MasukUrusan di istana selesai. Rhys dan Velian berpamitan dengan raja dan ratu, lalu melangkah menuju agenda masing-masing. Velian akan beristirahat, sementara Rhys hendak berburu bersama Garrick.
"Langsung?" Velian spontan bertanya, langkah mereka berhenti kompak di depan pintu rumah.Rhys menatapnya tenang, tapi matanya menaruh rasa ingin tahu. "Ya. Ada apa?""Kamu tidak lelah seharian di istana?"Rhys mengangkat alis, setengah tersenyum. "Kamu … peduli dengan saya?"Velian mCara Rhys memandang Eira.Cara pria itu selalu mencarinya di tengah keramaian. Cara suaranya berubah ketika berbicara kepada Eira. Cara ia melindungi, mengkhawatirkan, bahkan kehilangan ketenangannya ketika Eira terluka.Raven tidak perlu bertanya kepada Rhys untuk mengetahui jawabannya.Hati pria itu memang tidak pernah berada di tempat lain.Hatinya hanya untuk Eira.Dan untuk pertama kalinya, Raven tidak merasa marah karena menyadarinya.Ia justru merasa lega.Sebab selama ini, tanpa sadar, ia masih hidup dengan kemungkinan bahwa mungkin suatu hari Rhys akan melihatnya sebagai seorang perempuan, bukan sekadar ibu bagi Alverine atau istri yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan keluarga.Kini Raven tahu bahwa kemungkinan itu tidak pernah ada.Ia tidak ingin merebut tempat Eira.Tidak ingin menunggu seseorang yang hatinya sudah memilih perempuan lain.Dan yang paling penting, ia tidak ingin Alverine kelak tumbuh dengan pemahaman bahwa cinta berarti bertahan di tempat yang tidak lagi
“Alverine. Kau sudah tahu bahwa ibu kandungmu telah tiada setelah melahirkanmu, dan Dame datang atas perintah Raja Aethelred IV serta Ratu Isolde VI untuk menyusuimu.”Raven berhenti sejenak, memastikan Alverine masih menyimak setiap perkataannya.“Oleh karena itu, Dame kemudian diangkat menjadi istri Papa Rhys. Sebelumnya, Dame hanyalah seorang bangsawan biasa yang hidup sederhana di wilayah timur Morwenia. Mereka memanggil Dame ke istana dan mempercayakan satu hal kepadaku—menjadi ibu sambungmu.”Alverine masih diam. Tatapannya tidak beralih dari wajah Raven.“Ketika pertama kali melihatmu, kau begitu mungil, lucu, dan sangat cantik.” Senyum tipis terukir di wajah Raven saat mengingatnya. “Kulitmu sama seperti Papa Rhys. Sementara warna iris matamu yang biru indah sama persis dengan ibumu.”Tangannya perlahan meraih tangan kecil Alverine.“Dame menerimamu tanpa berpikir panjang. Sejak saat itu, Dame melihatmu tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Dari seorang bayi kecil yang ha
Rhys mengangkat dagu Eira dengan lembut. Tatapan mereka bertemu, penuh cinta yang selama ini sempat tertutup oleh kesalahpahaman—seperti bunga peony yang kembali bermekaran setelah lama menunggu musimnya. “Malam ini saya tidur bersamamu, ya?” Eira terdiam sesaat. Tatapannya masih terpaku pada mata Rhys. Satu tangan Rhys terangkat, menyelipkan rambut Eira yang jatuh di sisi wajahnya ke belakang telinga. Wajahnya bergerak perlahan mendekat, sementara tatapannya sempat jatuh pada bibir Eira sebelum kembali menatap kedua mata wanita itu. Eira tanpa sadar memejamkan mata. Jarak di antara mereka menghilang. Bibir Rhys menyentuh bibirnya dalam kecupan lembut yang perlahan menjadi lebih dalam. Kedua tangan Eira ikut bergerak, melingkar di leher Rhys seolah tubuhnya tahu apa yang harus dilakukan bahkan sebelum pikirannya sempat menyadarinya. Rhys kemudian mengecup pipi kanannya, lalu pipi kirinya, keningnya, sebelum kembali menemukan bibir Eira. Setiap kecupan terasa seperti cara merek
Eira duduk bersama Rhys di tepi kasur.Suasana yang sejak awal terasa berjarak dan dingin kini tidak lagi begitu kentara. Meski begitu, keduanya masih duduk berdampingan dalam diam, sama-sama kebingungan harus memulai percakapan dari mana.Wajah mereka masih sembab. Setidaknya, masalah yang selama ini membebani hati akhirnya terselesaikan lebih cepat dari yang mereka bayangkan.“Setelah malam ini berakhir, apakah tidak masalah jika Velian yang kembali?” tanya Eira.“Ada apa memangnya?” Rhys menoleh.“Velian harus mengambil salah satu pusaka Morwenia di istana agar bisa kembali ke dunianya.” Eira sendiri masih belum memahami bagaimana mekanismenya. “Namun, begitulah yang Lucien katakan.”Rhys menyimak penjelasannya sebelum akhirnya bertanya, “Lucien? Putra Mahkota?”“Ya.”Baru sekarang Rhys mengetahui bahwa Pangeran Lucien ternyata telah mengetahui rahasia mereka selama ini.Tatapannya beralih kepada Eira dengan ekspresi tak percaya. Rupanya, orang yang seharusnya paling dekat denganny
“Aku takut kehilanganmu bahkan setelah aku mati.”Rhys membawa Eira ke rumah ini bukan semata-mata untuk memenuhi janjinya kepada Maren Shawn.Ia membawanya kemari karena berharap Eira tidak lagi merasa sendirian. Ia ingin memberinya tempat untuk memulai kembali, membangun kebahagiaan dari hal-hal kecil yang bisa mereka bagi bersama.Namun, seiring waktu berjalan, Rhys justru tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati Eira.Wanita itu begitu tertutup. Ia jarang berbicara lebih lama dengannya, seolah selalu ada jarak yang tidak boleh ia lewati.Rhys mengira Eira hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. 'Mungkin ia masih berduka'. Mungkin suatu hari nanti, ketika luka di hatinya perlahan melebur bersama waktu, Eira akan kembali menjadi dirinya yang ceria.Namun, bukan duka yang melebur. Melainkan hubungan mereka yang perlahan kehilangan kehangatan.Tanpa disadari, keduanya membangun benteng masing-masing.Rhys takut jika terlalu memaksakan diri untuk mendekati Eira, wani
Setelah kembali ke tubuhnya, Eira segera mencari Rhys.Namun, kamar pria itu kosong.Ia mengetuk pintu kamar Alverine, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Kosong juga.Eira menutup pintu dan kembali melangkah. Langkahnya terburu-buru, pikirannya terlalu penuh untuk menentukan ke mana harus pergi. Ia bahkan tidak tahu harus mencari Rhys di mana.Di tengah lorong, ia berpapasan dengan Leona. Namun, Eira sama sekali tidak sempat menoleh ataupun menyapanya.Leona langsung memahami siapa yang sedang dicari Eira. Meski Eira telah melewatinya beberapa langkah, ia tetap memanggil dengan suara yang cukup keras.“Kau mencari Rhys?”Eira berhenti seketika dan berbalik. “Kau melihatnya?”“Dia baru saja pergi ke halaman belakang.” Leona menunjuk ke arah lorong di sebelahnya. “Mungkin ke kubah kaca paviliun.”“Terima kasih.”Eira langsung berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali berhenti.Seharusnya ia tetap berjalan lurus.Eira menoleh ke belakang, kemudian
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,







