MasukCahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah tirai sutra kamar utama menara barat.Sinar emas itu menyapu permukaan ranjang berkanopi yang masih berantakan oleh jejak malam panjang mereka.Liora perlahan membuka matanya, mengerjab pelan menyesuaikan pandangan dengan silau pagi yang menerpa."Eungh... jam berapa ini?" bisik Liora pelan seraya mencoba menggerakkan kakinya yang terasa kaku.Rasa pegal langsung menjalar di seluruh tubuhnya, namun hatinya diliputi ketenangan yang luar biasa.Ia lalu memutar tubuhnya perlahan, bersiap untuk bangun dari tempat tidur demi melihat keadaan Arthur."Mau pergi ke mana kau, Liora?" gumam sebuah suara bariton yang terdengar sangat berat dan serak.Sebelum Liora sempat menurunkan kakinya, sebuah lengan kokoh bertato seketika melingkar erat di pinggangnya.Alistair menarik tubuh Liora dalam satu gerakan cepat, menyandarkan istrinya kembali rapat pada dadanya.Liora menepuk pelan lengan kekat yang menempel ketat di perutnya. "Alistai
Denting lonceng menara barat berdentang lambat, menandakan malam telah jatuh sepenuhnya di atas tanah Blackwood.Kamar utama terasa begitu hangat oleh bongkahan kayu cemara yang menyala tenang di dalam perapian batu. Liora berdiri diam mendengarkan gemericik air yang perlahan mereda dari arah ruang pembilasan privat."Suara airnya sudah berhenti," bisik Liora pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.Hatinya meluluh mengingat kegigihan Alistair yang terus menggoda serta memanjakannya selama berhari-hari ini.Kini, rasa lelah akibat masa pemulihan telah sirna, digantikan kerinduan mendalam yang siap ia tuntaskan.Liora berjalan perlahan menuju lemari pakaian ukir di sudut kamar lalu berlutut di depannya.Tangannya meraih kunci kecil, memutar slot lemari paling bawah dengan gerakan yang sangat halus. Dari dalam sana, ia mengeluarkan selembar gaun malam dari kain sutra halus berwarna kebiruan."Sudah waktunya gaun pemberianmu ini menjalankan tugasnya, Alistair," guma
Pagi hari di Kastil Blackwood menyajikan pemandangan yang teramat langka.Cahaya matahari musim dingin memantulkan pendar perak di atas salju pelataran dalam kastil. Di lorong utama menara barat, Alistair berdiri tegap mengenakan mantel bulu tebal berwarna gelap.Dengan gerakan yang amat hati-hati namun sigap, sang Duke menyangga tubuh mungil Arthur yang sudah dibungkus kain wol hangat.Alistair menyusupkan balita tiga bulan itu ke dalam lipatan dada mantel bulunya, menyisakan hanya kepala mungil Arthur yang menatap sekeliling dengan mata bulat polos.Liora yang berdiri di pintu kamar utama memperhatikan tingkah suaminya dengan cemas sekaligus geli. "Alistair, apakah kau yakin bisa mengawasinya sambil patroli? Angin di luar cukup kencang."Alistair menepuk lembut bagian luar mantelnya, memastikan Arthur berada dalam dekapan yang aman dan hangat. "Dia aman bersamaku, Liora. Dada mantel ini cukup tebal untuk menahan angin dingin Tanah Utara."Alistair melangkah mendekat, mengecup dahi L
Liora melangkah anggun menyusuri lorong berlantai batu, menepuk-nepuk lembut punggung Arthur yang mulai tertidur di bahunya.Angin dingin musim dingin yang membentur kaca jendela besar tidak mengurangi kehangatan di dalam koridor menara barat.Di tepi ambang pintu ruang baca, Alistair masih berdiri kaku. Pria bertubuh tegap itu membiarkan kemeja hitamnya terbuka sedikit di bagian dada.Tatapan mata abu-abunya yang pekat membakar penuh intensitas, mengekor tanpa henti pada setiap lekuk tubuh Liora yang bergerak menjauh.Jemari besarnya mencengkeram kusen kayu pintu begitu erat hingga sendi-sendinya memutih, menahan diri dengan sangat bersusah payah agar tidak melompat dan menarik istrinya ke dalam ruangan saat itu juga.Emma yang baru saja belok di persimpangan lorong mendadak menghentikan langkahnya.Ia memegang nampan berisi beberapa helai kain katun dan minyak aromaterapi untuk bayi.Mata Emma berbinar jenaka menyaksikan sorot mata Alistair yang begitu liar dan lapar namun terhalang
Malam itu, kamar utama menara barat terasa sangat hening.Tidak ada lagi suara rengetan kecil atau pergerakan halus dari boks kayu berukir yang biasanya mengisi sudut ruangan.Suasana damai ini merupakan buah dari keputusan tegas Liora yang telah menyewa pengasuh bayi berpengalaman dari ibukota untuk membantu merawat Arthur yang kian aktif.Alistair melangkah masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan seluruh dokumen pemeriksaan pasukan perbatasan.Pria tegap itu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.Matanya membelalak pelan saat menyapu sudut kamar yang kini kosong melompong.Boks kayu Arthur sudah dipindahkan sepenuhnya ke kamar khusus bayi yang berjarak beberapa langkah di sebelah kamar utama.Alistair mendengus pelan, lalu seulas senyuman puas terukir jelas di wajah tampannya.Ia sadar betul bahwa Liora sengaja mengambil langkah teknis ini demi memastikan tidak ada lagi gangguan tangisan di tengah malam."Pilihan yang sangat bijak, Liora," gumam Alistair pada diri sendiri
Alistair tidak langsung menyerah ketika alasannya diruntuhkan.Jemari besarnya yang penuh kapalan merayap turun dari bahu Liora, menyelusup ke jemari tangan Liora yang sedang memegang pena bulu, lalu menggenggamnya erat hingga alat tulis itu terlepas dan terjatuh pelan di atas meja kayu.Alistair makin merapatkan tubuhnya dari belakang. Ia menyesap aroma tubuh Liora di ceruk leher istrinya, mendaratkan kecupan hangat yang agak lama di sana hingga membuat Liora mendesah pelan."Usia empat bulan adalah waktu yang sangat tepat untuk mulai merencanakan," bisik Alistair dengan intonasi bariton yang amat rendah dan dalam."Semakin cepat kita memberinya adik, semakin cepat ia memiliki teman bertumbuh di kastil yang luas ini."Liora menyandarkan kepalanya ke belakang, tepat di dada bidang Alistair yang naik turun teratur. Ia mengusap lengan tegap suaminya yang melingkar posesif di perutnya."Alistair, tubuhku baru saja pulih beberapa minggu yang lalu," ujar Liora lembut, mencoba memberi penge
Pintu kamar utama Kastil itu dibanting hingga engselnya mengerang. Belum sempat Liora menyeimbangkan diri, Alistair telah mencengkeram bahunya dan menghempaskan tubuh wanita itu ke atas ranjang dengan kasar. Kasur bulu angsa yang empuk itu terasa seperti batu bagi harga diri Liora yang kian remuk.
Keesokan harinya, koridor rumah sakit terasa lebih menyesakkan bagi Liora. Ia baru saja menemui paman kandungnya, Liam, di ruang tunggu khusus bangsawan. Namun, harapan akan dukungan keluarga yang ia dambakan justru hancur dalam hitungan detik.“Apa kau sudah gila, Liora?” Suara Liam menggelegar, m
Malam harinya, Alistair kembali ke kastil dengan aroma salju yang menempel di mantel militernya. Ia terkejut melihat Liora masih duduk di ruang tengah, menunggunya dengan sebuah amplop di atas meja.“Kau belum tidur?” tanya Alistair dingin, lalu melepaskan sarung tangan kulitnya tanpa menatap Liora
“Kau suka bunganya?” tanya seorang pria pada wanita di hadapannya dengan nada suara yang begitu lembut.Di koridor Rumah Sakit Saint Jude, Liora baru saja melangkah keluar dari ruang rawat ibundanya. Namun, langkahnya terhenti seketika. Di ujung koridor yang menghadap taman musim dingin, sebuah pem







