Home / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 42: Rhys Goyah?

Share

Chapter 42: Rhys Goyah?

Author: KIKHAN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-05 23:00:27

Velian menyaksikan interaksi itu dari balik kegelapan—duduk bersila, dagunya bertumpu di telapak tangan, seperti sedang menonton adegan film romantis yang terlalu intens untuk ditonton sendirian. Tanpa sadar, ia mulai merasa bisa membaca pikiran Eira.

“Apa gue bilang,” gumamnya. “Lo kalau di posisi gue juga bakal nge-freeze, kan. Rhys itu bahaya banget. Pesonanya nggak manusiawi.”

Velian terus mengoceh, sekadar mengusir sunyi. Ia menunggu respons yang tak kunjung datang.

Di sisi lain, Eira beru
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 89: Dunia yang Melampaui Cerita

    Dame Raven baru saja kembali ke mansion ketika seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tamu—kecuali Alverine yang masih berada di kamarnya.Namun, suasana yang ia rasakan berbeda.Ada sesuatu yang terasa ganjil.Biasanya ruang tamu mansion dipenuhi percakapan kecil atau kehangatan sederhana, tetapi kali ini terasa lebih sunyi. Terlebih setelah Rhys meninggalkan ruangan, disusul Leona yang memilih pergi ke arah berbeda.Raven mendekati Velian yang masih diam di tempatnya.“Ada apa dengan suasana aneh ini?” tanyanya penasaran.Velian tidak langsung menjawab.Ia menunduk dalam, menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan pikirannya sendiri.“Kalian bertiga bertengkar?” tebak Raven.Velian perlahan menoleh kepadanya.Untuk pertama kalinya, ekspresi yang muncul di wajahnya bukan ketegasan seorang penulis, melainkan wajah seseorang yang merasa bersalah.Ia merengut kecil seperti anak yang baru melakukan kesalahan. “Aku tidak sengaja mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya ... lal

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 88: Bersikap Adil?

    “Kami juga tidak sudi disamakan dengan situasi atau orang lain, asal kau tahu, Rhys.”Suara itu membuat percakapan mereka terhenti.Leona menoleh cepat ke arah sumber suara. Rhys pun melakukan hal yang sama.Velian berdiri tidak jauh dari mereka, tepat di ujung ruang tamu. Tatapannya tenang, tetapi kalimatnya barusan jelas mengandung ketegasan.Ia sebenarnya tidak berniat mendengarkan percakapan mereka. Saat hendak kembali ke kamar Alverine untuk mengembalikan pita rambut yang tadi dipinjamkan, langkahnya justru terhenti ketika mendengar suara mereka. Pita berbentuk bunga Moryn yang terbuat dari berlian masih berada di tangannya, berkilau samar terkena cahaya lampu mansion.“Aku hanya mendengar sebagian percakapan kalian,” lanjut Velian. “Tapi satu hal yang perlu kau pahami, Rhys.” Ia menatap pria itu lurus. “Kami bukan sekadar orang yang harus memenuhi aturan makan malam keluarga. Kami adalah orang-orang yang memilih untuk berada di sisimu.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.L

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 87: Bunga dan Pisau

    Meskipun beberapa anggota keluarga tidak ikut makan malam bersama, suasana tetap terasa hangat. Mereka menikmati hidangan yang tersedia hingga akhirnya waktu makan selesai.Setelah itu, Velian memilih kembali ke kamar untuk beristirahat. Sementara Leona memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti Rhys mengantar Alverine ke kamarnya.Begitu tiba di sana, Alverine langsung duduk di meja belajarnya. Malam itu ia akan menjalani pelajaran berhitung bersama pengajar pribadi baru dari Akademi Marindor.“Ingin tidur bersama Alvie?” tanya Rhys pada Leona, melihat perempuan itu masih berdiri di ambang pintu.Leona menggeleng pelan. “Tidak. Aku ingin berbicara denganmu.”Rhys mengangguk memahami. “Baik. Kita bicara di luar saja.” Ia mempersilakan Leona ke luar lebih dulu sebelum menoleh kepada putrinya. “Alvie, dengarkan guru dan perhatikan pelajaranmu.”“Iya, Papa...” Alverine menjawab dengan nada pasrah. Ia duduk di hadapan seorang perempuan muda yang usianya tidak jauh berbeda dengan Eira. Sama s

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 86: Kehangatan yang Tidak Pernah Kutulis

    Rhys mengalihkan pandangannya sejenak kepada Alverine.“Alvie, sudah jam berapa sekarang? Cepat masuk dan mandi. Bersihkan badanmu, lalu bersiap untuk makan malam.”Alverine yang masih berdiri di dekat Lucien menatap ayahnya dengan wajah berpikir. “Dame Raven belum datang menemuiku,” katanya polos. “Kalau begitu, aku mandi dengan siapa?”Pertanyaan sederhana itu membuat Rhys terdiam sejenak. Ia baru tahu bahwa Raven tidak ada di mansion dan belum kembali, sementara ia tidak ingin membiarkan putrinya menunggu terlalu lama menjelang waktu makan malam.“Dame Raven belum kembali?” Rhys mengernyit kecil. Tangan kirinya masih menggenggam tangan Velian, sementara tangan kanannya meraih Vox Device untuk menghubungi Raven.Namun sebelum menekan tombol panggilan, matanya menangkap pesan yang dikirim Raven sejak pukul dua belas siang.[Aku akan pergi spa dan berbelanja. Kemungkinan tidak bisa ikut makan malam bersama. Maaf.]Rhys menghela napas panjang. Ini kesalahannya sendiri. Kesibukan di lua

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 85: Tangan yang Menangkap Kegelisahan

    Velian akhirnya ke luar dari kamar. Langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya. Bukan karena tubuh Eira, tetapi karena pikirannya sendiri.Dari kejauhan, ia masih bisa melihat Lucien dan Alverine bermain bersama Xuu. Pemandangan itu terasa asing baginya.Lucien seharusnya hanya karakter dalam novel.Namun sekarang, ia tertawa dan berbicara seperti Arlan ketika masih hidup. Ia memiliki kebiasaan kecil yang bahkan tidak pernah Velian tulis secara detail. Karakter yang hidup...Begitu Velian mendekat, Alverine langsung menyadarinya.“Mami!” Anak kecil itu berlari menghampiri.Velian refleks tersenyum dan menangkap tangannya. “Aku sudah bilang jangan berlari terlalu cepat.”“Tapi Mami sudah turun!” jawab Alverine senang.Lucien yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum kecil. “Sepertinya kondisimu sudah lebih baik.”Velian menatapnya. Dan sekali lagi, dadanya terasa sesak.Wajah itu.Cara tersenyum itu.Namun kali ini ia tidak mundur.“Ya. Aku sudah lebih baik.”Lucien memper

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 84: Wajah yang Sama, Orang yang Berbeda

    Dalam beberapa jam, Velian akhirnya kembali mengambil alih tubuh Eira Shawn ketika perempuan itu tertidur lelap.Jam digital berbentuk kotak di atas meja, yang menampilkan prediksi cuaca serta suhu terkini, menunjukkan pukul empat sore.Velian segera bangkit hingga duduk. Ia mengatur napasnya perlahan, memastikan ekspresi dan pikirannya kembali terkendali sebelum keluar kamar dan berhadapan dengan orang-orang di mansion.Namun, ia tidak menyangka Lucien masih berada di sana.Dari jendela kamar, Velian melihat sosok pangeran itu berada di taman bunga mansion bersama Alverine. Mereka sedang bermain dengan Xuu, anjing kecil berbulu putih bersih milik Dame Raven.Alverine melempar sebuah piringan kecil ke arah taman, dan Xuu langsung berlari mengejarnya dengan lincah. Setelah berhasil menangkapnya, anjing kecil itu kembali membawa piringan tersebut dengan ekor yang bergoyang penuh semangat.Permainan itu kemudian bergantian dilakukan bersama Lucien.Hal yang

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 34: Akademi Pengetahuan Marindor Diserang

    Velian duduk di dekat balkon. Sebelah sisi wajahnya bersandar di pembatas, wajahnya menatap ke langit malam. Hamparan bintang terlihat indah. Pergerakan awan di Morwenia lebih terlihat cepat karena tidak ada polusi yang menghalangi penglihatannya. Langit di Morwenia sangat alami dan jernih—Velian s

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 31: Detak yang Menyimpang

    Ia tahu jawabannya. TANAH ITU TIDAK DIJUAL. Dan justru karena itulah kejengkelannya terasa semakin nyata.Keluarga Istana, termasuk Putra Mahkota adalah penyedia lahan dan modal terbesar. Morwenia Group sebagai pengembang utama, teknologi, manajemen, dan branding. Mereka—keluarga Istana meminta ko

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 29: Garrick Berpapasan dengan Rombongan Anak Kecil yang Selesai Berlatih Sihir

    “Kenapa tidak menemui Tuan Rhys?” tanya Dylen, jelas tak memahami alasan gadis itu justru berbalik dengan wajah panik.“Masih bertanya juga,” geram Velian lirih. “Aku pasti dimarahi. Sudah berlarian tak tahu adat, ditambah lagi bersama pria.”“Eira Shawn.”Suara Rhys kembali terden

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 28: Terciduk Main di Akademi

    Velian menarik napas panjang, mencoba merangkai kalimat dengan rapi agar Dylen mengerti. “Aku bukan sengaja masuk ke sini. Semuanya terjadi tiba-tiba. Entah bagaimana awalnya, aku—” Kalimat itu patah bukan karena ia kehabisan kata. Rasa nyeri menghantam dadanya, keras dan mendadak, membuat seluruh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status