INICIAR SESIÓNPagi yang cerah menyiram kompleks Bangsal Kencana dengan pendar cahaya keemasan. Di dalam ruang kerja pribadinya, Sultan Panji Adiwangsa telah duduk tegap di belakang meja kayu jati berukir. Meski sisa-sisa demam semalam masih meninggalkan jejak pucat tipis di wajahnya, tatapan mata sang Sultan tak lagi redup. Roda-roda pemerintahan Amartapura kembali berputar di tangannya, walau persoalan besar mengenai desakan pengisian kursi Permaisuri masih terus melilit pikirannya.Namun, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang dipenuhi kegusaran, pagi ini ada ketenangan aneh yang mengendap di dada Sultan Panji. Sebuah pencerahan pelan-pelan terbit di benaknya, memberikan setitik harapan tentang sosok mana yang benar-benar layak didudukkan di atas takhta Permaisuri Amartapura.Lamunan sang Sultan melayang kembali pada kejujuran malam yang baru saja berlalu. Ia teringat bagaimana Raras Anjani bersikap semalam—diam pasrah tanpa perlawanan saat direngkuh erat dalam pelukannya di atas ranjang Bilik S
Malam kian larut di Bilik Sedayu, namun udara di dalam peraduan Raras terasa berat dan dipenuhi hawa panas. Di atas pembaringan, Sultan Panji Adiwangsa tergolek tak berdaya. Matanya terpejam rapat, bibirnya yang kering sedikit terbuka, menghembuskan napas yang memburu. Sesekali, tubuhnya yang kekar bergetar di bawah selimut kain.Raras Anjani duduk bersimpuh di tepi ranjang. Jemarinya yang lentik melipat kain basah, menyapukannya dengan lembut ke kening, leher, dan dada sang Sultan. Dalam jarak sesedikit ini, Raras tak lagi melihat sosok angkuh dan dingin yang mengucapkan kalimat menyakitkan beberapa minggu lalu. Melainkan seorang pria yang ringkih karena menanggung beban di pundaknya.Tiba-tiba, Sultan Panji meracau. Suaranya serak, parau, dan tersendat-sendat di tenggorokan."Mengapa... selalu Aji, Kanjeng Rama...?" gumam Panji dalam ketaksadarannya, kepalanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan."Apakah... apakah hamba bukan putramu...? Mengapa hamba harus memeras darah dan kerin
Di dalam bangsal Marcukunda Tumenggung Catur Wikrama sedang tekun memeriksa lembaran surat pendaftaran laskar daerah ketika Arga Adiwangsa menerobos masuk tanpa mengetuk pintu."Gusti Tumenggung!" seru Arga seraya menepuk meja kayu jati di hadapan Catur Wikrama. "Kau tahu apa yang baru saja kudengar dari Mbok Lasmi?"Catur Wikrama mendongak pelan, menghela napas panjang melihat wujud Pangeran Mataram yang tampak bagai anak kecil baru mendapat mainan baru. "Ada apa gerangan, Gusti Raden Arga Adiwangsa? Apakah ada berita penting dari Plered?""Bukan Plered!" kekeh Arga seraya mendudukkan dirinya di kursi."Kakak ipar menyetujuinya! Dia sedang menyuruh dayangnya membeli bahan untuk membuatkan lukisan perang khusus untukku! Kau lihat sendiri nanti, aku akan membawa pulang karya agung ke Mataram!"Catur Wikrama menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Raden Arga... hamba benar-benar tidak habis pikir dengan tingka
Nun jauh di timur, di balik benteng perbatasan yang membentang di lereng Gunung Semeru, suasana berbeda meliputi astana kotaraja Kesultanan Madakaripura. Udara dingin berembus membawa aroma rereumputan dan tanah basah.Di dalam sebuah ruang khusus di sudut bangsal pribadinya, Sultan Aji Wiratara berdiri sendirian di hadapan sebuah kanvas besar. Ruangan itu adalah sudut sunyi yang selalu ia masuki setiap kali jiwanya dilanda kejenuhan dan beban berat pemerintahan. Hanya Danur Gunawan dan sedikit pengawal pribadi yang tahu bahwa sang Sultan Madakaripura memiliki kegemaran yang sama persis dengan Raras Anjani: melukis.Di tangan kanannya, kuas bulu halus menari lembut di atas permukaan kanvas, mencampurkan warna jingga, ungu temaram, dan biru kelam. Sultan Aji menatap lekat-lekat hasil goresan tangannya.Di atas kanvas itu, terlukis siluet halus sosok tubuh dengan kain melambai tertiup angin. Wanita itu berdiri membelakangi, menatap lurus ke arah garis cakrawala senja yang samar-samar di
Langkah kaki Raden Arga Adiwangsa dan Tumenggung Catur Wikrama perlahan memudar, tenggelam di balik pintu kayu Bilik Sedayu yang tertutup rapat. Keheningan yang biasa mendiami ruangan itu mendadak terasa berbeda—tidak lagi ada kesan sendu seperti saat sebelum adanya banyak lukisan yang terpampang, melainkan sarat akan getaran semangat baru yang tak kasat mata.Nyi Tuminah yang duduk di dekat tempat tidur melirik Raras dengan pandangan ragu. Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru mengejutkan sang tabib.Raras tak lagi meneteskan air mata atau menunjukkan raut wajah muram. Mendengar pangeran muda Mataram itu meminta lukisan bertema "perang" dengan janji imbalan keping emas yang tinggi, sudut bibir Raras yang pucat perlahan terangkat.Sebuah senyuman tipis mengembang di paras cantiknya—perpaduan antara rasa gemas dan sedikit kesal atas kelakuan adik dari Sultan Panji tersebut. Namun, di balik senyuman itu, sepasang mata Raras yang jernih berkilat tajam. Sebuah ide brilian dan penuh m
Matahari merambat naik di atas atap sirap Kesultanan Amartapura, membiaskan pendar keemasan yang menembus celah-celah jendela ruang kerja sang penguasa. Di dalam ruangan itu, Sultan Panji Adiwangsa duduk menghadapi tumpukan dokumen. Sejak kepulangannya dari Plered dan luapan amarahnya malam itu di Bilik Sedayu, sang Sultan seolah menjelma menjadi sosok tanpa lelah yang mengurung diri dalam tugas-tugas pemerintahan.Arga Adiwangsa berdiri di sisi meja kerja kakaknya dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya menyipit, mengamati perubahan sikap sang kakak yang kian dingin dan tertutup."Kakangmas," panggil Arga dengan nada suara penuh keheranan."Sudah ber minggu-minggu aku berada di Amartapura, tapi tak sekalipun aku melihat Kakang melangkah ke kompleks keputren. Apakah Kakang benar-benar membiarkan Raras sendirian di Bilik Sedayu tanpa pernah disapa?"Sultan Panji bahkan tak mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas di tangannya. Tinta hitam di tangannya terus menari dengan ten







