로그인
“Sayang, tolong ganti popok anak kita!” teriak Silvia dari dapur.
Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi rumah mewah itu. Tangisan yang seharusnya menjadi panggilan bagi seorang ayah untuk bergerak, tetapi beberapa menit berlalu tanpa ada respons. Silvia yang sedang mengaduk sayur di atas kompor menoleh ke arah kamar kecil tempat putrinya terbaring. Hatinya mulai gelisah. “Hans! Tolong ganti popok Dinda dulu!” teriaknya sekali lagi. “Ya, bentar!” sahut Hans dari ruang tamu. Namun tangisan Dinda justru semakin keras. Silvia menggigit bibir bawahnya. Tangan yang masih memegang sendok kayu mulai bergetar karena kesal. Ia mematikan api kompor lalu berjalan cepat menuju ruang tamu. Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa sesak. Di depan matanya, Hans sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda bernama Anggi. Keduanya tertawa riang seolah dunia hanya milik mereka berdua. Yang membuat hati Silvia semakin remuk adalah ketika melihat Hans menggigit separuh cokelat yang dipegang Anggi, lalu Anggi melanjutkan menggigit sisa cokelat yang sama sambil tertawa malu-malu. Seakan mereka pasangan yang sedang dimabuk asmara. Brak! Sendok kayu di tangan Silvia terjatuh dengan keras ke lantai. Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Hans menoleh. Anggi juga menoleh. Dua teman Hans, Eko dan Dirga, yang sedari tadi ikut mengobrol juga menoleh ke arah Silvia. Wajah Silvia memerah menahan amarah. Sementara dari kamar, suara tangisan Dinda masih terdengar memecah suasana. “Sil ..." Hans berdiri. Namun Silvia hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan dada bergemuruh menahan kesal. “Anakmu menangis dari tadi," ucapnya dengan wajah muak. Hans menghela napas panjang. “Ya ampun, Silvia. Cuma ganti popok doang sampai marah-marah begitu?” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pisau. Silvia terdiam. “Di sini ada teman-temanku,” lanjut Hans dengan nada tidak suka. “Jangan bikin malu aku kenapa sih." Malu? Silvia hampir tertawa mendengar kata itu. Bukankah yang mempermalukan rumah tangga mereka adalah Hans sendiri? Tetapi ia tidak menjawab. Ia memilih berbalik menuju kamar. Tangannya yang gemetar mulai membuka popok Dinda yang sudah penuh. Bayi kecil itu masih menangis sesenggukan. “Maafkan Mama, Nak," bisiknya lirih. Air matanya jatuh tepat di pipi mungil putrinya. “Maaf Mama terlambat.” Dinda seolah memahami kesedihan ibunya. Tangisnya perlahan mereda ketika Silvia membersihkan tubuh mungilnya dengan penuh kasih sayang. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Anggi tiba-tiba muncul di depan pintu kamar. Wanita itu menutup hidungnya. “Ih, bau banget sih.” Nada suaranya terdengar seperti ejekan. “Pantas aja aku nggak mau punya anak cepat-cepat.” sambungnya dengan tawa sinis. Silvia yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya kehilangan kesabaran. Dia berdiri perlahan menatap Anggi lurus ke mata. “Bau ya?” Anggi tersenyum meremehkan. “Jelas lah.” Tanpa peringatan. Plak! Popok bekas yang baru saja dilepas Silvia melayang tepat ke arah Anggi. “AAAAAH!” Jeritan Anggi menggema. Popok itu mengenai lengan dan sebagian bajunya. “Silvia!” teriak Anggi marah. “Katanya bau!” bentak Silvia. “Sekarang rasakan sendiri!” Anggi langsung menangis kesal. “Kamu gila ya?!” “Dan kamu tidak tahu diri!” potong Silvia dengan tatapan tajam, seolah dia ingin sekali mencabik-cabik wajah wanita dihadapannya itu. Hans yang mendengar keributan segera masuk ke kamar. “Ada apa ini?” Anggi menunjuk Silvia dengan wajah merah padam menahan kesal. “Lihat tuh istrimu! Dia lempar popok kotor ke aku!” rengeknya, lalu dia berjalan ke ruang tamu. Hans langsung menatap Silvia tajam.“Kamu keterlaluan! Apa kamu sudah tidak waras, hah!" maki Hans dengan marah. Silvia tersenyum pahit. “Keterlaluan?” lalu dia terkekeh, " Iya, kamu benar. Aku tidak waras semenjak menikah denganmu!" “Gila! Minta maaf sekarang juga!” Silvia menggeleng pelan. “Tidak.” “Silvia!" “Aku bilang tidak.” Hans mengepalkan tangan. “Jangan bikin masalah di depan tamuku!” Kalimat itu kembali membuat hati Silvia retak. Tamu dia bilang. Selalu tamunya. Selalu orang lain. Tidak pernah istrinya. Tidak pernah anaknya. Silvia tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. “Aku bikin masalah, ya?” “Memangnya kamu pikir bukan?” Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. “Dari tadi anakmu menangis karena popoknya penuh! Hans, aku minta tolong baik-baik padamu, tapi kamu malah asyik bermesraan dengan dia!" maki Silvia sambil menunjuk ke arah Anggi yang saat ini sedang menatapnya juga penuh marah. “Aku kan sudah bilang bentar!” “Tapi yang aku lihat malah kamu asyik tertawa dengan wanita lain!” Hans mendengus. “Ya ampun, Silvia. Kamu cemburuan banget.” Kalimat itu membuat Silvia menatapnya tidak percaya. “Cemburuan?” “Anggi cuma teman SMP-ku.” “Teman?” ulang Silvia. “Iya.” “Teman.” Silvia mengangguk pelan. Lalu menatap cokelat yang masih berada di meja. “Kalau cuma teman, kenapa makan satu cokelat berdua? Apa kamu sadar kalau bibir kalian tadi hampir beradu? Hahaha ... Lucu sekali.” Ruangan mendadak sunyi. Hans terdiam. Anggi salah tingkah, namun sejurus kemudian dia tersenyum penuh kemenangan. Namun Eko segera menyela. “Silvia, kamu terlalu sensitif.” Dirga ikut mengangguk. “Benar. Hans sama Anggi memang dekat dari dulu, kau juga tau itu." “Jangan lebay lah.” timpal Anggi dengan nada mengejek bahwa dia pemenangnya. Kata-kata itu membuat Silvia memandang mereka satu per satu kemudian ia tersenyum. Senyum sinis yang penuh luka. “Lebay?" Tidak ada yang menjawab. “Mana ada teman yang jaraknya sedekat itu?” Tatapannya berpindah ke Hans, lalu ke Anggi. Tatapan tajam menusuk. "Mana ada teman yang saling menggigit cokelat yang sama?Hanya orang bodoh yang percaya itu biasa.” Wajah Anggi langsung berubah. “Eh, jangan sembarangan ngomong! Kami memang sudah biasa begitu." Sudah biasa dia bilang. Silvia tertawa renyah. Mungkin memang pertemanan Hans dan juga Anggi seperti itu, atau bahkan mungkin mereka sudah terbiasa berciuman, atau lebih dari itu. “Kalau tidak suka mendengarnya, jangan lakukan hal yang memalukan. Kau itu wanita singel, dan dia sudah beristri. Dimana harga dirimu, hah!" bentak Silvia. Hans mulai kehilangan kesabaran. “Sudah cukup, Silvia!” “Belum!” Suara Silvia menggema keras. Untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, ia tidak ingin diam. Tidak ingin mengalah. Tidak ingin menelan luka sendirian. “Aku capek, Hans!” Matanya memerah. “Aku capek selalu dianggap berlebihan! Aku capek selalu disuruh mengerti! Aku capek melihat suamiku lebih peduli pada wanita lain dibanding anaknya sendiri!” Hans membeku. Sementara Eko dan Dirga mulai saling pandang. Mereka tidak menyangka kemarahan Silvia selama ini ternyata sedalam itu. Silvia mengusap air matanya kasar. Lalu mengangkat tangan menunjuk pintu rumah. “Keluar!” Semua orang terdiam. “Silvia jangan keterla--” Hans mencoba bicara. “Keluar!" Teriak Silvia dengan marah. Suara itu lebih keras dari sebelumnya. “Anggi, keluar dari rumahku!" Wanita itu langsung berdiri. “Kamu ngusir aku?” “Iya.” Silvia menatap Eko dan Dirga. “Kalian juga keluar!" “Tapi—” “Keluar!” Dada Silvia naik turun menahan emosi. “Aku tidak mau melihat satu pun dari kalian di rumah ini sekarang!” Ruangan kembali sunyi. Tangisan Dinda terdengar lirih dari dalam gendongan ibunya. Seolah ikut merasakan luka yang sedang dipikul sang ibu. Silvia memeluk putrinya erat. Sangat erat karena saat itu ia sadar satu hal. Kadang, orang yang paling menyakiti hati seorang wanita bukanlah musuhnya. Melainkan orang yang dulu berjanji akan melindunginya. Dan yang paling menyakitkan bukan ketika suami tertawa bersama wanita lain. Melainkan ketika suami itu memilih membela wanita lain di depan istrinya yang sedang menangis. "Sudah cukup aku diam," lirih Silvia dengan tangisnya. "Aku harus ambil keputusan." BERSAMBUNG...."Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan ba
"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan.Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ...Srrttt...Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua.Srrtt...Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping.Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan.Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh."Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu."Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya.Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti."Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampa
Hans masuk dengan wajah datar. Di tangannya ada sebuah rantang berisi bubur. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia meletakkan rantang itu di meja."Oo ... ternyata kamu sudah sadar." Nada suaranya begitu dingin. "Nih. Makan buburnya."Silvia memandang laki-laki itu cukup lama.Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi tatapan asing.Tatapan seseorang yang sudah terlalu sering disakiti. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu penuh kepahitan."Gimana aku mau makan?" Silvia mengangkat tangan kirinya yang masih dipasang infus. "Aku masih lemah."Hans malah terkekeh. "Halah, cuma tangan yang diinfus doang, kan? Kan masih ada tangan satunya, bisa dong pakai yang itu." Silvia terperangah mendengarnya. Dulu Hans sangat romantis waktu masih pacaran, bahkan tak biarkan Silvia terluka. Tetapi, kenapa setelah menikah dan punya anak, berubah 180 derajat."Emangnya seluruh badanmu lumpuh? Kayak anak kecil saja." Ia menyilangkan tangan di dada. "Atau ... jangan-jangan kamu mau disuapin?"Nada
"Ka ... Kak, halo..."Suara Silvia terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar karena rasa sakit. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, sementara tubuhnya bersandar lemah di dinding dekat ranjang tempat bayinya sedang tertidur pulas.Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar hangat sekaligus penuh semangat."Silvi! Akhirnya kamu angkat juga. Kakak sebentar lagi sampai Jakarta. Paling besok pagi sudah mendarat. Kamu siap-siap, ya."Silvia mengerutkan kening. "Siap-siap, untuk apa, Kak?"Pria itu terkekeh kecil. "Akan ada banyak kejutan. Semua sudah kakak siapkan buat kamu. Kali ini kamu nggak boleh nolak bantuan kakak lagi. Hidupmu harus berubah."Mata Silvia berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendengar suara yang begitu tulus memedulikannya.Di saat suaminya semakin menjauh, hanya kakaknya yang masih menganggap dirinya berharga.Bibir Silvia bergetar. "Kak ....""Iya, Sil?""Tolong ... cepat datang ...."Nada suaranya berubah semakin pelan. "Kak, aku ...."Ucapan itu terputus.
"Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hans?" bisik Silvia lirih di tengah sunyi malam.Suara tangis bayinya yang pelan memenuhi kamar sederhana itu. Dengan gerakan lemah, Silvia menggendong putri kecilnya, lalu mengayunkan tubuh mungil itu perlahan hingga kembali terlelap.Setelah memastikan selimutnya menutupi tubuh sang bayi, Silvia mengecup keningnya dengan penuh kasih."Mama akan selalu ada buat kamu, walaupun Mama harus menahan semua sakit ini sendirian."Dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah menjuntai dibawah bahu. Wajahnya tampak segar karena siraman air hangat, tetapi sorot matanya begitu sembab.Gaun rumahan yang dikenakannya sangat sederhana, bahkan sudah mulai kusam karena terlalu sering dicuci. Tak ada lagi perempuan yang dulu gemar berdandan. Sejak melahirkan, seluruh hidup Silvia hanya berputar pada bayinya.Namun, di dalam benaknya pemandangan sore tadi terus berulang tanpa henti.Hans keluar dari rumah sambil merangkul pundak Anggi den
“Sayang, tolong ganti popok anak kita!” teriak Silvia dari dapur.Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi rumah mewah itu. Tangisan yang seharusnya menjadi panggilan bagi seorang ayah untuk bergerak, tetapi beberapa menit berlalu tanpa ada respons.Silvia yang sedang mengaduk sayur di atas kompor menoleh ke arah kamar kecil tempat putrinya terbaring. Hatinya mulai gelisah.“Hans! Tolong ganti popok Dinda dulu!” teriaknya sekali lagi.“Ya, bentar!” sahut Hans dari ruang tamu.Namun tangisan Dinda justru semakin keras.Silvia menggigit bibir bawahnya. Tangan yang masih memegang sendok kayu mulai bergetar karena kesal. Ia mematikan api kompor lalu berjalan cepat menuju ruang tamu.Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa sesak.Di depan matanya, Hans sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda bernama Anggi. Keduanya tertawa riang seolah dunia hanya milik mereka berdua.Yang membuat hati Silvia semakin remuk adalah ketika melihat Hans menggigit separuh cokelat yang dipegan







