LOGINMalam puncak Kompetisi Musik Internasional Beethoven yang diselenggarakan di hall megah Musikverein, akhirnya mencapai klimaksnya. Tepuk tangan membahana dari ratusan penikmat musik klasik, juri terkemuka, dan pengamat seni kelas dunia memenuhi setiap sudut ruangan berarsitektur neoklasik tersebut. Setelah melalui penjurian yang sangat ketat, nama Zivanya secara resmi diumumkan sebagai runner up atau juara kedua dalam kompetisi piano paling bergengsi di dunia itu.Zivanya sama sekali tidak menyangka. Jangankan menjadi salah satu juara, dengan berhasil masuk ke babak final ia sudah sangat bahagia.Sebelum menginjakkan kaki di panggung yang menentukan perjalanan kariernya malam ini, Zivanya sebenarnya sempat diserang rasa gugup yang luar biasa. Namun, deretan dukungan yang mengalir tiada henti berhasil membangun kepercayaan dirinya.Sebelum tampil tadi, telepon pertama datang dari sang putra tercinta yang dengan suara khas anak-anaknya meneriakkan kata-kata semangat dan berjanji akan m
Sudah lebih setengah jam Ariyan pergi, dan hingga saat ini masih belum kembali. Padahal tadi katanya pada Zivanya hanya sebentar. Paling lama setengah jam. Jadi kalau sudah begini keadaannya bagaimana mungkin Zivanya tidak khawatir?Zivanya berhenti berlatih. Ia bangkit dari kursinya lalu membawa langkah menuju pintu. Dibukanya daun pintu tersebut dan melongokkan kepala ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda lelaki yang dicintainya itu kembali.Apa Ariyan tersesat? Pasalnya selama ini ia tidak pernah pergi sendiri. Selama di Vienna, mereka selalu berdua ke mana-mana. ‘Nggak mungkin dia nyasar.’ Zivanya membantah dugaan itu. Seperti yang sudah dikatakannya sebelumnya, Ariyan memiliki petunjuk di handphonenya.Zivanya menahan diri untuk tidak menghubungi Ariyan. Ia tidak mau dianggap posesif atau berlebihan. Akhirnya ia menunggu di tempat tidur sambil bermain ponsel.*Mata Zivanya masih terbuka sepenuhnya saat Ariyan akhirnya pulang.“Kenapa belum tidur?” Lelaki itu mengecup puncak kep
Pintu elevator terbuka di lantai dasar. Ariyan melangkah keluar dengan langkah cepat dan tegap. Matanya memindai setiap penjuru bar yang remang-remang, hingga akhirnya tertuju pada sudut paling tersembunyi di dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan Vienna yang dingin. Di sana, Aira sedang duduk sendirian tanpa syal dan kacamata hitam seperti terakhir kali mereka bertemu—memperlihatkan wajah cantiknya yang terpoles riasan tipis. Melihat Ariyan mendekat, senyum Aira merekah lebar. Ia beranjak berdiri dari kursinya tanpa memedulikan tatapan murka dari pria di hadapannya. "Ari… sayang…,” panggil Aira senang. Dengan mata berbinar penuh kerinduan yang gila, ia melangkah dan mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Ariyan. "Aku kangen banget sama kamu, Ari. Aku nggak tahan—" Ariyan mendorong kedua bahu wanita itu dengan dorongan yang keras dan kasar sebelum Aira sempat menyentuhnya. Sentakan itu cukup kuat untuk membuat Aira terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak ping
[Bagus banget foto prewed-nya. Aku suka.] Pesan itu masuk ke handphone Ariyan tiga menit yang lalu. Dari nomor asing yang tidak ia kenal, tapi ia bisa pastikan siapa sang empunya. Ariyan sudah memblokir nomor tidak dikenal berkali-kali, tapi akan ada pesan baru dari nomor yang lain. Ia melirik sejenak Zivanya yang sedang tekun berlatih piano tanpa kenal lelah. Jika siangnya perempuan itu berlatih bersama orkestra untuk penampilan saat final nanti, malamnya Zivanya latihan sendiri di suite mereka. Kemudian, Ariyan mengetik balasan pesan di handphonenya sambil menahan geram. Kenapa perempuan itu muncul di saat ia sedang bahagia dengan Zivanya dan akan menikah lagi? [Mau kamu apa sebenarnya? Sampai kapan mau neror aku kayak gini?] [Aku kangen, pengen ketemu kamu, Sayang.] Rahang Ariyan mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Rasa mua marah bergejolak karena perempuan yang menjadi racun di masa lalunya dan kini mengintai masa depannya. [Nggak usah gila, Aira! A
Suasana di balik panggung penuh oleh persiapan para peserta. Di depan cermin ruang rias, Zivanya memoles kembali lipstik merah di bibirnya, Bisikan terakhir Ariyan saat mengangkat dagunya kembali bergaung pelan di sudut ingatannya. Zivanya mengambil napas sedalam mungkin. Ia mendongakkan dagunya menghadap cermin. Kalimat itu mungkin terlambat diucapkan, tetapi hari ini, Zivanya memilih untuk menjadikannya perisai. Ia tidak akan membiarkan luka, rasa sakit, atau bayang-bayang pengkhianatan masa lalu merebut impian yang telah ia perjuangkan berdarah-darah.Saat namanya dipanggil oleh pembawa acara, ia melangkahkan kakinya dengan anggun memasuki panggung. Lampu spotlight yang menyilaukan seketika menyorot gaun indahnya, membungkus sosok Zivanya dalam kilatan cahaya yang memukau. Sebelum jemarinya mulai bergerak dan menumpahkan seluruh rasa, mata Zivanya secara tidak sengaja menyapu jajaran kursi penonton di barisan depan. Di sana, duduk di antara ratusan pasang mata, Ariyan menatap
Ariyan mengambil napas dalam-dalam meningkahi Zivanya yang sedang terbakar emosi. Bukannya tidak ingin memberitahu, tapi ini benar-benar berat baginya. Seharusnya di saat-saat seperti ini Zivanya fokus pada penampilannya nanti, bukannya membahas luka lama.“Arabella di tempat yang aman. Kamu nggak usah khawatir.” Itu yang dikatakannya untuk menjawab pertanyaan Zivanya.Bukannya puas Zivanya malah semakin jengkel. “Dulu kamu juga bilang begitu. Di tempat yang aman, di tempat yang aman. Di tempat yang aman itu di mana? Apa aku nggak boleh tahu? Kamu minta aku menikah lagi sama kamu, kamu minta aku membuka hati untuk pria yang menyimpan anak hasil perselingkuhannya di 'tempat yang aman' tanpa aku tahu di mana, sama siapa, dan bagaimana keberadaannya? Kamu pikir aku wanita bodoh yang bisa kamu bohongi dua kali?!""Bukannya aku nggak mau jujur. Aku cuma nggak mau menambah luka kamu. Kamu udah sangat sakit.” Ariyan kembali berdalih. “Aman yang aku maksud, ada yang merawat dia, memastikan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







