로그인Malam itu terasa berbeda ,Aruna menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumah.
Langit sudah gelap ketika ia pulang dari perpustakaan sekolah seharian ia sengaja pulang lebih lama, Rumah selalu terasa lebih aman ketika ibunya belum membawa tamu Namun begitu ia membuka pintu, ia langsung tahu bahwa firasatnya salah ,Lampu ruang tamu menyala terang dan ibunya duduk di sofa dengan senyum yang terlalu manis yang dipaksakan “Lama sekali,” kata wanita itu santai Aruna mengerutkan kening sedikit ,Biasanya ibunya tidak pernah peduli kapan ia pulang “Ada tugas,” jawab Aruna pendek ,Ia meletakkan tas sekolahnya di meja dan hendak berjalan menuju kamar ketika suara ibunya kembali terdengar. “Tunggu dulu. Aruna berhenti Ibunya berdiri dan berjalan ke arah dapur kecil di sudut ruangan “Ibu buatkan teh.” Aruna sedikit terkejut Ibunya jarang sekali melakukan hal seperti itu Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali membawa dua gelas teh hangat “Duduk dulu.” Aruna ragu tapi akhirnya ia duduk di kursi kayu di depan meja kecil itu ,Ibunya mendorong salah satu gelas ke arahnya “Minum.” Aruna menatap cairan coklat muda itu sebentar ,Tidak ada yang terlihat aneh Ia mengangkat gelas itu perlahan dan meminumnya sedikit, Rasanya… agak pahit. “ Rasanya Kenapa pahit?” tanya Aruna , Ibunya hanya tersenyum tipis “Tehnya beda.” Aruna tidak terlalu memikirkannya Ia minum beberapa teguk lagi ,Beberapa menit berlalu Lalu sesuatu mulai terasa aneh ,Pertama… kepalanya terasa sedikit ringan Seperti dunia di sekitarnya bergerak lebih lambat Aruna mengerutkan kening “Ibu…” Ia mencoba berdiri Tapi tubuhnya terasa lemah ,Ibunya masih duduk di seberang meja sambil memperhatikannya dengan tatapan yang sulit dimengerti “Ada apa?” tanya wanita itu santai “Kepalaku… pusing.” Senyum ibunya perlahan melebar. “Itu normal.” Aruna menatapnya “Apa maksud ibu?” Tapi sebelum ibunya sempat menjawab, pintu rumah terbuka ,Seorang laki-laki masuk Aruna mengenal wajah itu ,Pak Rudi ,Jantungnya langsung berdetak keras “Ibu…?” Ibunya berdiri dengan tenang “Pak Rudi datang lagi.” Pak Rudi menatap Aruna dengan senyum yang membuat kulitnya merinding “Kamu kelihatan cantik sekali malam ini.” Aruna mencoba berdiri Tapi tubuhnya terasa semakin panas ,Napasnya mulai tidak teratur Ia langsung menyadari sesuatu. “...ibu memasukkan sesuatu ke minumanku.” Ibunya tidak menyangkal “Anggap saja itu bantuan kecil.” Dunia Aruna terasa berputar ia mundur beberapa langkah Ruangan itu terasa semakin sempit. Udara di dalam ruangan seperti menekan dada Aruna hingga sulit bernapas ,Tubuhnya masih terasa panas ,Panas yang tidak wajar, Panas yang membuat kulitnya seperti terbakar dari dalam Aruna menggigit bibirnya kuat-kuat Rasa perih itu sedikit membantu menahan gelombang aneh yang terus menjalar di tubuhnya ,Ia tahu ,Ini bukan rasa sakit biasa. Ini sesuatu yang dipaksakan masuk ke dalam tubuhnya ,Obat ,Kata itu muncul samar di kepalanya Air matanya kembali jatuh. “Ibu… kenapa…” bisiknya sambil berjalan tertatih ke kamarnya , Namun jawaban yang ia dengar hanya suara tawa dari ruang depan ,Tawa ibunya dan suara seorang pria yang terdengar kasar. “Masih lama?” tanya pria itu. “Sebentar lagi,” jawab ibunya santai. “Obatnya kuat ,Tidak lama lagi dia pasti tidak bisa menolak.” Jantung Aruna seperti berhenti berdetak Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari apa pun Jadi benar ,Ibunya memang melakukan ini dengan sengaja, Aruna merasakan tubuhnya semakin melemah Kakinya hampir tidak mampu menopang tubuhnya. Namun di tengah kekacauan dalam kepalanya satu pikiran masih bertahan ,Aku harus pergi dari sini , kamar saat ini gak baik untuku ,Apa pun yang terjadi Ia berjalan ke arah pintu Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, langkah berat terdengar mendekat dari lorong ,Aruna membeku Pintu kamar perlahan terbuka dan seorang pria berdiri di sana Pria yang tadi datang bersama ibunya Tatapannya menelusuri tubuh Aruna dengan cara yang membuat perutnya mual. “Ah…” pria itu tersenyum miring “Sudah bangun rupanya.” Aruna mundur satu langkah Jantungnya berdetak semakin cepat. “Jangan mendekat.” Namun suaranya lemah Pria itu justru tertawa pelan “Tenang saja Tidak perlu pura-pura kuat.” Ia menutup pintu kamar dari belakangnya Bunyi klik dari kunci pintu terdengar seperti hukuman mati bagi Aruna “Obatnya pasti sudah bekerja,” katanya santai Aruna merasakan dunia berputar Tubuhnya gemetar hebat Ia ingin berteriak namun suaranya seperti terkunci di tenggorokan Pria itu melangkah mendekat ,Satu langkah, Dua langkah, Aruna mundur sampai punggungnya menyentuh meja kecil di samping tempat tidur ,Tangannya menyentuh sesuatu di atas meja Sebuah pecahan kaca kecil dari cermin yang retak beberapa hari lalu ,matanya menatap benda itu beberapa detik Lalu kembali ke pria tua yang semakin mendekat di kepalanya hanya ada satu pilihan ,Satu-satunya cara untuk menghentikan semuanya Tangannya gemetar ketika menggenggam pecahan kaca itu Pria itu berhenti. “Apa yang kamu lakukan?” Namun Aruna tidak menjawab Air mata mengalir deras di pipinya , Maaf… batinnya. Dengan satu gerakan cepat ia menggoreskan pecahan kaca itu ke kulit lengannya sendiri. Rasa sakit yang tajam langsung meledak di tubuhnya , Darah mengalir ,Namun bersama rasa sakit itu, kesadaran Aruna seperti kembali sedikit demi sedikit ,Tubuhnya tersentak. Napasnya terengah-engah Pria di depannya tampak terkejut. “Gila!” serunya , Aruna menggenggam lukanya kuat-kuat. Rasa sakit itu membuat pikirannya lebih jernih “Keluar…” katanya dengan suara serak. Pria itu menatapnya tidak percaya. “Kamu benar-benar gila.” Aruna menatapnya dengan mata yang dipenuhi air mata, tapi juga sesuatu yang lain , Keteguhan. “Aku bilang… keluar.” Suara gaduh tiba-tiba terdengar dari luar rumah , Beberapa orang berbicara keras di depan , Pria itu mengumpat pelan , Ia menatap Aruna sekali lagi dengan kesal sebelum membuka pintu kamar. “Dasar anak sinting.” Pintu terbanting keras ketika ia pergi , Aruna tidak bergerak ,Tubuhnya perlahan jatuh terduduk di lantai ,Tangannya masih menekan luka di lengannya ,darah merembes di antara jari-jarinya Namun ia tidak peduli yang ia rasakan hanyalah satu hal ,Ia selamat malam ini , Namun ketika suara langkah ibunya kembali terdengar di lorong, tubuh Aruna langsung menegang. “Aruna?” Suara itu terdengar kesal Pintu kamar terbuka , Ibunya berdiri di sana dan ketika matanya melihat darah di lantai… ekspresinya berubah namun bukan menjadi khawatir melainkan marah. “Kamu merusak semuanya!” Aruna hanya menatapnya dengan mata kosong Dan di saat itulah… ia akhirnya mengerti satu hal yang menyakitkan wanita yang berdiri di depannya itu… bukan lagi seorang ibu. Melainkan seseorang yang tidak akan pernah berhenti menyakitinya dan malam itu aruna membuat sebuah keputusan dalam diam, Ia harus pergi dari rumah ini apa pun yang terjadi bahkan jika ia harus melakukannya sendirian. Aruna hampir tidak bisa berdiri lagi ,Tubuhnya masih panas Lukanya masih berdarah. Tapi matanya tetap menatap ibunya dengan keras “Lebih baik aku mati daripada hidup seperti ibu.” Ruangan itu menjadi sangat sunyi , Hal terakhir yang ia lihat sebelum kesadarannya menghilang adalah wajah ibunya yang berubah pucat dan suara wanita itu yang berbisik pelan. “Anak bodoh…” Kegelapan menelan segalanya Ketika Aruna membuka matanya kembali ia tidak berada di rumahnya lagi ,Langit-langit putih menyambut pandangannya dan terdengar suara seseorang berbicara pelan di dekatnya ,Namun sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi sebuah suara pria yang asing terdengar dari dekat pintu. “Dia yang melukai dirinya sendiri?” Aruna belum tahu… bahwa pria yang berdiri di balik suara itu akan menjadi bagian dari masa depannya seorang pria bernama Oxavio Pratama.Malam di tempat seperti ini terasa seperti selimut yang perlahan turun dari langit.Udara menjadi lebih dingin kabut mulai kembali merayap di antara pepohonan“Dingin ya malam di sini.”Aruna mengangguk sambil menghembuskan napas yang berubah menjadi uap tipis.“Tapi enak.”Nina meliriknya.“Kamu kelihatan betah sekali.”Aruna tertawa kecil.“Kalau boleh jujur… aku ingin waktu berhenti di sini saja.”Lampu-lampu kuning hangat menyala di teras, membuat tempat itu terlihat nyaman seperti rumah kecil di tengah hutan ,pemilik penginapan sedang menyalakan api unggun kecil di halaman ,Nina langsung bersorak kecil.“Wah ada api unggun!”Aruna tersenyum mereka duduk di kursi kayu yang menghadap api itu ,api kecil itu menari-nari, memantulkan cahaya hangat di wajah mereka beberapa tamu lain juga duduk di sekitar api unggun, tapi suasananya tetap tenang ,tidak ramai hanya suara kayu yang sesekali berderak saat terbakar Nina mengulurkan tangannya ke
Udara sore di pegunungan mulai berubah lebih dingin langit perlahan berubah warna ,biru terang yang sejak pagi membentang di atas Kawah Sunan Ibu kini mulai bercampur semburat jingga dan abu lembut ,kabut tipis turun perlahan di antara pepohonan, Aruna berjalan pelan di samping Nina sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket ,wajahnya masih menyisakan senyum kecil setelah percakapan mereka tadi ,sudah lama sekali ia tidak tertawa sebanyak hari ini, terlalu lama bahkan sampai rasanya asing mendengar suaranya sendiri terdengar sebebas itu. Aruna dan Nina duduk di batu besar di puncak bukit kecil itu ,beberapa saat yang lalu mereka sempat diam menikmati pemandangan tapi seperti biasa Nina tidak pernah bisa terlalu lama berada dalam suasana yang terlalu serius Nina tiba-tiba menoleh pada Aruna dan menyipitkan mata. “Kamu tahu tidak?” “Apa?” tanya Aruna. Nina menunjuk wajahnya. “Kamu kelihatan jauh lebih cantik kalau ketawa.”
Bangun pagi di pegunungan datang dengan cara yang berbeda ,tidak tergesa-gesa ,tidak dipenuhi suara klakson kendaraan atau langkah manusia yang sibuk mengejar waktu.Pagi di tempat seperti ini lahir perlahan seolah alam sengaja membiarkan dunia bangun sedikit demi sedikit ,kabut turun lembut menutupi lembah seperti selimut tipis berwarna abu keperakan ,embun menggantung di ujung daun pinus dan memantulkan cahaya matahari pertama yang mulai menembus pepohonan tinggi ,udara terasa dingin namun dingin yang menenangkan bukan dingin yang membuat sesak.Aruna sudah terbangun sejak subuh ,ia duduk sendiri di balkon penginapan dengan secangkir teh hangat di tangannya ,uap tipis mengepul dari permukaan cangkir, menari pelan bersama embusan angin pagi yang menyentuh wajahnya ,ia menarik napas panjang seolah ingin memenuhi paru-parunya dengan udara pegunungan sebanyak mungkin sebelum kembali ke kehidupan yang menunggunya di kota ,rasanya tenang dan justru karena itulah dadanya terasa n
Pagi itu datang lebih cepat bahkan sebelum alarm ponselnya berbunyi, Aruna sudah lebih dulu membuka mata ,langit kamar masih sedikit gelap ,udara dini hari terasa dingin ,ia menatap langit-langit kamar seolah sedang memastikan bahwa hari ini benar-benar nyata bahwa setelah sekian lama ia benar-benar akan pergi ,meski hanya dua hari namun bagi Aruna, waktu sesingkat itu terasa seperti celah kecil untuk bernapas di tengah hidup yang terlalu lama menekannya.Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur ,tubuhnya masih menyisakan rasa pegal kelelahan itu belum benar-benar pergi namun anehnya pagi ini dadanya terasa plong sekali.Di luar kamar terdengar suara langkah kaki ,Aruna refleks berdiri dan merapikan kerudung sebelum membuka pintu kamar ,Aroma kopi hitam langsung tercium samar dari arah ruang makan ,seperti biasa Oxavio sudah duduk di sana dengan laptop terbuka di depannya ,cahaya layar memantul di wajahnya yang dingin dan nyaris tanpa ekspresi ,ia tampak sibuk membaca sesuatu
Hujan yang sejak tadi turun perlahan akhirnya mulai reda, menyisakan embun tipis di balik jendela ruang jaga , Aruna duduk diam di kursinya sambil memegang gelas kopi hangat yang sudah hampir dingin ,malam ini ada sesuatu yang sedikit berbeda ,bukan karena pekerjaannya bukan juga karena pikirannya benar-benar tenang tetapi karena setelah sekian lama Aruna memiliki sesuatu yang ingin ia nantikan.Di depannya ada kalender kecil dan matanya langsung tertuju pada dua tanggal yang sudah ia lingkari di akhir minggu ,dua hari libur dinas ,hal yang sebenarnya biasa namun bagi Aruna dua hari itu terasa seperti hadiah kecil yang sangat langka ,karena hidupnya terlalu lama dipenuhi jadwal kerja, tekanan, dan rumah yang tidak pernah benar-benar terasa hangat ,Nina yang sedang menuliskan laporan pasien melirik ke arahnya.“Kamu melamun lagi?”Aruna tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan dari kalender.“Besok kita off dua hari.”Nina langsung menoleh penuh minat.“Ya
Hujan masih turun pelan di luar jendela kamar ketika Aruna akhirnya memejamkan mata menjelang dini hari ,sementara di sampingnya, Oxavio sudah tertidur lebih dulu dengan napas tenang seolah tidak ada apa pun yang terjadi malam itu.Aruna masih terjaga cukup lama ,duduk diam di tepi tempat tidur dengan tubuh yang terasa nyeri dan pikiran yang terlalu lelah untuk menangis ,ia menatap langit malam di balik kaca jendela ,gelap dan dingin persis seperti beberapa bulan terakhir hidupnya sampai akhirnya rasa lelah mengalahkan semuanya.~Aruna memutuskan tidur lagi setelah selesai sholat magrib rencananya hanya ingin terlelap sebentar karena merasa masih ngantuk, siang tadi tidak terlalu bisa beristirahat banyak hal yang harus ia kerjakan ,ketika alarm berbunyi Aruna terkaget ternyata ia tertidur sudah lebih dari satu jam ,tubuhnya terasa lelah namun seperti biasa ia tetap memaksakan menjalani harinya seolah semua baik-baik saja karena dunia tidak pernah benar-benar peduli ses







