ANMELDENBeta Bronson;"Apa yang akan kau lakukan terhadap para tetua itu, Alpha Blade? Mereka memiliki hak untuk menuntut dan kita tidak bisa menyalahkan mereka," aku menghela napas panjang, mendudukkan diriku di kursi di balik meja kerja ruang kantor Alpha Blade."Orang-orang tua itu adalah kekhawatiran terkecilku, Bronson. Tuntutan mereka hanya bisa diselesaikan jika aku sanggup mengungkap bagaimana Luna muda itu tewas di dalam kamarku. Aku sudah terlalu lama bersikap abai terhadap situasi ini, dan itu telah sangat merugikanku. Sudah saatnya aku meluruskan semuanya," Alpha Blade menyandarkan punggungnya di kepala sofa yang berada di tengah ruangan."Katakan padaku, Alpha. Bagaimana cara kita menyelidikinya? Sudah bertahun-tahun berlalu dan setiap jejak bukti pasti sudah dimusnahkan.""Aku tidak tahu, Bronson. Kuharap aku punya petunjuk. Cara apa pun untuk membongkar semua ini. Aku tidak bisa membiarkan orang-orang tua itu menumbalkan serigala betina yang tidak bersalah hanya demi alasan sia
Elara;Seketika itu juga, piring di tanganku terlepas dan hancur berkeping-keping menghantam lantai, langkah kakiku tersentak mundur, jantungku serasa berhenti berdegup karena ketakutan saat tatapan mataku yang membelalak terkunci lurus padanya. Sosok yang paling berbahaya.Orang yang sebenarnya telah membunuh Nova.Kutampar pipiku berulang kali, mencoba menyadarkan diriku dari mimpi buruk ini. Tidak. Ini tidak mungkin nyata. Dia tidak mungkin berdiri tepat di hadapanku. Elara, bangun! Siapa pun, tolong bangunkan aku! Siapa pun!Mengapa tubuhku gemetar begitu hebat? Mengapa dadaku terasa begitu sesak dan tercekik? Aku tidak bisa bernapas. A…ku… ti…dak… bi…sa… ber…na…pas."Melihat betapa kerasnya kau bersusah payah untuk bernapas, aku tahu kau mengingat semuanya. Apa yang terjadi pada hari itu. Bagaimana aku meniduri priamu dan menyabotase rem mobilmu. Racun wolfsbane yang kusuntikkan ke dalam tubuhmu hingga membuatmu lumpuh tak berdaya. Racun yang membantai serigalamu, dan membuat tub
Malicia;Sudah berhari-hari berlalu sejak Alpha Arthur membawa Nova pergi dari kediaman ini. Tidak ada kabar apa pun mengenai mereka berdua. Tidak ada telepon dari Nova dan aku pun sama sekali tidak bisa menghubungi Alpha Arthur.Beta Bronson dan Alpha Blade juga telah kembali ke kawanan mereka. Dan rasanya sungguh menyakitkan karena aku begitu merindukan Beta Bronson. Sebelum dia bertolak pulang, dia sempat memintaku untuk ikut bersamanya ke kawanannya. Namun aku tidak bisa melakukannya, bahkan jika aku sangat menginginkannya sekalipun. Apa yang akan terjadi pada adik-adik lelakiku di bawah atap kediaman Alpha Arthur jika kutinggalkan?Terlebih lagi ketika kami harus terus-menerus berhadapan dengan jalang iblis itu, Chloe. Tingkah lakunya benar-benar menjadi malapetaka sejak Alpha Arthur pergi. Chloe telah mengambil alih sebagian besar tanggung jawab kawanan dan dia menjerumuskan mayoritas anggota ke jurang kemiskinan yang mencekik.Kudengar dia bahkan memerintahkan pemenggalan kepal
Elara;Raut syok terpatri begitu jelas di wajah Nova, membuatku merasa semakin canggung untuk berbicara lebih jauh dengannya mengenai apa pun. Aku punya banyak pertanyaan untuk diajukan, aku butuh jawaban atas begitu banyak hal. Namun kurasa aku harus menunda pembicaraan ini ke lain waktu."Apa yang Marion lakukan di dalam mimpi itu saat kau melihatnya?" desak Nova dengan nada putus asa."Tidak ada. Maksudku, dia hanya berdiri di sana mematung.""Aku benar-benar tidak mengerti apa-apa, Elara," dia mengepalkan jemarinya kuat-kuat di hadapannya. Nova tampak jauh lebih cemas daripada diriku. Kulihat bibirnya ragu-ragu sejenak sebelum terbuka kembali untuk bicara, "Aku juga mengalami mimpi, Elara. Mimpi yang sangat mengerikan. Mimpi ini melibatkan kita berdua.""Apakah kau melihat wanita tua berjubah putih itu?" tanyaku padanya."Ya, aku melihatnya.""Apakah kau berlutut di hadapannya?""Y…a, a…ku melakukannya."Keheningan seketika menyelimuti ruangan.Aku terombang-ambing antara mendesak
Nova;"Jangan cemaskan hal itu, Alpha Arthur. Pikiranku hanya sedang melayang jauh membayangkan bagaimana hidupku pada akhirnya akan kembali normal," aku berbohong padanya.Aku benar-benar tidak bisa memberitahu Alpha Arthur hal yang sebenarnya. Bagaimana caraku menjelaskan mimpi yang kualami setelah ingatanku kembali pulih? Bagaimana caraku menyampaikan padanya bahwa aku akan mati pada detik yang sama saat aku kembali ke tubuh asliku?Dia akan mengira aku hanya mencari-cari alasan. Bahwa aku tidak ingin kembali ke tubuhku karena perasaanku terhadapnya. Hanya karena aku ingin bersamanya. Memang, itu adalah bagian dari alasanku enggan bertukar kembali, tetapi bukan hal itu yang menimbulkan ketakutan luar biasa di dalam diriku.Aku tahu persis apa yang kulihat dalam mimpi itu. Semuanya terasa begitu nyata. Serigalaku benar-benar kembali ke tubuh asliku, namun dia sangat lemah. Mati hanya dalam hitungan detik setelah dia kembali. Aku pun ikut tewas bersamanya.Kulihat wanita tua berambut
Alpha Arthur;"Kurasa sudah waktunya kau melepaskan cengkeraman tanganmu dari lenganku, Alpha Arthur. Kau sudah menahannya terlalu lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun," seringai David mengejek padaku."Oh. Ya," aku menelan ludah dengan susah payah seraya melepaskan tangannya. Aku sama sekali tidak ingin melakukannya, namun aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa terus mencengkeramnya tanpa alasan yang jelas.Dia kembali tersenyum sinis padaku sebelum melangkah menuju kamar Elara. Perlahan, kududukkan kembali bokongku di atas kursi bar. Mataku masih terus mengawasinya hingga punggung bajingan itu menghilang di balik pintu kamar tersebut. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana caraku menghentikannya? David tidak boleh berada di kamar itu sendirian bersama Elara.Luna dan para pelayan pasti akan segera melangkah keluar begitu mereka menyadari kehadirannya.Aku langsung melompat bangkit dari kursi, berniat menerobos masuk ke kamar Elara ketika kurasakan sebuah cengkeraman kuat menah







