تسجيل الدخولHarap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Perjalanan dari wilayah Utara menuju Ibu Kota Kekaisaran, Astheria, memakan waktu beberapa hari menggunakan kereta kuda sihir milik keluarga Valerius. Musim semi yang telah merebak sepenuhnya membuat pemandangan di sepanjang jalan berubah dari hamparan salju putih menjadi padang rumput hijau yang dihiasi bunga-bunga liar. Namun, bagi Nara, perjalanan ini bukan sekadar menghadiri undangan pesta musim semi dari Kaisar; ini adalah kepulangannya ke tempat di mana reputasi Veronica dihancurkan, tempat di mana "Aku yang Tak Pernah Dipilih" bermula. "Kau terlihat sangat gelisah sejak kita melewati perbatasan wilayah Tengah," suara Killian memecah lamunan Nara. Pria itu duduk tepat di hadapannya, mengenakan kemeja linen hitam yang longgar dengan beberapa kancing atas terbuka—sebuah tampilan santai yang tetap membuatnya terlihat sangat berbahaya. Killian sedang memegang segelas anggur merah, namun matanya tidak pernah lepas dari
"Hei, gadis manis! Kenapa kau bersama pria kurus itu? Bergabunglah dengan kami, kami punya lebih banyak koin emas dan kehangatan daripada yang bisa diberikan oleh jubah bulu nya," teriak pria itu sambil tertawa kasar bersama teman-temannya. Langkah Killian seketika terhenti. Atmosfer di sekitar mereka mendadak membeku. Udara yang tadinya hangat karena musim semi, kini terasa seperti musim dingin yang paling ekstrem. Nara bisa merasakan tangan Killian yang menggenggamnya berubah menjadi sangat dingin dan keras. "Killian, jangan. Abaikan saja mereka," bisik Nara, mencoba menenangkan suaminya. Ia tahu jika Killian marah, kota ini bisa berubah menjadi kuburan dalam hitungan detik. Killian tidak menjawab. Ia perlahan melepaskan tangan Nara dan berbalik menghadap kelompok pria tersebut. Meskipun ia mengenakan penyamaran, aura predator yang terpancar dari tubuhnya tidak bisa disembunyikan. "Ulangi apa yang kau katakan tadi," suara Killian terdengar sangat rendah, hampir seperti gerama
Harap like dan follow akun ini ------- Musim semi di wilayah Utara Kekaisaran bukanlah pemandangan hijau yang biasa ditemui di wilayah Selatan. Di sini, musim semi adalah fenomena yang jauh lebih magis dan langka. Salju abadi mulai menipis, membiarkan tanah beku bernapas sejenak, dan yang paling menakjubkan adalah mekarnya Bunga Alyssum Perak—bunga langka yang hanya muncul setahun sekali saat matahari bersinar sedikit lebih hangat di tanah Valerius. Kelopak bunga itu bening seperti kaca, namun memantulkan cahaya pelangi yang memukau saat terkena sinar matahari. Nara berdiri di balkon kamar utamanya, menghirup udara yang tidak lagi menusuk hingga ke tulang. Meski masih ada hawa dingin yang menggigit, namun aroma tanah yang basah dan wangi samar bunga Alyssum mulai terasa. Ia mengenakan gaun beludru berwarna hijau zamrud dengan sulaman perak di bagian pinggang yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang kini tampak lebih berisi dan sehat. Sejak kejadian di Hutan Kabut Ilusi dan percak
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Keheningan pagi di kamar utama kediaman Duke Valerius terasa jauh lebih berat setelah pengakuan jujur dan permintaan maaf Killian. Nara masih berada dalam dekapan pria itu, wajahnya terbenam di dada bidang Killian yang terasa hangat dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan sisa-sisa wangi Mana yang menenangkan membuat Nara merasa seolah seluruh dunianya sedang berputar. Ia tahu, di balik gengsi yang ia bangun setinggi langit, ada bagian dari dirinya yang mulai goyah. Killian perlahan melepaskan pelukannya, namun ia tidak menjauh. Tangan besarnya justru bergerak untuk merapikan helai rambut Nara yang berantakan, menyelipkannya di belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut. Tatapannya yang ungu tajam kini melunak, menatap Nara dengan binar yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang, rasa bersalah, dan tentu saja, sedikit kenakalan yang tak pernah hilang. "Kau melamun lagi, Istriku," bisik Killian,
HARAP LIKE DAN FOLLOW AUTHOR ---------- Sinar matahari pagi yang menusuk melalui celah tirai beludru kamar utama kediaman Duke Valerius memberikan kehangatan yang kontras dengan suasana batin Nara yang baru saja terseret kembali ke alam sadar. Perlahan, kelopak mata yang terasa berat itu terbuka. Hal pertama yang Nara rasakan bukanlah rasa sakit yang menghancurkan atau sendi yang kaku, melainkan aliran hangat yang menjalar di seluruh nadinya secara konsisten. Sensasi itu terasa seperti dialiri air suam-suam kuku yang menenangkan, menghilangkan sisa-sisa trauma fisik dari malam yang luar biasa brutal di Hutan Kabut Ilusi. Nara mengerjap beberapa kali, mencoba menjernihkan pandangannya yang masih sedikit buram. Ia mencoba menggerakkan jemarinya, dan anehnya, ia tidak merasakan pegal yang seharusnya menyiksa setelah aktivitas fisik sebrutal itu. Ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa terjadi pada tubuhnya. Secara perlahan, Nara memberanikan diri untuk mengintip ke balik
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Fajar mulai menyingsing di ufuk timur wilayah Utara, menyebarkan semburat cahaya pucat yang memecah kabut tebal di perbatasan Hutan Kabut Ilusi. Namun, kesunyian pagi itu tidak membawa ketenangan. Sebaliknya, atmosfer di gerbang hutan justru terasa mencekam, dipenuhi oleh derap langkah kaki kuda yang gelisah dan teriakan para ksatria elit yang telah menyisir setiap jengkal tanah sepanjang malam. Di garis depan, Sofia, ibu dari Killian, tampak berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Wajahnya yang biasanya anggun kini pucat pasi, matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia tidak tidur sedetik pun sejak putra dan menantunya dinyatakan hilang di dalam labirin hijau yang mematikan itu. "Bagaimana mungkin mereka belum ditemukan?! Seluruh divisi ksatria utara sudah dikerahkan! Apakah kalian semua tidak berguna?!" suara Sofia melengking, memecah keheningan pagi dengan nada penuh ketakutan dan amarah yang meluap. Ia tahu betul k
"Veronica Ashbourne," desis Nara. Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah-olah nama itu sudah lama tertanam di dalam saraf vokalnya. Ingatan demi ingatan mulai membanjiri otaknya seperti air bah yang merobohkan bendungan. Bukan lagi sekadar potongan plot novel yang ia baca, melainkan
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang kabur. Luka di bahu Nara mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Selama masa pemulihan, Arlo tetap menjalankan tugasnya sebagai pengawal, namun ia memperlakukan Nara seperti udara. Ia hanya masuk untuk mengantar obat, berdiri
Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari koridor mansion Ashbourne yang dingin dan penuh dengan aroma arogansi. Nara—yang kini harus terbiasa dengan panggilan Veronica—berdiri di depan cermin besar di ruang ganti. Ia tidak memilih gaun sutra berwarna pastel yang biasa dikenakan Veronica as
Hujan turun deras sejak sore, menghantam jendela kamar kos di lantai tiga seperti ribuan jemari yang memaksa ingin masuk. Suara tetesan air bercampur dengan derit kipas angin tua di langit-langit, menciptakan irama monoton yang menyesakkan.Namun Nara tidak peduli.Ia tetap tengkurap di atas kasur







