LOGINSekolah seharusnya menjadi tempat yang tenang.
Tempat di mana aku bisa melupakan rumah kecil yang selalu penuh dengan orang asing. Tapi kenyataannya… tidak pernah benar-benar seperti itu ,Aku berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah cepat ,Matahari pagi masih hangat, dan halaman sekolah sudah mulai ramai oleh siswa yang bercakap-cakap dengan teman mereka. Beberapa anak perempuan berdiri berkelompok di dekat taman sekolah Mereka tertawa keras, seolah dunia ini tidak memiliki masalah sedikit pun. Aku menundukkan kepala dan berjalan melewati mereka ,Sudah bertahun-tahun aku belajar satu hal yaitu lebih baik tidak menarik perhatian Namun, terkadang perhatian tetap datang meskipun aku tidak menginginkannya. “Eh, lihat.” Suara itu cukup keras untuk membuatku berhenti ,Aku tahu suara siapa itu , Maya. Salah satu siswi paling populer di sekolah ,Cantik, percaya diri, dan selalu dikelilingi teman-temannya ,Aku mencoba tetap berjalan Tapi langkahku terhenti ketika dia berkata lagi “Itu kan Aruna.” Teman-temannya ikut menoleh ke arahku Tatapan mereka membuat dadaku terasa sesak. “Yang ibunya…” seseorang berbisik, tapi cukup keras untuk terdengar. Aku menggenggam tali tas sekolahku lebih erat. “Perempuan malam, kan?” lanjut yang lain sambil tertawa kecil Suara tawa itu seperti jarum yang menusuk telingaku ,Aku ingin pergi. Aku benar-benar ingin pergi dari sana Tapi kakiku terasa berat Maya melangkah mendekat, menatapku dengan senyum tipis yang tidak pernah terasa ramah. “Aruna.” Aku tidak menjawab. “Katanya ibumu cantik ya,” katanya santai Teman-temannya tertawa lagi. “Aku dengar banyak om-om yang suka datang ke rumahmu.” Dadaku terasa panas Aku menatapnya, mencoba menahan emosi yang hampir meledak. “Urus saja hidupmu sendiri.” Itu pertama kalinya aku menjawab dan sepertinya mereka tidak menyangka Alis Maya terangkat. “Berani juga kamu.” Aku tidak ingin melanjutkan percakapan ini ,Aku berbalik dan berjalan menuju kelas. Namun suara Maya kembali terdengar di belakangku “Hati-hati ya.” Aku berhenti. “Jangan sampai kamu ikut-ikutan jadi seperti ibumu.” Kata-kata itu membuat seluruh tubuhku membeku ,Aku tidak menoleh lagi, Aku hanya berjalan Masuk ke kelas Duduk di bangku paling belakang seperti biasa. Tapi meskipun aku sudah duduk, suara mereka masih terngiang di kepalaku ,Perempuan malam Seperti ibumu. Aku menatap buku pelajaran di meja, tapi huruf-huruf di halaman terasa kabur Aku menggigit bibir ,Jangan menangis. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak lama Aku tidak akan menangis karena mereka Aku tidak akan membiarkan siapa pun melihatku lemah ,Hari itu terasa sangat panjang Pelajaran demi pelajaran berlalu tanpa benar-benar masuk ke kepalaku. Ketika bel pulang akhirnya berbunyi, aku adalah orang pertama yang keluar dari kelas. Aku berjalan cepat menuju gerbang sekolah Aku tidak ingin bertemu siapa pun ,Tidak ingin mendengar bisikan lagi Tapi ketika aku melewati lorong belakang sekolah, suara seseorang menghentikanku. “Aruna.” Aku menoleh. Seorang guru berdiri di sana Bu Ratna, guru biologi Dia dikenal sebagai salah satu guru paling baik di sekolah ini “Sebentar,” katanya sambil tersenyum lembut. Aku mendekat dengan sedikit gugup “Ada apa, Bu?” Bu Ratna menatapku beberapa detik sebelum berkata, “Kamu ingin melanjutkan sekolah, kan?” Pertanyaan itu membuatku terkejut “Tentu saja.” “Ke mana?” Aku ragu sejenak sebelum menjawab. “Sekolah kebidanan.” Bu Ratna tersenyum lebih lebar “Itu pilihan yang bagus.” Aku menunduk. “Tapi… mungkin sulit.” “Kenapa?” Aku tidak tahu harus menjawab apa Uang ,Keluarga ,Masa lalu, Semua terasa seperti tembok besar yang menghalangiku. Bu Ratna seolah mengerti pikiranku. “Kalau kamu terus belajar seperti ini, kamu bisa mendapatkan beasiswa.” Aku menatapnya “Benarkah?” “Tentu.” hari itu… aku merasa ada sedikit cahaya “Kamu anak yang pintar, Aruna,” lanjutnya. “Jangan biarkan siapa pun membuatmu percaya sebaliknya.” Dadaku terasa hangat Aku mengangguk pelan “Terima kasih, Bu.” Ketika aku berjalan pulang sore itu, langkahku terasa sedikit lebih ringan. Mungkin hidupku tidak akan selalu seperti ini Mungkin suatu hari nanti aku benar-benar bisa meninggalkan semua ini. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Tapi aku tahu satu hal dengan pasti Aku tidak akan menyerah ,Aku akan belajar, Aku akan bekerja keras ,Dan suatu hari nanti… aku akan menjadi seseorang yang berbeda dari ibuku ,Aku tidak akan pernah hidup seperti dia Aku tidak tahu bahwa jalan menuju masa depan itu akan mempertemukanku dengan seorang pria yang akan mengubah hidupku selamanya. Seorang pria yang suatu hari akan berkata dengan dingin, “Aku tidak pernah mencintaimu, Aruna. Kamu hanya alat untuk membalas dendam.” Dan saat hari itu datang…mungkin aku akan menyadari satu hal yang menyakitkan Bahwa luka dari masa lalu tidak pernah benar-benar hilang ,Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali menghancurkanmu.Aruna baru saja selesai merapikan meja makan ,meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, ia memastikan semuanya rapi, membersihkan debu terakhir, dan menata kursi kembali ke tempatnya ,ia melakukannya dengan gerakan mekanis, mencoba mengalihkan pikiran dari tatapan tajam yang sudah membakar punggungnya sejak beberapa menit lalu. Oxavio duduk di sofa, kedua tangannya bertaut erat , rahangnya mengeras, menandakan badai yang sedang ia tahan ,sejak pertengkaran tentang Eran atau lebih tepatnya, sejak ia melihat Aruna tersenyum pada laki-laki lain itu kemarahannya tidak pernah benar-benar padam ,nama Eran terus berputar di kepalanya seperti racun bahkan cara Aruna memberikan nomor ponselnya tanpa rasa bersalah. Hal-hal kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa bagi seorang CEO dingin seperti Oxavio namun justru karena hal itu "tidak berarti" bagi Aruna, Oxavio semakin membencinya ,ia tidak seharusnya peduli ,tidak seharusnya merasa terusik dan terlebih lagi, ia tidak seharusnya mer
Aruna datang ke rumah sakit seperti biasa ,langkahnya terasa berat karena pikirannya masih terasa penuh setelah pertengkaran dengan Oxavio ,ucapan pedas tentang ibunya masih bergema di telinga, meninggalkan luka yang belum kering namun Aruna tidak ingin membawa masalah rumah ke tempat kerja ,ia mengenakan topeng profesionalismenya, menyembunyikan kerapuhan di balik seragamnya yang rapi. Begitu memasuki ruang VK, ia langsung memeriksa laporan pasien dan mengambil alih pekerjaan seperti biasanya ,ia mencoba menjalani malam seolah tidak terjadi apa-apa, sampai sebuah pesan masuk dari bagian administrasi. "Bu Aruna, ada beberapa laporan yang harus segera diselesaikan sebelum pagi " Aruna membuka lampiran yang dikirimkan matanya langsung berhenti ,rekap pelayanan VK selama satu bulan terakhir ,evaluasi jumlah pasien per jam ,laporan penggunaan obat dan alat kesehatan ,Aruna terdiam bukan karena tugas itu tidak masuk akal secara teknis ,semua memang masih berkaitan dengan pekerjaannya
Oxavio tidak ke kantor ,sejak Aruna membelakanginya tadi, pria itu hanya duduk di sofa dengan pikiran yang tidak mau diam ,kalimat Aruna terus terngiang " Kamu cemburu "Oxavio mengusap wajahnya kasar.“Omong kosong.”Ia bahkan tidak tahu kepada siapa ia sedang menyangkal "Dirinya sendiri?" atau Aruna?Ia bangkit, berjalan menuju jendela, lalu menatap halaman rumah yang masih sepi.Biasanya jam segini ia sudah berada di Rumah sakit namun hari ini tidak ,ponselnya beberapa kali berdering nama asistennya muncul di layar akhirnya mengangkat.“Ada apa?”“Pak, rapat pagi ini tetap dilaksanakan ,bapak jadi datang?”Oxavio terdiam.“Tidak.”“Tapi ada beberapa agenda yang—”“Batalkan.”“Pak, beberapa .. ”“Aku bilang batalkan.”Sambungan diputus ,ponsel diletakkan begitu saja di atas meja ,Oxavio menarik napas panjang entah kenapa sejak semalam ia tidak ingin melihat siapa pun ,tidak ingin bekerja ,bahkan tidak ingin berada di rumah sa
Aruna tiba di rumah menjelang pagi ,tubuhnya terasa seperti tidak lagi memiliki tenaga ,setelah menyelesaikan pekerjaannya, pikirannya justru terus kembali pada kejadian beberapa jam sebelumnya.Pangeran ,laki-laki yang dulu ia panggil Kak Eran ,sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, tetapi anehnya, percakapan singkat itu meninggalkan rasa hangat yang asing di dalam dirinya, Eran hanya seseorang dari masa lalu yang pernah beberapa kali menolongnya ketika ia sedang kesulitan namun sekarang semuanya terasa berbeda ,mungkin karena mereka sudah dewasa ,mungkin karena Aruna baru menyadari betapa lama waktu telah berlalu atau mungkin karena tatapan perempuan yang bersama Eran tadi membuatnya merasa tidak enak.Aruna menggeleng pelan ,ia tidak ingin memikirkannya lagi yang ia inginkan hanya tidur.Namun begitu pintu kamar dibuka langkahnya berhenti Oxavio sudah ada di sana ,duduk di tepi tempat tidurnya ,diam dan seperti menunggu.Aruna menatapnya wajahnya datar ,tidak
Perjalanan pulang sore itu ternyata jauh lebih lama dari yang mereka perkirakan ,kemacetan membuat mobil nyaris tidak bergerak selama beberapa waktu ,ditambah beberapa ruas jalan yang padat, mereka baru sampai di rumah setelah waktu isya ,begitu turun dari mobil, Aruna langsung melihat jam.“Aku harus bersiap.”Ia bahkan tidak sempat duduk berleha, tubuhnya memang lelah, matanya masih berat setelah acara tadi, tetapi malam ini ia kembali harus bekerja Aruna langsung masuk ke kamar mengganti pakaian, lalu memasukkan beberapa barang ke dalam tas ,tidak lama kemudian, ia keluar lagi ,Oxavio yang sejak tadi berada di ruang tengah memperhatikannya.“Kamu mau berangkat sekarang?”“Iya.”“Aku antar.”Aruna berhenti ia menatap Oxavio seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak biasa.“Kamu?”Oxavio mengerutkan kening.“Kenapa?”“Tidak apa-apa.”Aruna mengambil ponselnya.“Aku sudah pesan ojek.”Kalimat itu membuat Oxavio terdiam ,ia seb
Setelah Aruna pergi bekerja, Oxavio masih berdiri di ruang tengah ,pintu rumah sudah tertutup ,suara langkah Aruna pun perlahan menghilang namun pria itu tidak segera beranjak ,pikirannya justru kembali pada satu kalimat yang terlanjur keluar dari mulutnya "Aku tidak suka "Oxavio mengusap wajahnya kasar ,ia tidak suka mengingatnya lebih buruk lagi ia tidak suka alasan di balik kalimat itu ,seharusnya ia tidak peduli ,Aruna hanya tertawa bersama teman-temannya dan tidak ada yang salah ,namun entah mengapa, melihat senyum perempuan itu di layar ponselnya membuat sesuatu di dalam dirinya terusik ,Oxavio mengambil ponselnya lagi ,video itu masih ada Aruna sedang tertawa ,wajahnya terlihat ceria ,Oxavio menatap layar lagi sebelum akhirnya mematikannya.“Tidak.”Ia menggeleng pelan.“Bukan itu.”Ia tidak cemburu ,tidak mungkin ,perasaan seperti itu terlalu tidak masuk akal untuk orang seperti dirinya ,selama ini ia hanya ingin melihat Aruna tersakiti ,ia ingin perempu
Delapan tahun bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang ,beberapa luka memudar beberapa mimpi akhirnya tercapaiDan beberapa kenangan… tetap tinggal seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.Pagi itu, udara di kota jakarta masih terasa dingin ketika Aruna Larasati berdiri
Malam itu terasa berbeda ,Aruna menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumah. Langit sudah gelap ketika ia pulang dari perpustakaan sekolah seharian ia sengaja pulang lebih lama, Rumah selalu terasa lebih aman ketika ibunya belum membawa tamu Namun begitu ia membuka pintu, ia la
Langit sudah mulai berubah jingga ketika Aruna berjalan pulang dari sekolah ,Langkahnya pelan, tapi pasti. Tas sekolahnya terasa lebih berat, meskipun isinya tidak bertambah apa-apa. Mungkin karena pikirannya yang penuh oleh kata-kata yang masih terngiang di kepalanya ,Perempuan malam ,
Malam di rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi ,Selalu ada suara. Kadang suara tawa laki-laki yang berat dan kasar ,Kadang suara gelas yang beradu di meja kayu tua ,Kadang juga suara pintu kamar ibuku yang tertutup keras diikuti suara yang membuatku menutup telinga dengan kedua tangan. Aku sud







