Share

Part 201

last update publish date: 2026-06-28 13:25:26

Zivanya meremas ponselnya, menoleh cepat dengan tatapan menghujam. "Kamu kelewatan," kecamnya separuh berbisik, menahan volume suaranya agar tidak memicu kasak-kusuk belasan kepala divisi di belakang mereka. "Nggak perlu bawa-bawa masa lalu di depan Kaivan."

​"Aku cuma mengatakan kebenaran yang dia nggak tahu, Ziva," dalih Ariyan. "Dan sampai kapan pun, fakta itu nggak akan berubah."

​Zivanya memilih membuang muka, kembali menatap deretan pohon di sepanjang tol yang bergerak mundur dengan cepat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Emg dsrnya Ziva cinta mati sm Ari hatinya udh hncr lebur kyk apapun ttp lsg luluh muna lain dihati lain dimulutnya Ziva, Ari tuh bkn posesif tp obsesif buktinya dy bangga selengki sm Aira terang2an ddpn Ziva saking cintanya dy tutupi smua kebusukanya Ari dg alibi demi kebaikan klrganya,,PooR Kaivan
goodnovel comment avatar
Diana Susanti
ihh mantab ariyan
goodnovel comment avatar
Mira Sauqi
Hallahhh palingan ujung2 nya balikan sama ariyan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 202

    Udara pagi yang menusuk tulang tidak menyurutkan antusias para karyawan yang sudah berkumpul di lapangan terbuka, tempat puluhan mobil Land Rover pariwisata berbodi kokoh berbaris menunggu. Aroma khas bensin, oli, dan tanah basah berbaur dengan kepulan asap knalpot dari gerungan parau mesin-mesin tua penggerak empat roda yang mulai dipanaskan.​Mita dengan sigap menuntun Zivanya menuju salah satu mobil Land Rover. Di dalam kabin belakang yang berkapasitas terbatas, Rike ternyata sudah duduk manis di sudut kanan. Ia langsung menyapa Zivanya.“Selamat pagi, Bu Ziva. Sesuai daftar dari panitia, berarti sisa satu kursi lagi ya, Bu. Kita tinggal nunggu Pak Haris.”“Oh, oke,” balas Zivanya.Zivanya kemudian mengambil posisi duduk di baris sebelah kiri, sementara Mita mengambil tempat di sebelah Rike. Kursi mereka saling berhadapan satu sama lain.“Gue deg-degan nih. It my first time, btw,” celetuk Mita sambil memegang dadanya.“Gue udah beberapa kali sih, tapi tetep aja dag dig dug,” kata R

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 201

    Zivanya meremas ponselnya, menoleh cepat dengan tatapan menghujam. "Kamu kelewatan," kecamnya separuh berbisik, menahan volume suaranya agar tidak memicu kasak-kusuk belasan kepala divisi di belakang mereka. "Nggak perlu bawa-bawa masa lalu di depan Kaivan."​"Aku cuma mengatakan kebenaran yang dia nggak tahu, Ziva," dalih Ariyan. "Dan sampai kapan pun, fakta itu nggak akan berubah."​Zivanya memilih membuang muka, kembali menatap deretan pohon di sepanjang tol yang bergerak mundur dengan cepat.Pukul dua belas lewat tiga puluh menit, setelah terjebak kemacetan akhir pekan yang melelahkan di jalur menanjak Ledeng, lima bus besar rombongan kantor akhirnya berhasil berbelok memasuki gerbang sebuah resort yang bertengger di kawasan dataran tinggi Lembang. Udara dingin pegunungan yang bersih langsung menyergap kabin begitu pintu bus dibuka. Kabut tipis sisa pagi hari masih menggantung malas di sela-sela jajaran pohon pinus yang mengelilingi kompleks resort mewah berdesain kayu modern ters

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 200

    Zivanya memilih untuk tidak berkata apa-apa.Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Ada banyak sebenarnya. Tapi berada di dekat Ariyan selain mengganggu suasana hatinya juga membuatnya kehilangan kata-kata. Maka ia kembali memusatkan perhatian pada aplikasi baca di handphonenya. Tapi entah mengapa, kalimat yang sama sudah ia baca empat kali dan tidak satu pun yang masuk ke kepalanya.Sedangkan di sebelahnya Ariyan duduk dengan tenang tanpa melakukan apa-apa. Hanya duduk diam.Empat puluh menit pertama berlalu seperti itu.Sampai bus berguncang ketika melewati sambungan jalan, dan tumbler kopi Zivanya yang tidak tertutup rapat oleng dari tempat dudukannya. Dengan refleks Ariyan menangkapnya. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Jari-jemarinya menutup di sekeliling tumbler tepat sebelum isinya tumpah. Ia menahannya sesaat sebelum menyerahkannya kembali dengan gerakan yang sama tenangnya dengan segala sesuatu yang ia lakukan."Tutupnya kurang rapat, Ziva.” Ariyan memberik

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 199

    Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.​Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.“Ibu jadi pelgi ya?” “Jadi, Sayang.”​"Kai mau ikut."​Zivanya menatap jagoan kecilnya dan berjongkok di hadapannya. "Kai, Ibu, kan sudah bilang–”​"Kai mau ikuuut." Kaisar mengucapkannya lagi dengan penekanan yang berbeda, seolah versi kedua dari kalimat yang sama secara ajaib akan mengubah keputusan ibunya.​Zivanya menghela napas pelan. Ia mengusap rambut Kaisar yang awut-awutan dan menyisir dengan jari-jemarinya. "Ini acara kantor Ibu, Sayang. Nggak bisa bawa anak-anak."​"Kenapa?"​"Karena memang aturannya begitu."​"Atulannya siapa?"​Astaga, ken

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 198

    “Jadi kapan kita beli furniture?” “Hmm… kayaknya kapan-kapan aja deh, Kai.” “Kok kapan-kapan? Kamu terlalu sibuk atau…” Kaivan menggantung kalimatnya, menatap Zivanya lekat-lekat melalui video call malam itu. ​“Aku cuma ngerasa kita nggak perlu buru-buru. Lagian rumah itu juga nggak ditempati setiap hari.” Kaivan terdiam. Dalam heningnya ia mencoba mengartikan makna perkataan Zivanya. Apa ​Zivanya menyerah karena tertekan maminya? Dan ini adalah cara halus untuk menyudahi hubungan mereka? “Memang nggak ditempati setiap hari, tapi seenggaknya nggak dibiarin kosong. Minimal ada kursi sama meja.” “Ya. Aku setuju. Tapi rasanya untuk beberapa hari ini aku belum bisa fokus ke sana. Kalau kamu mau beli duluan, beli aja. Apa pun pilihan kamu aku pasti suka,” lanjut Zivanya halus. Ia mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya sendiri. Raut lelahnya terlihat sangat jelas di layar. ​“Capek banget ya? Banyak kerjaan di kantor?” ​Di dalam hati

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 197

    “Sekarang tolong ceritain ke Mama gimana kejadian sebenarnya?” pinta Andara setelah Seruni pergi.“Apanya yang harus aku ceritain, Ma? Kan, udah jelas.”“Belum. Mama nggak tahu hubungan kamu sama Zivanya udah sejauh ini. Bahkan kalau Tante Seruni nggak datang menemui Mama, Mama juga nggak tahu kalau Zivanya udah cerai sama Ariyan.”​​Mendengar kalimat mamanya, Kaivan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengaku. "Ziva cerai udah hampir satu tahun, Ma.”“Hampir satu tahun?”Kaivan mengiakan dengan anggukan. “Sepuluh bulan lebih tepatnya. Dan yaa… aku sama dia memang lagi menjalin hubungan.”​"Mama nggak melarang kalau memang kamu suka sama dia, Kai," ujar Andara dengan nada suara yang tenang dan meneduhkan. "Mama nggak masalah kalau memang dia yang jadi pilihan kamu. Tapi kamu juga nggak boleh tutup mata terhadap realita yang ada di depan kamu sekarang."​Kaivan bergeming, mendengarkan dengan saksama setiap untaian kata yang diucapkan mamanya.​"Orang tuanya nggak setuju. Bahkan sam

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 34

    Zivanya mengurung diri di kamar dan mengunci pintu dari dalam. Berkali-kali Ariyan mengetuk dan meminta agar dibukakan, tapi Zivanya mengabaikan. ​Ia tahu Ariyan sedang ketakutan. Tetapi bukan takut kehilangan cintanya, karena memang tidak pernah ada cinta di sana. Ariyan hanya takut kehilangan ken

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 32

    Entah sebutan apa yang pantas Zivanya sematkan di belakang nama Ariyan. Bajingan, sudah. Brengsek, sudah. Bangsat, sudah. Gila, sudah. Iblis pun sudah. “Lalu setelah sembilan bulan? Saat semua orang menunggu bayi itu lahir di rumah sakit, apa yang akan kamu lakukan? Kamu mau menyulap bayi dari ud

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 31

    Zivanya menerima ponsel dari tangan Ariyan dengan terpaksa. Benda itu terasa begitu berat setelah berada di tangannya. Tampak di layar mata mertuanya yang berkaca-kaca lantaran terlalu bahagia. Karena selama ini kehamilan Zivanyalah yang mereka tunggu-tunggu. Di samping Zelena, Jeandra yang mendampi

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 30

    Di rumahnya, Zelena yang pada awalnya menerima telepon sambil berbaring, kini duduk dan menajamkan telinganya. Jarang-jarang menantunya menelepon di waktu seperti sekarang. Apalagi mengatakan ada yang penting dan mengganjal di hati. “Ada apa, Ziva? Ada masalah? Kalian nggak lagi berteng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status