Home / Fantasi / Aku bukan Alea / membujuk Keenan pergi ke acara ulangtahun perusahaan

Share

membujuk Keenan pergi ke acara ulangtahun perusahaan

Author: Rvn
last update publish date: 2025-10-10 23:31:26

***

Keenan berdiri di lantai dua, menatap ke bawah dengan pandangan tenang. Dari sana, ia melihat Alea tertawa riang bersama teman temannya saat berjalan menuju kelas. Tawa itu ringan, tulus, dan entah kenapa membuat dadanya terasa hangat. Di sampingnya, Raiden dan Farel ikut memperhatikan, tapi hanya Keenan yang diam lebih lama, seolah tak ingin kehilangan momen itu.

Raiden meliriknya, sudut bibirnya terangkat nakal.

"Serius banget liatnya, bro. Itu cewek yang suka menyendiri di perpustakaan kan" godanya pelan.

Keenan tak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada gadis itu yang kini berhenti sebentar di depan kelas, tertawa lagi karena sesuatu yang dikatakan Clarissa. Rambutnya tertiup angin, dan sejenak waktu seperti melambat.

"Cantik"sahut Farel santai sambil menyandarkan tubuh ke pagar besi.

Keenan akhirnya mengalihkan pandangannya, menarik napas pelan.

"gebet aja kalau suka"

farel tertawa pelan.

"Ya udah, kalo gitu jangan salahin gue kalo nanti gue duluan deketin"

Keenan hanya melirik sekilas tanpa ekspresi, tapi sorot matanya tajam, cukup untuk membuat Raiden terkekeh canggung.

"Gue bercanda, bro…" katanya cepat, mengangkat kedua tangan.

Sementara itu, di bawah sana, Alea menoleh ke arah lantai dua tanpa alasan jelas dan pandangan mereka bertemu sepersekian detik. Keenan terdiam. Waktu seperti berhenti.

Sampai akhirnya Alea tersenyum kecil, lalu kembali menoleh ke temannya.

Dan entah kenapa, senyum itu masih tertinggal di benak Keenan bahkan setelah gadis itu menghilang di balik pintu kelas.

***

Begitu Alea melangkah masuk ke kelas, suasana langsung terasa ramai. Clarissa sudah lebih dulu duduk di bangku dekat jendela, sibuk mengeluarkan buku dari tasnya. Alea dan Nayla menyusul, duduk sebangku di belakangnya.

Alea menatap keluar jendela, pandangannya kosong menembus halaman sekolah yang mulai ramai oleh suara tawa dan langkah kaki. Perlahan, ia menghela napas panjang.

"Keenan… tunggu aku" gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

Nayla yang sedang membuka buku menoleh heran. "Apa, Lea? Kamu ngomong apa barusan?"

Alea tersentak kecil, buru-buru tersenyum. "Hah? Nggak kok, nggak ngomong apa-apa"

"Oh, kirain kamu manggil siapa gitu" jawab Nayla santai sebelum kembali sibuk dengan bukunya.

***

Begitu bel istirahat berbunyi, Alea langsung berdiri dari kursinya. Tanpa banyak bicara, ia mengambil ponselnya dan bergegas keluar kelas.

Clarissa yang baru saja membuka bekal menatap heran. "Eh, Alea mau ke mana?"

Alea menoleh sebentar, senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Aku ada urusan sebentar" jawabnya singkat sebelum melangkah cepat meninggalkan kelas.

Nayla dan Clarissa saling pandang, sama sama bingung.

"Urusan apaan sih? Tiba-tiba banget" gumam Nayla.

Sementara itu, Alea sudah berlari menyusuri koridor, matanya terus menelusuri setiap kelas yang ia lewati. Ia mencari sosok itu Keenan. Tapi di kelasnya kosong, tak ada siapa pun di dalam.

"Kemana si sialan itu…” gumam Alea pelan, matanya terus menelusuri koridor kosong.

"Aku sialan yang kamu cari, ya?" suara tenang tapi dingin terdengar dari belakang.

Alea tersentak, berbalik cepat. Dan benar Keenan berdiri di sana, bersandar di dinding dengan tangan di saku, menatapnya datar.

Tatapan itu cukup untuk membuat jantung Alea berdetak lebih cepat. Tapi dalam benaknya, potongan ingatan dari dunia novel kembali berputar tentang Alea versi asli yang gagal mengajak Keenan ke acara ulang tahun perusahaan, dan akibatnya… Keenan dikurung semalaman.

Ia mengepalkan tangan. Aku nggak boleh mengulang kesalahan itu.

"Ayo, kita bicara" kata Alea akhirnya, berusaha terdengar tegas.

Keenan menaikkan satu alis.

"Bicara di sini aja, kenapa harus ngajak segala?" nada suaranya terdengar dingin, tapi matanya jelas menyorot rasa jengkel.

"Dan jangan panggil aku ‘sialan’, Alea"

Alea menelan ludah, merasa malu sekaligus kesal pada dirinya sendiri.

"Oke, maaf. Tapi ini penting"

Keenan menatapnya beberapa detik tanpa bicara, lalu akhirnya menghela napas pelan. "Baiklah. Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?"

Alea menarik napas dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan. Ia menatap Keenan lekat lekat, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa.

"Tolong…" suaranya terdengar ragu di awal, lalu mengeras sedikit. "Temani aku ke acara ulang tahun perusahaan"

Keenan hanya diam beberapa detik. Pandangannya datar, nyaris tak menunjukkan emosi apa pun. Lalu tanpa berpikir lama, ia menjawab singkat.

"Enggak mau"

Kata kata itu jatuh begitu saja, dingin dan tanpa jeda.

Alea tertegun. "Kenapa?"

Keenan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

"Aku nggak suka tempat ramai. Lagipula, kenapa harus aku?"

Alea menggigit bibir bawahnya. Ia tahu jawaban itu akan keluar, tapi tetap saja rasanya sesak. Kalau dia menolak lagi seperti di cerita aslinya… segalanya akan terulang.

"Karena kamu tunangan aku" ucap Alea akhirnya, suaranya tegas meski nada kesal jelas terdengar di ujung kalimatnya.

Keenan mengangkat alis, ekspresinya datar. "Orang tuaku udah datang ke acara itu, kan? Jadi kenapa aku juga harus datang?" katanya santai, seolah hal itu bukan masalah besar.

"Lagian, itu cuma acara perusahaan. Nggak ada hubungannya sama tunangan kita"

Alea terdiam sejenak, mencoba menahan diri. Tapi semakin lama menatap wajah tenang Keenan, semakin besar keinginan untuk melempar sesuatu ke arahnya.

Ia mengepalkan tangan, menahan amarah yang mendidih. Sok polos banget sih, dia!

"Kamu beneran nggak paham, atau pura-pura nggak paham, Keenan?" suaranya mulai meninggi, tapi matanya tetap menatap lurus.

"Itu acara penting. Dan sebagai tunanganku, kamu seharusnya ada di sana. Bareng aku"

Keenan menatapnya, mata abu-abu dinginnya sedikit berkilat. Tapi alih-alih menjawab, dia justru menunduk sebentar, lalu berkata pelan,

"Aku nggak suka tempat yang penuh basa-basi"

Alea menarik napas panjang, menahan emosi yang hampir meledak. "Ya ampun, Keenan…" gumamnya pelan, antara frustrasi dan pasrah.

"Wah, apaan nih?" ucap farel. Alea memiringkan kepala, menatap mereka heran. Tiba-tiba Farel sama Raiden datang bareng gini

Ia menyipit curiga sambil menyilangkan tangan di dada.

"Perlu dicurigai nih, jangan jangan ada sesuatu?"

"udah yu, orang gila tu" ucap Keenan sambil melengos. Alea kesal Keenan melengos begitu saja.

***

Begitu bel pulang berbunyi, suasana di parkiran sekolah mulai ramai. Siswa siswi berlarian, beberapa sibuk mencari ojek, sementara sebagian lain menuju mobil masing masing.

Keenan baru saja membuka pintu mobilnya ketika seseorang tiba tiba menyelinap masuk ke kursi penumpang depan.

Ia terperanjat. "Apa-apaan kamu, Alea?"

Alea memasang sabuk pengaman dengan wajah tanpa dosa.

"Tenang aja, aku cuma numpang sebentar"

"Numpang apanya? Turun" Nada Keenan terdengar tegas, matanya menatap tajam.

"Gak mau" jawab Alea santai, menatap lurus ke depan.

"Sampai kamu janji bakal pergi malam ini sama aku"

Keenan mendengus tidak percaya.

"Kamu masih aja ngotot, ya? Aku udah bilang enggak, Alea. Sekali enggak, tetep enggak"

Alea bersedekap, mencondongkan tubuh sedikit ke arah kaca jendela.

"Ya udah" katanya datar, tapi nadanya menantang.

"Kalau gitu aku juga gak mau turun"

Keenan menatapnya tak percaya. "Kamu serius?"

Alea mengangkat dagu, menatapnya balik dengan ekspresi keras kepala. "Serius banget"

Beberapa detik keheningan tercipta. Hanya suara mesin mobil yang belum sempat dinyalakan. Keenan memijit pelipisnya pelan, jelas mulai kehilangan kesabaran.

"terserah" ucap Keenan sambil menyalakan mobilnya dan melaju kencang di jalan raya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku bukan Alea   Nasehat ibu

    Di sisi lain rumah Alvarez, langkah Luna terhenti tepat di depan kamar kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Pintu itu masih terbuka. Kasur rapi, Lemari setengah kosong. Seolah rumah itu memang sudah lama bersiap menyingkirkannya. Luna berdiri kaku beberapa detik, lalu perlahan menutup pintu. Bunyi klik terdengar pelan terlalu pelan untuk amarah yang bergejolak di dadanya. Tangannya mengepal. "Tenang, jangan sekarang," bisiknya pada diri sendiri. Ia menunduk, napasnya berat. Dadanya naik turun, bukan karena sedih semata, tapi karena kemarahan yang di paksa untuk di telan mentah mentah. Bertahun tahun. Ia tinggal di rumah ini bukan sebagai tamu, bukan pula sebagai keluarga. Ia bekerja, mengabdi, menyesuaikan diri. Menyingkirkan perasaan, menutup harapan, menerima tatapan orang orang yang selalu setengah curiga. Dan pada akhirnya Ia tetap dianggap orang luar. Luna tertawa kecil, pahit. "Jadi begini caranya," gumamnya. "Begitu ada calon nyonya, aku

  • Aku bukan Alea   Antara pulang dan tinggal

    "Terserah…" ucap Keenan akhirnya. "Saya mengerti, Nyonya, Besok saya akan membereskan barang barang saya" ujar Luna dengan nada tenang, meski jelas ada luka yang di sembunyikan. "Baguslah kalau kamu bisa memahami, Luna. Saya akui kamu gadis yang gigih dan cerdas, Di masa depan nanti, saya yakin akan membutuhkanmu" kata Nyonya Alvarez. "Terima kasih, Nyonya," balas Luna pelan. Luna bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, Tak lama kemudian, Nyonya Alvarez pun menyusul. "Nikmati waktu kalian, ibu ke kamar dulu" ucapnya sebelum menghilang di balik pintu. Alea dan Keenan mengangguk bersamaan. Beberapa saat setelah Nyonya Alvarez pergi, Alea menatap Keenan dengan raut ragu. "Memangnya tidak apa apa Luna pergi?" tanyanya pelan. "Bukankah dia sudah lama tinggal di sini?" "Tidak apa apa," jawab Keenan singkat. "kenapa malah kamu yang khawatir?" "Lalu, bagaimana dengan mu?"Alea kembali bertanya. "Aku?" Keenan menoleh. "Kamu tidak keberatan?" "Tentu saja tidak, Kami

  • Aku bukan Alea   Secangkir teh hangat

    "kakak... "kakak selalu menghindar terus dengan pergi pergi dari rumah, karna kakak gak bisa berbuat apa apa" "Alea, pergi dari sini, jangan ke sini lagi" *** Alea keluar dari kamar Reyhan dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu. Baru beberapa langkah ia melangkah, Keenan sudah berdiri di hadapannya. "Kamu baik baik saja?" tanyanya pelan, suaranya penuh kekhawatiran. Alea tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Keenan sesaat, lalu menggeleng tipis. "Ayo, kita pulang," ujar Keenan akhirnya, tak ingin memaksanya bicara. Beberapa menit kemudian, Alea sudah duduk di atas motor Keenan. Mesin baru saja menyala ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Pintu mobil terbuka, dan Dava keluar. Tatapannya tertuju lurus pada Alea, lekat, dingin, dan penuh makna yang tak terucap. Namun tak satu kata pun keluar. Tanpa menyapa, tanpa penjelasan, Dava justru membalikkan badan dan bergegas masuk ke da

  • Aku bukan Alea   bertemu Reyhan

    Raisa duduk berdua dengan Luna. Sejak tadi, Luna lebih banyak diam, tatapannya kosong seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sikap itu membuat Raisa merasa resah. "Luna, kamu kenapa? Masih kepikiran omongan mereka, ya? Jangan dipikirin, Clarissa memang mulutnya kayak gitu jahat,"ucap Raisa, mencoba menenangkan. Luna menggeleng pelan. "Bukan kok, Aku bukan tipe orang yang kepikiran cuma karena omongan dangkal seperti itu" "Aku tahu kamu kuat, Luna," kata Raisa lembut. "Terus, kenapa kamu diam aja dari tadi?" Luna terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Aku cuma heran, gimana bisa aku kalah sama Alea, Padahal aku udah belajar mati matian" Raisa terdiam sesaat, memperhatikan ekspresi Luna yang berubah samar. Ada sesuatu di balik nada suaranya barusan. "Bukan aku nggak terima kalah," lanjut Luna pelan. "Cuma, kadang aku mikir, di sekolah ini kan nggak semuanya murni soal usaha" Raisa menoleh. "Maksud kamu?" Luna tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai

  • Aku bukan Alea   Tetaplah di sisiku

    Keesokan paginya, suasana sekolah terasa berbeda. Alea turun dari motor Keenan, di ikuti Raiden dan Farel yang juga memarkirkan motor mereka tak jauh dari sana. "Makin nempel aja nih, pasangan sekolah kita" goda Raiden sambil nyengir. "Apaan, lu sirik aja," balas Keenan santai. "Katanya nggak suka, tapi sekarang nempel terus," tambah Farel, tertawa kecil. Alea hanya menarik napas pelan, Wajahnya tetap datar, seolah candaan itu tak ada hubungannya dengan dirinya. Padahal dari sudut matanya, ia bisa merasakan banyak pasang mata melirik, berbisik, dan menilai. Begitu mereka melangkah melewati gerbang, bisik bisik itu makin jelas. "Itu Alea, kan?" "Yang kemarin jadi pasangan terpilih itu…" "wah hebat banget udah dari keluarga konglomerat, pinter, cantik, tunangan Keenan lagi pewaris utama orang terkaya di negara ini" "dia beruntung karena di pungut aja sama keluarga marvelle, kalau engga dia sama aja kaya luna bahkan mungkin bisa lebih menyedihkan" ucap salah satu sis

  • Aku bukan Alea   dia mengakuinya, bangga!?

    Alea mengetuk pintu kamar Nyonya Alvarez dengan lembut, baki teh di tangannya nyaris tak bersuara. Ia menunggu beberapa detik sebelum suara dari dalam menjawab, datar namun tegas. "Masuk" Kamar itu redup, hanya lampu meja di sisi ranjang yang menyala, Tirai setengah tertutup, menyisakan cahaya kota yang terpotong rapi. Nyonya Alvarez duduk di kursi dekat jendela, punggungnya lurus, rambutnya sudah di lepas dari tatanan formal pesta. Alea melangkah masuk, menunduk sopan. "Teh hangat, Tante" Ia meletakkan cangkir di meja kecil. Uap tipis naik perlahan, mengisi ruang dengan aroma menenangkan kontras dengan ketegangan yang masih tertinggal. "Terima kasih" ujar Nyonya Alvarez singkat. Ia tidak langsung menyentuh cangkir itu. Beberapa detik hening berlalu. "Kau berbeda dari yang lain," kata Nyonya Alvarez akhirnya, tanpa menoleh. "Di pesta tadi, kau tidak berusaha terlalu keras" Alea tersenyum tipis. "Saya hanya menjadi diri sendiri" "itu justru yang berbahaya," balasnya p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status