Share

Part 73

last update publish date: 2026-05-20 19:28:59

“B-bang Ari?” Zevia sedikit tergagap membalas sapaan Ariyan.

“Kamu ngapain di sini?”

“Lagi gantiin Bang Kai jaga Kak Ziva, Bang. Bang Kai ada sidang yang nggak bisa ditinggalin. Kasihan Kak Ziva sendirian. Katanya Abang sibuk banget, ada pekerjaan penting, jadi nggak bisa nemenin di sini.”

“Ziva yang bilang begitu?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya.

Anggukan kepala Zevia membuat Ariyan tertegun. Ia pikir Zivanya akan bercerita yang buruk-buruk mengenainya pada orang-orang. Ternyata dugaannya s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Aurora Aurora
Zi ga kelamaan muter2
goodnovel comment avatar
Ara
kenapa Ariyan benci banget sama Ziva...waktu bayi saja pas lagi sakit dan rewel langsung diam kalau di deketin Zivanya...apakah cerita ini masih adu urat dan dendam...kapan ini cerita ada manis2nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 74

    Ariyan tentu terkejut oleh tindakan Zivanya yang tidak pernah disangka-sangka. Tapi entah kenapa lelaki itu tidak membalas atau marah. Ia tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.“Oke, aku pergi sekarang kalau kamu nggak suka aku ada di sini,” ucapnya lalu mengembalikan mangkuk ke tempatnya dan berdiri.Mengambil map berisi dokumen serta pulpen dari balik jasnya, Ariyan memberikannya pada Zivanya. Tanpa banyak tanya Zivanya menandatanganinya.“Makasih, Ziva. Cepat sehat ya. Aku tunggu di rumah,” ucap Ariyan sebelum pergi sembari membelai lembut kepala Zivanya.Zivanya membeku di tempat tidur. Apa Ariyan tahu? Sentuhannya itu yang seolah-olah menyayangi Zivanya, membuat Zivanya semakin terksiksa. Lelaki itu tidak mencintainya, hubungan mereka bagai anjing dan kucing dan begitu rumit. Tapi terkadang sikap yang ditunjukkan Ariyan benar-benar membingungkan. Setelah Ariyan benar-benar lenyap dari pandangan, Zivanya termenung lama.​Sentuhan lembut jem

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 73

    “B-bang Ari?” Zevia sedikit tergagap membalas sapaan Ariyan.“Kamu ngapain di sini?”“Lagi gantiin Bang Kai jaga Kak Ziva, Bang. Bang Kai ada sidang yang nggak bisa ditinggalin. Kasihan Kak Ziva sendirian. Katanya Abang sibuk banget, ada pekerjaan penting, jadi nggak bisa nemenin di sini.”“Ziva yang bilang begitu?”Gadis itu menganggukkan kepalanya.Anggukan kepala Zevia membuat Ariyan tertegun. Ia pikir Zivanya akan bercerita yang buruk-buruk mengenainya pada orang-orang. Ternyata dugaannya salah.“Iya, memang ada pekerjaan penting yang nggak bisa ditinggalin. Ini kerjaannya pun belum selesai sebenarnya,” ucapnya kemudian.“Ya udah, Bang. Sana gih, temui Kak Ziva. Kamarnya yang ini.”Ariyan langsung melangkah membuka pintu kamar Zivanya.Saat sadar siapa yang datang, Zivanya tersentak. Ekspresinya langsung berubah. Ia tidak tahu apa maksud kedatangan Ariyan. Setelah semua yang Zivanya alami, apa lelaki itu masih ingin menghakimi dan memakinya dengan kata-kata kasar?Semakin Ariyan m

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 72

    ​Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Ariyan di saat ia sedang fokus-fokusnya. "Masuk."​Pintu terbuka, memperlihatkan Mita yang melangkah dengan hati-hati dan sedikit bimbang. Terlebih saat melihat muka keruh bosnya.​"Maaf mengganggu waktunya, Pak," ujar Mita sopan. "Saya mau menyerahkan laporan yang Bapak minta. Sekalian saya mau bertanya. Bu Zivanya hari ini ke mana ya, Pak? Saya telepon dari pagi nomornya tidak aktif, padahal siang ini ada janji temu penting dengan klien dari Bandung. Nggak biasanya Bu Zivanya ghosting pekerjaan tanpa kabar seperti ini."​Mendengar nama Zivanya disebut, rahang Ariyan kembali mengetat. Sisa-sisa amarahnya dari telepon Kaivan tadi mendadak menyengat egonya kembali. Dengan tatapan dingin, Ariyan mengambil pulpen di mejanya, kembali menyibukkan diri memeriksa dokumen lain tanpa memandang Mita.​"Zivanya nggak masuk hari ini," jawab Ariyan datar dan acuh. ​Mita mengerjap. Ia agak terkejut dengan respons dingin sang atasan. "Oh... Bu Zivanya sakit,

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 71

    Hening di seberang telepon. Kaivan kini membayangkan reaksi Ariyan. Mungkin lelaki itu terkejut, syok, lalu menyesali semua sikap buruknya pada istrinya sendiri selama ini. Kaivan tahu ia salah karena sudah mengaku tanpa persetujuan Zivanya. Tetapi tadi ia benar-benar kehilangan kesabaran.Di luar dugaan, tawa sinis Ariyan menyembur, yang terdengar begitu nyaring dan penuh cemooh, mengikis habis spekulasi Kaivan tentang penyesalan yang sempat melintas beberapa detik lalu.“Gue rasa ingatan lo perlu disegarkan. Zivanya sendiri yang datang ke depan muka gue, natap mata gue, dan ngaku dengan sadar kalau dia hamil anak lo! Dia terang-terangan ngaku selingkuh!​ Sekarang, setelah ada yang gugur kenapa tiba-tiba lo bikin pengakuan sampah kayak gini? Maksud lo sebenarnya apa, Kai? Mau lepas tangan karena lo mulai kewalahan? Atau karena ada yang mengendus tingkah bejat lo dan lo takut nama baik lo hancur karena nidurin istri orang, hah?!” cecar Ariyan dengan emosi yang meluap-luap.​Kaivan ter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 70

    Kaivan diam termangu di depan pintu ruangan Zivanya berada. Ia tahu, Zivanya pasti menangis haru ketika mengetahui calon anaknya berhasil diselamatkan. Hanya saja, Kaivan tidak sanggup membayangkan kesedihan perempuan itu ketika tahu kenyataan yang sebenarnya. Memangnya ibu mana yang tidak akan merasa sedih dan bersalah ketika kehilangan anaknya? Bagaimana mungkin Kaivan tega menghancurkan perasaan perempuan berhati lembut itu? Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat bahwa salah satu dari detak jantung di rahim Zivanya telah berhenti selamanya? Dengan helaan napas berat, Kaivan mengatur ekspresi dan emosinya. Apa pun yang terjadi di dalam sana, ia tidak boleh rapuh. Zivanya membutuhkannya bukan sebagai pria yang ikut menangis, melainkan sebagai sandaran kokoh saat seluruh dunianya nanti runtuh untuk kesekian kali. Kaivan mendapati Zivanya tengah berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Ia sudah sadar. Dan wajahnya masih terlihat bagai tak dialiri darah. Kaivan mendekat de

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 69

    Deru napas Kaivan terdengar memburu di lorong rumah sakit yang sepi, memecah sunyinya dini hari. Sepasang tangannya seolah ikut lemah saat ia membaringkan Zivanya di atas brankar yang kemudian didorong dengan cepat oleh para perawat. Pemandangan Zivanya yang terkulai lemas dengan baju tidur yang dibanjiri darah membuat kekhawatirannya melonjak liar. ​"Tolong cepat selamatkan istri saya–maksud saya, dia pendarahan!" seru Kaivan dengan penuh kepanikan yang luar biasa. ​Pintu IGD tertutup rapat di depan mata Kaivan, memisahkan dirinya dari Zivanya. Ia terpaksa berhenti, berdiri mematung di dengan tangan yang masih gemetar hebat. Cairan merah yang tadi sempat menempel di bajunya terasa lengket dan dingin, seolah membekukan seluruh saraf di tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit, memejamkan mata erat-erat, sementara bayangan wajah Zivanya yang pucat pasi terus berputar di balik kelopak matanya. ​Waktu berlalu begitu lambat hingga terasa sangat menyiksa. Kaivan tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status