Teilen

Part 72

last update Veröffentlichungsdatum: 20.05.2026 15:57:58

​Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Ariyan di saat ia sedang fokus-fokusnya. "Masuk."

​Pintu terbuka, memperlihatkan Mita yang melangkah dengan hati-hati dan sedikit bimbang. Terlebih saat melihat muka keruh bosnya.

​"Maaf mengganggu waktunya, Pak," ujar Mita sopan. "Saya mau menyerahkan laporan yang Bapak minta. Sekalian saya mau bertanya. Bu Zivanya hari ini ke mana ya, Pak? Saya telepon dari pagi nomornya tidak aktif, padahal siang ini ada janji temu penting dengan klien dari Bandung. Ng
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (3)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
halah zevia ..kamu belum tahu sja kelakuan busuknya si Ariyan makanya ngefans..
goodnovel comment avatar
Siti Hayatul Amalia
Zevia suka krn liat yg baik2nya aja kan, belum liat kelakuan iblis Ari. Zevia harus liat kelakuan iblis Ari, jadi tau gimana posisi Zivanya saat ini. Kasihan Zivanya nyimpen semua sendiri, gimana ga stress punya laki modelan begitu
goodnovel comment avatar
Aurora Aurora
Semoga zevia ngedenger smua, percakapan Ziva sama ARIYANASUE soal ARIYANASUE SELINGKUH SAMA SI LONTEAIRA
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 72

    ​Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Ariyan di saat ia sedang fokus-fokusnya. "Masuk."​Pintu terbuka, memperlihatkan Mita yang melangkah dengan hati-hati dan sedikit bimbang. Terlebih saat melihat muka keruh bosnya.​"Maaf mengganggu waktunya, Pak," ujar Mita sopan. "Saya mau menyerahkan laporan yang Bapak minta. Sekalian saya mau bertanya. Bu Zivanya hari ini ke mana ya, Pak? Saya telepon dari pagi nomornya tidak aktif, padahal siang ini ada janji temu penting dengan klien dari Bandung. Nggak biasanya Bu Zivanya ghosting pekerjaan tanpa kabar seperti ini."​Mendengar nama Zivanya disebut, rahang Ariyan kembali mengetat. Sisa-sisa amarahnya dari telepon Kaivan tadi mendadak menyengat egonya kembali. Dengan tatapan dingin, Ariyan mengambil pulpen di mejanya, kembali menyibukkan diri memeriksa dokumen lain tanpa memandang Mita.​"Zivanya nggak masuk hari ini," jawab Ariyan datar dan acuh. ​Mita mengerjap. Ia agak terkejut dengan respons dingin sang atasan. "Oh... Bu Zivanya sakit,

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 71

    Hening di seberang telepon. Kaivan kini membayangkan reaksi Ariyan. Mungkin lelaki itu terkejut, syok, lalu menyesali semua sikap buruknya pada istrinya sendiri selama ini. Kaivan tahu ia salah karena sudah mengaku tanpa persetujuan Zivanya. Tetapi tadi ia benar-benar kehilangan kesabaran.Di luar dugaan, tawa sinis Ariyan menyembur, yang terdengar begitu nyaring dan penuh cemooh, mengikis habis spekulasi Kaivan tentang penyesalan yang sempat melintas beberapa detik lalu.“Gue rasa ingatan lo perlu disegarkan. Zivanya sendiri yang datang ke depan muka gue, natap mata gue, dan ngaku dengan sadar kalau dia hamil anak lo! Dia terang-terangan ngaku selingkuh!​ Sekarang, setelah ada yang gugur kenapa tiba-tiba lo bikin pengakuan sampah kayak gini? Maksud lo sebenarnya apa, Kai? Mau lepas tangan karena lo mulai kewalahan? Atau karena ada yang mengendus tingkah bejat lo dan lo takut nama baik lo hancur karena nidurin istri orang, hah?!” cecar Ariyan dengan emosi yang meluap-luap.​Kaivan ter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 70

    Kaivan diam termangu di depan pintu ruangan Zivanya berada. Ia tahu, Zivanya pasti menangis haru ketika mengetahui calon anaknya berhasil diselamatkan. Hanya saja, Kaivan tidak sanggup membayangkan kesedihan perempuan itu ketika tahu kenyataan yang sebenarnya. Memangnya ibu mana yang tidak akan merasa sedih dan bersalah ketika kehilangan anaknya? Bagaimana mungkin Kaivan tega menghancurkan perasaan perempuan berhati lembut itu? Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat bahwa salah satu dari detak jantung di rahim Zivanya telah berhenti selamanya? Dengan helaan napas berat, Kaivan mengatur ekspresi dan emosinya. Apa pun yang terjadi di dalam sana, ia tidak boleh rapuh. Zivanya membutuhkannya bukan sebagai pria yang ikut menangis, melainkan sebagai sandaran kokoh saat seluruh dunianya nanti runtuh untuk kesekian kali. Kaivan mendapati Zivanya tengah berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Ia sudah sadar. Dan wajahnya masih terlihat bagai tak dialiri darah. Kaivan mendekat de

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 69

    Deru napas Kaivan terdengar memburu di lorong rumah sakit yang sepi, memecah sunyinya dini hari. Sepasang tangannya seolah ikut lemah saat ia membaringkan Zivanya di atas brankar yang kemudian didorong dengan cepat oleh para perawat. Pemandangan Zivanya yang terkulai lemas dengan baju tidur yang dibanjiri darah membuat kekhawatirannya melonjak liar. ​"Tolong cepat selamatkan istri saya–maksud saya, dia pendarahan!" seru Kaivan dengan penuh kepanikan yang luar biasa. ​Pintu IGD tertutup rapat di depan mata Kaivan, memisahkan dirinya dari Zivanya. Ia terpaksa berhenti, berdiri mematung di dengan tangan yang masih gemetar hebat. Cairan merah yang tadi sempat menempel di bajunya terasa lengket dan dingin, seolah membekukan seluruh saraf di tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit, memejamkan mata erat-erat, sementara bayangan wajah Zivanya yang pucat pasi terus berputar di balik kelopak matanya. ​Waktu berlalu begitu lambat hingga terasa sangat menyiksa. Kaivan tida

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 68

    Di seberang telepon, kantuk Kaivan seketika lenyap. Terdengar suara grasak-grusuk yang berisik, menandakan Kaivan langsung terlompat kaget dari tempat tidurnya.​"Apa lo bilang? Pendarahan?!" bentak Kaivan dipenuhi rasa syok dan panik yang luar biasa. "Terus kenapa malah buang-buang waktu telepon gue? Kenapa nggak langsung lo bawa dia ke IGD sekarang?!" “Bukannya ini anak lo? Ya lo yang tanggung jawab lah. Masa cuma mau bikinnya doang? Gue capek, baru pulang kerja dan butuh tidur. Kalo lo masih mau anak ini selamat, buruan ke sini.”​"Ariyan! Lu bener-bener gila ya. Itu anak l–"​Ariyan langsung memutus sambungan telepon secara sepihak, memotong makian Kaivan yang belum selesai dan ia tidak tahu kelanjutannya. Ia mengembalikan ponselnya ke atas nakas dengan gerakan santai.Dilihatnya Zivanya yang duduk mematung di tepi tempat tidur dengan wajah seputih kertas sambil menahan sakit yang luar biasa.​Ariyan mengembuskan napas kasar. Alih-alih menarik selim

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 67

    “Kenapa kamu berani-beraninya menjanjikan hal yang jelas-jelas nggak bisa kamu lakukan?” tuntut Zivanya setelah mereka berada di kamar. Keduanya baru memiliki waktu untuk berdua setelah bicara dengan Abi dan melihat dokter memeriksanya. “Memangnya menurutmu aku harus bilang apa setelah melihat keadaan Papi? Menolak? Mengatakan bahwa aku akan menceraikan putrinya yang manipulatif ini agar penyakit jantungnya langsung kambuh hari ini juga? Begitu maumu?!" cecar Ariyan yang melangkah maju mendekati Zivanya dan berdiri menjulang di hadapannya. ​Zivanya mencengkeram jemarinya sendiri, menolak untuk mundur setapak pun. "Jangan berlagak seolah kamu peduli sama Papi, Ariyan! Kamu bersandiwara seolah kamu suami paling suci sedunia, padahal dua hari lalu..." ​Kalimat Zivanya menggantung di udara. Ia tidak sanggup meneruskan. ​"Dua hari lalu apa, Zivanya?" Ariyan mencengkeram kedua bahu Zivanya. Tidak keras hingga menyakiti fisiknya, namun cukup kuat untuk mengunci pergerakan wanita itu. “D

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status