LOGINLangit sudah mulai berubah jingga ketika Aruna berjalan pulang dari sekolah ,Langkahnya pelan, tapi pasti.
Tas sekolahnya terasa lebih berat, meskipun isinya tidak bertambah apa-apa. Mungkin karena pikirannya yang penuh oleh kata-kata yang masih terngiang di kepalanya ,Perempuan malam ,Seperti ibumu ,Aruna menarik napas panjang, mencoba mengusir suara itu dari pikirannya. Ia sudah terlalu sering mendengarnya ,Tapi entah kenapa… hari ini terasa lebih menyakitkan Rumah kecil itu sudah terlihat dari kejauhan. Cat temboknya mulai mengelupas, dan pagar besinya berkarat di beberapa bagian. Rumah itu tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah ,Aruna berhenti sejenak di depan pintu. Dari dalam, ia sudah bisa mendengar suara tawa laki-laki. Dadanya langsung terasa sesak. “Sudah ada tamu,” gumamnya pelan Ia membuka pintu dengan hati-hati. Ruang tamu dipenuhi bau rokok dan parfum menyengat yang membuat kepalanya sedikit pusing. Di sofa usang itu, ibunya duduk sangat dekat dengan seorang laki-laki yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya. Laki-laki itu berusia sekitar lima puluh tahun, dengan rambut yang mulai memutih di sisi pelipis ,Ibunya langsung menoleh ketika melihat Aruna masuk. “Oh, kamu sudah pulang.” Nada suaranya terdengar biasa saja ,Seolah tidak ada yang aneh dengan situasi ini Laki-laki itu ikut menoleh. Matanya langsung tertuju pada Aruna. Tatapan itu membuat Aruna merasa tidak nyaman ,Ia menundukkan kepala sedikit. “Aku masuk kamar dulu,” katanya pelan. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, suara ibunya menghentikannya. “Tunggu.” Aruna berhenti. “Apa, Bu?” Ibunya berdiri lalu berjalan mendekat. Di wajahnya ada senyum yang Aruna kenal dengan sangat baik ,senyum yang selalu membuatnya merasa waspada. “Kenalkan dulu,” kata ibunya santai. “Ini Pak Rudi.” Aruna hanya mengangguk kecil. “Halo,” katanya sopan, Pak Rudi tersenyum lebar “Anaknya cantik juga ya,” katanya sambil menatap Aruna lebih lama dari yang seharusnya ,Aruna menahan rasa tidak nyaman yang merayap di kulitnya. Ibunya tertawa kecil “Iya dong Anak ibu.” Aruna menggenggam tali tasnya. “Aku ke kamar dulu, Bu.” Kali ini ibunya tidak langsung menjawab Sebaliknya, ia justru berkata dengan nada yang berbeda. “Pak Rudi sebenarnya ingin ngobrol denganmu sebentar.” Jantung Aruna berdetak lebih cepat “Maksudnya?” Ibunya menatapnya tanpa rasa bersalah. “Dia suka kamu.” Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat dingin ,Aruna menatap ibunya tidak percaya “Apa?” Pak Rudi tertawa pelan dari sofa. “Cuma ngobrol saja, kok,” katanya santai. Aruna mundur satu langkah “Aku tidak mau.” Ibunya langsung mengerutkan kening. “Kenapa tidak?” “Aku capek bu Aku mau belajar.” Ibunya mendengus kesal. “Belajar terus Memangnya belajar bisa kasih makan kita?” “Aku tidak akan melakukan itu.” Suasana ruang tamu langsung berubah tegang Ibunya menatapnya dengan mata tajam. “Kamu terlalu banyak gaya.” Aruna menggigit bibirnya. “Aku cuma mau hidup normal.” Ibunya tertawa sinis. “Normal? Kamu pikir orang-orang di luar sana melihatmu normal?” Kalimat itu terasa seperti tamparan “Bagi mereka kamu tetap anakku.” Aruna tidak menjawab. Dadanya terasa sakit ,Pak Rudi berdiri dari sofa, mungkin merasa situasi ini mulai tidak nyaman “Sudahlah,” katanya sambil merapikan bajunya. “Mungkin lain kali saja.” Ibunya terlihat kesal, tapi ia tidak menghentikan laki-laki itu ketika ia berjalan keluar rumah ,Pintu tertutup dan sekarang hanya ada mereka berdua di ruang tamu Ibunya berbalik menatap Aruna Tatapan itu penuh kemarahan. “Kamu membuat ibu kehilangan uang.” Aruna menunduk “Aku tidak peduli.” Tamparan itu datang begitu cepat Suara kerasnya menggema di ruangan kecil itu ,Aruna terhuyung sedikit ke samping ,Pipinya terasa panas ,Ia tidak menangis Ia hanya berdiri di sana, menatap lantai. “Jangan pernah melawan ibu lagi,” kata ibunya dingin ,Aruna mengangkat wajahnya perlahan Di matanya ada sesuatu yang berbeda sekarang Bukan ketakutan,Melainkan tekad. “Aku akan pergi dari rumah ini suatu hari nanti.” Ibunya tertawa “Terserah.” “Tapi sebelum itu terjadi,” lanjut Aruna pelan, “aku tidak akan pernah hidup seperti ibu." Ruangan itu kembali sunyi ,Ibunya tidak mengatakan apa-apa lagi ,Aruna berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Begitu pintu kamar tertutup, ia akhirnya duduk di lantai Tangannya masih gemetar ,Ia menyentuh pipinya yang terasa panas Air mata akhirnya jatuh juga ,Tapi kali ini bukan karena rasa sakit Melainkan karena satu keputusan yang semakin kuat di dalam hatinya ,Ia akan pergi ,Ia akan belajar ,Ia akan bekerja ,dan suatu hari nanti… ia akan menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dari wanita yang memanggil dirinya sebagai ibu.Alarm ponsel berbunyi pukul lima pagi ,suara itu memecah keheningan kamar yang masih gelap ,Aruna membuka mata perlahan ,tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin, tetapi belum benar-benar pulih ,kepalanya masih berat ,sendi-sendinya masih terasa nyeri dan ada lemas yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya ,Aruna berbaring beberapa saat sambil menatap langit-langit kamar mencoba mengumpulkan tenaga. Semalam ia akhirnya tertidur setelah berjam-jam bergulat dengan demam, kelelahan, dan pikirannya sendiri ,Aruna mengangkat tangannya perlahan lalu menyentuh dahinya dan ya panasnya sudah turun "Syukurlah " ucapnya dalam hati ,meski begitu tubuhnya masih terasa kosong seperti baterai yang baru terisi separuh ,Aruna mengembuskan napas pelan kemudian duduk perlahan di tepi tempat tidur ,dunia di sekelilingnya seolah berputar pelan hingga ia harus memejamkan mata sesaat ,ia memejamkan mata sampai rasa berputar itu mereda. "Masih kuat." gumamnya ,
Setelah percakapan yang tidak menghasilkan apa pun itu berakhir, Nina akhirnya pergi dengan suara mesin mobil yang semakin menjauh meninggalkan halaman ,Oxavio masih berdiri di teras rumah, tatapannya kosong mengarah ke depan sementara kata-kata Nina terus terngiang di kepalanya ,ia tidak menyukai kenyataan bahwa seorang bawahan berani berbicara seperti itu kepadanya lebih dari itu, ia tidak menyukai kenyataan bahwa sebagian ucapan Nina justru terus berputar di kepalanya ,dengan gerakan pelan, ia mengusap wajahnya kasar lalu mengembuskan napas panjang ,Oxavio akhirnya melangkah menuju lantai atas ,langkah kakinya terdengar di sepanjang lorong yang sepi ,entah karena ingin memastikan kondisi Aruna atau karena alasan lain yang bahkan tidak ingin ia akui pada dirinya sendiri.Saat tiba di depan kamar, ia mendorong pintu yang tidak terkunci ,tatapannya langsung menemukan Aruna ,perempuan itu ternyata belum tidur ,ia bersandar di kepala tempat tidur dengan selimut menutupi sebagian t
Malam semakin larut ,setelah memastikan cairan infus Aruna mengalir dengan baik dan suhu tubuhnya mulai sedikit turun, Nina akhirnya keluar dari kamar dengan langkah pelan, sebelum pergi ia sempat menarik selimut Aruna hingga menutupi bahunya ,Nina memandang sahabatnya ada rasa sesak yang sulit dijelaskan ,ia melihat Aruna benar-benar kehabisan tenaga bukan hanya tubuhnya tetapi juga hatinya, ia keluar pintu kamar tertutup perlahan ,rumah itu kembali sunyi ,Nina menuruni tangga menuju lantai bawah namun sesampainya di dekat pintu depan, langkahnya justru berhenti entah kenapa ia belum ingin pulang ,perasaannya masih tidak tenang ,ia akhirnya berdiri di teras rumah sambil memeluk tas di dadanya . Udara malam terasa cukup dingin jarum jam terus bergerak ,lima menit ,sepuluh menit hingga akhirnya pintu rumah kembali terbuka ,Nina menoleh Oxavio keluar seorang diri langkahnya terlihat tenang namun ada sesuatu pada wajahnya yang membuat Nina yakin pria itu juga belum benar-bena
Cairan infus menetes perlahan ,Aruna terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam ,tubuhnya masih terasa berat, namun menggigil yang sejak siang tadi menyiksanya perlahan mulai berkurang ,Nina masih duduk di kursi di samping tempat tidur ,tangannya sesekali menyentuh dahi Aruna yang masih panas tetapi setidaknya tidak sepanas beberapa jam yang lalu"Untung turun sedikit," gumam Nina pelan.Aruna membuka matanya perlahan ,kelopak matanya terasa berat."Hm.""Hm apanya?" Nina mendengus pelan. "Kalau aku nggak datang, kamu mau gimana?"Aruna tersenyum tipis ,senyum kecil yang tampak lelah."Minum obat."Nina langsung memutar matanya."Terus pingsan sendirian di kamar?"Aruna terkekeh pelan namun tawa kecil itu berubah menjadi batuk ringan, Nina langsung menyodorkan air digelas"Nah kan."Aruna menerima gelas itu dengan tangan yang masih lemas."Makasih.""Makasih lagi."Nina menggeleng pelan pandangan matanya beralih p
Sore perlahan bergeser menjadi malam ,cahaya yang sejak tadi masuk mulai memudar, meninggalkan kamar Aruna dalam remang yang tenang ,namun tidak dengan tubuhnya demamnya tidak turun justru semakin terasa membakar ,Aruna terbaring miring di atas tempat tidur dengan selimut yang ditarik hingga ke dada ,keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, sementara tubuhnya menggigil tanpa bisa ia kendalikan ,sesekali giginya beradu pelan ,tangannya mencengkeram ujung selimut ,kepalanya semakin berat seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam ,Aruna membuka mata perlahan pandangannya sedikit buram ,langit-langit kamar terlihat bergoyang sebentar sebelum akhirnya kembali fokus ,ia mengembuskan napas pelan ,tenggorokannya kering ,tubuhnya terasa nyeri sampai ke tulang-tulang ,dengan susah payah ia berusaha bangun ,tangannya mencoba menekan kasur ,otot-otot lengannya menegang , baru setengah duduk pandangan di depannya langsung menghitam ,kepalanya berputar ,perutnya terasa mual ,refleks ia
Pagi datang terlalu cepat ,cahaya matahari sudah menyelinap masuk melalui celah tirai ,Aruna perlahan membuka matanya ,ada sesuatu yang terasa berbeda tubuhnya terasa sangat berat seolah ada yang meletakkan beban besar di atas dadanya sepanjang malam ,Aruna mengerjapkan mata beberapa kali ,kepalanya berdenyut ,bukan pusing biasa melainkan nyeri tumpul yang terasa menekan dari belakang mata hingga tengkuknya ,ia mencoba bangun ,satu tangan bertumpu pada kasur ,baru saja tubuhnya terangkat sedikit, pandangan di depannya langsung berputar ,Aruna kembali terduduk napasnya tertahan sesaat ,ia memejamkan mata sambil menunggu rasa pusing itu mereda ,tangannya perlahan terangkat menyentuh dahi ,kulitnya terasa panas bahkan di bawah sentuhannya sendiri ,Aruna mengerutkan kening " lagi lagi demam " tubuhnya menggigil meskipun udara pagi tidak terlalu dingin ,selimut yang menutupi tubuhnya hangat, tetapi tetap tidak mampu menghilangkan rasa dingin yang merayap dari dalam tulang ,semalam ia ham







