LOGIN
Malam itu hujan turun begitu lebat. Tetes air membasahi kaca gedung tertinggi di pusat kota, sementara ruang rapat di dalamnya diselimuti ketegangan.
Seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun terlihat duduk di kursi utama dengan tenang. Setelan jas hitam mahal membungkus tubuhnya dengan sempurna. Rambut hitamnya tersisir rapi, sementara matanya menatap satu per satu anggota rapat dengan tatapan dingin yang menusuk.
Dia adalah Kai Wilang. Salah satu CEO termuda yang berhasil mengambil alih perusahaan raksasa dalam waktu kurang dari lima tahun.
Kai adalah pria paling ditakuti di dalam ruangan itu. Bahkan tatapannya saja sudah cukup membuat suasana terasa sesak.
“Jadi, perusahaan Ansa Dynamics akhirnya menyerah?” tanya Kai. Suaranya pelan, sampai membuat orang-orang menahan napas tanpa mereka sadari.
Seorang direktur pria yang sudah paruh baya buru-buru menjawab, “B-benar, Tuan Kai. Mereka setuju menjual seluruh saham mayoritas kepada perusahaan kita setelah pertemuan kemarin malam.”
Kai tersenyum tipis. Jenis senyum yang kadang disalahartikan oleh mereka yang melihatnya.
“Bagus,” ucap Kai sambil menutup dokumen di tangannya dengan pelan. “Besok pagi, segera umumkan akuisisi ini. Pastikan beritanya memenuhi seluruh halaman utama.”
“Baik, Tuan Kai.”
Semua yang ada dalam ruangan itu tahu tentang Ansa Dynamics. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi perang, yang dalam dua tahun terakhir sedang berkembang begitu pesat.
Sejak tahun lalu, Kai berusaha mengakuisisi perusahaan itu. Namun, direktur utama Ansa Dynamics menolak mentah-mentah tawaran fantastis yang dia tawarkan.
Di satu sisi, pemerintah juga ingin mengambil alih perusahaan itu lewat sistem kontrak nasional. Namun, bukan Kai namanya jika hanya diam saat melihat apa yang dia inginkan jatuh ke tangan orang lain.
Bagi Kai, dunia ini adalah milik mereka yang bergerak lebih dahulu. Tanpa pengecualian.
Selama enam bulan terakhir, Kai menekan saham Ansa Dynamics dan memainkan media dengan begitu lihai.
Akibatnya, pemerintah menunda kontrak karena menganggap Ansa Dynamics tidak stabil. Sebuah keputusan yang menjadi pukulan fatal bagi perusahaan itu.
Direktur utama Ansa Dynamics akhirnya menyerah dalam pertemuan kemarin malam. Kai tidak hadir, seolah sudah memprediksi hasil yang akan dia dapatkan.
“Satu lagi. Pecat direktur utama mereka.”
Semua langsung menoleh ke arah Kai dengan keterkejutan yang tidak mereka sembunyikan.
Salah satu karyawan wanita di ujung meja bertanya dengan ragu. “Bukankah beliau sudah menyerahkan perusahaannya, Tuan Kai?”
Kai menatap karyawan wanita itu cukup lama. Sedangkan yang ditatap hanya menunduk—menyesali keberaniannya.
“Orang yang berani menolak tawaranku sekali, tidak pantas diberi kesempatan kedua!” ucap Kai dengan santai. Seolah kalimat itu bukan sesuatu yang berbahaya.
Kai memang seperti itu. Dingin. Kejam. Enggan memberi kesempatan kedua.
Banyak yang takut padanya, tapi tidak sedikit pula yang membencinya. Namun, mereka tetap tidak bisa menyangkal bahwa Kai tidak pernah kalah.
“Rapat selesai,” ucap Kai setelah melirik jam di pergelangan tangannya. Dia bangkit dari kursinya, melenggang meninggalkan ruangan tanpa melihat siapa pun.
Semua karyawan langsung berdiri. Mereka membungkuk dengan sopan pada Kai.
Setelah pintu tertutup, ruangan itu menjadi riuh oleh suara helaan napas panjang.
“Sial! Aku benar-benar tidak tahan satu ruangan dengannya,” ucap direktur paruh baya yang tadi bicara dengan Kai, yang kemudian disetujui oleh hampir semua karyawan dalam ruangan itu. Karena memang hanya itu yang bisa mereka lakukan—hanya berani di belakang Kai.
Setelah rapat usai, Kai berniat untuk langsung pulang ke apartemennya di kawasan yang cukup elite di kota ini. Di area parkir, dia bertemu dengan Ren—sahabat karibnya sejak masa kuliah sekaligus rekan satu perusahaan dengannya.
“Selamat atas akuisisinya,” ucap Ren dengan senyum ramah.
“Kau sudah tahu?” tanya Kai.
Ren mengangguk. “Soal informasi, karyawan perusahaan ini selalu yang paling cepat.”
Kai tidak menyangkal hal itu. Rapat baru selesai setengah jam lalu, tetapi kabarnya sudah menyebar ke seluruh perusahaan.
“Sangat membosankan berada dalam satu ruangan bersama orang-orang bodoh seperti mereka,” ucap Kai.
Ren tertawa, lalu menyodorkan segelas kopi pada Kai. Kebiasaan lama mereka setelah hari yang melelahkan.
“Kopi tanpa gula, seperti kebiasaanmu.”
Kai menerima kopi itu, dan langsung meminumnya.
Ren menatap Kai cukup lama. “Kau tenang saja, Kai. Setelah ini, semuanya selesai.”
Kai tidak menimpali. Dia hanya menoleh sekilas, lalu meminum kopinya hingga tandas.
Setelah obrolan singkat itu, keduanya meninggalkan area perkantoran dengan mengendarai mobil masing-masing. Namun sepanjang perjalanan, Kai melirik kaca spion beberapa kali untuk memastikan mobil di belakangnya.
“Ini bukan jalan menuju rumahnya, tapi kenapa Ren mengikutiku?”
Pada saat bersamaan, kepalanya tiba-tiba terasa pusing dengan pandangan yang mulai mengabur. Fokusnya mulai hilang hingga mobilnya melaju ugal-ugalan ke sembarang arah.
Lalu, Kai teringat pada kopi yang Ren berikan. Namun belum sempat dia bereaksi, rasa pusing menghantam semakin kuat.
Kai tanpa sadar membanting kemudi ke arah kiri. Saat itu, sebuah truk melaju cukup kencang dari arah berlawanan.
Brak!
Tabrakan itu tidak terhindarkan, atau lebih tepatnya, truk itu memang tidak berusaha menghindar meski jalan begitu lengang. Ban mobil Kai berdecit keras di aspal basah setelah hujan, hingga akhirnya menghantam pembatas jalan dengan brutal.
Di belakangnya, Ren segera menghentikan mobilnya. Perhatiannya tertuju pada mobil Kai yang sudah ringsek. Pada detik berikutnya, dia bergegas turun.
“Kai!” panggil Ren. Suaranya terdengar lantang di tengah malam yang sunyi.
Ren berlari menghampiri Kai, memeriksa kondisi sahabatnya itu dengan panik.
“Kai, kau bisa mendengarku?” tanya Ren. Matanya menatap luka di pelipis Kai yang sudah mengeluarkan darah.
“R-ren,” ucap Kai dengan susah payah. Luka di tubuhnya memang sedikit, tapi kepalanya terasa begitu berat.
Ren segera mengeluarkan ponselnya. “Aku akan menghubungi ambulans, tahan sebentar.”
Kai menatap sahabatnya itu dengan fokus yang semakin mengabur. Dia menunggu, merasa bersyukur karena di saat seperti ini dia tidak sendirian.
Namun anehnya, ekspresi panik Ren perlahan menghilang. Dia menatap Kai sambil menurunkan ponsel dari telinganya. Lalu bersandar pada badan mobil.
Meski pandangannya kabur, Kai masih bisa melihat seringai tipis di wajah sahabatnya itu. Detik itu juga, dia mengerti.
“K-kau ... kau sengaja.”
Suara gemuruh kawanan beast membuat seluruh kedai kacau. Para pengunjung berhamburan melalui pintu belakang dan jendela.Bansu ikut panik. Sedangkan Pak Tua Hasi sudah melesat menuju pintu masuk.“Yang Mulia! Kita harus pergi!”Namun, Kai justru berjalan menyusul Pak Tua Hasi.“Yang Mulia!” teriak Bansu, tapi tetap mengikutinya.Pak Tua Hasi sempat menoleh ke arah Kai. Belum sempat dia bertanya, Kai sudah membuka pintu.“Apa yang kau lakukan, Tuan Mantan Putra Mahkota?” teriak Nyonya An dengan mata penuh ketakutan.Bansu dan Pak Tua Hasi terperanjat kaget.Tepat di depan kedai, seekor beast setinggi hampir dua meter menyeruduk gerobak sayur milik Nyonya An. Setelahnya, beast-beast lain berdatangan—berlari melewati kedai dan menabrak apa pun yang menghalangi.Kai menatap para beast yang lewat itu dengan tatapan yang sulit diartikan.“Mereka berbeda dengan yang sebelumnya,” gumam Kai.Seekor beast paling besar berbelok saat melihat Kai. Matanya langsung mengunci pria itu, lalu mengaum d
Keheningan menyelimuti kedai itu untuk beberapa saat. Semua mata bergantian memandang Kai dan pria tua bercaping itu. “Apa maksud dari ucapanmu itu, Pak Tua?” tanya seorang pengunjung. Pria tua itu tidak menjawab. Dia berjalan menuju meja Kai dengan mata yang terpaku pada pemuda itu, seolah sedang memastikan sesuatu. Bansu berdiri menghalangi pria tua itu agar tidak terlalu dekat dengan Kai. “Tolong jaga sopan santunmu, Pak Tua.” “Kota kita hampir diserang beast tingkat tinggi pagi ini, dan kau menyuruhku menjaga sopan santun?” tanya pria tua tadi. Tangannya menyilang di dada, seolah ingin menantang Bansu. “Kedatangan beast itu tidak ada kaitannya dengan Yang Mulia Kaizen,” ucap Bansu mencoba tetap tenang. “Kau tahu apa?” tanya pria tua itu, lalu mendorong Bansu agar menyingkir. Pria tua itu tampak renta dan kumal, tapi tenaganya tidak bisa diremehkan. Bansu terdorong cukup jauh dan nyaris terjatuh jika tidak ditahan Nyonya An. Pria tua itu menggebrak meja Kai. Tidak
Melihat Kai yang masih mematung di tempatnya, Bansu segera menarik lengan tuannya itu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Namun, Kai menepis tangan pelayan tua itu.“Yang tadi itu makhluk apa, Bansu?” tanya Kai.“Itu beast, Yang Mulia,” jawab Bansu dengan tenang.“Monster?”“Kurang lebih seperti itu, Yang Mulia.”Beast. Kata itu terdengar asing bagi Kai, seasing wujud makhluk itu sendiri.“Beast tingkat tinggi sangat berbahaya, tapi beast tingkat rendah bisa dijinakkan,” tutur Bansu. “Meski demikian, hampir seluruh anggota tubuh mereka bernilai tinggi.”“Begitu rupanya,” gumam Kai.“Sebaiknya kita kembali ke dalam, Yang Mulia. Mari,” ajak Bansu.Kai menggeleng. “Tidak. Kita akan ke kedai, Bansu. Kau lupa?”Bansu ternganga. Kaizen memang selalu ingin tahu akan banyak hal, tapi dia tidak pernah membahayakan dirinya sendiri.“Tapi Yang Mulia, bagaimana jika beast tadi kembali lagi?” tanya Bansu, lalu menuturkan, “itu beast tingkat tinggi. Makhluk itu liar dan menyerang apa saja yang ada
Kai bangun dari tidur secara perlahan. Tubuhnya tidak terasa lemas seperti malam sebelumnya, sakit di kepala dan dadanya juga sudah tidak terasa.Kai menatap jendela yang sedikit terbuka—mungkin Ruhi atau Bansu yang telah membukanya. Ingatannya kembali pada saat dia bicara dengan Kaizen.“Aku jadi ingin tahu seperti apa kekaisaran Ansa itu,” gumam Kai. “Bahkan namanya pun mengingatkanku pada Ansa Dynamics.”Sudut bibir Kai perlahan terangkat. Jika dia tidak bisa membalas dendam pada Ren dan Ansa Dynamics, mungkin dia bisa bermain-main dengan Ansa yang satu ini.Namun sebelum itu semua, Kai harus mengetahui tentang dunia ini dan hierarki di dalamnya. Statusnya sebagai mantan putra mahkota yang hampir kehilangan kewarasannya, mungkin tidak akan menyusahkannya dalam mencari informasi.Kai turun dari ranjang. Langkahnya pelan tapi pasti menuju kursi di dekat jendela. Baru saja hendak membuka jendela lebih lebar, suara seseorang terdengar dari luar.“Bagaimana menurutmu? Apakah Yang Mulia
Ruangan itu masih sunyi setelah Kai membentak tabib tadi. Ruhi dan Bansu saling menatap dengan alis yang mengernyit. Sementara itu, tabib tadi—yang kerap dipanggil Tabib Wi—tampak ragu untuk melakukan pemeriksaan.“Yang Mulia,” ucap Bansu dengan hati-hati. “Tolong izinkan Tabib Wi untuk memeriksa kondisi Anda.”Kai tidak langsung menjawab. Dia justru menatap mereka satu per satu.Ruhi tampak gelisah. Tabib Wi dan Bansu terlihat khawatir.Kai memijat pelipisnya dengan pelan. Kepalanya masih berdenyut sakit sesekali, dengan ingatan lain yang bermunculan secara samar.Namun setidaknya, sekarang Kai semakin memahami beberapa hal. Tempat ini bukan penculikan. Orang-orang di depan Kai mengenalnya, atau lebih tepatnya mengenal Kaizen—pemilik tubuh ini.Kai memejamkan matanya sejenak. Dia tidak benar-benar selamat. Jiwanya pindah ke tubuh orang lain di dunia lain—sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan dalam imajinasi terliarnya sekalipun.Kaizen Wilang. Kai mengembuskan napas dengan pelan.
Rasa sakit menghantam kepala Kai begitu kesadarannya kembali. Napasnya berat, sementara aroma herbal asing tercium samar di hidungnya. Tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga.Kai membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya sempat buram, tapi kemudian semua tampak jelas.Kai mengernyit sambil mengamati ruangan itu. Langit-langit dan dindingnya terbuat dari kayu. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Di samping ranjang, beberapa mangkuk kecil berisi cairan asing tersusun rapi di atas meja kayu.Kai menyadari bahwa ini bukan di rumah sakit—tentu saja. Bukan juga di apartemen mewahnya. Bahkan sangat jauh dari kesan modern yang biasa dia lihat.Kai langsung bangkit saat mengingat kecelakaan yang dia alami. Namun, tindakannya itu justru membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama di bagian dada.Meski demikian, Kai tetap memaksa untuk duduk. Dia harus memahami apa yang terjadi.Apakah aku selamat? Kai tersenyum tipis. Setidaknya dia b







