Mag-log inVelian berjalan menuju rumah, matanya tetap tertuju pada sampul buku di tangannya. Terlihat usang, tapi tidak rapuh. Jika buku ini tersimpan di perpustakaan Akademi Marindor, siapa pun yang menemukannya mungkin akan menganggapnya tak layak dibaca—lebih pantas dikembalikan ke petugas untuk didaur ulang atau diganti dengan edisi baru. Namun, Dylen menemukannya secara kebetulan … atau memang bukan kebetulan, mengingat posisinya sebagai pengelola.
Velian menahan diri untuk tidak terlalu cepatRhys mengalihkan pandangannya sejenak kepada Alverine.“Alvie, sudah jam berapa sekarang? Cepat masuk dan mandi. Bersihkan badanmu, lalu bersiap untuk makan malam.”Alverine yang masih berdiri di dekat Lucien menatap ayahnya dengan wajah berpikir. “Dame Raven belum datang menemuiku,” katanya polos. “Kalau begitu, aku mandi dengan siapa?”Pertanyaan sederhana itu membuat Rhys terdiam sejenak. Ia baru tahu bahwa Raven tidak ada di mansion dan belum kembali, sementara ia tidak ingin membiarkan putrinya menunggu terlalu lama menjelang waktu makan malam.“Dame Raven belum kembali?” Rhys mengernyit kecil. Tangan kirinya masih menggenggam tangan Velian, sementara tangan kanannya meraih Vox Device untuk menghubungi Raven.Namun sebelum menekan tombol panggilan, matanya menangkap pesan yang dikirim Raven sejak pukul dua belas siang.[Aku akan pergi spa dan berbelanja. Kemungkinan tidak bisa ikut makan malam bersama. Maaf.]Rhys menghela napas panjang. Ini kesalahannya sendiri. Kesibukan di lua
Velian akhirnya ke luar dari kamar. Langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya. Bukan karena tubuh Eira, tetapi karena pikirannya sendiri.Dari kejauhan, ia masih bisa melihat Lucien dan Alverine bermain bersama Xuu. Pemandangan itu terasa asing baginya.Lucien seharusnya hanya karakter dalam novel.Namun sekarang, ia tertawa dan berbicara seperti Arlan ketika masih hidup. Ia memiliki kebiasaan kecil yang bahkan tidak pernah Velian tulis secara detail. Karakter yang hidup...Begitu Velian mendekat, Alverine langsung menyadarinya.“Mami!” Anak kecil itu berlari menghampiri.Velian refleks tersenyum dan menangkap tangannya. “Aku sudah bilang jangan berlari terlalu cepat.”“Tapi Mami sudah turun!” jawab Alverine senang.Lucien yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum kecil. “Sepertinya kondisimu sudah lebih baik.”Velian menatapnya. Dan sekali lagi, dadanya terasa sesak.Wajah itu.Cara tersenyum itu.Namun kali ini ia tidak mundur.“Ya. Aku sudah lebih baik.”Lucien memper
Dalam beberapa jam, Velian akhirnya kembali mengambil alih tubuh Eira Shawn ketika perempuan itu tertidur lelap.Jam digital berbentuk kotak di atas meja, yang menampilkan prediksi cuaca serta suhu terkini, menunjukkan pukul empat sore.Velian segera bangkit hingga duduk. Ia mengatur napasnya perlahan, memastikan ekspresi dan pikirannya kembali terkendali sebelum keluar kamar dan berhadapan dengan orang-orang di mansion.Namun, ia tidak menyangka Lucien masih berada di sana.Dari jendela kamar, Velian melihat sosok pangeran itu berada di taman bunga mansion bersama Alverine. Mereka sedang bermain dengan Xuu, anjing kecil berbulu putih bersih milik Dame Raven.Alverine melempar sebuah piringan kecil ke arah taman, dan Xuu langsung berlari mengejarnya dengan lincah. Setelah berhasil menangkapnya, anjing kecil itu kembali membawa piringan tersebut dengan ekor yang bergoyang penuh semangat.Permainan itu kemudian bergantian dilakukan bersama Lucien.Hal yang
“Jangan.” Larangan Lucien terdengar tegas, hampir memotong gerakan Alverine.Tangan kecil yang semula hendak meraih gagang telepon antik milik Eira langsung berhenti di udara. Alverine menoleh dengan tatapan bingung.Sementara itu, Eira memperhatikan perubahan ekspresi Lucien. Wajah pria itu mendadak menjadi datar, seolah sedang menahan sesuatu. Ada ketegasan yang berbeda dalam suaranya, tetapi ia masih berusaha menjaga sikap lembut di hadapan mereka.Lucien kemudian beralih menatap Alverine. Ekspresinya kembali melunak, disertai senyum tipis. “Tidak perlu menelepon ayahmu,” ujarnya. “Sebaiknya kita pergi saja berdua dan memberikan ruang bagi Nona Eira untuk beristirahat.” Ia melangkah mendekat, lalu mengangkat Alverine turun dari kursi dengan hati-hati. “Bukankah itu lebih baik?”Alverine menatap Eira sebentar, lalu mengangguk kecil meski terlihat sedikit kecewa. “Pangeran benar,” jawabnya pelan.Eira hanya diam memperhatikan mereka. Ada sesuatu dalam cara Lucien bertindak yang membu
“Eira.”Suara Lucien akhirnya memecahkan keheningan setelah Eira terpaku lebih dari lima detik.Di sampingnya, Alverine ikut mendongak heran. Melihat Eira terus menatap Lucien tanpa berkedip, ia langsung menghentakkan kaki sekali ke tanah. “Mami Eira!” Nada suaranya terdengar kesal. Ada sedikit rasa cemburu karena untuk pertama kalinya ia melihat seseorang berhasil merebut perhatian penuh Eira.“H-huh?” Eira mengerjap beberapa kali. Kesadarannya yang sempat melayang akhirnya kembali. “Maaf,” ujarnya pelan. “Aku terkejut melihatmu datang.”Lucien hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti yang diingat Eira. “Tidak apa-apa.” Ia kembali mengulurkan tangan. “Jadi, mau menerima uluran tanganku atau tidak?” Tangannya bergerak sedikit ke depan, mengundang Eira untuk berdiri.Eira balas tersenyum, meski sangat tipis. “Ada banyak mata yang melihat di sini,” katanya hati-hati. “Kalau Rhys salah paham, itu hanya akan menambah masalah di antara kalian berdua. Aku hanya membutuhkan bantuan untuk me
“Mami, apa Mami tidak ingin punya bayi seperti Nona Leona?” “Huh?” Eira langsung tercengang. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. “Kalau peri kecil semakin banyak, rumah kita pasti jadi lebih berwarna, bukan?” Eira terdiam sesaat. Ucapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sesederhana yang dibayangkan Alverine. Ia akhirnya mengusap lembut kepala anak itu. “Luruskan pandanganmu ke depan,” ujarnya pelan. “Jangan terus menatapku atau nanti kamu menabrak tiang rumah.” “Baiklah...” gumam Alverine patuh, meski sesekali masih mencuri pandang ke arah Eira sambil tersenyum sendiri. Mereka akhirnya tiba di taman depan mansion. Namun baru berjalan sebentar, Eira mulai merasakan tubuhnya melemah. Napasnya perlahan terasa lebih berat, sementara detak jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tanpa sadar, genggaman tangannya pada Alverine sedikit mengendur sebelum akhirnya ia menarik pelan tangan anak itu untuk menghentikan lan
Pagi masih terlalu dini ketika Raven Sinclair tampak mondar-mandir gelisah di depan bangunan utama mansion. Wajahnya tegang, langkahnya tak pernah benar-benar berhenti.Tak lama kemudian, tiga pengawal datang dari arah berbeda. Raut mereka seragam—bukan panik karena kehilangan benda, melainkan ses
Velian duduk di dekat balkon. Sebelah sisi wajahnya bersandar di pembatas, wajahnya menatap ke langit malam. Hamparan bintang terlihat indah. Pergerakan awan di Morwenia lebih terlihat cepat karena tidak ada polusi yang menghalangi penglihatannya. Langit di Morwenia sangat alami dan jernih—Velian s
Ia tahu jawabannya. TANAH ITU TIDAK DIJUAL. Dan justru karena itulah kejengkelannya terasa semakin nyata.Keluarga Istana, termasuk Putra Mahkota adalah penyedia lahan dan modal terbesar. Morwenia Group sebagai pengembang utama, teknologi, manajemen, dan branding. Mereka—keluarga Istana meminta ko
“Kenapa tidak menemui Tuan Rhys?” tanya Dylen, jelas tak memahami alasan gadis itu justru berbalik dengan wajah panik.“Masih bertanya juga,” geram Velian lirih. “Aku pasti dimarahi. Sudah berlarian tak tahu adat, ditambah lagi bersama pria.”“Eira Shawn.”Suara Rhys kembali terden







