LOGINSuasana di kediaman Abi hari itu terasa jauh lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Kaisar tampak begitu ceria dan tertawa saat Kaivan yang membantu memasangkan tali sepatunya sesekali menggelitik pinggangnya.Seruni yang biasanya selalu melempar tatapan dingin atau kalimat sinis, hari ini tampak jauh lebih tenang. Setelah mendapat teguran keras dari suaminya, wanita itu memilih untuk tidak banyak bicara.“Udah siap, Jagoan?” tanya Kaivan lembut seraya menepuk pelan bahu Kaisar.Kaisar mengangguk antusias, melompat kecil lalu menggenggam jemari Kaivan erat-erat. “Siap, Ayah! Kai mau coba kue yang ada coklatnya banyak!”Hari ini mereka semua dijadwalkan untuk food tasting atau mencicipi menu catering pernikahan Zivanya dan Kaivan yang tinggal tidak lama lagi.“Ayo, semuanya sudah siap?” Abi muncul dari arah dalam. “Jangan sampai kita terlambat, pihak catering sudah menyiapkan tempat khusus buat kita.”“Sudah, Pi. Yuk,” sahut Zivanya seraya mengambil tasnya.Mereka melangkah berir
Malam semakin larut, tetapi Zivanya masih duduk di beranda sendiri. Ia menunggu Abi pulang, menagih janji pada papinya itu.Saat mobil Abi memasuki halaman, Zivanya refleks berdiri dari duduknya. Tidak sabar ingin segera berbicara.“Belum tidur?” sapa Abi yang terlihat lelah.“Aku nunggu Papi.”“Tumben Papi ditungguin? Ada maunya pasti,” kekeh Abi sambil merangkul Zivanya membawa masuk ke dalam rumah.“Papi udah ngomong sama Mami?” tanya Zivanya di sela-sela langkah mereka.“Belum. Tahu sendiri Papi baru pulang.”“Jadi kapan dong Papi ngomongnya?”“Setelah ini Papi akan langsung ngomong.”“Janji ya, Pi? Aku nggak mau lagi Mami bikin huru-hara.”Abi mengangguk sambil tersenyum tipis. “Sekarang kamu istirahat, tidur yang nyenyak. Jangan dipikirin lagi. Biar Papi yang urus Mami.”Mereka kemudian berpisah menuju kamar masing-masing. Zivanya menaiki tangga ke lantai dua, sementara Abi ke kamarnya di lantai satu.Abi mendapati Seruni sedang mengaplikasikan skincare. Istrinya itu menatapnya
Cerianya suara musik di dalam mobil yang membawanya pulang sama sekali tidak mampu meredam keributan di dalam kepala Ariyan. Sepanjang jalan, percakapan dengan Zivanya dan sebuah nama yang asing itu—Aira—terus terngiang tanpa bisa dihentikan.‘Nggak mungkin!’ batinnya kembali menggelegar, mengulang kalimat sengit yang ia lontarkan beberapa saat lalu. Kalimat penyangkalan yang tadi ia cerca pada Zivanya masih menyisakan rasa panas yang membakar dadanya. Ariyan punya kriteria. Ia tahu seleranya sendiri. Mana mungkin ia pernah menaruh hati pada perempuan yang usianya delapan tahun lebih tua? Semakin keras ia berusaha menepisnya, semakin besar ganjalan di dadanya. Ariyan tidak sabar agar ia bisa sampai di rumah dan bisa menanyakannya langsung pada Zelena mengenai siapa sebenarnya si Aira-Aira itu.Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Ariyan melangkah turun dengan tergesa.“Ma! Mama! Mama di mana?” Ariyan memanggil sembari mencari Zelena ke setiap bagian rumah tersebut.Sepi. Ariyan
"Aku nggak bawa galon air, Ziva. Tapi aku bisa beliin susu untuk Kaisar sekarang kalau kamu izinkan,” ucap Ariyan di sela-sela keterkejutan Zivanya.“Kenapa kamu nekat ke sini?" tanya Zivanya datar setelah berhasil menguasai diri. "Harusnya kamu paham batasan waktu aku bilang 'tidak' di depan rumah tadi.""Maaf kalau kamu terganggu,” jawab Ariyan seraya memperpendek jarak. “Boleh aku duduk?”“Kalau aku bilang nggak boleh, emangnya kamu bakal pergi?”Ariyan terkekeh mendengarnya. Mengabaikan ketidaksukaan mantan istrinya, ia menarik kursi dan menempatkan diri di sana.“Aku ke sini karena ingin tahu kantor kamu. Aku juga ingin tahu sebesar apa kesalahanku dulu sampai kita bercerai.” Ariyan langsung menyampaikan maksud kedatangannya tanpa basa-basi.Ia mengambil jeda sejenak untuk mengetahui tanggapan Zivanya.Perempuan itu hanya diam, menatapnya dengan dingin."Aku lelah merasa seperti orang bodoh di tengah orang-orang yang tahu segalanya tentang aku. Kalau memang dulu aku penyebabnya,
Ariyan memandang ke luar melalui jendela mobil. Setiap ruas jalan yang dilaluinya terasa begitu asing, padahal sang sopir baru saja mengatakan bahwa ini adalah rute yang selalu ia lalui setiap hari. Deretan gedung pencakar langit, papan reklame yang berkedip-kedip, dan hilir mudik kendaraan di sekitarnya terasa bagai potongan gambar dari dunia orang lain. Yang paling menyiksa hatinya bukanlah deretan jalanan yang tak ia kenal ini, melainkan kalimat Zivanya yang terus bergema berulang-ulang di dalam kepalanya. ‘Kamu yang lupa, Ariyan. Tapi aku? Aku mengingat setiap detail rasa sakit yang kamu kasih.’ Ariyan mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Nyeri di hatinya kian merambat kencang. Kesalahan sebesar apa yang pernah ia lakukan di masa lalu hingga membuat Zivanya terluka sedemikian dalam? Kenapa ingatan tersebut harus terhapus bersih, sementara rasa cintanya pada wanita itu tetap tinggal dengan utuh di dalam hatinya? "Pak,” panggil Ariyan pada sopirnya sembari menatap pria
Zivanya berharap setelah nanti Abi memberi Seruni nasihat, maminya itu tidak lagi berulah. Memikirkan sikap Seruni membuatnya semakin sakit kepala. Mobil Abi baru saja meluncur keluar dari halaman ketika Zivanya tiba di beranda. Ia lalu masuk ke mobilnya sendiri. Mesin mobil baru saja menyala halus ketika ketukan pelan di kaca jendela mengejutkan Zivanya. Ia menoleh, dan seketika darahnya berdesir. Ariyan berdiri di sana. Lelaki itu membungkukkan badannya agar terlihat oleh Zivanya. Dengan ragu, Zivanya menekan tombol untuk menurunkan kaca mobilnya separuh. "Kok di sini?” Zivanya tidak terpikir pertanyaan lain kecuali yang ia sebut barusan. “Pagi, Ziva.” Ariyan menyapanya dengan senyum tipis menghiasi bibir. Ariyan versi ini benar-benar berbeda dengan Ariyan yang pernah Zivanya kenal. “Pagi,” balas Zivanya kelu. “Mau ke kantor?” Zivanya membalas dengan anggukan. "Biar aku yang antar kamu ke kantor pagi ini.” Zivanya sontak tertawa, merasa tawaran itu sangat kony
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat







