LOGINRoda-roda Gulfstream G650ER menghantam landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan entakan keras, mengakhiri penerbangan penuh badai dari Singapura. Entakan itu mengguncang seluruh tubuhku, memaksaku kembali ke realitas bumi Jakarta yang pengap oleh intrik. Di luar jendela kabin, rintik hujan membasahi aspal yang hitam, memantulkan lampu-lampu bandara seperti genangan merkuri.
Aku merapikan blazer hitamku, memastikan ponsel rahasia di saku dalam tetap berada di tempatnyaMalam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan kebusukan di balik gemerlap lampu pencakar langitnya. Aku berdiri di dekat dinding kaca penthouse Arkana, menatap jalanan ibu kota yang basah pasca-hujan. Di dalam ruangan bernuansa monokrom ini, keheningan terasa begitu padat, hampir menyerupai zat padat yang menyumbat tenggorokanku. Di jariku, cincin berlian hitam pemberian Arkana memantulkan sisa cahaya lampu kota, sebuah tanda kepemilikan yang kini terasa seperti lingkaran api.Aku meraba saku dalam blazer hitamku yang tergeletak di atas sofa. Ponsel rahasia itu masih ada di sana. Di dalamnya, rekaman suara Arkana dan buku harian digital selingkuhan Pandu tersimpan rapi, siap menjadi peluru yang akan menghancurkan menara gading ini lusa di pengadilan audit."Kau tidak bisa tidur?"Suara rendah berwibawa itu memecah kesunyian dari arah belakang. Arkana melangkah keluar dari kamar utama hanya dengan mengenakan celana kain hitam dan kemeja put
Roda-roda Gulfstream G650ER menghantam landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan entakan keras, mengakhiri penerbangan penuh badai dari Singapura. Entakan itu mengguncang seluruh tubuhku, memaksaku kembali ke realitas bumi Jakarta yang pengap oleh intrik. Di luar jendela kabin, rintik hujan membasahi aspal yang hitam, memantulkan lampu-lampu bandara seperti genangan merkuri. Aku merapikan blazer hitamku, memastikan ponsel rahasia di saku dalam tetap berada di tempatnya, menempel di atas jantungku yang berdegup kaku. Arkana sudah berdiri di dekat pintu keluar kabin, jas hitamnya sudah terpasang sempurna tanpa kerutan sedikit pun. Ia menoleh sejenak, matanya yang sedalam obsidian menyisir penampilanku, mencari sisa-sisa kerapuhan pasca-keintiman brutal di atas ranjang beludru tadi. "Topengmu kurang tebal, Anindya," ucapnya rendah, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin pesawat yang mulai melambat. "Komisioner kejaksaan ada di lobi bawah. Pasa
Deru mesin ganda Gulfstream G650ER terdengar seperti dengungan konstan yang meredam semua suara di dalam kabin jet pribadi ini. Di luar jendela kecil di samping tempat dudukku, awan hitam bergulung-gulung, sesekali diterangi kilat badai malam yang mengiringi penerbangan kami kembali menuju Jakarta. Di atas meja lipat mahoni di depanku, segelas air es dengan embun yang mencair perlahan mencerminkan wajahku yang kaku.Aku duduk tegak dengan blazer hitam yang mengunci rapat seluruh tubuhku. Di balik kain mahal itu, tepat di atas jantungku, ponsel rahasia berisi salinan buku harian digital dari pengacara Pandu terasa seperti sebuah detonator yang siap meledak. Singapura sudah tertinggal ribuan kaki di bawah sana, bersama dengan William yang hancur dan jabatan CEO regional yang kini resmi melekat di namaku. Namun, kepuasan itu terasa hambar. Di duniaku yang baru, setiap pencapaian hanyalah lapisan zirah baru untuk menutupi luka yang terus menganga.Di seberang lorong
Amplop cokelat lecek di dalam belahan blazerku terasa seperti sebongkah es yang perlahan membekukan seluruh kulit dadaku. Sepanjang sisa sore itu, aku duduk di balik meja CEO regional, menandatangani satu demi satu berkas administrasi dengan gerakan mekanis yang terlatih. Di seberang ruangan, Arkana fokus pada laptopnya, sesekali memberikan instruksi pendek lewat telepon satelitnya ke Jakarta. Pria itu tampak begitu tenang, begitu megah dalam balutan kekuasaan yang ia curi dari kehidupan orang lain, termasuk kehidupanku.Setiap kali jarinya mengetuk meja atau suaranya yang bariton bergema di ruangan ini, rekaman bayangan masa lalu yang dibawa pengacara Pandu tadi berputar di kepalaku. “Buat skenario agar dia tidak punya pilihan selain lari kepadaku.” Kata-kata itu kini memiliki bukti fisik. Sebuah buku harian digital, sebuah bukti transfer, dan rekaman suara asli Arkana yang tidak bisa ia bantah dengan kebohongan korporat mana pun.Aku meliriknya dari balik laya
Aku melangkah mendekati meja kerja kaca, memungut blazer putih gadingku yang tergeletak di atas lantai marmer. Saat memakainya kembali, aku merasakan perih di pergelangan tanganku, bekas cengkeraman Arkana saat ia mengunciku pada dinding kaca tadi masih membekas kemerahan. Pria itu selalu tahu bagaimana cara meninggalkan jejak yang tak bisa kuhapus hanya dengan air mandi.Aku duduk di kursi kebesaran yang kini resmi menjadi milikku. Surat pengumuman resmi pengangkatanku sebagai CEO regional Singapura sudah terpampang di layar monitor komputer, siap dikirim ke seluruh jaringan Tri Utama Group di Asia Tenggara dalam hitungan menit. Ini adalah singgasana yang kubayar dengan air mata, pengkhianatan, dan penyerahan diri yang menjijikkan.Pintu ruangan diketuk tiga kali dengan ketukan yang ragu-ragu. Aku menekan tombol pembuka otomatis, membiarkan zirah dinginku kembali terpasang sempurna di wajahku sebelum orang di luar sana melangkah masuk.Sekretaris baru
Hujan di luar jendela kamar hotel penthouse Marina Bay meluruhkan sisa-sisa cahaya malam Singapura, menyisakan refleksi dingin pada dinding kaca yang menjulang. Aku berdiri mematung di dekat balkon yang terkunci, menggenggam selembar kertas memo resmi berlambang Merlion Ventures. Rapat dengan komite audit semalam memang berakhir dengan kemenangan mutlak atas William, namun rasa kemenangan itu menguap begitu saja saat fajar menyingsing, digantikan oleh kesadaran baru yang lebih mencekik.Aku melirik Arkana. Pria itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon internasionalnya di meja kerja sudut ruangan. Ia hanya mengenakan kemeja putih tanpa dasi yang lengannya digulung hingga siku, namun aura dominasi yang memancar darinya sanggup mempersempit seluruh ruang udara di kamar mewah ini."William mengajukan pengunduran diri pagi ini," ucap Arkana, memecah kesunyian dengan nada suara yang begitu datar, seolah ia baru saja melaporkan fluktuasi harga saham harian. "Kau me







