หน้าหลัก / Romansa / Amnesti Sang Eksekutor / Chapter 6: Meja yang Berjarak

แชร์

Chapter 6: Meja yang Berjarak

ผู้เขียน: Adelia
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-01 17:00:02

Suasana kantor pagi ini terasa jauh lebih dingin daripada AC yang menderu di langit-langit. Aku duduk di meja kecilku di sudut ruangan Arkana, mencoba fokus pada layar laptop meski aku tahu puluhan pasang mata sedang membicarakan keberadaanku di balik pintu kaca ini.

​Tadi pagi, saat aku berjalan melewati meja divisi pemasaran, tidak ada lagi sapaan hangat atau tawaran kopi dari rekan-rekanku. Mereka hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk dengan bisik-bisik yang terhenti saat aku menoleh. Aku kini bukan lagi bagian dari mereka; aku adalah "mata-mata" yang dibawa oleh sang algojo.

​"Anindya, bawa dokumen ini ke bagian keuangan," suara Arkana memecah lamunanku.

​Aku berdiri, mengambil map yang ia sodorkan tanpa berani menatap matanya terlalu lama. Jemariku sempat bersentuhan dengan kulitnya yang hangat saat mengambil map itu, dan sensasi listrik yang familiar kembali menjalar, membuatku hampir menjatuhkan dokumen tersebut.

​Lantai keuangan berada dua lantai di bawah. Begitu aku keluar dari lift, aku berpapasan dengan Maya, teman dekatku yang sedang hamil tujuh bulan. Biasanya kami akan menghabiskan waktu lima menit untuk membahas perkembangan bayinya, tapi kali ini Maya justru mempercepat langkahnya.

​"Maya, tunggu," panggilku lirih.

​Ia berhenti, tapi ia tidak menoleh sepenuhnya ke arahku. "Maaf, Anin. Aku harus segera menyerahkan laporan bulanan sebelum departemenku masuk daftar 'aset non-produktif' asisten baru Pak Arkana."

​Kalimatnya menghujam tepat di ulu hatiku. Aku ingin menjelaskan bahwa aku melakukan ini justru untuk melindunginya, tapi lidahku terasa kelu. Bagaimana cara menjelaskan bahwa aku menjual harga diriku di hotel malam itu demi menyelamatkan pekerjaan mereka?

​Aku hanya bisa berdiri mematung sambil melihat punggungnya menjauh. Di koridor ini, aku menyadari bahwa Arkana tidak hanya membeli waktuku, dia juga berhasil mencabut akar kehidupanku di kantor ini.

​Kembali ke ruangan Arkana, aku menemukan pria itu sedang berdiri di depan mejaku, memegang sebuah kotak kardus kecil. Di dalamnya berisi barang-barang dari meja lamaku, bingkai foto, tanaman kaktus kecil, dan mug kesayanganku.

​"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.

​"Membersihkan sampah," jawabnya tanpa dosa. "Kamu tidak butuh kenangan dari departemen yang sebentar lagi akan berubah bentuk."

​Ia mengambil bingkai fotoku dengan Pandu yang belum sempat kubuang, lalu menjatuhkannya ke dalam tempat sampah di samping mejanya. Suara kaca yang pecah di dalam sana terdengar seperti akhir dari tujuh tahun hidupku yang sia-sia.

​"Jangan pernah membawa masa lalumu ke ruangan ini lagi, Anindya," ia melangkah mendekat, mengurungku di antara meja dan tubuhnya yang tinggi. "Di sini, hanya ada pekerjaan, dan hanya ada saya."

​Aku menatap tumpukan kaca pecah di tempat sampah itu dengan mata yang terasa panas. Kemarahan meledak di dadaku, membuatku berani mendorong dadanya meski ia tidak bergeming sedikit pun.

​"Kamu tidak punya hak untuk mengatur apa yang harus aku ingat atau lupakan!" desisku dengan suara bergetar.

​Arkana tidak marah; ia justru meraih daguku, memaksaku untuk menatap matanya yang sedalam jurang. "Aku punya hak atas segalanya yang ada pada dirimu, termasuk pikiranmu. Berhenti meratapi pria yang bahkan tidak mengingat namamu saat dia memasangkan cincin ke jari wanita lain."

​Sentuhannya di daguku terasa kasar namun entah kenapa membuat pertahananku runtuh perlahan. Ia benar, tapi caranyanya menyampaikan kebenaran itu sangatlah kejam.

​Ia melepaskan daguku, lalu kembali ke kursi kebesarannya seolah tidak terjadi apa-apa. "Duduk. Kita punya rapat dengan jajaran direksi jam dua siang, dan aku ingin kamu mencatat setiap kelemahan yang mereka tunjukkan."

​Rapat siang itu adalah neraka jenis baru. Aku duduk di samping Arkana, menghadapi para direktur yang usianya jauh di atasku, namun mereka semua tampak gemetar setiap kali Arkana membuka mulut.

​Arkana tidak memaki; ia hanya menyajikan data kegagalan mereka dengan nada bicara yang sangat sopan namun mematikan. Sesekali ia melirikku, memberiku kode untuk mencatat poin-poin tertentu yang nantinya akan ia gunakan untuk "memenggal" posisi mereka.

​Aku merasa seperti tangan kanan malaikat maut. Setiap huruf yang kuketik di tablet kerjaku terasa seperti paku yang menyegel peti mati karier seseorang.

​"Bagaimana menurutmu, Anindya?" tanya Arkana tiba-tiba di tengah rapat, mengejutkan semua orang di ruangan itu. "Apakah strategi promosi yang mereka ajukan layak untuk dipertahankan?"

​Seluruh direktur menatapku dengan tatapan memohon sekaligus meremehkan. Mereka tidak percaya bahwa nasib mereka kini bergantung pada jawaban seorang asisten manajer muda yang baru kemarin sore dianggap tidak ada.

​Aku menelan ludah, melirik ke arah Arkana yang menungguku dengan senyum miring yang provokatif. Ia sengaja melempar aku ke kandang singa ini untuk menguji apakah aku cukup kuat untuk menjadi bagian dari dunianya yang berdarah dingin.

​"Strateginya terlalu banyak celah dan tidak realistis dengan kondisi pasar saat ini, Pak," jawabku akhirnya, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

​Aku melihat salah satu direktur memukul meja dengan frustrasi, sementara Arkana hanya mengangguk puas. "Dengar itu? Bahkan asisten saya tahu kalian hanya membuang-buang anggaran perusahaan."

​Rapat ditutup dengan suasana yang sangat tegang. Saat para direktur keluar dengan wajah merah padam, aku hanya bisa menatap tanganku yang masih sedikit gemetar di bawah meja.

​Arkana bangkit, lalu berjalan menuju pintu dan menguncinya dari dalam. Ia berbalik, menatapku dengan binar yang berbeda di matanya, binar kepuasan yang membuat bulu kudukku meremang.

​"Kerja bagus, Anindya," ia melangkah mendekat, kali ini tanpa jarak sama sekali. "Kamu mulai belajar cara menggigit, bukan hanya menggonggong."

​Ia mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lambat. Aku ingin menjauh, tapi tubuhku justru terkhianati oleh rasa nyaman yang aneh saat ia berada sedekat ini.

​"Sekarang, tunjukkan padaku apa lagi yang bisa kamu lakukan untuk menyenangkan atasanmu," bisiknya tepat di depan bibirku, menyisakan jarak yang sangat tipis yang membuat napasku tercekat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 47: Dingin Sebelum Badai

    ​Malam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan kebusukan di balik gemerlap lampu pencakar langitnya. Aku berdiri di dekat dinding kaca penthouse Arkana, menatap jalanan ibu kota yang basah pasca-hujan. Di dalam ruangan bernuansa monokrom ini, keheningan terasa begitu padat, hampir menyerupai zat padat yang menyumbat tenggorokanku. Di jariku, cincin berlian hitam pemberian Arkana memantulkan sisa cahaya lampu kota, sebuah tanda kepemilikan yang kini terasa seperti lingkaran api.​Aku meraba saku dalam blazer hitamku yang tergeletak di atas sofa. Ponsel rahasia itu masih ada di sana. Di dalamnya, rekaman suara Arkana dan buku harian digital selingkuhan Pandu tersimpan rapi, siap menjadi peluru yang akan menghancurkan menara gading ini lusa di pengadilan audit.​"Kau tidak bisa tidur?"​Suara rendah berwibawa itu memecah kesunyian dari arah belakang. Arkana melangkah keluar dari kamar utama hanya dengan mengenakan celana kain hitam dan kemeja put

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 46: Pijakan yang Retak

    ​Roda-roda Gulfstream G650ER menghantam landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan entakan keras, mengakhiri penerbangan penuh badai dari Singapura. Entakan itu mengguncang seluruh tubuhku, memaksaku kembali ke realitas bumi Jakarta yang pengap oleh intrik. Di luar jendela kabin, rintik hujan membasahi aspal yang hitam, memantulkan lampu-lampu bandara seperti genangan merkuri. ​Aku merapikan blazer hitamku, memastikan ponsel rahasia di saku dalam tetap berada di tempatnya, menempel di atas jantungku yang berdegup kaku. Arkana sudah berdiri di dekat pintu keluar kabin, jas hitamnya sudah terpasang sempurna tanpa kerutan sedikit pun. Ia menoleh sejenak, matanya yang sedalam obsidian menyisir penampilanku, mencari sisa-sisa kerapuhan pasca-keintiman brutal di atas ranjang beludru tadi. ​"Topengmu kurang tebal, Anindya," ucapnya rendah, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin pesawat yang mulai melambat. "Komisioner kejaksaan ada di lobi bawah. Pasa

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 45: Deru di Ketinggian

    ​Deru mesin ganda Gulfstream G650ER terdengar seperti dengungan konstan yang meredam semua suara di dalam kabin jet pribadi ini. Di luar jendela kecil di samping tempat dudukku, awan hitam bergulung-gulung, sesekali diterangi kilat badai malam yang mengiringi penerbangan kami kembali menuju Jakarta. Di atas meja lipat mahoni di depanku, segelas air es dengan embun yang mencair perlahan mencerminkan wajahku yang kaku.​Aku duduk tegak dengan blazer hitam yang mengunci rapat seluruh tubuhku. Di balik kain mahal itu, tepat di atas jantungku, ponsel rahasia berisi salinan buku harian digital dari pengacara Pandu terasa seperti sebuah detonator yang siap meledak. Singapura sudah tertinggal ribuan kaki di bawah sana, bersama dengan William yang hancur dan jabatan CEO regional yang kini resmi melekat di namaku. Namun, kepuasan itu terasa hambar. Di duniaku yang baru, setiap pencapaian hanyalah lapisan zirah baru untuk menutupi luka yang terus menganga.​Di seberang lorong

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 44: Labirin Berbisa

    ​Amplop cokelat lecek di dalam belahan blazerku terasa seperti sebongkah es yang perlahan membekukan seluruh kulit dadaku. Sepanjang sisa sore itu, aku duduk di balik meja CEO regional, menandatangani satu demi satu berkas administrasi dengan gerakan mekanis yang terlatih. Di seberang ruangan, Arkana fokus pada laptopnya, sesekali memberikan instruksi pendek lewat telepon satelitnya ke Jakarta. Pria itu tampak begitu tenang, begitu megah dalam balutan kekuasaan yang ia curi dari kehidupan orang lain, termasuk kehidupanku.​Setiap kali jarinya mengetuk meja atau suaranya yang bariton bergema di ruangan ini, rekaman bayangan masa lalu yang dibawa pengacara Pandu tadi berputar di kepalaku. “Buat skenario agar dia tidak punya pilihan selain lari kepadaku.” Kata-kata itu kini memiliki bukti fisik. Sebuah buku harian digital, sebuah bukti transfer, dan rekaman suara asli Arkana yang tidak bisa ia bantah dengan kebohongan korporat mana pun.​Aku meliriknya dari balik laya

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 43: Gema di Lorong Sepi

    ​Aku melangkah mendekati meja kerja kaca, memungut blazer putih gadingku yang tergeletak di atas lantai marmer. Saat memakainya kembali, aku merasakan perih di pergelangan tanganku, bekas cengkeraman Arkana saat ia mengunciku pada dinding kaca tadi masih membekas kemerahan. Pria itu selalu tahu bagaimana cara meninggalkan jejak yang tak bisa kuhapus hanya dengan air mandi.​Aku duduk di kursi kebesaran yang kini resmi menjadi milikku. Surat pengumuman resmi pengangkatanku sebagai CEO regional Singapura sudah terpampang di layar monitor komputer, siap dikirim ke seluruh jaringan Tri Utama Group di Asia Tenggara dalam hitungan menit. Ini adalah singgasana yang kubayar dengan air mata, pengkhianatan, dan penyerahan diri yang menjijikkan.​Pintu ruangan diketuk tiga kali dengan ketukan yang ragu-ragu. Aku menekan tombol pembuka otomatis, membiarkan zirah dinginku kembali terpasang sempurna di wajahku sebelum orang di luar sana melangkah masuk.​Sekretaris baru

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 42: Bara di Balik Zirah

    Hujan di luar jendela kamar hotel penthouse Marina Bay meluruhkan sisa-sisa cahaya malam Singapura, menyisakan refleksi dingin pada dinding kaca yang menjulang. Aku berdiri mematung di dekat balkon yang terkunci, menggenggam selembar kertas memo resmi berlambang Merlion Ventures. Rapat dengan komite audit semalam memang berakhir dengan kemenangan mutlak atas William, namun rasa kemenangan itu menguap begitu saja saat fajar menyingsing, digantikan oleh kesadaran baru yang lebih mencekik.​Aku melirik Arkana. Pria itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon internasionalnya di meja kerja sudut ruangan. Ia hanya mengenakan kemeja putih tanpa dasi yang lengannya digulung hingga siku, namun aura dominasi yang memancar darinya sanggup mempersempit seluruh ruang udara di kamar mewah ini.​"William mengajukan pengunduran diri pagi ini," ucap Arkana, memecah kesunyian dengan nada suara yang begitu datar, seolah ia baru saja melaporkan fluktuasi harga saham harian. "Kau me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status