Accueil / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 4 : Eira yang Lain

Share

Chapter 4 : Eira yang Lain

Auteur: KIKHAN
last update Dernière mise à jour: 2025-10-15 21:07:09

Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.

Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia aslinya.

“Dari kamar Eira hingga gedung utama, jaraknya hampir tiga ratus meter. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menangkapnya?” Suara Rhys datar namun mengandung tekanan. Matanya tajam menusuk Garrick.

Velian terbelalak. Tatapannya langsung tertuju pada tangan Rhys yang menyentuh sarung pedang, seolah siap mencabut senjata mematikan itu kapan saja. Ia merentangkan kedua tangannya dengan panik di depan Rhys. “Tunggu, tunggu! Kamu salah paham!”

Garrick kian heran. Benar ucapan Leona tentang Eira yang berteriak. Ini pertama kalinya ia mendengar gadis itu meninggikan suara.

Velian justru tertawa kecil, meski jelas-jelas suasana mencekam. “Jangan limpahkan hukuman pada Garrick...” ucapnya lirih, lalu memberanikan diri mendekat, jemarinya menyentuh tangan Rhys yang masih menekan sarung pedang.

Melihat itu, Garrick langsung bersimpuh, menunduk dalam-dalam. “Ampun, Tuan. Ini kelalaian saya. Saya gagal menjaga Nona Eira agar tetap berada di kamar, hingga bisa berlari sejauh ini.”

Velian tertegun, hatinya mulai diliputi rasa bersalah. Ia melirik Garrick yang memohon ampun, lalu kembali menggoyangkan tangan Rhys, membujuk pria itu mengurungkan niatnya.

“Saya hanya mengizinkanmu beraktivitas ringan, bukan kabur dari kamar, apalagi berlari.” Tatapan Rhys dingin dan sinis pada Velian, seakan perintahnya hanyalah mainan di telinga gadis itu.

Di teras, Alverine menarik tangan Raven dengan panik. “Dame Raven, lakukan sesuatu! Jangan biarkan Papa marah pada Nona Eira.”

Leona tersenyum sinisme. “Tak ada yang bisa meredam amarahnya. Salah Eira sendiri karena tidak patuh.”

Alverine spontan menoleh. “Aku tidak bicara padamu, Nona Singa. Jadi diamlah.”

Leona mendelik tajam. “Apa katamu, bocah?!”

Raven buru-buru menengahi mereka, meski dadanya sendiri bergemuruh cemas. “Kalian berdua, cukup sudah...” Tapi matanya tak lepas dari Rhys. Ia tahu, jika bukan Eira yang kena hukuman, maka Garricklah yang jadi korban.

Rhys perlahan menurunkan tangannya dari sarung pedang. Ia menatap lurus pada Eira. “Jantungmu tidak berdebar berlari sejauh itu?”

Velian tercekat. “Ti-tidak...” jawabnya gugup.

Rhys memandang Eira dan Garrick. Ada banyak alasan yang menahannya untuk mencabut pedang: Eira masih berharga, dan Garrick terlalu setia untuk dikorbankan dengan mudah. Ia akhirnya menarik napas panjang, menekan amarahnya.

“Masuk. Bergabunglah bersama kami.”

Velian buru-buru memberi isyarat halus agar Garrick bangun dari sikap bersimpuh. Kejutan berikutnya membuat Velian membeku. Tanpa berkata apa-apa, Rhys melepas mantel merah gelapnya, lalu menyampirkannya di punggung Velian.

“Kamu bisa mati kedinginan.” Hanya itu kata-katanya, sebelum pria itu melangkah pergi lebih dulu ke dalam gedung.

Velian membeku tempat, pipinya memanas memerah. Selir-selir lain yang menyaksikan jelas terkejut, tapi bagi Velian, yang lebih membingungkan adalah kenyataan bahwa pria kejam itu baru saja menahan amarahnya—dan malah memberi perhatian di depan semua orang.

Velian merapikan mantel di tubuhnya sebelum mengikuti langkah Rhys dari belakang. Saat melewati kedua selir lain, Alverine tiba-tiba berlari mendekat dan menggandeng tangannya erat. Velian sedikit terkejut, namun lekas tersenyum hangat pada bocah mungil yang ceria itu.

“Nona berhasil membuat Papa tenang. Ajarilah aku caranya!” seru Alverine penuh rasa penasaran.

Raven Sinclair menyentuh lembut bahu Eira. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya penuh perhatian.

Velian mengangguk pelan. “Terima kasih sudah khawatir.” Kalimat yang biasanya ke luar dari mulut Eira sendiri kini ia lontarkan untuk menenangkan Raven.

“Syukurlah,” balas Raven dengan senyum tipis, melangkah di sisinya.

Sementara itu, Leona yang berjalan di belakang mereka mendecih sinis. “Kalau pingsan lagi, jangan harap aku menolong.”

Mereka kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda, kali ini dengan suasana jauh lebih tenang. Alverine yang manja tiba-tiba meminta disuapi langsung oleh Rhys. Velian hanya bisa terdiam menyaksikan interaksi keluarga itu; hatinya bimbang, antara ikut bahagia atau justru getir. Ia senang melihat sisi hangat Rhys terhadap Alverine, namun tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa sikap pria itu terhadap selir-selirnya penuh perbedaan, seolah pilih kasih.

Sebagaimana yang ia ketahui, Raven dijadikan selir bukan karena cinta, melainkan pilihan Ratu Isolde VI agar Alverine mendapat pengasuhan yang layak. Leona berada di sini sebab sedang mengandung anak Rhys—meski awalnya sempat terjadi pertengkaran karena Rhys sendiri meragukan kandungan itu. Ia bahkan berniat menunggu hingga waktunya tiba untuk memastikan, apakah benar darah dagingnya atau sekadar tipu daya.

Sementara Eira, posisinya berbeda. Ia hanyalah selir karena wasiat antara ayahnya dan ayah Rhys di masa lampau. Bukannya menjadi istri, Eira lebih mirip tahanan yang menumpang hidup sambil menanti ajal menjemput.

“Gue bisa ubah nasib Eira nggak ya…?” Velian mendadak murung, padahal ia baru sehari menjejakkan kaki di Morwenia.

Usai makan malam, Raven membawa Alverine lebih dulu, menemaninya belajar membaca, menulis, dan etika dasar bangsawan. Leona juga segera bangkit, berpamitan singkat pada Rhys.

Tinggallah Velian sendiri bersama pria itu—pria sibuk yang jarang beristirahat, apalagi memedulikan selir-selirnya. Ia pun bersiap kembali ke kamarnya setelah hari yang panjang.

Namun, begitu berdiri, Velian baru tersadar. Mantel milik Rhys masih membungkus tubuhnya.

“Oh iya … mantelnya,” gumamnya, bingung harus bagaimana.

Rhys yang sedari tadi memperhatikan langsung menjawab tenang, “Pakai saja. Nanti saya ambil sendiri di kamarmu.”

Velian spontan melotot. “Ke … ke kamarku?”

Rhys mengangguk ringan. “Ya. Ada apa dengan itu?”

Velian buru-buru beralasan, “Aku selalu mengunci pintu kamar sebelum tidur.” Memangnya Eira nggak begitu? batinnya.

“Saya juga punya kuncinya,” balas Rhys santai.

“Maksudku, kunci geser dari dalam,” Velian menegaskan, nyaris berdebat.

Rhys menatapnya datar. “Jangan gunakan kunci itu kecuali dalam keadaan darurat, misalnya ada penyusup.”

Velian spontan menyahut, “Bukankah kalau kamu masuk ke kamarku, itu sama saja dengan penyusup?”

Ucapan itu membuat Rhys tersenyum miring. Ia tak menyangka bisa disebut begitu.

“Lebih baik aku kembalikan sekarang saja,” ujar Velian, nekat melepas mantel sambil mendekati Rhys.

Namun Rhys tiba-tiba berdiri, sosoknya menjulang hingga membuat Velian menengadah. “Di luar ada banyak penjaga. Mereka bisa melihat lekuk tubuhmu tanpa mantel itu. Dan pakaian yang kau kenakan malam ini…” Rhys menilai sekilas, “tidak sesuai denganmu, terlalu terbuka.”

Velian menunduk, menatap pakaiannya sendiri. Menurutnya tak ada yang salah.

Rhys menambahkan dingin, “Apa kamu ingin bersaing dengan Leona?”

Velian mengerutkan dahi. “Untuk apa aku bersaing dengan Leona?” gumamnya malas.

“Untuk menentukan tubuh siapa yang lebih menarik,” balas Rhys.

Velian sontak merinding. “Gila…” sumpahnya dalam hati. Raut wajahnya berubah tegang, seperti anak kecil yang takut diculik oleh orang asing.

“Sudah aku kembalikan, ya. Jangan ke kamar—awas saja.” Nada Velian terdengar ringan, tapi jelas ada ancaman terselubung di baliknya. Ia segera berbalik, melangkah cepat meninggalkan ruang makan hingga suara heels-nya menggema dan perlahan memudar di koridor.

Rhys tak bergeming di tempat, matanya mengikuti punggung gadis itu sampai benar-benar menghilang. Ada sesuatu yang terasa janggal.

Eira Shawn tak pernah berbicara seperti itu sebelumnya.

Biasanya, Eira hanya diam seharian, bahkan menjawab pertanyaan pun sekadarnya. Kadang, sebelum Rhys menyelesaikan kalimatnya, Eira sudah pergi lebih dulu.

Namun malam ini, nada bicaranya berbeda. Tatapan matanya pun bukan milik perempuan yang pasrah menunggu ajal.

Rhys memejamkan mata sejenak. “Mengapa dia tiba-tiba berubah...?” bisiknya pelan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 49: Pelukan di Tengah Kekacauan

    Velian bahkan bermimpi Rhys masih menodongkan pedang ke arah Dylen. Ia terbangun mendadak dari pingsannya, dalam posisi duduk, dengan napas tersengal dan kebingungan melihat begitu banyak orang di sekelilingnya. Di sisi kanan berdiri Tabib, Rhys, dan Alverine. Di sisi kiri—Raven, Leona, dan Garrick. Kecuali Leona, mereka semua berdiri diam, menunggu Velian benar-benar sadar. Pandangan Velian langsung mencari Rhys. Begitu mata mereka bertemu, matanya berkaca-kaca. “Kamu salah paham…” lirihnya, suaranya nyaris pecah oleh penyesalan. Rhys tidak bergerak. Alverine menatap mereka tanpa ekspresi apa pun. Raven menghela napas pendek, lalu memberi isyarat agar semua orang ke luar, menyisakan hanya Rhys dan Velian. Leona menggeleng pelan sebelum pergi, heran—tak habis pikir mengapa yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah menangis. Alverine sempat ingin bertahan, namun Raven menariknya keluar tanpa memberi kesempat

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 48: Tanggung Jawab Itu Milikku

    Garrick cemas membiarkan Eira pergi sendirian. Gadis itu tampak tergesa-gesa, seolah membutuhkan sesuatu. Baru sepuluh menit berlalu, Garrick memutuskan keluar dari mobil dan hendak masuk ke Akademi Pengetahuan.Namun, sebelum ia mencapai gapura, sebuah mobil hitam mengkilap melaju kencang melewatinya dan berhenti tepat di depan pintu masuk."Rhys?"Kacau. Rahang Rhys mengeras, raut wajahnya penuh amarah. Garrick segera menyusul, langkahnya tergesa-gesa. Kehadiran Rhys membuat semua orang berhenti sejenak, penasaran dengan kekacauan yang akan terjadi."Selamat datang, Tuan Rhys," ucap penjaga sambil membungkuk hormat, tapi Rhys tak menghiraukan. Fokusnya hanya satu: perpustakaan. Ia datang untuk membawa pulang istrinya.Dari jendela perpustakaan, Rhys melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Dylen menyentuh wajah Eira—wajah istrinya.Tanpa pikir panjang, Rhys menghunus pedangnya dan melangkah masuk, hatinya terbakar api amarah.Velian membelala

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 47: Dylen Hendak Mencium Velian

    Pikiran Velian seketika kosong.Sebagai penulis, ia baru menyadari satu hal yang mengusik—ternyata ada begitu banyak rahasia yang bahkan tak ia ketahui dari novel yang ia ciptakan sendiri. Termasuk isi hati para tokoh di dalamnya.Setahunya, Eira tak pernah mengatakan hal itu pada Garrick. Tidak pernah, setidaknya di dalam naskah. Bahkan, jika mengikuti alur cerita yang ia tulis, adegan Eira jatuh cinta pada Rhys masih terletak beberapa halaman ke depan—belum seharusnya terjadi sekarang.Lalu mengapa Garrick bisa berkata demikian?Velian menelan ludah.Jangan-jangan…“Jadi maksudnya,” gumamnya dalam hati, “Eira sudah jatuh cinta pada Rhys sejak lama?”Dan untuk pertama kalinya, Velian merasa takut pada ceritanya sendiri—cerita yang mulai berjalan tanpa menunggunya menulis akhir.Velian tak bisa menunggu lebih lama. Ia harus melihat buku yang Dylen maksud—sekarang juga.“Antarkan aku ke Akademi Pengetahuan Marindor. Sekarang,” perintahnya singkat,

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 46: Satu-satunya Untukku

    “Baru kali ini aku merasa tersinggung,” kata Dylen, nada suaranya setengah serius, setengah bercanda.Velian mengerutkan dahi. “Kapan aku menyinggungmu?”Dylen menoleh, menatap Velian sebentar, lalu menarik napas pelan. “Aku datang bersamamu, Rhys juga ada di sini … tapi kau hanya melihatnya. Itu membuatku tersinggung.”Velian menatap Dylen, sedikit terkejut.Dylen hanya menggeleng, bibirnya tersungging. Ada rasa geli yang samar di balik tatapan seriusnya.*“Kalian membicarakan apa tadi?” tanya Rhys. Alverine terlelap di dalam gendongannya, napas kecilnya teratur, kelelahan setelah bermain.Velian tak segera menjawab. Pikirannya masih tersangkut pada ucapan Dylen—tentang buku yang mirip dengan novel yang ia tulis sendiri. Tentang cerita yang seharusnya hanya ada di tangannya, namun kini seolah hidup… di Morwenia.Di sini.“Rhys,” ucap Velian akhirnya, suaranya pelan, “apa kamu percaya … kalau selain dunia ini, ada dunia lain tempat manusia tingga

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 45: Cerita Mulai Berjalan Sendiri

    Velian dan Alverine serempak mendongak ketika langit di atas mereka tiba-tiba terang.“Apakah…” Velian tersenyum lebar, tanpa beban. Saat kunang-kunang itu turun perlahan mendekatinya, dadanya terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia melihat kunang-kunang dari jarak sedekat ini—bukan sekadar cahaya, melainkan makhluk kecil yang hidup dan berkilau.Sementara itu, Alverine tak perlu ditanya. Putri kecil Rhys itu berlarian riang, mengejar cahaya-cahaya kecil yang beterbangan di sekelilingnya. Tawa dan senyumnya tak pernah lepas, seolah dunia malam ini hanya milik mereka bertiga.Velian mengangkat kedua telapak tangannya. Seekor kunang-kunang hinggap di sana, tenang, bercahaya lembut.“Rhys melakukan ini?” Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih—melainkan haru yang tak tertahan.“Itu aku.”Suara yang tak asing membuat Velian menoleh ke kiri—ke arah Rhys tadi menghilang. Kini ia kembali, berdiri di sisi Dylen.Velian segera menghampiri Rhys, wajahnya berseri-

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 44: Rhys, Velian, dan Alverine Pergi ke Suatu Tempat

    “Tidak…” Velian memalingkan wajahnya perlahan. Rasa malu merambat sampai ke ujung telinga.Rhys makin yakin. “Benar-benar tidak?”Alverine menangkup pipi Rhys dengan kedua tangannya, penuh rasa ingin tahu. “Apa itu menstruasi, Papa?”Rhys tersenyum kecil. “Nanti, kalau Alvie sudah besar, kamu akan mengerti sendiri, Putriku.”Ia kembali menatap Velian, sorot matanya lembut—berbeda dari sebelumnya. “Saya tahu apa yang kamu inginkan.”Velian melirik sekilas, masih bersikap defensif.“Alih-alih merajuk karena tidak ikut ke Istana,” lanjut Rhys, kali ini nadanya terdengar lebih hidup, “saya ingin mengajakmu ke suatu tempat.”Velian terdiam sejenak. Tanpa ia sadari, kekesalan di dadanya mereda perlahan.“Ke mana?” tanyanya, nyaris tanpa nada ketus.“Aku tidak diajak?” suara Alverine terdengar sendu.“Kita bertiga,” jawab Rhys tanpa ragu.Velian terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Ya sudah… aku mau.” Nadanya masih malu-malu. Setidaknya, ini

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status