로그인"Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hans?" bisik Silvia lirih di tengah sunyi malam.
Suara tangis bayinya yang pelan memenuhi kamar sederhana itu. Dengan gerakan lemah, Silvia menggendong putri kecilnya, lalu mengayunkan tubuh mungil itu perlahan hingga kembali terlelap. Setelah memastikan selimutnya menutupi tubuh sang bayi, Silvia mengecup keningnya dengan penuh kasih. "Mama akan selalu ada buat kamu, walaupun Mama harus menahan semua sakit ini sendirian." Dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah menjuntai dibawah bahu. Wajahnya tampak segar karena siraman air hangat, tetapi sorot matanya begitu sembab. Gaun rumahan yang dikenakannya sangat sederhana, bahkan sudah mulai kusam karena terlalu sering dicuci. Tak ada lagi perempuan yang dulu gemar berdandan. Sejak melahirkan, seluruh hidup Silvia hanya berputar pada bayinya. Namun, di dalam benaknya pemandangan sore tadi terus berulang tanpa henti. Hans keluar dari rumah sambil merangkul pundak Anggi dengan begitu mesra. Yang paling menyakitkan bukan hanya pelukan itu. Silvia masih bisa mencium bau khas kotoran bayi yang menempel di tubuh Anggi akibat ulahnya. Dan memang Anggi pantas mendapatkan itu. Tetapi Hans tidak merasa jijik sedikit pun. Ia tetap merangkul Anggi erat sambil tertawa, seolah wanita itu adalah orang paling berharga di sisinya. Air mata Silvia kembali jatuh. Setetes. Dua tetes, lalu semakin deras. "Kenapa?" suaranya bergetar. "Kenapa sama dia kamu bisa sedekat itu. Tapi sama aku ...." Silvia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah. "Bahkan setelah aku melahirkan anakmu, kamu tidak pernah menyentuhku lagi." Nada suaranya mulai meninggi. "Sedikit pun tidak pernah!" Ingatan demi ingatan menyerangnya tanpa ampun. Saat tubuhnya masih lemah setelah persalinan, saat jahitan masih terasa nyeri, saat darah nifas belum berhenti. Bahkan ketika ia kesulitan mengganti popok bayinya karena harus menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. "Hans, aku cuma minta tolong pegang bayi kita sebentar." Namun jawaban Hans waktu itu masih begitu jelas terdengar di telinganya. "Kamu aja. Aku jijik lihat darah-darah dari tubuhmu begitu." Silvia memejamkan mata kuat-kuat. Dadanya sesak. "Kamu jijik sama aku, tapi sama Anggi yang bajunya bau pup bayi anakku sendiri kamu malah memeluk dia." Silvia memukul dadanya sendiri. Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan. "Bahkan anakmu sendiri tidak pernah kamu gendong!" Suara tangisnya berubah menjadi jeritan penuh frustasi. "KENAPA, HANS?! KENAPA AKU YANG SELALU KAMU SAKITI?!" "Apa salahku?! Apa salah anak kita?!" Ruangan kecil itu dipenuhi isak tangis seorang ibu yang terlalu lama memendam luka. Semua amarah. Semua kecewa. Semua rasa sakit yang selama ini dikubur rapat, malam itu akhirnya meledak. Namun, di tengah tangisnya tiba-tiba saja ..... "Ahh ...." Silvia meringis. Tangannya refleks memegang dada kirinya. "Ngghhh ...." Rasa nyeri itu datang begitu tiba-tiba. Awalnya hanya seperti ditusuk jarum. Namun beberapa detik kemudian rasa sakit itu menjalar semakin hebat. Dadanya terasa membengkak berdenyut panas, seolah ada ribuan jarum menusuk dari dalam. "Aaaah ...." Silvia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai. Ia berusaha bangun sambil bertumpu pada sofa, tetapi tenaga di tubuhnya seperti menghilang. "Haaaahhh ...." "Sakiittt ...." Dia mulai kesulitan bernapas karena nyeri yang luar biasa. Keringat dingin membasahi dahinya. "Ya Allah ... Sakit ..." "Sakit sekali ..." Silvia menggigit bibirnya agar tidak berteriak dan membangunkan bayinya. Namun rasa sakit itu semakin menjadi. Dadanya seperti terbakar. Air matanya kembali mengalir. Tepat saat itu .... Tring... Tring... Ponselnya berdering. Dengan tangan yang gemetar hebat, Silvia meraih ponsel di atas meja. Nama di layar membuat dadanya semakin sesak. Hans. Dengan napas tersengal, ia mengangkat panggilan itu. "H-halo, sayang ..." Di seberang sana terdengar suara Hans yang terdengar santai. "Sil, kamu mau dibawain makan apa? Maaf ya nanti aku pulangnya agak malam." Mendengar suara suaminya, harapan Silvia kembali muncul. Ia yakin, begitu Hans tahu kondisinya suaminya pasti akan pulang. Dengan suara lirih yang bercampur tangis, Silvia berkata, "Sayang, Tolong ...." "Cepat pulang... Dadaku sakit sekali..." Ia menangis sesenggukan. "Sepertinya ... aku kena mastitis akut ... aku benar-benar tidak kuat ..." "Tolong bawa aku ke rumah sakit. Tolong, Hans, aku mohon ...." Silvia menunggu. Berharap mendengar suara kepanikan. Berharap Hans berkata bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang. Namun yang terdengar justru suara tawa. "Hahaha ..." Hans tertawa. Lalu dengan nada kesal ia berkata, "Silvia, kamu ini lebay banget. Jangan pura-pura sakit cuma supaya aku cepat pulang. Aku juga butuh istirahat." Mata Silvia membelalak. Air matanya mengalir semakin deras. "A-aku tidak bohong. Aku benar-benar sakit. Dadaku sakit sekali, aku tidak sanggup bertahan lagi ..." Suara Silvia mulai melemah. Namun belum sempat Hans menjawab, terdengar suara wanita lain dari seberang telepon. Suara yang sangat dikenalnya. Anggi. Dengan nada mengejek, Anggi berkata, "Silvia, harusnya kamu dewasa, dong. Jangan main curang begitu. Masa pura-pura sakit cuma supaya Hans pulang?" Silvia membeku. Anggi melanjutkan dengan suara penuh sindiran. "Hans juga butuh kebebasan. Kamu nggak bisa terus mengekang dia. Jangan jadikan rasa sakit sama anak sebagai tameng supaya dia selalu ada di sisimu." "Benar tuh! Licik sekali!" teriak Eko dan Dirga. Setiap kalimat itu seperti belati yang menghujam tepat ke jantung Silvia. Air matanya tak berhenti mengalir. Dengan suara bergetar ia berusaha membela diri. "Aku ... tidak ...." Tut! Namun, sambungan telepon terputus begitu saja. Silvia menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Hans lebih memilih bersenang-senang bersama temannya, ketimbang pulang dan melihat kondisinya saat ini. "Aku beri kesempatan terakhir, Hans. Pulang," lirihnya sambil menatap ponsel, berharap Hans akan menelpon ulang, tapi harapan itu sia-sia. Beberapa detik kemudian... "Aaaah!" Ia kembali menjerit kesakitan. Tangannya mencengkeram dada kiri yang terasa semakin membengkak dan berdenyut hebat. Tubuhnya menggigil. Ia mencoba berdiri, namun kedua kakinya langsung lemas. Bruk. Ia kembali jatuh ke lantai. "Ya Allah ... Tolong aku ...." Suara itu nyaris tak terdengar. Silvia menoleh ke arah tempat tidur bayinya yang masih tertidur pulas. "Aku ... harus bagaimana? Aku harus minta tolong siapa?" Ia benar-benar sendirian. Tak sanggup berjalan. Tak mampu membuka pintu. Tak ada satu pun orang di rumah yang bisa dimintai bantuan. Kesadarannya mulai kabur. Air mata terus membasahi pipinya. Di tengah rasa sakit yang hampir membuatnya pingsan tiba-tiba saja.... Tring... Tring... Ponselnya kembali berdering. Dengan napas yang semakin berat dan pandangan yang mulai mengabur, Silvia meraih ponselnya menggunakan sisa tenaga yang ia miliki. Dengan setengah kesadaran Ia menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan itu. "H-halo ..." suaranya nyaris tak terdengar. BERSAMBUNG....."Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan ba
"Perceraian?" Hans mengulang kata itu, lalu tertawa keras hingga suara tawanya menggema di lorong rumah sakit. "Silvia ... Silvia ... kau benar-benar pandai membuat lelucon."Tawa itu bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi ejekan dan penghinaan.Dengan santai, Hans mengambil amplop berisi surat cerai yang baru saja disodorkan Silvia. Ia menatap lembaran itu beberapa detik, kemudian ...Srrttt...Tangannya merobek surat tersebut menjadi dua.Srrtt...Lalu empat, delapan, enam belas dan akhirnya menjadi berkeping-keping.Potongan-potongan kertas itu berjatuhan ke lantai seperti harga diri Silvia yang selama ini terus diinjak tanpa belas kasihan.Hans melemparkannya ke udara dengan senyum angkuh."Kau bermimpi kalau mengira aku akan menceraikanmu."Silvia mematung. Air mata yang belum sempat mengering kembali memenuhi kedua matanya.Hans melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti."Dengar baik-baik." Suaranya rendah, tetapi begitu tajam menusuk. "Sampa
Hans masuk dengan wajah datar. Di tangannya ada sebuah rantang berisi bubur. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia meletakkan rantang itu di meja."Oo ... ternyata kamu sudah sadar." Nada suaranya begitu dingin. "Nih. Makan buburnya."Silvia memandang laki-laki itu cukup lama.Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi tatapan asing.Tatapan seseorang yang sudah terlalu sering disakiti. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu penuh kepahitan."Gimana aku mau makan?" Silvia mengangkat tangan kirinya yang masih dipasang infus. "Aku masih lemah."Hans malah terkekeh. "Halah, cuma tangan yang diinfus doang, kan? Kan masih ada tangan satunya, bisa dong pakai yang itu." Silvia terperangah mendengarnya. Dulu Hans sangat romantis waktu masih pacaran, bahkan tak biarkan Silvia terluka. Tetapi, kenapa setelah menikah dan punya anak, berubah 180 derajat."Emangnya seluruh badanmu lumpuh? Kayak anak kecil saja." Ia menyilangkan tangan di dada. "Atau ... jangan-jangan kamu mau disuapin?"Nada
"Ka ... Kak, halo..."Suara Silvia terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar karena rasa sakit. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, sementara tubuhnya bersandar lemah di dinding dekat ranjang tempat bayinya sedang tertidur pulas.Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar hangat sekaligus penuh semangat."Silvi! Akhirnya kamu angkat juga. Kakak sebentar lagi sampai Jakarta. Paling besok pagi sudah mendarat. Kamu siap-siap, ya."Silvia mengerutkan kening. "Siap-siap, untuk apa, Kak?"Pria itu terkekeh kecil. "Akan ada banyak kejutan. Semua sudah kakak siapkan buat kamu. Kali ini kamu nggak boleh nolak bantuan kakak lagi. Hidupmu harus berubah."Mata Silvia berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak mendengar suara yang begitu tulus memedulikannya.Di saat suaminya semakin menjauh, hanya kakaknya yang masih menganggap dirinya berharga.Bibir Silvia bergetar. "Kak ....""Iya, Sil?""Tolong ... cepat datang ...."Nada suaranya berubah semakin pelan. "Kak, aku ...."Ucapan itu terputus.
"Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hans?" bisik Silvia lirih di tengah sunyi malam.Suara tangis bayinya yang pelan memenuhi kamar sederhana itu. Dengan gerakan lemah, Silvia menggendong putri kecilnya, lalu mengayunkan tubuh mungil itu perlahan hingga kembali terlelap.Setelah memastikan selimutnya menutupi tubuh sang bayi, Silvia mengecup keningnya dengan penuh kasih."Mama akan selalu ada buat kamu, walaupun Mama harus menahan semua sakit ini sendirian."Dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah menjuntai dibawah bahu. Wajahnya tampak segar karena siraman air hangat, tetapi sorot matanya begitu sembab.Gaun rumahan yang dikenakannya sangat sederhana, bahkan sudah mulai kusam karena terlalu sering dicuci. Tak ada lagi perempuan yang dulu gemar berdandan. Sejak melahirkan, seluruh hidup Silvia hanya berputar pada bayinya.Namun, di dalam benaknya pemandangan sore tadi terus berulang tanpa henti.Hans keluar dari rumah sambil merangkul pundak Anggi den
“Sayang, tolong ganti popok anak kita!” teriak Silvia dari dapur.Suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi rumah mewah itu. Tangisan yang seharusnya menjadi panggilan bagi seorang ayah untuk bergerak, tetapi beberapa menit berlalu tanpa ada respons.Silvia yang sedang mengaduk sayur di atas kompor menoleh ke arah kamar kecil tempat putrinya terbaring. Hatinya mulai gelisah.“Hans! Tolong ganti popok Dinda dulu!” teriaknya sekali lagi.“Ya, bentar!” sahut Hans dari ruang tamu.Namun tangisan Dinda justru semakin keras.Silvia menggigit bibir bawahnya. Tangan yang masih memegang sendok kayu mulai bergetar karena kesal. Ia mematikan api kompor lalu berjalan cepat menuju ruang tamu.Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa sesak.Di depan matanya, Hans sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda bernama Anggi. Keduanya tertawa riang seolah dunia hanya milik mereka berdua.Yang membuat hati Silvia semakin remuk adalah ketika melihat Hans menggigit separuh cokelat yang dipegan







