بيت / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 69: Sup yang Menghangatkan Hati

مشاركة

Chapter 69: Sup yang Menghangatkan Hati

مؤلف: KIKHAN
last update تاريخ النشر: 2026-03-09 18:00:00

Urusan di istana selesai. Rhys dan Velian berpamitan dengan raja dan ratu, lalu melangkah menuju agenda masing-masing. Velian akan beristirahat, sementara Rhys hendak berburu bersama Garrick.

"Langsung?" Velian spontan bertanya, langkah mereka berhenti kompak di depan pintu rumah.

Rhys menatapnya tenang, tapi matanya menaruh rasa ingin tahu. "Ya. Ada apa?"

"Kamu tidak lelah seharian di istana?"

Rhys mengangkat alis, setengah tersenyum. "Kamu … peduli dengan saya?"

Velian m
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 153: Menuju Ruang Pusaka

    “Saya dan Eira masih memiliki urusan dengan Pangeran Lucien...” Rhys memulai, tetapi kalimatnya menggantung. Sebenarnya, ia ingin meminta Raven menunggunya di mobil dan menemani Alverine. Namun, setelah melihat Raven di hadapan mereka, ia merasa tidak enak hati mengatakannya. Raven rupanya memahami maksud Rhys tanpa perlu dijelaskan. “Tidak masalah, Rhys. Aku akan pulang dulu jika Alverine tetap ingin menunggu kalian. Aku juga harus berkemas. Rhys mengangguk kecil. “Tidak perlu terburu-buru. Pintu rumah saya selalu terbuka untukmu, Raven.” “Baiklah. Selesaikan urusan kalian.” Raven kembali melangkah menuju halaman, meninggalkan Rhys dan Velian di depan pintu istana. Melihat Raven yang tampak lebih tenang membuat Velian merasa lega. Entah mengapa, ia tiba-tiba berpikir bahwa mungkin dirinya dulu tidak seharusnya menulis Raven sebagai sosok yang begitu berempati hingga rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri selama lebih dari lima tahun."Dame Raven." Langkah Raven terhenti.

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 152: Resmi Bercerai

    Mereka kemudian memanggil Rhys, Raven, dan Velian kembali dari ruang audiensi.Ketiganya kembali ke aula dan berdiri di hadapan keluarga kerajaan. Kali ini, tidak ada lagi perdebatan mengenai permohonan Raven.Raja Aethelred dan Ratu Isolde telah mengesahkan perceraian antara Rhys dan Raven, dengan Pangeran Lucien sebagai saksi.Selembar dokumen pengesahan diserahkan kepada Rhys dan Raven. Raven menerimanya dengan kedua tangan, sementara Rhys berdiri di sampingnya dalam diam.“Mulai hari ini, kalian tidak lagi terikat sebagai suami dan istri,” ujar Raja Aethelred. “Namun, ada satu hal yang tidak berubah. Kalian tetap orang tua Alverine.”Tatapannya beralih kepada keduanya. “Karena itu, jangan biarkan perceraian ini membuat Alverine merasa kehilangan salah satu dari kalian. Tetaplah hadir dalam hidupnya. Berikan kasih sayang dan perhatian yang selama ini kalian berikan kepadanya.”Rhys mengangguk mantap. “Saya mengerti, Yang Mulia.”Raven pun menundukkan kepala. “Saya akan tetap menjad

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 151: Titik Tengah

    Setelah meminta waktu untuk berdiskusi, Rhys, Raven, dan Velian dipersilakan menunggu di ruang audiensi. Sementara itu, Raja, Ratu, dan Pangeran Lucien tetap berada di aula untuk mengadakan pembicaraan tertutup.“Sejujurnya, mengapa Raven tiba-tiba mengajukan permohonan perceraian dari Rhys?” Ratu Isolde membuka pembicaraan. Ia sempat berpikir untuk langsung menolak permohonan itu. Namun, jika keputusan diambil sepihak, tentu tidak akan ada mufakat di antara mereka.Raja Aethelred belum menjawab. Berbagai kemungkinan terlintas di benaknya. Mungkin Raven telah mengalami kelelahan emosional, merindukan kampung halamannya, menginginkan kebebasan, atau justru merasa bahwa perasaannya terhadap Rhys sudah tidak tersisa.Pangeran Lucien akhirnya angkat bicara.“Sejak awal, Dame Raven menikah dengan Rhys untuk menjadi ibu sambung Alverine. Benar begitu?”“Tidak hanya itu, Pangeran,” sahut Ratu Isolde. “Kami juga berharap mereka dapat membangun rumah tangga yang dipenuhi kebaikan dan ketenanga

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 150: Pertimbangan Serius

    Anggota keluarga yang hendak menuju istana menaiki sebuah mobil van hitam berukuran besar. Bagian dalamnya terasa mewah sekaligus nyaman, dengan deretan kursi kulit berwarna terang yang empuk, ruang kaki yang luas, serta meja kecil di antara kursi yang dilengkapi tempat minum. Jendela-jendela besar di kedua sisi memungkinkan cahaya pagi masuk dan memperlihatkan pemandangan di luar sepanjang perjalanan.Alverine dan Rhys duduk berhadapan dengan Velian dan Raven.Suasana hati Alverine tampak jauh lebih redup dibandingkan saat mereka meninggalkan mansion. Gadis kecil itu bersandar sepenuhnya pada sandaran kursinya. Matanya setengah terpejam, sementara kedua tangannya masih memegang botol susu yang talinya menggantung di lehernya. Sesekali ia menyesap susu tanpa benar-benar membuka mata.Raven yang duduk di sampingnya segera menyadari perubahan tersebut. Memang sudah waktunya Alverine tidur siang. Terlebih sebelum berangkat, Velian sempat bercerita bahwa Alverine berlatih dengan sangat fo

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 149: Harapan Sederhana Leona

    “Apa yang mau kau katakan?” balas Velian, terdengar tidak suka dengan arah pembicaraan itu.“Tadi aku juga mengajukan perceraian kepada Rhys. Tapi dia tidak setuju karena anak ini belum lahir.”Velian terdiam sejenak.Ia tidak tahu bahwa Leona juga ingin berpisah dari Rhys. Meski begitu, kabar tersebut tidak terlalu mengejutkannya. Bahkan sebelum alur cerita berubah, ia sudah mengetahui bahwa Rhys bertahan dalam hubungan itu terutama karena anak yang dikandung Leona, bukan karena perasaan terhadap wanita itu.Hanya saja, sikap Rhys memang membingungkan.Perhatian yang ia berikan, cara ia memperlakukan Leona, serta keputusan-keputusannya yang seolah selalu mempertimbangkan keadaan wanita itu membuat Leona perlahan terbuai. Mungkin, tanpa disadari, Leona mulai menganggap perhatian tersebut sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab.Padahal, sejak awal, hati Rhys tidak pernah benar-benar berada di sana.“Semua orang di sini tahu bahwa cinta Rhys hanya untukmu dan Alverine, E

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 148: Terlihat Tenang, Tapi Sebenarnya Tidak

    Garrick berhenti di depan ruang makan, sementara Velian dan Alverine terus melangkah masuk.“Selamat pagi semuanya!”Sapaan Alverine yang penuh semangat segera memenuhi ruangan.Velian ikut tersenyum kepada seluruh anggota keluarga yang sudah duduk menunggu. Rhys, Raven, dan Leona membalas senyumnya.Namun, Velian bisa langsung merasakan ada yang berbeda.Senyum mereka bukan senyum seperti biasanya. Lebih menyerupai senyum berat yang dipaksakan tetap hadir demi menjaga suasana di depan Alverine.Mereka kemudian menyantap sarapan dalam suasana yang relatif tenang. Tidak banyak percakapan yang terdengar. Alverine pun makan dengan tenang seperti biasanya.Begitu selesai, ia segera menatap Rhys.“Papa, aku mau ke taman belakang. Berlatih pernapasan lagi.”“Baik. Kalau lelah, jangan dipaksakan.”“Iya, Papa.”Alverine kemudian melirik Velian yang sedang meneguk segelas jus jeruk Morwenia—minuman berwarna jingga dengan rasa asam-manis yang menyegarkan.“Aku ke sana bersama Mami Eira, boleh t

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 2: Masuk ke Tubuh Selir Ketiga

    “Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 1: Kerajaan Morwenia

    Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

    “Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

    Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status