Share

Part 74

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 00:00:36

Ariyan tentu terkejut oleh tindakan Zivanya yang tidak pernah disangka-sangka. Tapi entah kenapa lelaki itu tidak membalas atau marah. Ia tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

“Oke, aku pergi sekarang kalau kamu nggak suka aku ada di sini,” ucapnya lalu mengembalikan mangkuk ke tempatnya dan berdiri.

Mengambil map berisi dokumen serta pulpen dari balik jasnya, Ariyan memberikannya pada Zivanya. Tanpa banyak tanya Zivanya menandatanganinya.

“Makasih, Ziva. Cepat sehat ya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
roha mimha
Anak Ari sama Ziva enggak dikebumikan selayaknyakah? Tiada upacara perkebumian jenazah dan tidak dibacakan talkin. Jika ada talkin pasti disebutin nama anak itu. Tapi ini enggak ada ya author?
goodnovel comment avatar
Adfazha
Ziva knp lsg ttd tnpa dibaca dl pasti isinya merugikan mu tuh gundik tercinta Ari udh mulai menguasai wilayahmu dah buang aja ganti ranjangnya sklian ganti suami ya Ziva jijay bajaj hbs ditidurin pelakor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 296

    [Kai, orang percetakan nelepon aku. Katanya sampel undangan pernikahan kita udah selesai dicetak. Mereka minta kita ke sana sebentar buat approval desainnya sebelum diproduksi massal.]Kaivan mengembuskan napas setelah membaca chat dari Zivanya. Setelah berpikir beberapa detik, ia memutuskan untuk membalas.[Kamu aja ya. Aku ada sidang sebentar lagi. Terus sorenya juga masih ada meeting sama klien. Kalau menurut kamu desainnya udah oke, aku juga oke. Aku percaya sama pilihan kamu.]Beberapa detik kemudian, Kaivan kembali mengetik.[Maaf ya nggak bisa nemenin.]Setelah menekan tanda kirim, Kaivan menyandarkan punggungnya di kursi. Satu helaan napas kembali lolos dari bibirnya.Hatinya sebenarnya ingin selalu berada di samping Zivanya, terlebih setelah kejadian menguras emosi kala itu. Namun, tuntutan pekerjaannya sebagai pengacara tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Jadwal sidang hari ini sudah tertata ketat dan melibatkan nasib kliennya.Tak sampai satu menit, layar ponselnya kembal

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 295

    Perkataan lugas Ariyan membuat semua orang refleks memandang padanya dengan berbagai ekspresi.Kaivan hanya bisa membisu di tempatnya berdiri. Sebagai sahabat yang pernah sangat dekat dengan Ariyan, posisi Kaivan saat ini sungguh membuatnya serba salah. Ada gumpalan rasa bersalah, canggung, sekaligus iba melihat kondisi Ariyan. Ia hanya mampu menunduk, membiarkan jemarinya terkepal rapat di samping tubuh tanpa berani membalas tatapan menantang dari mantan suami calon istrinya itu.Kaisar yang berada dalam dekapan Ariyan mulai merasa tidak nyaman dengan aura tegang yang tercipta. Anak kecil itu meliuk-liuk gelisah, mengulurkan tangannya ke arah Zivanya. "Ibu... Kai mau turun. Kai nggak mau gendong lagi.”"Tolong turunin Kaisar,” kata Zivanya yang melangkah mendekat dan bermaksud mengambil alih sang putra.Alih-alih melepaskan, Ariyan malah semakin mengeratkan dekapannya.“Ariyan, tolong lepasin Kaisar.” Zivanya mengulangi permintaannya dengan lebih tegas.Ariyan bergeming menatap Zivan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 294

    Suasana di kediaman Abi hari itu terasa jauh lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Kaisar tampak begitu ceria dan tertawa saat Kaivan yang membantu memasangkan tali sepatunya sesekali menggelitik pinggangnya.Seruni yang biasanya selalu melempar tatapan dingin atau kalimat sinis, hari ini tampak jauh lebih tenang. Setelah mendapat teguran keras dari suaminya, wanita itu memilih untuk tidak banyak bicara.“Udah siap, Jagoan?” tanya Kaivan lembut seraya menepuk pelan bahu Kaisar.Kaisar mengangguk antusias, melompat kecil lalu menggenggam jemari Kaivan erat-erat. “Siap, Ayah! Kai mau coba kue yang ada coklatnya banyak!”Hari ini mereka semua dijadwalkan untuk food tasting atau mencicipi menu catering pernikahan Zivanya dan Kaivan yang tinggal tidak lama lagi.“Ayo, semuanya sudah siap?” Abi muncul dari arah dalam. “Jangan sampai kita terlambat, pihak catering sudah menyiapkan tempat khusus buat kita.”“Sudah, Pi. Yuk,” sahut Zivanya seraya mengambil tasnya.Mereka melangkah berir

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 293

    Malam semakin larut, tetapi Zivanya masih duduk di beranda sendiri. Ia menunggu Abi pulang, menagih janji pada papinya itu.Saat mobil Abi memasuki halaman, Zivanya refleks berdiri dari duduknya. Tidak sabar ingin segera berbicara.“Belum tidur?” sapa Abi yang terlihat lelah.“Aku nunggu Papi.”“Tumben Papi ditungguin? Ada maunya pasti,” kekeh Abi sambil merangkul Zivanya membawa masuk ke dalam rumah.“Papi udah ngomong sama Mami?” tanya Zivanya di sela-sela langkah mereka.“Belum. Tahu sendiri Papi baru pulang.”“Jadi kapan dong Papi ngomongnya?”“Setelah ini Papi akan langsung ngomong.”“Janji ya, Pi? Aku nggak mau lagi Mami bikin huru-hara.”Abi mengangguk sambil tersenyum tipis. “Sekarang kamu istirahat, tidur yang nyenyak. Jangan dipikirin lagi. Biar Papi yang urus Mami.”Mereka kemudian berpisah menuju kamar masing-masing. Zivanya menaiki tangga ke lantai dua, sementara Abi ke kamarnya di lantai satu.Abi mendapati Seruni sedang mengaplikasikan skincare. Istrinya itu menatapnya

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 292

    Cerianya suara musik di dalam mobil yang membawanya pulang sama sekali tidak mampu meredam keributan di dalam kepala Ariyan. Sepanjang jalan, percakapan dengan Zivanya dan sebuah nama yang asing itu—Aira—terus terngiang tanpa bisa dihentikan.‘Nggak mungkin!’ batinnya kembali menggelegar, mengulang kalimat sengit yang ia lontarkan beberapa saat lalu. Kalimat penyangkalan yang tadi ia cerca pada Zivanya masih menyisakan rasa panas yang membakar dadanya. Ariyan punya kriteria. Ia tahu seleranya sendiri. Mana mungkin ia pernah menaruh hati pada perempuan yang usianya delapan tahun lebih tua? Semakin keras ia berusaha menepisnya, semakin besar ganjalan di dadanya. Ariyan tidak sabar agar ia bisa sampai di rumah dan bisa menanyakannya langsung pada Zelena mengenai siapa sebenarnya si Aira-Aira itu.Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Ariyan melangkah turun dengan tergesa.“Ma! Mama! Mama di mana?” Ariyan memanggil sembari mencari Zelena ke setiap bagian rumah tersebut.Sepi. Ariyan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 291

    "Aku nggak bawa galon air, Ziva. Tapi aku bisa beliin susu untuk Kaisar sekarang kalau kamu izinkan,” ucap Ariyan di sela-sela keterkejutan Zivanya.“Kenapa kamu nekat ke sini?" tanya Zivanya datar setelah berhasil menguasai diri. "Harusnya kamu paham batasan waktu aku bilang 'tidak' di depan rumah tadi.""Maaf kalau kamu terganggu,” jawab Ariyan seraya memperpendek jarak. “Boleh aku duduk?”“Kalau aku bilang nggak boleh, emangnya kamu bakal pergi?”Ariyan terkekeh mendengarnya. Mengabaikan ketidaksukaan mantan istrinya, ia menarik kursi dan menempatkan diri di sana.“Aku ke sini karena ingin tahu kantor kamu. Aku juga ingin tahu sebesar apa kesalahanku dulu sampai kita bercerai.” Ariyan langsung menyampaikan maksud kedatangannya tanpa basa-basi.Ia mengambil jeda sejenak untuk mengetahui tanggapan Zivanya.Perempuan itu hanya diam, menatapnya dengan dingin."Aku lelah merasa seperti orang bodoh di tengah orang-orang yang tahu segalanya tentang aku. Kalau memang dulu aku penyebabnya,

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 6

    Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status