LOGINVelian berjalan menuju rumah, matanya tetap tertuju pada sampul buku di tangannya. Terlihat usang, tapi tidak rapuh. Jika buku ini tersimpan di perpustakaan Akademi Marindor, siapa pun yang menemukannya mungkin akan menganggapnya tak layak dibaca—lebih pantas dikembalikan ke petugas untuk didaur ulang atau diganti dengan edisi baru. Namun, Dylen menemukannya secara kebetulan … atau memang bukan kebetulan, mengingat posisinya sebagai pengelola.
Velian menahan diri untuk tidak terlalu cepatTidak terlintas sedikit pun di benak Velian bahwa hari ini ia harus berpisah dengan Rhys di Istana Morwenia. Saat berdampingan di hadapan Raja Aethelred dan Ratu Isolde, membungkuk dengan penuh hormat, Velian tetap menggenggam tangan Rhys. Rhys sendiri tak mempermasalahkan hal itu.“Selamat datang, Tuan Rhys Vance dan Putri Eira Shawn, di Istana kami,” sapa Ratu Isolde, senyum hangatnya menenangkan namun tetap menegaskan wibawa.Raja Aethelred tertawa pelan, suaranya terdengar gagah dan maskulin. “Dua bangsawan yang klan-nya menjadi sejarah turun-temurun Morwenia. Sudah lama kami tidak melihat kalian datang bersama. Bagaimana kabar kalian berdua?”Velian sibuk menatap interior Istana, matanya berbinar kagum, sementara Rhys tetap tenang dan formal. “Kami selalu baik, Baginda. Terima kasih atas sambutan yang hangat dan penuh perhatian,” jawab Rhys, suaranya tenang tapi penuh hormat.Ratu Isolde mengangguk perlahan, menoleh ke Raja. “Tuan Rhys ke Istana pasti bukan urusan kecil. Apakah k
Velian kembali berdiri di ruang yang tak pernah benar-benar ia pahami. Sunyi, pucat, seperti batas tipis antara mimpi dan kesadaran. Udara di sana tidak bergerak, waktu seakan membeku. Namun satu hal selalu pasti: ia tidak pernah sendirian.Di hadapannya berdiri Eira Shawn.Pemilik tubuh yang kini ia tinggali.Hampir setiap malam ruang itu membuka diri bagi mereka, seolah takdir sengaja memberi celah agar dua jiwa dalam satu raga dapat saling menatap tanpa topeng. Tidak selalu dengan amarah. Tidak selalu dengan penolakan. Kadang hanya tatapan panjang yang sarat tanya—tentang hari yang telah berlalu, tentang Rhys, tentang Istana, tentang bisik-bisik yang belum padam.Tentang perasaan yang mulai berubah bentuk.Ada malam-malam ketika Velian merasa Eira hanyalah pantulan ketakutannya sendiri.Namun ada malam lain ketika Eira menatapnya terlalu hidup, terlalu sadar untuk sekadar disebut bayangan.“Kau seharusnya bersikap seperti aku,” ujar Eira akhirnya, suaranya lembut namun tegas. “Sepe
Malam sudah lebih sunyi ketika Rhys berdiri di depan kamar Velian. Ia tidak langsung masuk. Tangannya sempat terangkat untuk mengetuk … lalu turun lagi.Akhirnya, ia mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Beberapa detik kemudian, Rhys membuka pintu perlahan dan masuk tanpa suara. Ia menutupnya kembali. Velian duduk di sisi ranjang, memeluk lututnya. Lampu kamar redup, membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.“Saya tidak datang untuk berdebat atau memarahi kamu,” ucap Rhys pelan.Velian tidak menoleh. “Kalau begitu tidak perlu datang.”Kalimat itu terasa lebih tajam daripada bentakan sebelumnya. Rhys menarik napas perlahan. “Saya ingin menjelaskan. Bukan membenarkan.”Velian terdiam.“Saya membunuhnya,” lanjut Rhys, suaranya rendah namun stabil. “Bukan karena dia melukai kamu. Tapi karena dia berani menyentuh wilayah yang menjadi tanggung jawab saya.”“Kami bukan wilayahmu,” balas Velian pelan.“Saya tahu.” Rhys mengangguk. “Kalian bukan barang. Bukan kepemilikan. Tapi keselamatan
Velian tetap duduk di kursinya di meja makan, sementara para pelayan mulai sibuk mencuci piring dan peralatan dapur yang digunakan sebelumnya. Di seberangnya, Rhys menatap Vox Device dengan serius, fokus penuh sampai dahinya berkerut.Velian ingin membuka percakapan, tapi suasana sepi dan kursi lain kosong membuatnya merasa canggung. Semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing setelah makan malam.“Kamu bilang.”Velian sedikit terkejut, menyadari Rhys memperhatikannya.Rhys menutup Vox Device di atas meja dan menatap Velian. Ia bersedia mendengarkan.Setelah menelan ludahnya, Velian akhirnya memutuskan untuk urung bertanya. Rasa penasarannya terhadap perkataan Alverine memang ada, tapi ia sadar, pertanyaan itu bisa saja mengusik Rhys.“Aku kembali ke kamar.” Velian memaksakan senyum tipis sebelum bangkit dari duduknya.Namun rupanya Rhys belum puas. Desahan beratnya terdengar jelas hingga ke telinga Velian.“Untuk bertanya atau sekadar mengucap satu kalimat saja, apa sesulit itu?
Velian duduk di paviliun, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. "Siapa yang dia maksud?" gumamnya lirih. Dalam hati ia bertanya-tanya, Kata Rhys, gue mencuri hatinya—atau Eira? Suaranya kembali terdengar pelan. "Ah, seharusnya sekalian aku tanya tadi…""Bisa diam? Aku sedang membaca buku."Velian menoleh ke samping. Leona memang sudah duduk tak jauh darinya, dan Velian ikut mengambil tempat di dekatnya untuk merenung sejenak.Leona menegur setelah melihat Velian tampak gelisah, terus bicara sendiri sejak tadi. "Kamu terus bicara sendiri, tapi lupa kalau aku ada di sini mendengar."Velian menggaruk tengkuk lehernya. "Kamu tidak mau bicara denganku, jadi aku bicara sendiri."Leona menatap ke depan, menutup buku bacaannya, dan menghela napas panjang—tanda protes sekaligus rasa penasaran. "Aku tidak tahu masalahmu karena kamu tidak cerita padaku. Kalau begitu, bagaimana aku bisa bantu memberi solusi?"Velian tercengang. Secara tersirat, Leona sebenarnya ingin mendengarkan keluhannya. Ben
Velian kembali bertemu Eira di dalam mimpi. Mereka duduk pada pilar yang sama, sama-sama menekuk lutut, namun saling membelakangi seolah dipisahkan jarak tak kasat mata.Eira tidak tampak bersemangat, juga tidak bersedih. Ia selalu menyukai kesunyian—tanpa gangguan siapa pun—namun di ruang hampa penuh kegelapan itu, kesunyian justru berubah menjadi kesepian.Tatapannya lurus ke depan, kosong.“Kau tahu … berada di sini cukup menyenangkan. Melihat kalian dari balik layar seperti menonton film, membuatku penasaran pada akhirnya.” Ia berhenti sejenak. “Tapi kurasa kau terlalu banyak mengubah alurnya.”Velian terdiam, lalu tersadar. “Gue sendiri bahkan nggak tahu hidup gue bakal ke mana.”Eira menggumam pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Setidaknya kau membuat Rhys jatuh hati padamu lebih cepat. Bukan kau yang jatuh cinta padanya seperti aku." Velian memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengannya, memaksa Eira ikut menoleh. “Pertanda baik atau buruk?” tanyanya.







