Share

Bab 2

Author: Tinta Hitam
last update publish date: 2026-06-29 12:31:19

"Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hans?" bisik Silvia lirih di tengah sunyi malam.

Suara tangis bayinya yang pelan memenuhi kamar sederhana itu. Dengan gerakan lemah, Silvia menggendong putri kecilnya, lalu mengayunkan tubuh mungil itu perlahan hingga kembali terlelap.

Setelah memastikan selimutnya menutupi tubuh sang bayi, Silvia mengecup keningnya dengan penuh kasih.

"Mama akan selalu ada buat kamu, walaupun Mama harus menahan semua sakit ini sendirian."

Dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah menjuntai dibawah bahu. Wajahnya tampak segar karena siraman air hangat, tetapi sorot matanya begitu sembab.

Gaun rumahan yang dikenakannya sangat sederhana, bahkan sudah mulai kusam karena terlalu sering dicuci. Tak ada lagi perempuan yang dulu gemar berdandan. Sejak melahirkan, seluruh hidup Silvia hanya berputar pada bayinya.

Namun, di dalam benaknya pemandangan sore tadi terus berulang tanpa henti.

Hans keluar dari rumah sambil merangkul pundak Anggi dengan begitu mesra. Yang paling menyakitkan bukan hanya pelukan itu.

Silvia masih bisa mencium bau khas kotoran bayi yang menempel di tubuh Anggi akibat ulahnya. Dan memang Anggi pantas mendapatkan itu.

Tetapi Hans tidak merasa jijik sedikit pun. Ia tetap merangkul Anggi erat sambil tertawa, seolah wanita itu adalah orang paling berharga di sisinya.

Air mata Silvia kembali jatuh. Setetes. Dua tetes, lalu semakin deras.

"Kenapa?" suaranya bergetar. "Kenapa sama dia kamu bisa sedekat itu. Tapi sama aku ...."

Silvia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah.

"Bahkan setelah aku melahirkan anakmu, kamu tidak pernah menyentuhku lagi." Nada suaranya mulai meninggi. "Sedikit pun tidak pernah!"

Ingatan demi ingatan menyerangnya tanpa ampun. Saat tubuhnya masih lemah setelah persalinan, saat jahitan masih terasa nyeri, saat darah nifas belum berhenti.

Bahkan ketika ia kesulitan mengganti popok bayinya karena harus menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.

"Hans, aku cuma minta tolong pegang bayi kita sebentar."

Namun jawaban Hans waktu itu masih begitu jelas terdengar di telinganya.

"Kamu aja. Aku jijik lihat darah-darah dari tubuhmu begitu."

Silvia memejamkan mata kuat-kuat. Dadanya sesak.

"Kamu jijik sama aku, tapi sama Anggi yang bajunya bau pup bayi anakku sendiri kamu malah memeluk dia."

Silvia memukul dadanya sendiri. Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.

"Bahkan anakmu sendiri tidak pernah kamu gendong!"

Suara tangisnya berubah menjadi jeritan penuh frustasi.

"KENAPA, HANS?! KENAPA AKU YANG SELALU KAMU SAKITI?!"

"Apa salahku?! Apa salah anak kita?!"

Ruangan kecil itu dipenuhi isak tangis seorang ibu yang terlalu lama memendam luka.

Semua amarah. Semua kecewa. Semua rasa sakit yang selama ini dikubur rapat, malam itu akhirnya meledak. Namun, di tengah tangisnya tiba-tiba saja .....

"Ahh ...." Silvia meringis.

Tangannya refleks memegang dada kirinya.

"Ngghhh ...."

Rasa nyeri itu datang begitu tiba-tiba. Awalnya hanya seperti ditusuk jarum. Namun beberapa detik kemudian rasa sakit itu menjalar semakin hebat.

Dadanya terasa membengkak berdenyut panas, seolah ada ribuan jarum menusuk dari dalam.

"Aaaah ...."

Silvia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai. Ia berusaha bangun sambil bertumpu pada sofa, tetapi tenaga di tubuhnya seperti menghilang.

"Haaaahhh ...."

"Sakiittt ...."

Dia mulai kesulitan bernapas karena nyeri yang luar biasa. Keringat dingin membasahi dahinya.

"Ya Allah ... Sakit ..."

"Sakit sekali ..."

Silvia menggigit bibirnya agar tidak berteriak dan membangunkan bayinya. Namun rasa sakit itu semakin menjadi.

Dadanya seperti terbakar. Air matanya kembali mengalir. Tepat saat itu ....

Tring... Tring...

Ponselnya berdering.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Silvia meraih ponsel di atas meja. Nama di layar membuat dadanya semakin sesak.

Hans.

Dengan napas tersengal, ia mengangkat panggilan itu.

"H-halo, sayang ..."

Di seberang sana terdengar suara Hans yang terdengar santai.

"Sil, kamu mau dibawain makan apa? Maaf ya nanti aku pulangnya agak malam."

Mendengar suara suaminya, harapan Silvia kembali muncul.

Ia yakin, begitu Hans tahu kondisinya suaminya pasti akan pulang. Dengan suara lirih yang bercampur tangis, Silvia berkata,

"Sayang, Tolong ...."

"Cepat pulang... Dadaku sakit sekali..." Ia menangis sesenggukan.

"Sepertinya ... aku kena mastitis akut ... aku benar-benar tidak kuat ..."

"Tolong bawa aku ke rumah sakit. Tolong, Hans, aku mohon ...."

Silvia menunggu. Berharap mendengar suara kepanikan. Berharap Hans berkata bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.

Namun yang terdengar justru suara tawa.

"Hahaha ..." Hans tertawa.

Lalu dengan nada kesal ia berkata, "Silvia, kamu ini lebay banget. Jangan pura-pura sakit cuma supaya aku cepat pulang. Aku juga butuh istirahat."

Mata Silvia membelalak. Air matanya mengalir semakin deras.

"A-aku tidak bohong. Aku benar-benar sakit. Dadaku sakit sekali, aku tidak sanggup bertahan lagi ..." Suara Silvia mulai melemah.

Namun belum sempat Hans menjawab, terdengar suara wanita lain dari seberang telepon. Suara yang sangat dikenalnya.

Anggi.

Dengan nada mengejek, Anggi berkata, "Silvia, harusnya kamu dewasa, dong. Jangan main curang begitu. Masa pura-pura sakit cuma supaya Hans pulang?"

Silvia membeku.

Anggi melanjutkan dengan suara penuh sindiran. "Hans juga butuh kebebasan. Kamu nggak bisa terus mengekang dia. Jangan jadikan rasa sakit sama anak sebagai tameng supaya dia selalu ada di sisimu."

"Benar tuh! Licik sekali!" teriak Eko dan Dirga.

Setiap kalimat itu seperti belati yang menghujam tepat ke jantung Silvia. Air matanya tak berhenti mengalir.

Dengan suara bergetar ia berusaha membela diri. "Aku ... tidak ...."

Tut!

Namun, sambungan telepon terputus begitu saja. Silvia menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong.

Hans lebih memilih bersenang-senang bersama temannya, ketimbang pulang dan melihat kondisinya saat ini.

"Aku beri kesempatan terakhir, Hans. Pulang," lirihnya sambil menatap ponsel, berharap Hans akan menelpon ulang, tapi harapan itu sia-sia.

Beberapa detik kemudian...

"Aaaah!"

Ia kembali menjerit kesakitan. Tangannya mencengkeram dada kiri yang terasa semakin membengkak dan berdenyut hebat.

Tubuhnya menggigil. Ia mencoba berdiri, namun kedua kakinya langsung lemas.

Bruk.

Ia kembali jatuh ke lantai. "Ya Allah ... Tolong aku ...."

Suara itu nyaris tak terdengar. Silvia menoleh ke arah tempat tidur bayinya yang masih tertidur pulas.

"Aku ... harus bagaimana? Aku harus minta tolong siapa?"

Ia benar-benar sendirian. Tak sanggup berjalan. Tak mampu membuka pintu. Tak ada satu pun orang di rumah yang bisa dimintai bantuan.

Kesadarannya mulai kabur. Air mata terus membasahi pipinya. Di tengah rasa sakit yang hampir membuatnya pingsan tiba-tiba saja....

Tring... Tring...

Ponselnya kembali berdering. Dengan napas yang semakin berat dan pandangan yang mulai mengabur, Silvia meraih ponselnya menggunakan sisa tenaga yang ia miliki.

Dengan setengah kesadaran Ia menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.

"H-halo ..." suaranya nyaris tak terdengar.

BERSAMBUNG.....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ambil Saja Suamiku    Aah!

    Silvia menggeleng sambil tertawa. “Padahal yang bekerja keras bukan cuma aku.” "Tapi orang yang paling berjasa tetap kamu.” kelakar Leon. Setelah makanan tersaji, suasana berubah jauh lebih santai. Mereka mulai mengenang masa-masa sekolah dahulu. “Ingat waktu kamu pernah dihukum berdiri di depan kelas?” Silvia langsung tertawa. “Jangan diingat-ingat.” “Padahal waktu itu kamu yang paling rajin.” “Aku dihukum gara-gara membela teman.” Leon tertawa lepas. “Dan guru malah mengira kamu yang membuat keributan.” Silvia ikut tertawa hingga matanya sedikit menyipit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar begitu lepas. Tanpa ia sadari, sejak tadi Leon tidak benar-benar fokus pada makanan. Tatapan pria itu justru terus tertuju kepada Silvia. Tatapan yang begitu dalam penuh kekaguman, Penuh rasa syukur dan menyimpan perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian. Namun Silvia sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih sibuk menceritakan berbagai kenangan m

  • Ambil Saja Suamiku    Lepaskan!

    “Lepaskan!” Suara Silvia terdengar dingin disertai nada tegas. Tubuhnya refleks menegang ketika dua telapak tangan tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang. Berkas-berkas kerja sama yang baru saja ia rapikan hampir terjatuh karena rasa terkejut yang begitu mendadak. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi kesibukan kini mulai lengang. Para tamu telah pulang, para staf sedang membereskan perlengkapan acara, sementara Silvia masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, sentuhan tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Terdengar suara tawa kecil yang begitu akrab. “Hei, galak sekali. Baru juga bercanda.” Orang itu terkekeh pelan sebelum akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah Silvia. Silvia segera membalikkan tubuhnya dengan wajah waspada. Namun sesaat kemudian ia mengembuskan napas panjang sambil memegang dadanya yang masih berdebar. “Ternyata kamu, Leon.” Ada nada lega yang begitu jelas dalam ucapannya. Dia pikir itu Hans, atau komplotann

  • Ambil Saja Suamiku    Ingin Bertemu

    "Aku---" Belum sempat Anggi menjawab, Mama Novi malah tertawa kecil.Plak.Ia memukul pelan lengan putra sulungnya. "Dasar anak ini. Kamu lupa? Itu Anggi, teman kecil Hans. Dulu kamu juga sering bermain bersama dia. Bahkan kamu yang paling sering melindunginya kalau ada anak-anak nakal mengganggu."Sony memejamkan mata beberapa detik.Ia mencoba mengingat wajah masa kecil yang mulai samar dalam ingatannya.Perlahan bibirnya membentuk senyum kecil. "Oh... Jadi kamu Anggi."Wanita itu tersenyum manis.Sony mengangguk pelan. "Sekarang kamu jauh lebih cantik. Pantas saja hampir tidak mengenalimu."Pujian itu terdengar tulus. Tanpa ada maksud lain. Namun senyum Anggi justru berubah menjadi sedikit berbeda.Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ada maksud tersembunyi di balik lengkungan bibirnya."Aduh, Kak Sony terlalu berlebihan." Anggi terkekeh kecil. "Tapi memang sih, sejak dulu banyak pria yang tergila-gila sama aku. Jadi wajar saja kalau Kak Sony juga ikut terpikat."Ruangan mend

  • Ambil Saja Suamiku    Siapa Dia?

    Pintu rumah keluarga Wijaya terbuka perlahan.Suara langkah kaki yang tenang namun tegas menggema memenuhi ruang tamu yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Sosok pria bertubuh tinggi dengan jas hitam sederhana memasuki ruangan itu. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, sorot matanya dingin namun tajam seolah mampu menembus kebohongan siapa pun yang berdiri di hadapannya.Aura yang dipancarkannya membuat seluruh isi ruangan mendadak membeku.Bahkan Hans yang sejak tadi tampak percaya diri mendadak berdiri dari duduknya.Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. Tatapannya berkeliling, mengamati satu per satu wajah yang berada di sana.Lalu dengan suara berat yang berwibawa, ia bertanya, "Siap yang ingin menghancurkan keluarga Wijaya?"Kalimat itu meluncur datar. Namun justru karena diucapkan dengan begitu tenang, setiap orang yang mendengarnya merasakan tekanan luar biasa.Hans menelan ludah. "K-Kak Sony ... kapan pulang?" tanyanya dengan mata membulat penuh kete

  • Ambil Saja Suamiku    Karena Kamu!

    Suasana ruang tamu kembali dipenuhi keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara napas mereka yang sama-sama berat.Beberapa saat kemudian Mama Novi kembali menatap Anggi. "Kalau kerja sama itu batal, bukankah masih bisa dibuat lagi?"Tatapannya penuh harapan. "Paman kamu bekerja di MH Group, kan? Bukankah dia bisa membantu lagi?"Namun harapan itu langsung dihancurkan oleh jawaban Anggi."Tidak mungkin." Suaranya lirih. Tetapi penuh kepahitan."Mungkin saja saat ini Paman sudah dipecat.""Apa?!" Mama Novi spontan mundur satu langkah.Seketika tubuhnya limbung. Wajahnya yang semula dipenuhi amarah kini berubah pucat pasi. Rasanya seluruh tenaga dalam tubuhnya seolah menghilang begitu saja.Bruk...Wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai. Tangannya gemetar menopang tubuhnya sendiri. Tatapannya kosong dan napasnya mulai memburu.Seolah berita yang baru saja didengarnya telah menghancurkan seluruh harapan yang selama ini ia bangun."D-dipecat?" Suara Mama Novi bergetar."Kenapa

  • Ambil Saja Suamiku    Hantaman

    "Brakkk!"Suara pecahan vas bunga menggema begitu keras di seluruh ruang tamu.Pecahan kaca berserakan di lantai marmer, sementara bunga-bunga yang semula tertata rapi kini terlempar ke segala arah."Wuaaa... huaaa..."Tangis bayi yang berada di gendongan Mama Novi langsung pecah. Bayi kecil itu terkejut mendengar suara benturan yang begitu keras hingga tubuh mungilnya bergetar."Astaga, Hans!" seru Mama Novi dengan wajah kaget sambil mengayun pelan tubuh bayi itu. "Kenapa baru pulang malah marah-marah begini? Bukannya kalian seharusnya senang? Bukannya hari ini perusahaan Wijaya berhasil bekerja sama dengan MH Group?"Hans berdiri membelakangi mereka.Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Rahangnya mengeras, sementara napasnya terdengar berat, dipenuhi amarah yang belum juga mereda sejak meninggalkan gedung acara.Dengan suara kecut dan penuh kebencian, ia menjawab,"Kerja sama apa, Ma? Semuanya hancur! Semuanya kacau balau! Tidak ada satu pun y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status