Share

BAB 10: Pria bodoh!

Author: Ruzaaayoora
last update publish date: 2026-06-04 02:24:56
"siapa itu?!"

semuanya terdiam dan menahan nafas, tak lama seorang pelayan masuk sambil membungkuk, membawakan minuman-minuman yang sebelumnya diperintahkan Arabella.

"saya izin mengantarkan minuman nona" Arabella berdecak kesal sekaligus lega.

"lain kali ketuk dan bersuara lah! jangan membuat ku terkejut!" pelayan itu hanya mengangguk dan menunduk sebelum keluar dengan langkah pelan.

"huuu hampir saja!" gumam Arabella dengan perasaan was-was.

✨✨✨

Disisi lain, Tiga hari berlalu denga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 18: sebatas rekan kerja

    Sesampainya di kamar, Nara langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Bodoh. Kau benar-benar bodoh, Nara, batinnya merutuki diri sendiri. Ia teringat kehidupannya di dunia nyata. Bagaimana ibunya dikhianati oleh ayahnya demi wanita lain yang lebih kaya. Bagaimana ia sendiri tumbuh besar dengan melihat bahwa komitmen hanyalah kata-kata kosong yang akan menguap saat ada pilihan yang lebih menguntungkan. Di dunia novel ini pun, pengkhianatan ada di mana-mana. Arlo yang mengkhianati Veronica, ayah Veronica asli yang mengkhianati ibunya, dan sekarang muncul Isabella yang mengingatkannya bahwa ia hanyalah figuran dalam permainan kekuasaan para bangsawan. "Aku tidak boleh mencintainya," gumam Nara, suaranya bergetar. "Jika aku tidak mencintainya, dia tidak bisa menyakitiku. Jika aku tetap sendiri sampai akhir, aku akan aman." Ia menyeka

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 17: Keraguan yang Kembali

    Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Setelah menempuh perjalanan singkat menembus hutan pinus, mereka sampai di sebuah pondok kayu kecil yang tersembunyi di balik bukit. Pondok itu tampak sangat hangat dengan asap yang mengepul dari cerobongnya. "Ini adalah tempat pribadiku," Killian turun dan membantu Nara. "Tidak ada pelayan, tidak ada Ibu, dan tidak ada protokol bangsawan di sini." Begitu masuk ke dalam, Nara disambut oleh kehangatan perapian dan aroma kayu cendana. Ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku dan senjata-senjata antik, namun ada sebuah sofa besar yang tampak sangat nyaman di depan api unggun. "Duduklah," perintah Killian. Ia melepaskan jubah besarnya, memperlihatkan kembali tubuh tegapnya yang hanya dibalut kemeja tipis. Nara duduk dengan kaku. "Kenapa kita ke sini?" "Untuk melakukan evaluasi rekan kerja," Killian menyeringai nakal. Ia berjalan menuju sudut ruangan dan mengambil sebotol anggur madu hangat. Ia menuangkan dua gelas

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 16: godaan sang iblis

    Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Meja makan Kastil Valerius siang itu dipenuhi dengan berbagai hidangan khas Utara-daging rusa panggang dengan saus beri, roti gandum hangat, dan sup krim jagung yang kental. Killian sudah duduk di sana, mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan sedikit tulang selangkanya yang kokoh. "Ibu," Killian memulai setelah mereka selesai makan. "Aku dengar dari para pelayan bahwa Baron Ashbourne sempat mengirimkan surat tuntutan mahar tambahan kemarin karena aku sudah bangun." Suasana mendadak dingin. Sophia mendengus benci. "Benar. Ayahmu, Veronica, dia benar-benar pria yang tidak punya rasa malu. Dia merasa bahwa karena Killian sehat, nilai pernikahanmu menjadi lebih tinggi." Nara mengepalkan tangannya di bawah meja. "Jangan berikan apa pun padanya, Ibu. Dia tidak berhak atas satu koin pun dari Valerius." Killian menyesap anggurnya, matanya menatap Nara dengan kelembutan yang jarang dipe

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 15: Iblis yang Terlalu Santai

    Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Matahari Utara yang pucat mencoba menembus kabut es yang menyelimuti Kastil Valerius, namun kehangatan di dalam kamar utama Duke terasa jauh lebih nyata daripada sinar mentari mana pun. Nara masih membeku di atas dada Killian, napasnya tertahan di tenggorokan saat ia menyadari bahwa tangan yang tadi melingkar di pinggangnya kini mulai bergerak nakal, mengusap punggungnya yang hanya terlapisi satin tipis. "Kenapa diam saja?" Killian berbisik, matanya yang berwarna ungu galaksi itu berkilat jenaka. "Tadi kau bicara sangat banyak. Tentang koin emas, tentang melarikan diri, bahkan tentang wajahku yang tampan. Sekarang suamimu sudah bangun dan memberimu perhatian penuh, kau malah mendadak bisu?" Nara akhirnya berhasil mengumpulkan kekuatannya. Ia mendorong dada Killian dan melompat turun dari tempat tidur dengan wajah yang semerah buah delima. "A-Anda... Anda benar-benar gila! Berapa lama Anda sudah sadar?!" Killian bangk

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 14: masih ingin aku tetap tidur?

    Malam itu, badai salju bertiup lebih kencang dari biasanya. Suara angin melolong di antara celah bebatuan kastil, menciptakan suasana yang mencekam namun syahdu. Nara merasa tubuhnya agak meriang. Mungkin karena kelelahan emosional setelah berbicara dengan Sophia siang tadi. Namun, ada dorongan aneh di dalam hatinya. Sebuah insting yang menyuruhnya pergi ke kamar suaminya. Nara mengenakan baju tidur satin putih yang sangat tipis, dilapisi dengan jubah sutra yang ringan. Ia membawa sebuah lampu minyak kecil di tangannya. Langkah kakinya yang telanjang di atas permata bulu terasa ringan saat ia memasuki kamar utama Duke. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh bara api di perapian. Di tengah ruangan, Killian terbaring diam. Rambut merah gelapnya tampak seperti darah di bawah cahaya lampu minyak. Nara duduk di kursi kayu di samping tempat tidur. Ia meletakkan lampunya di nakas, lalu menatap wajah Killian. "Kau tahu," bisik Nara, suaranya parau karena baru saja bangun ti

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 13: Hangatnya Abu

    Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan aroma obat-obatan yang tajam, Dimitier (Arlo) terbaring dengan berbagai selang dan alat bantu napas ajaib. Tabib kekaisaran baru saja menjahit luka di bahunya dan mencoba menetralkan racun Bunga Api Berduri yang menginfeksi luka di dadanya. Vane berdiri di samping tempat tidur, menatap tuannya dengan perasaan campur aduk. "Bodoh. Benar-benar bodoh." Tiba-tiba, mata Dimitier terbuka. Ia tidak langsung sadar sepenuhnya. Pupil matanya melebar, dan ia mencoba bangun, namun rasa sakit di punggung dan bahunya membuatnya kembali terhempas. "Veronica..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Tuan Muda, tenanglah. Anda berada di rumah," Vane menekan bahu Dimitier. "Mana... mana Veronica? Aku harus... mencarinya..." Dimitier mencoba merobek perbannya. "Nona Veronica sudah pergi, Tuan. Dia berangkat ke Utara. Dan Anda... Anda hampir mati karena Arabella Ashbourne," suara Vane din

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status