LOGINHangatnya tangan yang melingkari perutnya menjadi hal pertama yang menyadarkan Zivanya dari lelap. Satu detik… Dua detik... Perlahan-lahan kesadarannya terkumpul sepenuhnya, dan ingatan tentang kejadian semalam melintas dengan jelas.Bisikan serak Ariyan, tautan bibir mereka yang begitu dalam, hingga kekehan Seruni dan pekikan riang Kaisar lewat video call. Kembali disadarkan oleh realita, Zivanya tersentak hebat mengetahui Ariyan memeluknya dari belakang.Astaga... semalam mereka melakukan apa saja? Kenapa mereka bisa tidur di ranjang yang sama?Tanpa berani membuat gerakan drastis, Zivanya menyusupkan tangannya ke bawah selimut. Dengan jantung berdegup ugal-ugalan, ia meraba piyamanya sendiri secara diam-diam.Helaan napas lega berembus dari bibirnya. Piyama yang ia kenakan sejak semalam masih melekat sempurna. Setiap kancingnya masih berada di tempat yang seharusnya, utuh tanpa bergeser sedikit pun. Tidak ada sensasi asing yang menandakan mereka melampaui batas. Ariyan benar-ben
Jantung Zivanya berdetak jauh lebih kencang. Seharusnya Ariyan bisa langsung menciumnya, tetapi lelaki itu meminta izin, memberinya pilihan untuk menolak jika memang Zivanya tidak menginginkannya.Dan itulah yang membuat Zivanya semakin sulit mengatur napas.“Ariyan…,” bisikan lembut akhirnya keluar dari bibir Zivanya bersama tangannya yang meremas lembut bahu lelaki itu.Ariyan tidak perlu jawaban lebih lanjut. Zivanya yang melafalkan namanya dan remasan halus di bahunya sudah cukup sebagai jawaban bahwa perempuan itu mengizinkan untuk menyentuhnya.Bibir Zivanya yang setengah terbuka di bawahnya membuat Ariyan hampir gila oleh rindu yang memuncak. Mereka memang bertemu hampir setiap hari. Tetapi momen ini, keintiman ini, sudah bertahun-tahun tidak terjadi.Mengikis habis sisa jarak di antara mereka, Ariyan akhirnya menyatukan bibirnya dengan bibir Zivanya.Bibir Zivanya masih semanis dan selembut dulu dalam pagutan bibir Ariyan yang hangat, lembut, dalam, dan perlahan, seolah menyer
Langkah tegap Ariyan terus membawa mereka melintasi jalanan Vienna yang kian sepi, hingga tidak lama kemudian hotel mereka mulai terlihat.Menyadari mereka sudah semakin dekat dengan area hotel, Zivanya mendadak panik. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Ariyan. "Ari, udah mau nyampe hotel. Turunin aku."Ariyan sama sekali tidak memperlambat langkahnya. "Tadi siapa yang mencibir waktu aku bilang nggak bakal capek?""Ariyan! Turunin, ih! Malu dilihat orang hotel!" Zivanya menegang, menyadari langkah Ariyan sudah menyeberangi pelataran hotel.Alih-alih menurut, Ariyan malah sedikit menyentak paha Zivanya ke atas agar posisinya semakin kokoh. Zivanya yang kaget refleks memekik kecil. Ia mempererat pelukannya di leher Ariyan sembari menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik kerah mantel pria itu.Pintu kaca otomatis hotel terbuka, menyambut mereka dengan kehangatan lobi ultra mewah. Seorang petugas concierge dan resepsionis berseragam rapi membungkuk hormat. Mata mereka sempat membelalak kage
Zivanya sedang mengikuti latihan untuk acara besok. Sesi latihan ini sebenarnya steril dan tertutup ketat untuk umum, namun Ariyan bisa duduk tenang di deretan kursi penonton yang temaram berkat companion pass khusus peserta yang tergantung rapi di dadanya.Zivanya duduk di depan piano. Bersama puluhan musisi orkestra pendamping dan aba-aba tegas dari konduktor, dentingan jemari Zivanya menyatu sempurna membawakan babak konserto Beethoven. Setiap ketukan nada yang meluncur dari jemarinya terdengar teratur, kuat, dan mengalun indah.Dari tempat duduknya, tatapan Ariyan tertuju sepenuhnya pada Zivanya. Ia bangga melihat mantan istrinya itu. Tetapi ia tidak memungkiri bahwa saat ini ia juga sedang gelisah. Sesekali matanya mengedar ke sudut-sudut gedung, memastikan tidak ada sosok asing yang berani menyusup dan mengusik ketenangan mantan istrinya. Ariyan tidak ingin terjadi kekacauan di hari besar Zivanya nanti.Setelah sesi latihan bersama dan briefing teknis berakhir, Zivanya melangkah
Pagi-pagi sekali Zivanya sudah bangun dan stand by di depan piano. Lalu sore nanti ia ia sudah dijadwalkan menghadiri latihan akustik sekaligus sesi briefing latihan bersama orkestra di gedung Wiener Musikverein.Tidak jauh dari sana, Ariyan duduk di sofa. Tidak sedetik pun Ariyan melepaskan tatapannya dari Zivanya, seolah jika ia berkedip sedikit saja maka ia akan rugi karena melewatkan pemandangan indah di hadapannya.Di tengah permainan Zivanya, keasyikan Ariyan terganggu karena bunyi ketukan di pintu.Ariyan berdiri mendahului, tidak ingin fokus latihan Zivanya terganggu. Ia membuka pintu dan mendapati seorang petugas concierge berseragam rapi berdiri membungkuk hormat, menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar."Good morning, Herr von Westergaard. A special delivery for you, Sir," ujar petugas hotel dengan sopan sembari menyodorkan buket tersebut.“For me? Who sent this? I didn't order any flowers,” heran Ariyan yang merasa tidak memesan bunga."The sender reques
Tubuh terbalut selimut itu menggeliat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat terurai oleh lelapnya tidur. Cahaya remang menyelimuti ruangan, hanya dibantu oleh bias pendar lampu-lampu kota Vienna yang menerobos masuk dari balik jendela kaca raksasa suite yang belum tertutup tirai sepenuhnya.Mengulurkan tangan, Zivanya menjangkau ponsel di atas nakas. Setelah layarnya menyala, deretan angka di sana sukses membuat matanya melebar seketika.19.30.Setengah delapan malam?Zivanya mendudukkan dirinya dengan cepat, membuat rambutnya yang terurai jatuh berantakan. Ia termenung beberapa detik. Sudah berapa jam dirinya tertidur? Dan seingatnya, tadi ia cuma rebahan sebentar di sofa, tapi kenapa sekarang berada di kasur?Satu-satunya penjelasan yang masuk akal hanya mengarah pada satu nama. Ariyan.Pria itu telah membopong tubuhnya dari sofa dan mendaratkannya di ranjang ini tanpa membuat Zivanya terbangun sedikit pun. Bayangan bagaimana
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda







