dika, lalu menoleh ke Aruna ,ia mengerti ,RS Medika Utama adalah rumah sakit rekanan tempat Oxavio sering datang ,jika mereka masuk ke sana, data medis Aruna akan tercatat, dan bukan tidak mungkin Oxavio akan mengetahuinya dalam hitungan jam ,dan yang paling parah dia tidak mau ada kabar yang tidak baik kalau ada yang menganalinya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ketika Aruna Tidak Datang

    Nina datang lebih awal , seperti biasa ia membawa beberapa bungkus cemilan dari rumah memang bukan sesuatu yang istimewa ,hanya makanan ringan yang hampir selalu mereka habiskan bersama sebelum pergantian shift.Nina meletakkan kantong plastik itu di meja ruang jaga, kemudian mulai menyusun beberapa buku laporan yang nanti akan ia periksa ,sesekali matanya melirik ke arah pintu. Biasanya, pada jam seperti ini, Aruna sudah muncul, seharusnya perempuan itu sudah selesai menjalankan shift malam dan sedang bersiap pulang.Namun Nina belum melihatnya ,ia melihat jam tangannya kemudian kembali menatap pintu.“Aruna belum pulang kan?”Tasya yang sedang membereskan beberapa dokumen menoleh. “Aruna?”“Iya.” Nina menunjuk kantong camilan di atas meja. “Biasanya sebelum dia pulang kita ngemil dulu.”Tasya terdiam ,wajahnya berubah sedikit. “Nin...”“Hm?”“Aruna semalam nggak masuk.”Nina langsung mengernyit. “Bukan jadwal OFF dia kan hari ini ?”“Iya.”

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Tatapan yang tak biasa

    Hari di Pratama Medical Center berjalan seperti biasa Koridor rumah sakit dipenuhi suara langkah kaki yang tergesa, bunyi roda ranjang pasien yang didorong perawat, dan percakapan pelan antara keluarga pasien yang menunggu kabar dari dalam ruangan ,Bagi banyak orang, suasana itu terasa menegangka

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Delapan Tahun Kemudian

    Delapan tahun bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang ,beberapa luka memudar beberapa mimpi akhirnya tercapaiDan beberapa kenangan… tetap tinggal seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.Pagi itu, udara di kota jakarta masih terasa dingin ketika Aruna Larasati berdiri

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Racun yang dipaksakan

    Malam itu terasa berbeda ,Aruna menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumah. Langit sudah gelap ketika ia pulang dari perpustakaan sekolah seharian ia sengaja pulang lebih lama, Rumah selalu terasa lebih aman ketika ibunya belum membawa tamu Namun begitu ia membuka pintu, ia la

  • Aku ,Target balas dendam CEO   luka yang dibawa pulang.

    Langit sudah mulai berubah jingga ketika Aruna berjalan pulang dari sekolah ,Langkahnya pelan, tapi pasti. Tas sekolahnya terasa lebih berat, meskipun isinya tidak bertambah apa-apa. Mungkin karena pikirannya yang penuh oleh kata-kata yang masih terngiang di kepalanya ,Perempuan malam ,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status