Home / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / Tatapan yang tak biasa

Share

Tatapan yang tak biasa

last update publish date: 2026-03-15 12:10:44

Hari di Pratama Medical Center berjalan seperti biasa Koridor rumah sakit dipenuhi suara langkah kaki yang tergesa, bunyi roda ranjang pasien yang didorong perawat, dan percakapan pelan antara keluarga pasien yang menunggu kabar dari dalam ruangan ,Bagi banyak orang, suasana itu terasa menegangkan.

Namun bagi Aruna Larasati, itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.

Ia berdiri di meja perawat sambil menulis laporan medis pasien yang baru saja ia tangani.

Tangannya bergerak cepat, rapi, dan terbiasa namun dari kejauhan, Nina memperhatikannya dengan ekspresi yang aneh.

“Aruna,” bisik Nina sambil menyikut lengannya

Aruna bahkan tidak mengangkat kepala.

“Ada apa?”

“Kamu benar-benar tidak penasaran?”

“Penasaran apa?”

Nina memutar matanya.

“CEO!”

Aruna akhirnya berhenti menulis dan menoleh

“Kenapa semua orang tiba-tiba heboh sekali soal itu?”

Nina menatapnya seperti melihat makhluk aneh

“Karena dia tampan.” Aruna menghela napas kecil

“Nina…”

“Serius! Aku tadi lihat dari jauh. Tinggi, jas mahal, wajahnya seperti aktor film.”

Aruna kembali fokus pada catatannya.

“Dia tetap manusia biasa.”

“Ya, tapi manusia biasa yang kaya raya.”

Aruna hanya tersenyum kecil ,Ia memang tidak pernah terlalu tertarik pada orang-orang seperti itu ,dunia mereka terasa sangat jauh dari dunianya yang ia pedulikan hanyalah pekerjaannya.

Namun beberapa menit kemudian, suasana di koridor tiba-tiba berubah ,beberapa staf rumah sakit langsung berdiri lebih tegap ,beberapa bahkan buru-buru merapikan seragam mereka,

Nina langsung menoleh ke arah ujung koridor.

“Dia datang…”

Aruna masih menulis ,namun langkah kaki yang mendekat terdengar berbeda ,tenang ,seolah orang itu terbiasa menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada ,tanpa sadar, Aruna mengangkat kepalanya dan di saat itulah ia melihatnya.

Seorang pria berjalan di tengah koridor dengan beberapa orang staf di belakangny jas hitamnya terlihat mahal ,langkahnya tenang tatapannya tajam dan dingin Oxavio Pratama, CEO muda yang namanya sering muncul di berita bisnis aruna pernah melihat fotonya di internet namun melihatnya langsung terasa berbeda pria itu terlihat lebih… nyata dan lebih menekan seolah aura yang ia bawa membuat orang di sekitarnya otomatis menjaga jarak.

Oxavio tidak melihat ke kiri atau ke kanan tatapannya lurus ke depan sampai akhirnya…

mata mereka bertemu ,hanya beberapa detik namun entah kenapa Aruna merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat bukan karena kagum.

melainkan karena ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang terasa… aneh.

Seolah ia sedang mengamati sesuatu bukan sekadar melihat aruna langsung menunduk kembali, ia tidak suka menjadi pusat perhatian namun Nina langsung berbisik heboh.

“Dia tadi lihat kamu!”

“Tidak.”

“Aku serius!”

Aruna menggeleng kecil.

“Mungkin hanya kebetulan.”

Nina tidak yakin, tapi ia tidak sempat berkata apa-apa lagi karena Oxavio sudah berjalan melewati mereka namun ketika pria itu melewati meja perawat, langkahnya melambat sedikit

Matanya melirik sekilas ke arah Aruna ,hanya sebentar lalu ia berjalan lagi ,aruna tidak melihatnya tapi Oxavio melihatnya dengan jelas ,wanita itu bidan yang tadi ia lihat di ruang bersalin kerudung hitam sederhana ,seragam rapi wajah tenang namun yang menarik perhatiannya bukan itu melainkan sesuatu yang hampir tidak terlihat bekas luka tipis di pergelangan tangan Aruna ,Oxavio memperhatikannya sekilas sebelum mengalihkan pandangan.

Namun sesuatu di dalam pikirannya seperti mencatat hal kecil itu tanpa alasan yang jelas beberapa jam kemudian, Aruna sedang merapikan alat medis di ruang bersalin ketika seorang perawat muda masuk dengan wajah panik.

“Mbak Aruna!”

“Ada apa?”

“Pasien baru datang ,Kondisinya darurat.”

Aruna langsung bergerak.

“Ayo.”

Di ruang bersalin, seorang wanita hamil terlihat sangat pucat ,napasnya tidak teratur ,dokter yang bertugas terlihat cemas

“Tekanan darahnya turun,” katanya cepat

aruna langsung membantu mempersiapkan semuanya ,suasana ruangan berubah tegang beberapa perawat bergerak cepat ,semua orang fokus pada satu tujuan menyelamatkan ibu dan bayinya.

Aruna berdiri di sisi pasien dengan wajah tenang

Namun di dalam hatinya ia tahu kondisi ini tidak mudah. “Bu, dengarkan saya,” katanya lembut. “Kita akan berusaha sebaik mungkin.”

Wanita itu menggenggam tangannya lemah.

“Selamatkan bayi saya…”

Aruna mengangguk pelan “Kami akan mencoba.”

Proses persalinan berjalan sulit.

Detik demi detik terasa sangat panjang namun akhirnya… tangisan bayi terdengar di ruangan itu semua orang menghela napas lega aruna tersenyum kecil.

Namun ketika ia mengangkat kepalanya ia melihat seseorang berdiri di dekat pintu ,Pak Oxavio ,pria itu ternyata memperhatikan sejak tadi ,tatapannya tertuju pada Aruna ,tidak ada ekspresi di wajahnya namun matanya terlihat serius seolah ia sedang menilai sesuatu ,aruna merasa sedikit tidak nyaman namun ia kembali fokus pada pekerjaannya beberapa menit kemudian, Oxavio akhirnya pergi dari ruangan itu.

Namun sebelum keluar, ia berkata pelan pada asistennya.

“Siapa bidan itu?”

Asistennya melihat ke arah Aruna

“Aruna Larasati, Tuan.”

Oxavio tidak langsung menjawab ,ia menatap sekali lagi ke arah wanita itu lalu berjalan pergi namun di dalam pikirannya, sebuah nama perlahan muncul ,nama yang sudah lama ia dengar ,nama seorang wanita dari masa lalu ayahnya dan untuk kali pertama dalam bertahun-tahun sebuah kecurigaan kecil mulai tumbuh di benaknya ,apakah ini hanya kebetulan? Atau… apakah wanita itu benar-benar memiliki hubungan dengan orang yang selama ini ia benci?

Oxavio berhenti sejenak di ujung koridor tatapannya menjadi lebih dingin

“Selidiki dia,” katanya singkat.

Asistennya langsung mengangguk.

“Baik, Tuan.”

Oxavio kembali berjalan namun satu hal pasti hari ini ia menemukan sesuatu yang tidak ia rencanakan dan tanpa ia sadari…

pertemuannya dengan Aruna Larasati bukanlah sebuah kebetulan melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar sesuatu yang akan menyeret mereka berdua ke dalam permainan balas dendam yang berbahaya sementara itu, di ruang bersalin… Aruna sama sekali tidak tahu bahwa hidupnya baru saja masuk ke dalam radar seorang pria yang mampu menghancurkan segalanya atau mungkin… mengubah segalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Akhir dari semua .

    Hari-hari pertama Aruna di apartemen barunya terasa tenang ,apartemen itu tidak besar namun nyaman. Cahaya matahari masuk setiap pagi melalui jendela besar di ruang tamu ,dari sana Aruna bisa melihat sebagian kota yang mulai hidup sejak dini hari ,orang-orang berangkat kerja, kendaraan mulai memenuhi jalan, dan langit yang perlahan berubah warna. Hari pertama ia bangun di sana, Aruna duduk di tepi tempat tidur ,tidak ada rasa takut ,ia hanya duduk, menatap cahaya pagi yang masuk ke kamarnya lalu tanpa sadar… ia menarik napas panjang seperti paru-parunya akhirnya bebas dari sesuatu yang selama ini menekan dari dalam. “Aku masih hidup,” gumamnya pelan. Kali ini kalimat itu tidak terdengar seperti kesedihan ,lebih seperti kesadaran baru. Beberapa minggu pertama berlalu dengan tenang , Aruna mulai membangun rutinitas baru ,bangun pagi, membuat kopi untuk dirinya sendiri, lalu berjalan ke rumah sakit ,jarak dari apartemen ke rumah sakit hanya sekitar sepuluh menit, m

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Hal kecil dari Oxavio

    Aruna tetap tinggal di rumah itu ,semua tampak normal di permukaan ,namun nyatanya tidak seluruh harapannya kosong. Malam ini hujan turun pelan Aruna sedang duduk di meja makan dengan beberapa berkas yang sedang ia baca, Oxavio mendekat. “Aruna.” Aruna mengangkat kepalanya pelan. “Iya.” Nada suaranya tetap sama seperti beberapa minggu terakhir, Oxavio menarik kursi di hadapannya ,beberapa detik berlalu tanpa kata, Akhirnya Oxavio berbicara. “Aku ingin bicara.” Aruna menutup berkasnya perlahan. “Silakan.” Tidak ada rasa gugup dalam suaranya ,ia menunduk sebentar, lalu menghela napas panjang. “Aku selalu merasa bersalah.” Aruna tidak bergerak, Oxavio melanjutkan dengan suara yang pelan. “Sejak hari itu.” Ia mengusap wajahnya sebentar. “saat aku mengirimmu pesan tentang ibumu.” Aruna menatapnya tanpa ekspresi Oxavio menelan ludah. “Aku tidak benar-benar ingin menjadikan ibumu sebagai gantinya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ketika Pulang Bukan Lagi Pilihan

    Sore mulai turun ketika Nina akhirnya kembali ,pintu kamar terbuka dengan suara cukup keras.“Runaa!”Nina masuk sambil membawa dua kantong plastik besar di kedua tangannya ,wajahnya ceria “Lihat aku bawa apa!”Ia meletakkan semua kantong itu di atas meja.“Aku tadi dapat voucher TikTok banyak banget ,jadi sekalian borong makanan ,ada ayam, minuman, dessert juga ,kita makan yuk kamu belum makan, kan?”Tidak ada jawaban ,Nina yang sedang sibuk mengeluarkan satu per satu makanan akhirnya menoleh ,baru saat itulah ia menyadari sesuatu ,Aruna duduk dengan wajah murung , matanya sembap dan di atas kasur tepat di samping tubuhnya, ada sebuah tas yang sudah terisi pakaian ,senyum Nina perlahan menghilang.“Run…” Aruna menunduk.“Kamu mau ke mana?”Beberapa detik berlalu tanpa jawaban ,kemudian satu air mata jatuh dari sudut mata Aruna.“Aku harus kembali, Nin.”Tangan Nina yang masih memegang kotak makanan langsung berhenti.“Hah?”Aruna

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ancaman Terakhir

    Tiga hari ,sudah tiga hari sejak ambulans itu membawa Aruna pergi, dan sejak itu, rumah besar Oxavio terasa dingin dan hampa.Oxavio tidak tidur nyenyak ,setiap kali ia menutup mata, bayangan wajah pucat Aruna dan jeritan kesakitannya pagi itu masih menghantuinya. Ia merasa kehilangan ,rasa bersalah itu menggerogoti dirinya namun egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya ,sebagai gantinya, ia menghabiskan waktu berjam-jam di ruang keamanan, menonton rekaman CCTV dari malam kejadian berulang-ulang.Di layar monitor, ia melihat Aruna yang lemah dibawa keluar oleh Nina ,ia melihat bagaimana Nina memeluk Aruna dengan protektif, bagaimana Aruna menangis di pelukan sahabatnya Oxavio tidak mengusik mereka ,ia membiarkan mereka pergi karena pada saat itu, ia tahu jika ia menghalangi, ia mungkin akan melakukan hal yang lebih buruk lagi atau mungkin... ia takut melihat tatapan jijik di mata Aruna sekali lagi.Namun, ketiadaan Aruna mulai membuatnya gerah ,rasa tidak nyaman itu

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang Tak Terucap

    Suara sirine ambulans membelah keheningan pagi di kompleks perumahan elit itu ,Nina duduk di sampingnya, tangannya terus memegang tangan lain Aruna yang sehat, sementara paramedis lain seorang pria muda bernama Dika yang kebetulan mereka kenal dari jaringan rumah sakit lain sedang mempersiapkan peralatan stabilisasi leher dan bahu.“Bu Aruna, kami akan bawa ke RS Medika Utama ya? Itu paling dekat dan fasilitas traumanya lengkap,” kata Dika sambil memeriksa tensi Aruna.Aruna menggeleng lemah, matanya setengah tertutup karena rasa sakit yang menyengat setiap kali ambulans melewati jalan bergelombang kecil. “Tidak… jangan ke sana.”Nina menatap Dika, lalu menoleh ke Aruna ,ia mengerti ,RS Medika Utama adalah rumah sakit rekanan tempat Oxavio sering datang ,jika mereka masuk ke sana, data medis Aruna akan tercatat, dan bukan tidak mungkin Oxavio akan mengetahuinya dalam hitungan jam ,dan yang paling parah dia tidak mau ada kabar yang tidak baik kalau ada yang menganalinya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ketika Aruna Tidak Datang

    Nina datang lebih awal , seperti biasa ia membawa beberapa bungkus cemilan dari rumah memang bukan sesuatu yang istimewa ,hanya makanan ringan yang hampir selalu mereka habiskan bersama sebelum pergantian shift.Nina meletakkan kantong plastik itu di meja ruang jaga, kemudian mulai menyusun beberapa buku laporan yang nanti akan ia periksa ,sesekali matanya melirik ke arah pintu. Biasanya, pada jam seperti ini, Aruna sudah muncul, seharusnya perempuan itu sudah selesai menjalankan shift malam dan sedang bersiap pulang.Namun Nina belum melihatnya ,ia melihat jam tangannya kemudian kembali menatap pintu.“Aruna belum pulang kan?”Tasya yang sedang membereskan beberapa dokumen menoleh. “Aruna?”“Iya.” Nina menunjuk kantong camilan di atas meja. “Biasanya sebelum dia pulang kita ngemil dulu.”Tasya terdiam ,wajahnya berubah sedikit. “Nin...”“Hm?”“Aruna semalam nggak masuk.”Nina langsung mengernyit. “Bukan jadwal OFF dia kan hari ini ?”“Iya.”

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Perhatian yang terlalu jelas .

    Pagi di Pratama Medical Center selalu dimulai dengan kesibukan Para perawat berjalan cepat di koridor ,dokter keluar masuk ruang pemeriksaan suara mesin medis dan percakapan pelan bercampur menjadi satu ,di ruang bersalin, Aruna Larasati sedang memeriksa peralatan seperti biasa ,ia selalu datang

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Perintah Sang CEO

    Malam sudah turun ketika Pratama Medical Center mulai sedikit lebih tenang ,koridor yang tadi siang dipenuhi langkah kaki kini hanya terdengar sesekali dilewati oleh perawat yang sedang bertugas malam ,lampu-lampu putih di langit-langit membuat suasana terasa dingin dan steril ,di lantai paling a

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Delapan Tahun Kemudian

    Delapan tahun bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang ,beberapa luka memudar beberapa mimpi akhirnya tercapaiDan beberapa kenangan… tetap tinggal seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.Pagi itu, udara di kota jakarta masih terasa dingin ketika Aruna Larasati berdiri

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Racun yang dipaksakan

    Malam itu terasa berbeda ,Aruna menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumah. Langit sudah gelap ketika ia pulang dari perpustakaan sekolah seharian ia sengaja pulang lebih lama, Rumah selalu terasa lebih aman ketika ibunya belum membawa tamu Namun begitu ia membuka pintu, ia la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status