Masuk“Aku takut kehilanganmu bahkan setelah aku mati.”Rhys membawa Eira ke rumah ini bukan semata-mata untuk memenuhi janjinya kepada Maren Shawn.Ia membawanya kemari karena berharap Eira tidak lagi merasa sendirian. Ia ingin memberinya tempat untuk memulai kembali, membangun kebahagiaan dari hal-hal kecil yang bisa mereka bagi bersama.Namun, seiring waktu berjalan, Rhys justru tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati Eira.Wanita itu begitu tertutup. Ia jarang berbicara lebih lama dengannya, seolah selalu ada jarak yang tidak boleh ia lewati.Rhys mengira Eira hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. 'Mungkin ia masih berduka'. Mungkin suatu hari nanti, ketika luka di hatinya perlahan melebur bersama waktu, Eira akan kembali menjadi dirinya yang ceria.Namun, bukan duka yang melebur. Melainkan hubungan mereka yang perlahan kehilangan kehangatan.Tanpa disadari, keduanya membangun benteng masing-masing.Rhys takut jika terlalu memaksakan diri untuk mendekati Eira, wani
Setelah kembali ke tubuhnya, Eira segera mencari Rhys.Namun, kamar pria itu kosong.Ia mengetuk pintu kamar Alverine, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Kosong juga.Eira menutup pintu dan kembali melangkah. Langkahnya terburu-buru, pikirannya terlalu penuh untuk menentukan ke mana harus pergi. Ia bahkan tidak tahu harus mencari Rhys di mana.Di tengah lorong, ia berpapasan dengan Leona. Namun, Eira sama sekali tidak sempat menoleh ataupun menyapanya.Leona langsung memahami siapa yang sedang dicari Eira. Meski Eira telah melewatinya beberapa langkah, ia tetap memanggil dengan suara yang cukup keras.“Kau mencari Rhys?”Eira berhenti seketika dan berbalik. “Kau melihatnya?”“Dia baru saja pergi ke halaman belakang.” Leona menunjuk ke arah lorong di sebelahnya. “Mungkin ke kubah kaca paviliun.”“Terima kasih.”Eira langsung berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali berhenti.Seharusnya ia tetap berjalan lurus.Eira menoleh ke belakang, kemudian
Velian baru saja memasuki ruang kesadaran ketika sosok Eira muncul di hadapannya. Namun, sebelum mereka sempat bertukar kata, pusaran energi keemasan yang dikirimkan Alverine telah mencapai tujuannya.Energi itu menembus celah kesadaran, lalu mengalir menuju jantung Eira—tepat ke inti magis yang terhubung dengan Kristal Marindor. Cahaya keemasan menyebar sesaat, berdenyut lembut sebelum menyatu dengan inti magisnya.Celah yang sebelumnya sempat retak dan kembali tertutup itu mulai bergetar. Retakan tipis muncul di permukaannya, merambat perlahan hingga membentuk celah yang cukup lebar untuk memperlihatkan ruang di baliknya.Lalu, seperti pada pertemuan pertama mereka, sosok Pangeran Lucien muncul dari balik celah tersebut.Kehadirannya terasa seolah-olah ia baru saja melangkah masuk ke ruang kesadaran mereka, bukan sekadar bayangan yang terbentuk dari ingatan. Tak ada yang berubah dari caranya muncul saat itu—seakan-akan waktu berputar kembali ke awal, meski kali ini mereka telah meng
Dylen memandang Velian yang masih diliputi kecemasan.“Kontrol suasana hatimu.” Tangannya menepuk pelan bahu Velian. “Kau dan Alverine terhubung. Kalau kau tidak tenang, Alverine juga akan merasakan hal yang sama.”Velian terdiam. Napasnya perlahan ia atur, berusaha menekan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dadanya.Dylen menatapnya dengan tenang. “Kita sudah menduga hal ini akan datang.” Ia menghela napas pelan. “Rhys meminta Eira kembali untuk menjelaskan semuanya kepadanya. Jadi, kita penuhi permintaannya.”Velian menundukkan kepala. Untuk sesaat, ia memejamkan mata, mencoba mengendalikan pikirannya sendiri.Benar. Mereka memang sudah tahu hari ini akan tiba. Hanya saja, tidak ada yang benar-benar siap ketika hari itu akhirnya datang.Dylen masih memegang buku tanpa judul itu. Ia membolak-balik beberapa halaman sebelum akhirnya berhenti.“Aku tidak bisa terus berada di sini. Aku harus menemui Pangeran Lucien. Dia mungkin lebih tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”Dylen
Raven, Leona, dan Alverine masih belum memahami alasan Garrick mengutus beberapa pengawal untuk menutup jalan keluar dari ruang makan setelah Dylen membawa Eira pergi.“Pasti mereka menyembunyikan sesuatu,” gumam Leona dari tempat duduknya.Sebagai seseorang yang mudah curiga, perubahan sikap mereka tentu saja membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.“Sebaiknya jangan berspekulasi sebelum ada penjelasan,” timpal Raven dengan tenang.“Kenapa Papa belum ke sini?” Alverine tidak merengek. Ia hanya kebingungan di sela-sela sarapannya ketika melihat lima pengawal berdiri tegak di pintu masuk ruang makan. Ia menoleh kepada Raven. “Apa jangan-jangan ada perang di luar sana, Dame?”Pikiran buruk yang sama seperti Leona rupanya mulai memenuhi kepala anak kecil itu.Raven menggeleng pelan. “Tidak ada perang. Tunggu Papa saja, ya.”Namun, Leona tetap tidak mampu menghentikan pikirannya sendiri. Ia tidak bermaksud berpikir buruk. Hanya saja, berbagai kemungkinan terus bermunculan tanpa b
"Kau berhak marah, Rhys. Mereka menyembunyikan sesuatu darimu. Aku juga. Apa yang kau rasakan terhadapku tidak pernah menjadi kebohongan hanya karena Velian berada di dalam tubuhku. Aku tetap Eira. Dan dia tetap Velian. Kami hanya terjebak dalam satu tubuh.”Mereka menyembunyikannya bukan karena ingin mengkhianati Rhys, tetapi karena mereka takut apa yang akan terjadi jika Rhys mengetahui semuanya sebelum mereka menemukan cara mengembalikan Velian.Eira meminta Rhys tidak mengambil keputusan dalam keadaan marah. "Kalau kau ingin membenciku setelah semuanya selesai, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi jangan hukum mereka sebelum kau mendengar seluruh kebenarannya.”Rhys tidak langsung percaya. Karena setelah mengetahui bahwa “Eira yang selama ini bersamanya ternyata juga ditempati Velian”, pertanyaan terbesar Rhys justru, “Kalau begitu ... selama aku mencintaimu, siapa yang sedang mencintaiku?”Eira menjawab dari dalam cermin, “Aku.”Rhys menundukkan kepala. “Sejak kapan...?” Suaranya
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,







