MasukHarap like dan follow akun ini ------- Musim semi di wilayah Utara Kekaisaran bukanlah pemandangan hijau yang biasa ditemui di wilayah Selatan. Di sini, musim semi adalah fenomena yang jauh lebih magis dan langka. Salju abadi mulai menipis, membiarkan tanah beku bernapas sejenak, dan yang paling menakjubkan adalah mekarnya Bunga Alyssum Perak—bunga langka yang hanya muncul setahun sekali saat matahari bersinar sedikit lebih hangat di tanah Valerius. Kelopak bunga itu bening seperti kaca, namun memantulkan cahaya pelangi yang memukau saat terkena sinar matahari. Nara berdiri di balkon kamar utamanya, menghirup udara yang tidak lagi menusuk hingga ke tulang. Meski masih ada hawa dingin yang menggigit, namun aroma tanah yang basah dan wangi samar bunga Alyssum mulai terasa. Ia mengenakan gaun beludru berwarna hijau zamrud dengan sulaman perak di bagian pinggang yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang kini tampak lebih berisi dan sehat. Sejak kejadian di Hutan Kabut Ilusi dan percak
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Keheningan pagi di kamar utama kediaman Duke Valerius terasa jauh lebih berat setelah pengakuan jujur dan permintaan maaf Killian. Nara masih berada dalam dekapan pria itu, wajahnya terbenam di dada bidang Killian yang terasa hangat dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan sisa-sisa wangi Mana yang menenangkan membuat Nara merasa seolah seluruh dunianya sedang berputar. Ia tahu, di balik gengsi yang ia bangun setinggi langit, ada bagian dari dirinya yang mulai goyah. Killian perlahan melepaskan pelukannya, namun ia tidak menjauh. Tangan besarnya justru bergerak untuk merapikan helai rambut Nara yang berantakan, menyelipkannya di belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut. Tatapannya yang ungu tajam kini melunak, menatap Nara dengan binar yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang, rasa bersalah, dan tentu saja, sedikit kenakalan yang tak pernah hilang. "Kau melamun lagi, Istriku," bisik Killian,
HARAP LIKE DAN FOLLOW AUTHOR ---------- Sinar matahari pagi yang menusuk melalui celah tirai beludru kamar utama kediaman Duke Valerius memberikan kehangatan yang kontras dengan suasana batin Nara yang baru saja terseret kembali ke alam sadar. Perlahan, kelopak mata yang terasa berat itu terbuka. Hal pertama yang Nara rasakan bukanlah rasa sakit yang menghancurkan atau sendi yang kaku, melainkan aliran hangat yang menjalar di seluruh nadinya secara konsisten. Sensasi itu terasa seperti dialiri air suam-suam kuku yang menenangkan, menghilangkan sisa-sisa trauma fisik dari malam yang luar biasa brutal di Hutan Kabut Ilusi. Nara mengerjap beberapa kali, mencoba menjernihkan pandangannya yang masih sedikit buram. Ia mencoba menggerakkan jemarinya, dan anehnya, ia tidak merasakan pegal yang seharusnya menyiksa setelah aktivitas fisik sebrutal itu. Ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa terjadi pada tubuhnya. Secara perlahan, Nara memberanikan diri untuk mengintip ke balik
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Fajar mulai menyingsing di ufuk timur wilayah Utara, menyebarkan semburat cahaya pucat yang memecah kabut tebal di perbatasan Hutan Kabut Ilusi. Namun, kesunyian pagi itu tidak membawa ketenangan. Sebaliknya, atmosfer di gerbang hutan justru terasa mencekam, dipenuhi oleh derap langkah kaki kuda yang gelisah dan teriakan para ksatria elit yang telah menyisir setiap jengkal tanah sepanjang malam. Di garis depan, Sofia, ibu dari Killian, tampak berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Wajahnya yang biasanya anggun kini pucat pasi, matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia tidak tidur sedetik pun sejak putra dan menantunya dinyatakan hilang di dalam labirin hijau yang mematikan itu. "Bagaimana mungkin mereka belum ditemukan?! Seluruh divisi ksatria utara sudah dikerahkan! Apakah kalian semua tidak berguna?!" suara Sofia melengking, memecah keheningan pagi dengan nada penuh ketakutan dan amarah yang meluap. Ia tahu betul k
"ARGHHHHHHHH! KILLIANNNN!" Nara menjerit histeris, tubuhnya melengkung ke atas hingga hanya kepala dan bahunya yang menyentuh tanah. Penetrasi kali ini terasa jauh lebih dalam karena posisi kakinya yang tertekuk. Kejantanan Killian menabrak mulut rahimnya dengan sangat keras, menciptakan sensasi seperti ditusuk pedang panas yang membawa kenikmatan sekaligus rasa sakit yang menghancurkan. Plok! Plok! Plok! Suara paha Killian yang menghantam Nara terdengar sangat nyaring. "Ahhh! Ahhh! Ahhh! Killian! Itu menembus perutku! Ahhh! !" Nara meracau gila, ia bisa melihat dari sudut matanya bagaimana kulit perut bawahnya terdorong-dorong secara ekstrim setiap kali Killian menghujam. Bentuk lonjong kejantanan Killian tercetak jelas di balik kulit perutnya yang tipis. "Itu karena kau diciptakan untuk menjadi milikku, Veronica! Kau adalah wadah yang sempurna untuk kegilaanku!" Killian mempercepat temponya secara kuat. Ia tidak lagi bergerak perlahan. Ia menghujam seperti mesin yang tidak m
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Nara memekik histeris, kuku-kukunya mencakar dada bidang Killian hingga berdarah. Air mata tumpah saat ia merasakan selaput daranya dipaksa robek oleh ukuran yang tidak masuk akal itu. Ujung kejantanan Killian baru masuk seperempatnya, namun Nara merasa seolah-olah tubuhnya sedang dibelah menjadi dua. Killian berhenti, membiarkan Nara bernapas. Ia bisa melihat dengan jelas dari luar perut Nara, ada sebuah tonjolan yang tercetak di area perut bawah. Kejantanannya yang besar mulai menekan organ dalam Nara. Sebenarnya dia ingin berhenti, tak tega melihat istrinya yang kesakitan itu, tapi pengaruh rangsangan dari beri itu juga menguasainya, dia juga sulit untuk mengontrol diri. "Tarik napas, sayang... ahhh, ahhh... Veronica. Rasakan aku... biarkan tubuhmu menerimaku." Killian menunggu hingga Nara sedikit tenang. Ia kembali menciumi leher dan telinga Nara, membisikkan kata-kata kotor yang membuat Nara kembali terangsang.
Kedai arak itu sangat bising. Nara duduk di sudut yang paling gelap, memesan sebotol arak keras. Di meja lain yang lebih bersih, Arlo duduk berhadapan dengan Arabella. Arlo tampak sibuk memastikan Arabella tidak menyentuh minuman keras, memberikan air putih padanya, dan membuang muka saat Nara men
"Gila... ini benar-benar gila," ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia harus mencerna semuanya. Ia berada di dalam tubuh seorang wanita yang dibenci semua orang. Ia memiliki ayah yang menganggapnya komoditas, adik tiri yang merupakan manipulator ulung berwajah malaikat, dan seorang pengawal
"Veronica Ashbourne," desis Nara. Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah-olah nama itu sudah lama tertanam di dalam saraf vokalnya. Ingatan demi ingatan mulai membanjiri otaknya seperti air bah yang merobohkan bendungan. Bukan lagi sekadar potongan plot novel yang ia baca, melainkan
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang kabur. Luka di bahu Nara mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Selama masa pemulihan, Arlo tetap menjalankan tugasnya sebagai pengawal, namun ia memperlakukan Nara seperti udara. Ia hanya masuk untuk mengantar obat, berdiri







