Share

Benang-Benang Intrik

Author: Ida Ann
last update publish date: 2026-09-25 23:50:09

Sejak kereta tertutup yang membawa Raras berlalu di temaram subuh, Sultan Panji tak pernah lagi menginjakkan kakinya di sana. Kepergian Raras Anjani menuju Padepokan Tejowangi secara perlahan memadamkan sisa-sisa kehangatan yang pernah dirasakan sang sultan di Astana Keputren.

Bagi Mayang Guritno, keabsenan Sultan Panji di keputren justru menjadi pintu gerbang kebebasan yang telah lama ia idam-idamkan. Tanpa kehadiran Raras Anjani yang selalu menyita perhatian sang penguasa, Mayang Guritno mela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Gelora Prasangka dan Cermin Medan Laga

    Kabar mengenai rapat tertutup yang digelar Sultan Panji Adiwangsa di ruang kerja pribadinya bertiup lewat mulut-mulut pejabat kedaton membawa janji di Astana Keputren. Bagi Mayang Guritno, riak-riak di dalam aula Bangsal Kencono itu adalah penanda mutlak bahwasanya takdir tengah berpihak padanya. Tidak ada nama lain di Amartapura yang memiliki sokongan sebesar dirinya; ayahnya, Adipati Jayasentani, telah merajut jarring persekutuan yang amat rapat di antara para pejabat kesultanan.Malam itu, di dalam bilik Sentani yang beraroma dupa kayu cendana, binar kebahagiaan terpancar begitu terang dari paras Mayang Guritno. Wajah yang biasanya menampilkan raut lembut, teduh, dan penuh kepatuhan itu kini dihiasi senyuman anggun yang penuh dengan keangkuhan yang tak lagi terselubung."Ratih," panggil Mayang seraya mematut diri di depan cermin, jemarinya yang halus mengusap bros kecil berhias permata hijau. "Kau dengar kabar itu, bukan? Sultan Panji memanggil para tetua dan penasihat kesultanan.

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Mengisi Kekosongan Kursi Permaisuri

    Pagi yang cerah menyiram kompleks Bangsal Kencana dengan pendar cahaya keemasan. Di dalam ruang kerja pribadinya, Sultan Panji Adiwangsa telah duduk tegap di belakang meja kayu jati berukir. Meski sisa-sisa demam semalam masih meninggalkan jejak pucat tipis di wajahnya, tatapan mata sang Sultan tak lagi redup. Roda-roda pemerintahan Amartapura kembali berputar di tangannya, walau persoalan besar mengenai desakan pengisian kursi Permaisuri masih terus melilit pikirannya.Namun, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang dipenuhi kegusaran, pagi ini ada ketenangan aneh yang mengendap di dada Sultan Panji. Sebuah pencerahan pelan-pelan terbit di benaknya, memberikan setitik harapan tentang sosok mana yang benar-benar layak didudukkan di atas takhta Permaisuri Amartapura.Lamunan sang Sultan melayang kembali pada kejujuran malam yang baru saja berlalu. Ia teringat bagaimana Raras Anjani bersikap semalam—diam pasrah tanpa perlawanan saat direngkuh erat dalam pelukannya di atas ranjang Bilik S

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Dalam Dekapan Rasa

    Malam kian larut di Bilik Sedayu, namun udara di dalam peraduan Raras terasa berat dan dipenuhi hawa panas. Di atas pembaringan, Sultan Panji Adiwangsa tergolek tak berdaya. Matanya terpejam rapat, bibirnya yang kering sedikit terbuka, menghembuskan napas yang memburu. Sesekali, tubuhnya yang kekar bergetar di bawah selimut kain.Raras Anjani duduk bersimpuh di tepi ranjang. Jemarinya yang lentik melipat kain basah, menyapukannya dengan lembut ke kening, leher, dan dada sang Sultan. Dalam jarak sesedikit ini, Raras tak lagi melihat sosok angkuh dan dingin yang mengucapkan kalimat menyakitkan beberapa minggu lalu. Melainkan seorang pria yang ringkih karena menanggung beban di pundaknya.Tiba-tiba, Sultan Panji meracau. Suaranya serak, parau, dan tersendat-sendat di tenggorokan."Mengapa... selalu Aji, Kanjeng Rama...?" gumam Panji dalam ketaksadarannya, kepalanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan."Apakah... apakah hamba bukan putramu...? Mengapa hamba harus memeras darah dan kerin

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Sultan Panji Tumbang

    Di dalam bangsal Marcukunda Tumenggung Catur Wikrama sedang tekun memeriksa lembaran surat pendaftaran laskar daerah ketika Arga Adiwangsa menerobos masuk tanpa mengetuk pintu."Gusti Tumenggung!" seru Arga seraya menepuk meja kayu jati di hadapan Catur Wikrama. "Kau tahu apa yang baru saja kudengar dari Mbok Lasmi?"Catur Wikrama mendongak pelan, menghela napas panjang melihat wujud Pangeran Mataram yang tampak bagai anak kecil baru mendapat mainan baru. "Ada apa gerangan, Gusti Raden Arga Adiwangsa? Apakah ada berita penting dari Plered?""Bukan Plered!" kekeh Arga seraya mendudukkan dirinya di kursi."Kakak ipar menyetujuinya! Dia sedang menyuruh dayangnya membeli bahan untuk membuatkan lukisan perang khusus untukku! Kau lihat sendiri nanti, aku akan membawa pulang karya agung ke Mataram!"Catur Wikrama menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Raden Arga... hamba benar-benar tidak habis pikir dengan tingka

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Cerita dibalik Goresan Tinta

    Nun jauh di timur, di balik benteng perbatasan yang membentang di lereng Gunung Semeru, suasana berbeda meliputi astana kotaraja Kesultanan Madakaripura. Udara dingin berembus membawa aroma rereumputan dan tanah basah.Di dalam sebuah ruang khusus di sudut bangsal pribadinya, Sultan Aji Wiratara berdiri sendirian di hadapan sebuah kanvas besar. Ruangan itu adalah sudut sunyi yang selalu ia masuki setiap kali jiwanya dilanda kejenuhan dan beban berat pemerintahan. Hanya Danur Gunawan dan sedikit pengawal pribadi yang tahu bahwa sang Sultan Madakaripura memiliki kegemaran yang sama persis dengan Raras Anjani: melukis.Di tangan kanannya, kuas bulu halus menari lembut di atas permukaan kanvas, mencampurkan warna jingga, ungu temaram, dan biru kelam. Sultan Aji menatap lekat-lekat hasil goresan tangannya.Di atas kanvas itu, terlukis siluet halus sosok tubuh dengan kain melambai tertiup angin. Wanita itu berdiri membelakangi, menatap lurus ke arah garis cakrawala senja yang samar-samar di

  • Amartapura : Cinta di balik Dinding Keputren   Mengambil Langkah, Menyusun Kembali Rencana

    Langkah kaki Raden Arga Adiwangsa dan Tumenggung Catur Wikrama perlahan memudar, tenggelam di balik pintu kayu Bilik Sedayu yang tertutup rapat. Keheningan yang biasa mendiami ruangan itu mendadak terasa berbeda—tidak lagi ada kesan sendu seperti saat sebelum adanya banyak lukisan yang terpampang, melainkan sarat akan getaran semangat baru yang tak kasat mata.Nyi Tuminah yang duduk di dekat tempat tidur melirik Raras dengan pandangan ragu. Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru mengejutkan sang tabib.Raras tak lagi meneteskan air mata atau menunjukkan raut wajah muram. Mendengar pangeran muda Mataram itu meminta lukisan bertema "perang" dengan janji imbalan keping emas yang tinggi, sudut bibir Raras yang pucat perlahan terangkat.Sebuah senyuman tipis mengembang di paras cantiknya—perpaduan antara rasa gemas dan sedikit kesal atas kelakuan adik dari Sultan Panji tersebut. Namun, di balik senyuman itu, sepasang mata Raras yang jernih berkilat tajam. Sebuah ide brilian dan penuh m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status