Home / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / luka yang dibawa pulang.

Share

luka yang dibawa pulang.

last update publish date: 2026-03-14 18:15:05

Langit sudah mulai berubah jingga ketika Aruna berjalan pulang dari sekolah ,Langkahnya pelan, tapi pasti.

Tas sekolahnya terasa lebih berat, meskipun isinya tidak bertambah apa-apa. Mungkin karena pikirannya yang penuh oleh kata-kata yang masih terngiang di kepalanya ,Perempuan malam ,Seperti ibumu ,Aruna menarik napas panjang, mencoba mengusir suara itu dari pikirannya.

Ia sudah terlalu sering mendengarnya ,Tapi entah kenapa… hari ini terasa lebih menyakitkan

Rumah kecil itu sudah terlihat dari kejauhan. Cat temboknya mulai mengelupas, dan pagar besinya berkarat di beberapa bagian.

Rumah itu tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah ,Aruna berhenti sejenak di depan pintu.

Dari dalam, ia sudah bisa mendengar suara tawa laki-laki.

Dadanya langsung terasa sesak.

“Sudah ada tamu,” gumamnya pelan Ia membuka pintu dengan hati-hati.

Ruang tamu dipenuhi bau rokok dan parfum menyengat yang membuat kepalanya sedikit pusing.

Di sofa usang itu, ibunya duduk sangat dekat dengan seorang laki-laki yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.

Laki-laki itu berusia sekitar lima puluh tahun, dengan rambut yang mulai memutih di sisi pelipis ,Ibunya langsung menoleh ketika melihat Aruna masuk.

“Oh, kamu sudah pulang.” Nada suaranya terdengar biasa saja ,Seolah tidak ada yang aneh dengan situasi ini Laki-laki itu ikut menoleh.

Matanya langsung tertuju pada Aruna.

Tatapan itu membuat Aruna merasa tidak nyaman ,Ia menundukkan kepala sedikit.

“Aku masuk kamar dulu,” katanya pelan.

Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, suara ibunya menghentikannya.

“Tunggu.” Aruna berhenti.

“Apa, Bu?” Ibunya berdiri lalu berjalan mendekat.

Di wajahnya ada senyum yang Aruna kenal dengan sangat baik ,senyum yang selalu membuatnya merasa waspada.

“Kenalkan dulu,” kata ibunya santai. “Ini Pak Rudi.”

Aruna hanya mengangguk kecil.

“Halo,” katanya sopan, Pak Rudi tersenyum lebar

“Anaknya cantik juga ya,” katanya sambil menatap Aruna lebih lama dari yang seharusnya ,Aruna menahan rasa tidak nyaman yang merayap di kulitnya.

Ibunya tertawa kecil “Iya dong Anak ibu.”

Aruna menggenggam tali tasnya.

“Aku ke kamar dulu, Bu.”

Kali ini ibunya tidak langsung menjawab Sebaliknya, ia justru berkata dengan nada yang berbeda.

“Pak Rudi sebenarnya ingin ngobrol denganmu sebentar.” Jantung Aruna berdetak lebih cepat

“Maksudnya?”

Ibunya menatapnya tanpa rasa bersalah.

“Dia suka kamu.” Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat dingin ,Aruna menatap ibunya tidak percaya “Apa?”

Pak Rudi tertawa pelan dari sofa.

“Cuma ngobrol saja, kok,” katanya santai.

Aruna mundur satu langkah “Aku tidak mau.”

Ibunya langsung mengerutkan kening.

“Kenapa tidak?”

“Aku capek bu Aku mau belajar.” Ibunya mendengus kesal.

“Belajar terus Memangnya belajar bisa kasih makan kita?”

“Aku tidak akan melakukan itu.”

Suasana ruang tamu langsung berubah tegang Ibunya menatapnya dengan mata tajam.

“Kamu terlalu banyak gaya.” Aruna menggigit bibirnya.

“Aku cuma mau hidup normal.” Ibunya tertawa sinis.

“Normal? Kamu pikir orang-orang di luar sana melihatmu normal?”

Kalimat itu terasa seperti tamparan “Bagi mereka kamu tetap anakku.” Aruna tidak menjawab.

Dadanya terasa sakit ,Pak Rudi berdiri dari sofa, mungkin merasa situasi ini mulai tidak nyaman

“Sudahlah,” katanya sambil merapikan bajunya. “Mungkin lain kali saja.” Ibunya terlihat kesal, tapi ia tidak menghentikan laki-laki itu ketika ia berjalan keluar rumah ,Pintu tertutup dan sekarang hanya ada mereka berdua di ruang tamu Ibunya berbalik menatap Aruna Tatapan itu penuh kemarahan.

“Kamu membuat ibu kehilangan uang.” Aruna menunduk “Aku tidak peduli.”

Tamparan itu datang begitu cepat Suara kerasnya menggema di ruangan kecil itu ,Aruna terhuyung sedikit ke samping ,Pipinya terasa panas ,Ia tidak menangis Ia hanya berdiri di sana, menatap lantai.

“Jangan pernah melawan ibu lagi,” kata ibunya dingin ,Aruna mengangkat wajahnya perlahan

Di matanya ada sesuatu yang berbeda sekarang Bukan ketakutan,Melainkan tekad.

“Aku akan pergi dari rumah ini suatu hari nanti.”

Ibunya tertawa “Terserah.”

“Tapi sebelum itu terjadi,” lanjut Aruna pelan, “aku tidak akan pernah hidup seperti ibu." Ruangan itu kembali sunyi ,Ibunya tidak mengatakan apa-apa lagi ,Aruna berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

Begitu pintu kamar tertutup, ia akhirnya duduk di lantai Tangannya masih gemetar ,Ia menyentuh pipinya yang terasa panas Air mata akhirnya jatuh juga ,Tapi kali ini bukan karena rasa sakit Melainkan karena satu keputusan yang semakin kuat di dalam hatinya ,Ia akan pergi ,Ia akan belajar ,Ia akan bekerja ,dan suatu hari nanti…

ia akan menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dari wanita yang memanggil dirinya sebagai ibu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang Tak Terucap

    Suara sirine ambulans membelah keheningan pagi di kompleks perumahan elit itu ,Nina duduk di sampingnya, tangannya terus memegang tangan lain Aruna yang sehat, sementara paramedis lain seorang pria muda bernama Dika yang kebetulan mereka kenal dari jaringan rumah sakit lain sedang mempersiapkan peralatan stabilisasi leher dan bahu.“Bu Aruna, kami akan bawa ke RS Medika Utama ya? Itu paling dekat dan fasilitas traumanya lengkap,” kata Dika sambil memeriksa tensi Aruna.Aruna menggeleng lemah, matanya setengah tertutup karena rasa sakit yang menyengat setiap kali ambulans melewati jalan bergelombang kecil. “Tidak… jangan ke sana.”Nina menatap Dika, lalu menoleh ke Aruna ,ia mengerti ,RS Medika Utama adalah rumah sakit rekanan tempat Oxavio sering datang ,jika mereka masuk ke sana, data medis Aruna akan tercatat, dan bukan tidak mungkin Oxavio akan mengetahuinya dalam hitungan jam ,dan yang paling parah dia tidak mau ada kabar yang tidak baik kalau ada yang menganalinya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ketika Aruna Tidak Datang

    Nina datang lebih awal , seperti biasa ia membawa beberapa bungkus cemilan dari rumah memang bukan sesuatu yang istimewa ,hanya makanan ringan yang hampir selalu mereka habiskan bersama sebelum pergantian shift.Nina meletakkan kantong plastik itu di meja ruang jaga, kemudian mulai menyusun beberapa buku laporan yang nanti akan ia periksa ,sesekali matanya melirik ke arah pintu. Biasanya, pada jam seperti ini, Aruna sudah muncul, seharusnya perempuan itu sudah selesai menjalankan shift malam dan sedang bersiap pulang.Namun Nina belum melihatnya ,ia melihat jam tangannya kemudian kembali menatap pintu.“Aruna belum pulang kan?”Tasya yang sedang membereskan beberapa dokumen menoleh. “Aruna?”“Iya.” Nina menunjuk kantong camilan di atas meja. “Biasanya sebelum dia pulang kita ngemil dulu.”Tasya terdiam ,wajahnya berubah sedikit. “Nin...”“Hm?”“Aruna semalam nggak masuk.”Nina langsung mengernyit. “Bukan jadwal OFF dia kan hari ini ?”“Iya.”

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Malam panjang

    Oxavio tidak langsung masuk ke kamarnya setelah meninggalkan Aruna ,ia berdiri sendirian di ruang tengah ,lampu hanya menyisakan cahaya redup di sudut ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah menertawakannya ,pikirannya terus memutar kembali pada percakapan mereka. "Aku takut ketika kamu marah ,aku takut kehilangan pekerjaanku ,aku takut kehilangan orang-orang di sekitarku dan akhirnya hanya diriku sendiri " Oxavio memejamkan mata, mencoba mengusir suara Aruna dari kepalanya namun kalimat-kalimat itu tidak terdengar seperti pembelaan seorang istri yang lemah ,melainkan pengakuan jujur dari orang yang telah hancur berkeping-keping jauh sebelum ia mengenal Oxavio. Ia baru sadar bahwa selama ini, setiap kali ingin membuat Aruna menyerah, ia selalu mencari titik terlemah perempuan itu ,ia mengira itu adalah strategi tapi hari ini Aruna justru menunjukkan kepadanya bahwa titik terlemahnya bukan sesuatu yang bisa digunakan untuk menang dalam permainan keku

  • Aku ,Target balas dendam CEO   harus baik baik saja .

    Aruna baru saja selesai merapikan meja makan ,meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, ia memastikan semuanya rapi, membersihkan debu terakhir, dan menata kursi kembali ke tempatnya ,ia melakukannya dengan gerakan mekanis, mencoba mengalihkan pikiran dari tatapan tajam yang sudah membakar punggungnya sejak beberapa menit lalu. Oxavio duduk di sofa, kedua tangannya bertaut erat , rahangnya mengeras, menandakan badai yang sedang ia tahan ,sejak pertengkaran tentang Eran atau lebih tepatnya, sejak ia melihat Aruna tersenyum pada laki-laki lain itu kemarahannya tidak pernah benar-benar padam ,nama Eran terus berputar di kepalanya seperti racun bahkan cara Aruna memberikan nomor ponselnya tanpa rasa bersalah. Hal-hal kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa bagi seorang CEO dingin seperti Oxavio namun justru karena hal itu "tidak berarti" bagi Aruna, Oxavio semakin membencinya ,ia tidak seharusnya peduli ,tidak seharusnya merasa terusik dan terlebih lagi, ia tidak seharusnya mer

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Batas yang Mulai Retak

    Aruna datang ke rumah sakit seperti biasa ,langkahnya terasa berat karena pikirannya masih terasa penuh setelah pertengkaran dengan Oxavio ,ucapan pedas tentang ibunya masih bergema di telinga, meninggalkan luka yang belum kering namun Aruna tidak ingin membawa masalah rumah ke tempat kerja ,ia mengenakan topeng profesionalismenya, menyembunyikan kerapuhan di balik seragamnya yang rapi. Begitu memasuki ruang VK, ia langsung memeriksa laporan pasien dan mengambil alih pekerjaan seperti biasanya ,ia mencoba menjalani malam seolah tidak terjadi apa-apa, sampai sebuah pesan masuk dari bagian administrasi. "Bu Aruna, ada beberapa laporan yang harus segera diselesaikan sebelum pagi " Aruna membuka lampiran yang dikirimkan matanya langsung berhenti ,rekap pelayanan VK selama satu bulan terakhir ,evaluasi jumlah pasien per jam ,laporan penggunaan obat dan alat kesehatan ,Aruna terdiam bukan karena tugas itu tidak masuk akal secara teknis ,semua memang masih berkaitan dengan pekerjaannya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Penuh Amarah

    Oxavio tidak ke kantor ,sejak Aruna membelakanginya tadi, pria itu hanya duduk di sofa dengan pikiran yang tidak mau diam ,kalimat Aruna terus terngiang " Kamu cemburu "Oxavio mengusap wajahnya kasar.“Omong kosong.”Ia bahkan tidak tahu kepada siapa ia sedang menyangkal "Dirinya sendiri?" atau Aruna?Ia bangkit, berjalan menuju jendela, lalu menatap halaman rumah yang masih sepi.Biasanya jam segini ia sudah berada di Rumah sakit namun hari ini tidak ,ponselnya beberapa kali berdering nama asistennya muncul di layar akhirnya mengangkat.“Ada apa?”“Pak, rapat pagi ini tetap dilaksanakan ,bapak jadi datang?”Oxavio terdiam.“Tidak.”“Tapi ada beberapa agenda yang—”“Batalkan.”“Pak, beberapa .. ”“Aku bilang batalkan.”Sambungan diputus ,ponsel diletakkan begitu saja di atas meja ,Oxavio menarik napas panjang entah kenapa sejak semalam ia tidak ingin melihat siapa pun ,tidak ingin bekerja ,bahkan tidak ingin berada di rumah sa

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang Tidak Terlihat

    Sekolah seharusnya menjadi tempat yang tenang.Tempat di mana aku bisa melupakan rumah kecil yang selalu penuh dengan orang asing.Tapi kenyataannya… tidak pernah benar-benar seperti itu ,Aku berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah cepat ,Matahari pagi masih hangat, dan halaman s

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Malam yang Tidak Pernah Sunyi

    Malam di rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi ,Selalu ada suara. Kadang suara tawa laki-laki yang berat dan kasar ,Kadang suara gelas yang beradu di meja kayu tua ,Kadang juga suara pintu kamar ibuku yang tertutup keras diikuti suara yang membuatku menutup telinga dengan kedua tangan. Aku sud

  • Aku ,Target balas dendam CEO   wanita dari masa lalu

    Oxavio menghela napas pelan, tanda ketidaktertarikan yang tidak ia tutupi.“Sudah saya bilang, untuk hal seperti ini atur jadwal melalui sekretaris.”Rafael terdiam sejenak ,ada sesuatu dalam raut wajahnya yang membuat Oxavio akhirnya mengangkat pandangan.“Wanita itu…

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Perhatian yang terlalu jelas .

    Pagi di Pratama Medical Center selalu dimulai dengan kesibukan Para perawat berjalan cepat di koridor ,dokter keluar masuk ruang pemeriksaan suara mesin medis dan percakapan pelan bercampur menjadi satu ,di ruang bersalin, Aruna Larasati sedang memeriksa peralatan seperti biasa ,ia selalu datang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status