Share

Bab 4

Dedrick mengangkat kembali cakarnya, perlahan ia mengayunkannya ke arah Diana yang menutup mata. 

Crash

Dedrick terengah-engah, tangannya bergetar. Ditatapnya tembok yang berjejak akibat kukunya yang tajam. Ya, Dedrick baru saja mencakar tembok. Pandangan Dedrick beralih menatap Diana, gadis itu masih menutup mata. Dedrick menggeleng, tidak mengerti akan dirinya sendiri. Ia merasa tidak sanggup membunuh gadis yang mengeluarkan aroma wangi bunga di depannya ini.

Diana membuka mata, ia tidak bermimpi. Ia masih hidup. Diana mendongak menatap Dedrick yang juga menatapnya. Dengan posisi seperti ini Diana bisa melihat wajah Dedrick dengan jelas, wajah tampan dengan garis rahang yang tegas.

Diana tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau tidak, yang pasti sekarang Diana merasa sangat lega. Setidaknya untuk saat ini.

Dedrick berjongkok lalu mencengkram dagu Diana. "Kau ... Apa yang kau lakukan kepadaku?" tanyanya tajam, mengabaikannya rasa kejut ketika kulit mereka bersentuhan. Gadis ini seperti menyihirnya, membuat dirinya tidak mampu untuk membunuh gadis yang seharusnya mudah ia remukkan ini.

Air mata Diana turun begitu saja. Diana menggeleng seraya terisak. Astaga, apakah Tuhan sedang bermain-main dengan nyawanya. Membuatnya hampir mati tapi masih memberinya kesempatan untuk hidup. Sudah berulangkali terjadi. "A-aku tidak melakukan apa-apa. Sungguh."

Diana semakin ciut. Ia benar-benar ketakutan sekarang ini, di tambah sekarang ia berurusan bukan dengan manusia.

Dedrick melepaskan kasar pegangannya pada dagu Diana, membuat kepala gadis itu tertoleh ke arah kiri. Dedrick bangkit lalu berbalik badan.

"Adam, kembali kurung dia di penjara." Setelah mengatakan itu Dedrick keluar dari sana.

Adam membuang nafas lega, lalu ia mendekat kepada Diana yang beringsut mundur ketika ia dekati. Gadis itu pasti trauma. Berbeda sekali dengan pertama kali mereka bertemu tadi, gadis itu berani mengajaknya berbicara.

"Ayo." Adam membiarkan Diana bangkit sendiri, gadis itu terlihat tidak mau di sentuh olehnya. Adam bisa maklum.

Mereka berjalan beriringan di lorong yang diterangi oleh cahaya obor yang terpasang di dindingnya. Seperti sebelumnya, perjalanan mereka dihiasi oleh suara jerit dan teriakan kesakitan oleh orang-orang yang berada di dalam penjara itu.

Tidak lama kemudian Diana dan Adam tiba di depan ruangan tempat ia mengurung Diana. Tanpa basa-basi Adam membuka pintu itu dan mempersilahkan Diana untuk masuk.

"Adam," panggil Diana. "Sebenarnya ini di mana?" tanyanya. Diana mendengar pria yang di sebut Alpha itu memanggil pria ini Adam. Jadi, Diana menebak itu adalah namanya.

"Yang pasti ini bukan lagi dunia manusia, kau telah jauh dari duniamu yang seharusnya." Adam menjawab.

Diana menunduk lalu kembali mengangkat wajahnya. Ia menatap Adam yang berdiri di ambang pintu besi itu. " Lalu ... Kalian makhluk apa?" tanya Diana lagi. Walau ia takut, tapi Diana tetap bertanya.

"Kami ... Adalah Werewolf." Setelah mengatakan itu Adam menutup pintu besi itu dan menguncinya. Meninggalkan Diana yang termangu di dalam ruangan itu.

Diana mundur lalu jatuh terduduk di lantai. "Werewolf?" gumamnya tidak percaya. "Lalu, serigala kemarin adalah mereka?" Diana memegang kepalanya yang terasa pusing. Ini adalah hal yang sangat jauh dari logikanya sebagai manusia.

Diana menyandarkan tubuhnya di dinding dan menutup matanya. "Semoga saja ini hanya mimpi buruk." Setelah itu Diana merebahkan tubuhnya, berharap ketika ia bangun nanti ini semua hanyalah mimpi.

Setelah Adam menutup pintu tempat ia mengurung Diana, ia pergi dari sana. Ia harus menemui Alpha-nya. 

Ruangan yang Diana tempati adalah ruangan yang paling bagus diantara banyaknya ruangan lain di penjara bawah tanah ini. Adam sendiri yang memilihkannya karena dilihatnya kondisi gadis itu tidak cukup baik. 

~~~

Dedrick mengepalkan tangannya, matanya yang sudah berwarna keemasan menatap tajam bayangannya di depan cermin. 

"Sial, apa yang telah aku lakukan?" gumamnya.

"Apa lagi? Sudah jelas, kau melepaskannya." Suara di dalam kepalanya menyahut.

Dedrick bungkam, sisi serigalanya benar. Ia baru saja melepaskan gadis itu dari kematiannya. Hal yang tak pernah ia lakukan kepada orang asing yang telah memasuki wilayah teritorialnya. "Hanya saja ... Kenapa aku melakukannya?" 

Dedrick dapat mendengar sisi Serigalanya menghela napas gusar. "Aku juga tidak tahu, dia sangat wangi. Itu saja."

"Itu aku juga sudah tahu, David. Aromanya itu seperti menyihir ku, aku jadi tidak yakin jika ia adalah seorang manusia. Apakah ia seorang penyihir?" Dedrick berpikir keras, bisa saja gadis itu adalah penyihir yang berpura-pura menjadi manusia, tapi tatapan gadis itu sangat mengganggunya.

"Penyihir?" David bergumam. "Kau yakin?"

Dedrick bungkam, ia pun tidak yakin.

~~~

"Anda memanggil, saya, Alpha?" Adam menghadap Dedrick ketika Alpha-nya sedang membaca sebuah buku di perpustakaan. Tidak heran, ia tahu jika Alpha-nya itu suka membaca ketika waktu luang. 

Dedrick yang semula menunduk menatap buku perlahan mengangkat kepalanya, menatap sang Beta yang berdiri hormat di sampingnya. "Ya, aku membutuhkanmu untuk mencari sebuah buku."

"Buku apa yang ingin Anda cari Alpha?" 

Dedrick menghela nafas lalu menutup buku bersampul coklat lusuh yang tadi sempat ia baca. "Sebuah buku yang menceritakan manusia."

Setelah Dedrick mengatakan itu, angin malam berhembus masuk ke dalam perpustakaan melalui jendela yang sengaja Dedrick biarkan terbuka. Untuk sesaat Adam terdiam, tapi akhirnya ia mengerti. Ini pasti berhubungan dengan seorang gadis yang sekarang ini berada di penjara bawah tanah Pack ini. "Baik, Alpha." 

"Kau boleh pergi." Adam beranjak dari sana.

Dedrick menatap ke luar jendela, menatap gelapnya malam yang sunyi. Bukan tanpa alasan ia menyuruh Adam untuk mencarikannya buku tentang manusia, ia hanya penasaran. Di perpustakaannya tidak ada buku yang membahas manusia secara menyeluruh. Hanya sejarah manusia dan Werewolf. Itupun tidak lengkap.

"Kau ingin mempelajari manusia itu?." Suara dalam kepalanya Dedrick bergema, membuat Dedrick sadar dari lamunan singkatnya.

"Ya, aku sedikit penasaran." Dedrick menjawab.

"Entah kenapa ... Aku tidak ingin kau membunuhnya. Perasaan seperti itu rasanya tidak nyaman, saat ia melihat kita dengan sorot mata takut itu membuatku ingin pergi saja." Dapat Dedrick dengan suara David yang melemah di akhir kalimatnya.

"Ada apa denganmu?" Dedrick mulai heran dengan sisi serigalanya ini. "Kau aneh sekali."

David terdiam sesaat. "Aku tidak ingin salah satu dari kita menyakitinya. Baik aku maupun kau." 

"Sadarlah! Dia manusia. Aku tidak bisa menjamin jika aku tidak akan menyakitinya." Dedrick membentak.

Setelah mengatakan itu, David tidak menjawab hanya diam. Namun, Dedrick dapat merasakan jika sisi serigalanya itu merasa gundah. 

~~~

Sebenarnya Adam tidak tahu harus mencari ke mana buku yang ingin Dedrick temukan, mengingat semua buku ada di perpustakaan. Namun, Adam tidak punya pilihan. Satu-satunya tempat yang mungkin adalah gudang, mungkin saja buku yang Dedrick cari dapat ia temukan di sana.

Perlahan Adam mendorong pintu gudang, gudang ini kondisinya tidak terlalu buruk. Di dalaman banyak barang-barang lama yang tidak terpakai. Salah satunya adalah lemari perpustakaan yang telah rusak.

"Mungkin ini," gumam Adam, lalu Adam membuka pintu lemari itu. 

Ketika membuka pintu itu, Adam langsung menemukan sebuah buku yang di sampulnya tertulis "человек". 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status