Share

jadii ??

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-25 05:49:19

Sebelum berangkat bekerja, Aruna masih duduk dalam diam di kamarnya ,ia bersandar pada sisi tempat tidur, punggungnya menempel pada kasur yang dingin ,lampu hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding ,ponselnya tergeletak di samping dengan layar mati sejak lama, seolah menolak dunia luar masuk ke dalam kesunyiannya ,jam dinding berdetak pelan ,setiap detiknya terasa menekan dada ,menghimpit napas "sembilan puluh juta "

Angka itu terus berputar di dalam kepalanya seperti
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku ,Target balas dendam CEO   jadii ??

    Sebelum berangkat bekerja, Aruna masih duduk dalam diam di kamarnya ,ia bersandar pada sisi tempat tidur, punggungnya menempel pada kasur yang dingin ,lampu hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding ,ponselnya tergeletak di samping dengan layar mati sejak lama, seolah menolak dunia luar masuk ke dalam kesunyiannya ,jam dinding berdetak pelan ,setiap detiknya terasa menekan dada ,menghimpit napas "sembilan puluh juta " Angka itu terus berputar di dalam kepalanya seperti pita rusak yang macet , Aruna sudah menghitung semua kemungkinan ,tabungan? Habis ,rekening? Kosong ,uang pinjaman? Tidak akan ada yang memberinya sebanyak itu dalam waktu semalam ,Bank pun butuh proses yang tidak mungkin selesai dalam semalam. Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangan ,air mata jatuh perlahan, membasahi telapak tangannya yang dingin karena kenyataan pahit bahwa hidupnya tidak pernah benar-benar lepas dari masa lalu ,setiap kali ia merasa bisa bernapas, masa lalu selalu d

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Kenapa Harus Kamu ?

    Aruna keluar dari rumah makan itu dengan langkah yang terasa tidak nyata, karena Aruna tahu betul ibunya tidak pernah mengancam tanpa benar-benar melakukannya ,jika Saraswati mengatakan akan datang dan membuat keributan di tempat kerja Aruna, maka kemungkinan besar ia benar-benar akan melakukannya "Sembilan puluh juta " angka itu terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan dalam waktu semalam ,gajinya cukup untuk hidup ,cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari ,cukup untuk memberikan sebagian kepada ibunya namun tidak pernah cukup untuk menyelesaikan masalah sebesar ini ,tangannya sedikit gemetar ketika ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya ,ia memeriksa rekeningnya satu per satu ,menghitung tabungan ,menghitung uang yang bisa ia gunakan ,menghitung segala kemungkinan namun hasilnya tetap sama jumlahnya bahkan tidak sampai sepersepuluh dari yang diminta Saraswati ,Aruna menutup layar ponselnya ia berdiri cukup lama di depan rumah makan itu ,orang-orang berlalu-lalan

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Hutang yang Tidak Pernah Selesai.

    Aruna pulang ketika matahari mulai naik ,rumah masih cukup tenang begitu memasuki kamar, ia langsung meletakkan tas dimeja ,ia bahkan tidak langsung mengganti pakaian hanya duduk sebentar di tepi tempat tidur kemudian mandi ,setelah itu ia memeriksa Helena yang masih tidur ,wanita itu belum bangun dan Aruna tidak membangunkannya hanya memastikan obat dan air minum sudah tersedia di dekat tempat tidur setelah semuanya selesai, barulah Aruna kembali ke kamarnya ,ia mengisi daya ponselnya yang hampir habis kemudian berbaring dan akhirnya ia tertidur. -- Pagi berlalu dengan tenang, Aruna baru terbangun beberapa jam kemudian ia menghabiskan waktu dengan rutinitas biasa merapikan tempat tidur ,membantu menyiapkan makanan ,memeriksa kondisi Helena kemudian duduk sebentar sambil menikmati sarapan dan mungkin justru karena itulah pagi itu terasa menyenangkan Aruna bahkan sempat berbicara dengan Ibu mertuanya meskipun tetap tidak terlalu ramah ,Helena masih memasang wajah

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ditahan Pulang ?

    Aruna menjalani shift malam dengan suasana yang cukup tenang ,ketika tiba di rumah sakit, Aruna menemukan Nina sudah berada di ruang VK sedang memeriksa beberapa berkas sambil sesekali menguap ,begitu melihat Aruna masuk, Nina langsung mengangkat wajah. "Dih baru datang?" Aruna meletakkan tasnya di loker. "Kenapa bu Nina ? ." "Telat tiga menit." Aruna menoleh. "Serius?" "Serius." Aruna melihat jam di dinding ,kemudian menatap Nina. "Kamu menghitung Nin?" "Nggak." "Terus kok tahu?" "Karena aku sudah menunggu." Aruna tertawa kecil. "Haha Drama." Nina mendengus dan tertawa bersama ,lalu kembali beraktifitas seperti biasa . Jaga malam ini tidak sepi ,juga tidak terlalu melelahkan ,beberapa pasien datang ,beberapa membutuhkan perhatian lebih tetapi semuanya masih berada dalam batas yang dapat mereka tangani ,saat Aruna duduk sebentar di ruang istirahat, Nina meletakkan sebotol air mineral di hadapannya.

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Di Atas Kebencian

    Aruna pulang ketika langit masih berwarna abu abu, sementara sebagian besar penghuni rumah baru mulai akan beraktifitas, pagi itu ada yang berbeda ,sejak berada diperjalanan pulang,tenggorokannya kering ,tubuhnya juga terasa tidak nyaman, seperti sedang menahan sesuatu yang belum muncul ,mungkin karena kurang tidur ,Aruna berusaha tidak memikirkannya ,ia sempat berniat langsung pulang dan membuatkan bubur untuk ibu mertuanya , Namun begitu melewati penjual bubur yang masih buka di dekat rumah ,ia melambat ,perutnya kosong dan tubuhnya benar-benar tidak memiliki tenaga untuk memasak ,akhirnya ia berhenti ,beberapa menit kemudian ia kembali membawa satu bungkus bubur hangat ,bukan untuk dirinya sendiri ,ia bahkan tidak membeli apa pun untuk dirinya. Setiba dirumah Aruna langsung menuju dapur dan menyiapkanya ,lalu membawa bubur yang baru dibelinya, segelas air hangat, obat penurun tekanan darah, serta vitamin yang biasa dikonsumsi wanita itu ,Helena tampak lebih baik ,meski

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Keheningan yang Mengguncang

    Helena mengira kondisinya hanya kelelahan biasa ,beberapa hari istirahat di rumah Oxavio seharusnya sudah cukup membuat tubuhnya kembali bugar ,ia yakin itu hanyalah dampak stres dari kasus Rumah sakit dan masalah adiknya , namun dugaan itu ternyata keliru ,hari demi hari berlalu, tubuhnya justru semakin mudah kehilangan tenaga ,nafsu makannya menurun drastis ,beberapa kali kepalanya berdenyut hebat, nyeri yang menjalar hingga ke tengkuk, hingga membuatnya memilih memejamkan mata hampir sepanjang siang ,cahaya matahari pun terasa menyakitkan ,Aruna sudah berkali-kali menyarankan pemeriksaan lebih lanjut ,suaranya selalu lembut, penuh kekhawatiran tulus seorang bidan sekaligus menantu ,namun setiap kali itu pula Helena selalu memberikan jawaban yang sama ,tembok penolakan yang kokoh. "Tidak perlu." "Ma, paling tidak periksa darah dulu ,tekanan Mama naik turun tidak stabil." "Aku bilang tidak perlu." "Kalau ternyata ada y

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Rahasia di Balik Masker

    Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma antiseptik yang tajam, menusuk samar ke dalam indera penciuman ,cahaya lampu putih memantul di lantai keramik yang bersih, di sepanjang koridor ruang bersalin suara langkah kaki para perawat terdengar silih berganti, berirama seperti deta

  • Aku ,Target balas dendam CEO   malam ketika semuanya berakhir

    Hujan masih menemani malam aruna ,langit seperti sedang menumpahkan sesuatu yang lama tertahan sama seperti hati Aruna saat itu ,langkahnya terasa berat saat ia memasuki gang sempit menuju kamar kostnya ,sepatu yang basah meninggalkan jejak kecil di lantai semen yang lembap ,tubuhnya masih gemet

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang tak pernah sembuh

    Malam itu hujan turun tanpa jeda bukan sekadar gerimis yang datang dan pergi, melainkan hujan deras yang seolah ingin menenggelamkan seluruh isi kota ,tetesannya menghantam jendela kecil kamar kost Aruna dengan ritme yang tidak teratur kadang pelan, kadang keras seperti detak jantung yang kehilan

  • Aku ,Target balas dendam CEO   wanita dari masa lalu

    Oxavio menghela napas pelan, tanda ketidaktertarikan yang tidak ia tutupi.“Sudah saya bilang, untuk hal seperti ini atur jadwal melalui sekretaris.”Rafael terdiam sejenak ,ada sesuatu dalam raut wajahnya yang membuat Oxavio akhirnya mengangkat pandangan.“Wanita itu…

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status