เข้าสู่ระบบ“Lalu mengapa jantung Eira terhubung dengan Kristal Marindor?” Kali ini Dylen benar-benar berharap mendapatkan jawaban.Dytheron tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Kristal Marindor yang bercahaya terang di hadapan mereka.“Eira hanya pion.”Dylen mengerutkan kening.“Pion untuk apa?”“Untuk membangkitkan inti magis emas Alverine.”Dylen terdiam. “Bagaimana mungkin?”“Karena inti magis emas tidak bisa bangkit hanya karena pemiliknya dilahirkan dengan kekuatan tersebut.” Dytheron akhirnya menoleh kepadanya. “Ia membutuhkan pemicu yang mampu menghubungkan kekuatan itu dengan sumber kehidupan Morwenia.”“Kristal Marindor?”Dytheron mengangguk. “Dan jantung Eira menjadi penghubungnya.”Dylen mulai memahami, tetapi semakin ia memahami, semakin tidak masuk akal semuanya terdengar.“Jadi sejak awal ... Eira memang diperlukan?”“Ya.”“Untuk menyelamatkan Morwenia?”Tatapan Dytheron menjadi berat. “Bukan. Eira diperlukan agar kekuatan Alverine dapat bangkit. Selama jantung E
Dylen meminta Dytheron menceritakan kisah di balik duel antara dirinya dan Maren Shawn dahulu kala.Setelah mengantar Eira, Alverine, dan Garrick hingga ke depan bangunan Akademi Marindor, Dylen mengikuti langkah pamannya. Mereka berjalan melewati lorong-lorong akademi hingga akhirnya berhenti di salah satu sisi Kristal Marindor—kristal raksasa yang akhir-akhir ini kembali memancarkan cahaya terang dan stabil.Dytheron bergeming. Tatapannya tertuju lama pada kristal tersebut. Sementara itu, Dylen bersedia menunggu. Ia tahu pamannya tidak akan bercerita sebelum siap membuka kembali sejarah yang selama ini sengaja dikubur.“Jauh sebelum kalian lahir,” akhirnya Dytheron bersuara, “ada sebuah keluarga yang dikutuk oleh takdir karena menyalahgunakan kekuatan.”Dylen mengerutkan kening.“Mereka menggunakan kekuatan itu untuk menguasai wilayah Celesthaven.” Tatapan Dytheron masih tertuju pada Kristal Marindor. “Masa itu merupakan salah satu sejarah paling kelam di Morwenia, sebelum makar dan
Melihat Velian yang tiba-tiba murung, Eira bertanya, “Kau sedih karena waktumu tidak banyak lagi?”Velian mengangguk lesu. “Aku sedih karena tidak bisa lagi melihat pria-pria tampan di negeri ini.” Ia menghela napas dramatis. “Apalagi suamimu.”Eira memutar bola mata dengan malas.“Manusia memang tidak ada yang sempurna.” Velian mendongak. “Tapi suami kalian sempurna di mataku.”Eira menatapnya datar. “Kau menyukai suami orang, padahal belum melupakan mantan kekasihmu?”Velian justru tersenyum menyipitkan mata. Tatapannya berubah jahil. “Cara bermain suamimu itu sangat mantap—”Eira langsung mengangkat satu kakinya, bersiap melepaskan sepatu hak tingginya. Belum sempat sepatu itu terlepas, Velian sudah berbalik dan lari terbirit-birit.Velian menghilang begitu saja, kembali ke raga Eira sebelum sempat menjadi sasaran lemparan.Eira berdiri dengan wajah memerah. Ia mengibaskan kedua tangannya di depan wajah, berusaha mendinginkan pipinya sendiri.“Mulutnya itu tidak bisa direm, apa?” E
“Aku bertemu ayah dan paman Tuan Dylen. Mereka membicarakan inti magis emas bersama kami, tetapi Nona Eira sedikit kesal.” Alverine sengaja menekankan kata sedikit.Raven tampak terkejut. Ia kemudian menepuk bahu Alverine dengan lembut. “Aku selalu bilang Nona Eira sangat menyayangimu. Pasti ada alasannya sampai ia kesal.”“Sedikit, Dame.”“Ya, maksudku sedikit kesal, sayang.”Alverine tersenyum lebar. “Baiklah. Aku mau mandi dulu, lalu istirahat sebentar sambil menunggu Papa pulang.”Ia berhenti sejenak sebelum kembali bertanya, “Kapan Papa pulang?”“Para pengawal bilang sebelum senja.”“Oh.” Mata Alverine berbinar. “Berarti sebentar lagi, ya?”Dame tertawa pelan. “Masih ada lima jam lagi.”Eira tidak sempat melakukan apa pun setelah memasuki kamar.Ia langsung merebahkan tubuh di atas kasur dan, begitu kepalanya menyentuh bantal, tertidur. Energi sosialnya benar-benar terkuras setelah seharian berhadapan dengan keluarga Caelmont.Namun, bahkan dalam tidurnya, Eira tidak benar-benar
Eira tersenyum miring. Apa pun yang dikatakan Dytheron sama sekali tidak membantunya.“Lebih baik tutup mulutmu jika tidak bisa mencari solusi. Hidupku yang dipertaruhkan di sini, tetapi kau dan Dylen terus membicarakan sesuatu yang hanya membuatku semakin terganggu.”Dylen, Dytheron, bahkan Garrick dan Alverine yang telah duduk di dalam mobil, tercengang mendengar ucapan Eira kepada Dytheron.Jika orang lain mendengarnya, Eira sudah pasti akan menjadi buah bibir masyarakat. Ia bisa dicap tidak sopan karena berani bersikap demikian kepada penyihir tertua di Morwenia—seseorang yang begitu disegani, bahkan oleh para murid Marindor.Namun, bagi Eira, Dytheron memang sudah menyebalkan sejak dulu. Tanpa memberi salam ataupun hormat, Eira langsung berbalik dan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil itu melaju meninggalkan mereka.Setelah mobil telah berjalan cukup jauh, Dylen meremas dadanya sambil memasang wajah tersakiti dengan ekspresi yang begitu dramatis.“Sakit sekali hatiku m
Alverine mendongak, sementara Dylen menundukkan kepala sejenak, seolah baru teringat sesuatu.“Mereka belum mengatakan alasan ingin bertemu denganku, Tuan Dylen,” ujar Alverine.Dylen langsung mengangkat wajahnya. “Oh, iya.” Ia menoleh kepada ayah dan pamannya. “Ayah, Paman, kalian bilang ingin bertemu Alverine. Alverine baru saja menanyakannya.”“Kami mendengar bahwa inti magismu telah bangkit,” ujar Dyvar.Alverine menatap Dylen, seolah bertanya apakah dialah yang memberitahukan hal tersebut kepada ayah dan pamannya. Dylen hanya tersenyum kepadanya.“Jawab saja. Tidak apa-apa.”Eira menyimak percakapan itu dalam diam. Entah mengapa, ia sudah bisa merasakan bahwa akan ada sesuatu yang hendak mereka sampaikan—dan firasatnya mengatakan, itu bukan sesuatu yang menyenangkan.Alverine menggenggam ibu jari Eira. “Benar, Paman.”Eira segera menggenggam balik tangan kecil itu. Ia tahu Alverine sedang gugup.“Apa kau sudah bersedia mempelajari sihir?” tanya Dytheron.Dylen segera angkat bicar
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping







