LOGINAlverine mendongak melalui kaca depan. Matanya membesar. Puluhan. Tidak—ratusan meteor memenuhi langit.Bola-bola api kekuningan itu melesat turun tanpa henti, memenuhi pandangannya hingga nyaris tidak menyisakan celah di antara satu meteor dan lainnya.Alverine tahu. Dengan jumlah sebanyak itu, cepat atau lambat mereka pasti akan terkena salah satunya. Dan kali ini, ia melihat sebuah meteor meluncur tepat ke arah mereka.“Tuan Garrick, awas!”Garrick mendongak. Meteor itu sudah terlalu dekat. Tidak ada waktu untuk menghindar.Raven spontan meraih tubuh Alverine dan memeluknya erat. Garrick mencengkeram kemudi, sementara Alverine memejamkan mata. Mereka bertiga bersiap menghadapi benturan yang tidak terhindarkan.Namun ledakan tidak pernah terjadi.Sebuah cahaya keemasan justru muncul di kejauhan. Cahaya itu bergerak seperti gelombang air, menyapu jalan raya dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti mata.Dalam sekejap, gelombang tersebut melewati ken
Saat Rhys membantu Eira berdiri, tiba-tiba terdengar dentuman keras dari luar.Suara itu mengguncang seluruh gua. Air sungai mata air yang semula tenang beriak hebat, sementara tanah di bawah kaki mereka ikut bergetar. Rhys, Eira, Lucien, dan Dylen sempat kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya kembali berpijak dengan kokoh.“Apa itu?” Eira menoleh kepada Lucien dan Dylen.Lucien tidak menjawab. Ia segera berbalik dan membuka pintu gua seperti sebelumnya.Begitu pintu terbuka, mereka dapat melihat kembali lorong taman yang menghubungkan tempat tersembunyi itu dengan area istana.Dylen menyusul ke luar dengan tergesa. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak panik. “Itu energi yang dilepaskan Alverine.”Mata Rhys langsung membesar. “Alverine?”Rhys spontan meraih lengan Eira. “Kita harus keluar. Sekarang.”Eira mengangguk dan Rhys langsung membawanya ke luar dari lorong.“Apa yang terjadi?” tanya Eira sambil mempercepat langkah.“Aku dan Pangeran akan berteleportasi lebih dulu,” jawa
Ruang kesadaran kembali sunyi.Kini hanya Eira yang berdiri di sana.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi berbagi ruang dengan jiwa lain. Dan di tempat yang sunyi itu, Eira menutup matanya.Ia tahu Velian telah pulang. Sementara dirinya sendiri akhirnya memiliki kesempatan untuk kembali.Dua lembar terakhir dalam buku itu perlahan terisi. Tidak ada lagi catatan mengenai perjalanan Velian di Morwenia. Tidak ada lagi kejadian yang belum terselesaikan. Kedua halaman tersebut menuliskan seluruh akhir perjalanan Velian—tentang bagaimana ia melepaskan tubuh Eira, mengembalikan jiwa Eira ke tempatnya, lalu kembali ke dunianya sendiri melalui jalan yang telah membawanya ke Morwenia.Tulisan terakhir muncul perlahan di halaman paling akhir.Selesai.Setelah kata itu terbentuk sempurna, tidak ada lagi tinta yang bergerak. Buku tersebut menutup dengan sendirinya.Dylen mengulurkan tangan. Buku itu melayang mendekatinya, kemudian berhenti tepat di hadapannya. Dengan gerakan se
Ruang kesadaran itu kembali sunyi. Tidak ada dinding.Tidak ada tanah dan pohon besar yang biasa menjadi tempat mereka berbagi cerita selama ini.Tidak ada langit. Hanya hamparan putih yang seolah tidak memiliki ujung.Velian berdiri di tengah-tengah, di tempat yang selama ini menjadi batas antara dirinya dan Eira. Tempat yang membuatnya bisa bertahan di antara dua dunia ketika tubuh Eira menjadi tempat persinggahannya.Namun kali ini, ia tidak sendirian. Beberapa langkah di depannya, seorang perempuan berdiri dengan rambut yang bergerak perlahan meski tidak ada angin.Eira Shawn.Untuk beberapa detik, mereka hanya saling memandang. Hanya mereka berdua. Dan untuk pertama kalinya juga, Eira melihat wajah asli Velian Ardyn beserta pakaiannya yang sangat berbeda dari Morwenia.Velian tersenyum kecil. “Akhirnya kita bisa ketemu begini.”Eira ikut tersenyum. “Padahal selama ini kita selalu ada di tempat yang sama.”“Bedanya, sekarang aku tidak sedang m
“Lalu, di mana Kristal Morwenia berada?” Velian menoleh kepada Rhys.Rhys menggeleng pelan. “Saya tidak tahu.”Velian kemudian mengalihkan pandangan kepada Lucien dan Dylen. Keduanya saling berpandangan dalam diam, seolah-olah menyimpan jawaban yang belum waktunya diberikan.“Nanti kau akan tahu sendiri,” ujar Dylen akhirnya. “Sekarang, mari kita panggil Eira agar hadir di sini juga.”Velian mengernyit. Bagaimana caranya jika tidak ada cermin?Dylen tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangan. Seketika, sebuah buku muncul di atas telapak tangannya. Buku yang selama ini menuliskan kisah perjalanan Velian di Morwenia.Rhys dan Velian sama-sama memperhatikan benda itu dengan kebingungan. Buku itu perlahan terangkat dari telapak tangan Dylen, kemudian melayang menuju tengah mata air. Begitu berada di atas permukaan air, buku tersebut berhenti dan mengambang tanpa tenggelam sedikit pun.Lalu, sesuatu bergerak dari dasar mata air. Sebuah titik cahaya biru m
“Setelah masuk, kalian tidak bisa keluar sebelum menyelesaikannya.” Lucien kemudian menatapnya lurus. “Aku tanya padamu, Rhys. Kau tetap ingin masuk bersama kami, atau kembali pulang menemui keluargamu di rumah?”Rhys memicingkan mata. Kalimat itu membuat Rhys semakin waspada. Ada sesuatu di balik pertanyaan itu. Cara Lucien mengatakannya seolah-olah ia sedang memberinya kesempatan untuk memilih, tetapi sekaligus memperingatkan bahwa jika sesuatu terjadi selama mereka berada di dalam sana, Rhys mungkin akan menyesal karena memilih untuk ikut.Rhys tidak langsung menjawab. Ia menoleh kepada Velian yang berdiri di sampingnya.“Saya harus mengantar Velian kembali dan pulang bersama Eira.”Tatapannya kembali kepada Lucien. “Mereka juga merupakan bagian dari keluarga saya.”Velian sebenarnya tidak keberatan jika Rhys memilih pulang dan menemui keluarganya di mansion. Ia bahkan merasa itu pilihan yang paling masuk akal. Namun, mendengar Rhys tetap ingin mengantarnya pulang, senyum kecil ta
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping







