Mag-log in“Paaa, handphone kamu bunyi nih,” beritahu Zivanya dari depan meja rias. Ia sedang mengaplikasikan skincare ke wajahnya, sedangkan Ariyan memandikan anak mereka. “Siapa yang nelepon?” sahut Ariyan dari kamar mandi yang terbuka. “Lawyer kamu.” “Kok tiba-tiba?” “Ya mana aku tahu.” “Coba deh kamu jawab dulu.” Zivanya pun menjawab panggilan tersebut. Ia juga menyalakan loudspeaker. “Halo, selamat sore, Pak.” “Selamat sore, Ibu Ziva ya?” “Iya, Pak, Ariyan lagi mandiin anak kami. Ada apa ya, Pak?” “Wah, Pak Ariyan memang suami idaman ya, Bu,” puji sang pengacara diiringi tawa. Zivanya ikut tertawa kecil. Bersamaan dengan itu Ariyan yang sudah selesai memandikan Ariella muncul dan meletakkan anak tersebut di tempat tidur. Ia lalu memakaikan pakaian Ariella yang sebelum mandi tadi sudah disiapkan. “Begini, Bu, saya ingin menyampaikan berita mengenai Bu Aira.” Jantung Zivanya sontak bertalu-talu. Sementara Ariyan tidak terpengaruh. Ia tetap fokus memakaikan baju pada
Dokter sudah mengonfirmasi kesembuhan Ariyan. Dan itu membuat bahagia semua orang.“Secara klinis saya bisa mengatakan dengan yakin, fungsi memori Anda sudah kembali bekerja dengan normal. Semua tes yang kita jalani menunjukkan hasil yang konsisten.”Ariyan menggenggam tangan Zivanya erat, tak berani sepenuhnya percaya pada apa yang baru saja ia dengar.“Jadi saya sudah sembuh, Doc?” “Anda sudah sembuh.” Dr. Brenner tersenyum lebar. “Saya sudah bertahun-tahun menangani pasien dengan kondisi serupa, dan saya jarang melihat pemulihan secepat dan sebaik ini. Saya tidak akan menyebutnya keajaiban dalam istilah medis, tapi saya pribadi percaya, ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar terapi yang bekerja di kasus Anda.”“Ariella. Putri saya. Dia lahir dengan membawa banyak anugerah dan keajaiban. Salah satunya kesembuhan saya.”Dr. Brenner mengangkat bahu, senyumnya masih terkembang. “Secara ilmiah, mungkin karena lonjakan emosional luar biasa saat kelahiran memicu jalur saraf yang s
Jarum jam menunjukkan hampir pukul empat pagi. Seruni dan yang lain kembali ke apartemen, membawa serta Kaisar yang tertidur pulas setelah malam paling berkesan dalam hidupnya.Yang tersisa di kamar hanya Ariyan, Zivanya, dan Ariella.Ariyan duduk di kursi samping tempat tidur. Ia mengamati setiap gerakan Zivanya yang sedang menyusui Ariella untuk kesekian kalinya."Gimana, masih ada, kan, airnya?" tanyanya meski bertanya hal yang sama berkali-kali dalam satu jam terakhir."Ada Papaaa. Kamu udah nanya ini berkali-kali sejak tadi,” jawab Zivanya sambil tersenyum gemas.Ariyan nyengir kecil. "Aku cuma mau mastiin stoknya banyak. Abisnya dia nggak berhenti nyusu dari tadi.” Dipandanginya putri mungilnya yang menyusu dengan rakus.Begitu Ariella selesai menyusu, Ariyan segera mengulurkan tangan. "Sini, biar aku gendong, kamu istirahat dulu."Zivanya menyerahkan bayinya kemudian merebahkan badan.Ariyan menggendong Ariella sambil bersenandung kecil. Zivanya yang melihat hanya bisa tersenyu
Setelah mengetahui adiknya lahir, Kaisar tidak sabar ingin bertemu dengannya dan merengek-rengek agar segera dibawa, Kehadiran Ariella yang baru saja menyapa dunia mendatangkan gelombang antusiasme luar biasa bagi sang kakak. Di ruang tunggu luar area persalinan, suasana yang tadinya tenang mendadak riuh oleh tingkah Kaisar yang sudah tidak tahan ingin menemui adiknya. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu terus-terusan menarik-narik ujung baju kakek neneknya. Kakinya melompat-lompat kecil, matanya mencari-cari dengan perasaan tidak sabar. "Omi! Bawa Kai masuk. Kai mau lihat Adek sekarang!" rengek Kaisar hampir menangis karena keinginannya tidak kunjung dituruti. "Sabar sebentar, Sayang. Adek lagi dibersihin. Sebentar lagi pasti dipanggil,” bujuk Seruni sambil mengusap kepala cucunya. "Nggak mau nanti, Omi. Mau sekaraaang,” rengeknya lagi semakin menjadi-jadi. Kaisar menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, enggan dipegang. Kehebohan kecilnya membuat seluruh keluarga di ru
Malam semakin menua. Suara-suara tidak lagi terdengar. Seluruh penghuni apartemen sudah lelap dalam tidurnya. Hanya Zivanya satu-satunya makhluk bernyawa di tempat itu yang masih betah membuka mata. Bukan betah, tapi lebih tepatnya tidak bisa. Sedangkan di sebelahnya Ariyan sudah lelap sejak tadi. Ariyan terlalu lelah karena sejak kemarin hampir tidak beristirahat. Zivanya memiringkan badannya ke kiri. Mengacu pada saran dokter ia dianjurkan untuk lebih sering berbaring miring ke kiri. Maka Zivanya pun melakukannya. Zivanya mencoba untuk tidur dengan mengatupkan mata. Malam ini terasa berbeda dengan malam-malam lainnya. Perutnya begitu nyeri. Rasa pegal menggerayangi pinggang dan punggungnya. Baru beberapa detik matanya kembali terbuka saat merasakan sesuatu mengalir di area genitalnya. Zivanya mengabaikannya. Berusaha untuk melanjutkan niat untuk tidur, Zivanya memejamkan mata. Dahinya berkerut dalam saat merasakan aliran di bagian kewanitaannya tidak berhenti mengalir. Ini adal
Hari-hari menjelang persalinan menjadi masa-masa yang sangat berat bagi Zivanya. Tubuhnya serasa digempur rasa sakit dari berbagai sisi. Tidak ada lagi posisi yang benar-benar nyaman. Duduk salah, berbaring serba serba tidak pas, bahkan sekadar menggeser posisi tidur saja membutuhkan perjuangan besar. Pagi itu di kamar apartemen, Zivanya meringis saat mencoba mengubah posisi miring ke kanan. Kepala bayinya yang sudah turun semakin dalam ke rongga panggul menekan saraf-saraf di area bawahnya secara konstan. Nyeri menusuk di area tulang panggul dan lipatan pahanya terasa seolah-olah sendi-sendinya hendak lepas. “Ari…,” panggil Zivanya lirih dengan mata terpejam rapat, menahan ngilu yang melilit pinggang bawahnya. Ariyan yang membawakan makanan untuk Zivanya langsung mendekat. "Kenapa, Ziva? Yang mana yang sakit?" tanya Ariyan sigap. "Punggung aku, pinggang juga rasanya mau patah," adu Zivanya dengan napas satu-satu. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Beban perutnya yang buncit
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







