เข้าสู่ระบบPintu elevator terbuka di lantai dasar. Ariyan melangkah keluar dengan langkah cepat dan tegap. Matanya memindai setiap penjuru bar yang remang-remang, hingga akhirnya tertuju pada sudut paling tersembunyi di dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan Vienna yang dingin.Di sana, Aira sedang duduk sendirian tanpa syal dan kacamata hitam seperti terakhir kali mereka bertemu—memperlihatkan wajah cantiknya yang terpoles riasan tipis.Melihat Ariyan mendekat, senyum Aira merekah lebar. Ia beranjak berdiri dari kursinya tanpa memedulikan tatapan murka dari pria di hadapannya."Ari… sayang…,” panggil Aira senang. Dengan mata berbinar penuh kerinduan yang gila, ia melangkah dan mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Ariyan. "Aku kangen banget sama kamu, Ari. Aku nggak tahan—"Ariyan mendorong kedua bahu wanita itu dengan dorongan yang keras dan kasar sebelum Aira sempat menyentuhnya. Sentakan itu cukup kuat untuk membuat Aira terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak pinggiran m
[Bagus banget foto prewed-nya. Aku suka.]Pesan itu masuk ke handphone Ariyan tiga menit yang lalu. Dari nomor asing yang tidak ia kenal, tapi ia bisa pastikan siapa sang empunya. Ariyan sudah memblokir nomor tidak dikenal berkali-kali, tapi akan ada pesan baru dari nomor yang lain.Ia melirik sejenak Zivanya yang sedang tekun berlatih piano tanpa kenal lelah. Jika siangnya perempuan itu berlatih bersama orkestra untuk penampilan saat final nanti, malamnya Zivanya latihan sendiri di suite mereka.Kemudian, Ariyan mengetik balasan pesan di handphonenya sambil menahan geram. Kenapa perempuan itu muncul di saat ia sedang bahagia dengan Zivanya dan akan menikah lagi?[Mau kamu apa sebenarnya? Sampai kapan mau neror aku kayak gini?][Aku kangen, pengen ketemu kamu, Sayang.]Rahang Ariyan mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Rasa mual dan kini mengintai masa depannya.[Nggak usah gila, Aira! Aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama kamu. Jangan pernah berani ganggu ak
Suasana di balik panggung penuh oleh persiapan para peserta. Di depan cermin ruang rias, Zivanya memoles kembali lipstik merah di bibirnya, Bisikan terakhir Ariyan saat mengangkat dagunya kembali bergaung pelan di sudut ingatannya. Zivanya mengambil napas sedalam mungkin. Ia mendongakkan dagunya menghadap cermin. Kalimat itu mungkin terlambat diucapkan, tetapi hari ini, Zivanya memilih untuk menjadikannya perisai. Ia tidak akan membiarkan luka, rasa sakit, atau bayang-bayang pengkhianatan masa lalu merebut impian yang telah ia perjuangkan berdarah-darah.Saat namanya dipanggil oleh pembawa acara, ia melangkahkan kakinya dengan anggun memasuki panggung. Lampu spotlight yang menyilaukan seketika menyorot gaun indahnya, membungkus sosok Zivanya dalam kilatan cahaya yang memukau. Sebelum jemarinya mulai bergerak dan menumpahkan seluruh rasa, mata Zivanya secara tidak sengaja menyapu jajaran kursi penonton di barisan depan. Di sana, duduk di antara ratusan pasang mata, Ariyan menatap
Ariyan mengambil napas dalam-dalam meningkahi Zivanya yang sedang terbakar emosi. Bukannya tidak ingin memberitahu, tapi ini benar-benar berat baginya. Seharusnya di saat-saat seperti ini Zivanya fokus pada penampilannya nanti, bukannya membahas luka lama.“Arabella di tempat yang aman. Kamu nggak usah khawatir.” Itu yang dikatakannya untuk menjawab pertanyaan Zivanya.Bukannya puas Zivanya malah semakin jengkel. “Dulu kamu juga bilang begitu. Di tempat yang aman, di tempat yang aman. Di tempat yang aman itu di mana? Apa aku nggak boleh tahu? Kamu minta aku menikah lagi sama kamu, kamu minta aku membuka hati untuk pria yang menyimpan anak hasil perselingkuhannya di 'tempat yang aman' tanpa aku tahu di mana, sama siapa, dan bagaimana keberadaannya? Kamu pikir aku wanita bodoh yang bisa kamu bohongi dua kali?!""Bukannya aku nggak mau jujur. Aku cuma nggak mau menambah luka kamu. Kamu udah sangat sakit.” Ariyan kembali berdalih. “Aman yang aku maksud, ada yang merawat dia, memastikan
Apa syaratnya?” sahut Ariyan cepat. Ia akan memberi apa pun yang Zivanya minta. Ia juga akan melakukan apa pun yang perempuan itu inginkan.“Tapi aku nggak yakin kamu bersedia,” balas Zivanya pesimis.“Kenapa nggak? Bilang aja, Ziva. Aku akan penuhi apa pun syaratnya,” desak Ariyan tidak sabar.“Okee. Syaratnya sederhana,” ucap Zivanya singkat.“Iya, apa? Tolong bilang sekarang.”"Aku mau kamu kumpulkan orang tua kamu dan orang tuaku."Kerutan tercipta di dahi Ariyan memikirkan arah pembicaraan ini. "Untuk apa, Ziva? Kamu mau kita minta restu mereka secara resmi?”"Bukan," bantah Zivanya. "Aku mau kamu akui secara jujur, terbuka, dan tanpa ada yang ditutup-tutupi di hadapan Mami, Papi, Mama dan Papa, kalau selama kita menikah dulu, kamu selingkuh dengan Aira sampai kalian punya anak.”Ariyan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tidak sedikit pun terlintas di pikirannya bahwa itulah yang Zivanya minta. “Nggak, Ziva. Aku nggak bisa," jawab Ariyan menolak. "Itu sudah jadi masa l
Usapan jari Ariyan di bibir Zivanya pindah menelusuri pipinya. Senyumnya lenyap berganti ekspresi serius."Maaf kalau aku minta lebih. Aku tahu kekuranganku, aku sakit, dan nggak tahu kapan akan sembuh. Aku nggak bisa janji akan tetap ingat setiap detail percakapan kita besok pagi. Tapi hatiku, hatiku nggak pernah satu kali pun lupa sama kamu. Tanpa video itu aku memang lupa kita kissing semalam. Tapi aku ingat rasanya. Aku lupa apa yang kita lakukan, tapi aku tahu ada yang terjadi.”Zivanya terdiam mencerna makna perkataan lelaki itu. Ia lalu menunggu apa yang akan dikatakan Ariyan selanjutnya. Ariyan yang tadinya mengusap pipi Zivanya, kini menggenggam tangannya. "Aku mohon, nikah sama aku lagi, Ziva."Zivanya masih diam."Aku nggak mau cuma punya rekaman video atau foto buat pengingat. Aku mau punya hak buat peluk kamu, buat cium kamu, buat mengatakan pada orang-orang bahwa kamu adalah milikku yang sah. Aku mau kamu jadi orang pertama yang aku lihat setiap kali aku bangun dan ngga
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan







