เข้าสู่ระบบSuasana kantor pagi ini terasa jauh lebih dingin daripada AC yang menderu di langit-langit. Aku duduk di meja kecilku di sudut ruangan Arkana, mencoba fokus pada layar laptop meski aku tahu puluhan pasang mata sedang membicarakan keberadaanku di balik pintu kaca ini.
Tadi pagi, saat aku berjalan melewati meja divisi pemasaran, tidak ada lagi sapaan hangat atau tawaran kopi dari rekan-rekanku. Mereka hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk dengan bisik-bisik yang terhenti saat aku menoleh. Aku kini bukan lagi bagian dari mereka; aku adalah "mata-mata" yang dibawa oleh sang algojo. "Anindya, bawa dokumen ini ke bagian keuangan," suara Arkana memecah lamunanku. Aku berdiri, mengambil map yang ia sodorkan tanpa berani menatap matanya terlalu lama. Jemariku sempat bersentuhan dengan kulitnya yang hangat saat mengambil map itu, dan sensasi listrik yang familiar kembali menjalar, membuatku hampir menjatuhkan dokumen tersebut. Lantai keuangan berada dua lantai di bawah. Begitu aku keluar dari lift, aku berpapasan dengan Maya, teman dekatku yang sedang hamil tujuh bulan. Biasanya kami akan menghabiskan waktu lima menit untuk membahas perkembangan bayinya, tapi kali ini Maya justru mempercepat langkahnya. "Maya, tunggu," panggilku lirih. Ia berhenti, tapi ia tidak menoleh sepenuhnya ke arahku. "Maaf, Anin. Aku harus segera menyerahkan laporan bulanan sebelum departemenku masuk daftar 'aset non-produktif' asisten baru Pak Arkana." Kalimatnya menghujam tepat di ulu hatiku. Aku ingin menjelaskan bahwa aku melakukan ini justru untuk melindunginya, tapi lidahku terasa kelu. Bagaimana cara menjelaskan bahwa aku menjual harga diriku di hotel malam itu demi menyelamatkan pekerjaan mereka? Aku hanya bisa berdiri mematung sambil melihat punggungnya menjauh. Di koridor ini, aku menyadari bahwa Arkana tidak hanya membeli waktuku, dia juga berhasil mencabut akar kehidupanku di kantor ini. Kembali ke ruangan Arkana, aku menemukan pria itu sedang berdiri di depan mejaku, memegang sebuah kotak kardus kecil. Di dalamnya berisi barang-barang dari meja lamaku, bingkai foto, tanaman kaktus kecil, dan mug kesayanganku. "Apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan nada yang mulai meninggi. "Membersihkan sampah," jawabnya tanpa dosa. "Kamu tidak butuh kenangan dari departemen yang sebentar lagi akan berubah bentuk." Ia mengambil bingkai fotoku dengan Pandu yang belum sempat kubuang, lalu menjatuhkannya ke dalam tempat sampah di samping mejanya. Suara kaca yang pecah di dalam sana terdengar seperti akhir dari tujuh tahun hidupku yang sia-sia. "Jangan pernah membawa masa lalumu ke ruangan ini lagi, Anindya," ia melangkah mendekat, mengurungku di antara meja dan tubuhnya yang tinggi. "Di sini, hanya ada pekerjaan, dan hanya ada saya." Aku menatap tumpukan kaca pecah di tempat sampah itu dengan mata yang terasa panas. Kemarahan meledak di dadaku, membuatku berani mendorong dadanya meski ia tidak bergeming sedikit pun. "Kamu tidak punya hak untuk mengatur apa yang harus aku ingat atau lupakan!" desisku dengan suara bergetar. Arkana tidak marah; ia justru meraih daguku, memaksaku untuk menatap matanya yang sedalam jurang. "Aku punya hak atas segalanya yang ada pada dirimu, termasuk pikiranmu. Berhenti meratapi pria yang bahkan tidak mengingat namamu saat dia memasangkan cincin ke jari wanita lain." Sentuhannya di daguku terasa kasar namun entah kenapa membuat pertahananku runtuh perlahan. Ia benar, tapi caranyanya menyampaikan kebenaran itu sangatlah kejam. Ia melepaskan daguku, lalu kembali ke kursi kebesarannya seolah tidak terjadi apa-apa. "Duduk. Kita punya rapat dengan jajaran direksi jam dua siang, dan aku ingin kamu mencatat setiap kelemahan yang mereka tunjukkan." Rapat siang itu adalah neraka jenis baru. Aku duduk di samping Arkana, menghadapi para direktur yang usianya jauh di atasku, namun mereka semua tampak gemetar setiap kali Arkana membuka mulut. Arkana tidak memaki; ia hanya menyajikan data kegagalan mereka dengan nada bicara yang sangat sopan namun mematikan. Sesekali ia melirikku, memberiku kode untuk mencatat poin-poin tertentu yang nantinya akan ia gunakan untuk "memenggal" posisi mereka. Aku merasa seperti tangan kanan malaikat maut. Setiap huruf yang kuketik di tablet kerjaku terasa seperti paku yang menyegel peti mati karier seseorang. "Bagaimana menurutmu, Anindya?" tanya Arkana tiba-tiba di tengah rapat, mengejutkan semua orang di ruangan itu. "Apakah strategi promosi yang mereka ajukan layak untuk dipertahankan?" Seluruh direktur menatapku dengan tatapan memohon sekaligus meremehkan. Mereka tidak percaya bahwa nasib mereka kini bergantung pada jawaban seorang asisten manajer muda yang baru kemarin sore dianggap tidak ada. Aku menelan ludah, melirik ke arah Arkana yang menungguku dengan senyum miring yang provokatif. Ia sengaja melempar aku ke kandang singa ini untuk menguji apakah aku cukup kuat untuk menjadi bagian dari dunianya yang berdarah dingin. "Strateginya terlalu banyak celah dan tidak realistis dengan kondisi pasar saat ini, Pak," jawabku akhirnya, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Aku melihat salah satu direktur memukul meja dengan frustrasi, sementara Arkana hanya mengangguk puas. "Dengar itu? Bahkan asisten saya tahu kalian hanya membuang-buang anggaran perusahaan." Rapat ditutup dengan suasana yang sangat tegang. Saat para direktur keluar dengan wajah merah padam, aku hanya bisa menatap tanganku yang masih sedikit gemetar di bawah meja. Arkana bangkit, lalu berjalan menuju pintu dan menguncinya dari dalam. Ia berbalik, menatapku dengan binar yang berbeda di matanya, binar kepuasan yang membuat bulu kudukku meremang. "Kerja bagus, Anindya," ia melangkah mendekat, kali ini tanpa jarak sama sekali. "Kamu mulai belajar cara menggigit, bukan hanya menggonggong." Ia mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lambat. Aku ingin menjauh, tapi tubuhku justru terkhianati oleh rasa nyaman yang aneh saat ia berada sedekat ini. "Sekarang, tunjukkan padaku apa lagi yang bisa kamu lakukan untuk menyenangkan atasanmu," bisiknya tepat di depan bibirku, menyisakan jarak yang sangat tipis yang membuat napasku tercekat.Aku turun dari meja marmer rias dengan kaki yang agak bergetar, memunguti jubah mandi sutra hitamku yang berserakan di atas lantai. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, memakai kembali jubah itu, dan meraba kompartemen tas kerjaku. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan salinan dokumen Swiss masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. Aku menatap punggung tegap Arkana yang kini berjalan menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh kembali. "Aku akan menyelesaikan integrasi bursa itu, Arkana," ucapku dengan suara yang terdengar lebih dalam, lebih sepi, mengalir tanpa riak emosi yang biasa ia gunakan untuk memancing haskatku. "Aku akan memastikan seluruh modal Merlion Ventures masuk ke dalam sistem kita. Tapi ingat satu hal... angka-angka yang kau siapkan di peladen pusat itu bukan lagi rahasiamu sendiri. Kau boleh merasa menang karena telah menguasai
"Maka seret aku, Arkana! Aku tidak pernah takut mati bersamaku!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak ketenangan kaku yang kubangun sejak rapat komisaris selesai. Aku membalas cengkeramannya pada kulit bahunya dengan kuku-kukuku, merobek sisa kain kemeja hitamnya dengan sisa kekuatan yang kupunya, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. Ia tidak memberiku ruang lagi untuk bernapas atau memikirkan penerbangan jam sepuluh pagi menuju Singapura lusa. Arkana membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan tuntutan dominasi yang absolut. Lidahnya menjelajah dengan paksa, menghancurkan seluruh sisa pertahanan psikologis dan logika hukum di kepalaku dalam hitungan detik. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, meronta di bawah kungkungannya dengan keputusasaan yang liar, namun tubuhku, pengkhianat terbesar yang selalu merindukan rasa sakit dari se
Ia telah melepaskan jas tiga lapisnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang seluruh kancing atasnya dibiarkan terbuka, mengekspos dada bidangnya yang tegap dan urat lehernya yang menegang halus. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah gelas kristal berisi wiski dengan es batu yang sudah mencair setengahnya. Aroma cendana, tembakau mahal, dan alkohol yang pekat langsung menjajah indra penciumanku, mereduksi pasokan oksigen di sekitarku hingga dadaku terasa sesak. Arkana berhenti tepat di belakangku, menatap pantulan kami di cermin rias yang besar. Sepasang matanya yang sedalam palung obsidian menyisir garis leherku yang terekspos, sebelum tatapannya turun dan mengunci ponsel rahasia di atas meja marmer. Seringai tipis, senyum predator yang selalu memicu alarm bahaya di otakkku, perlahan muncul di sudut berduri bibirnya. "Kau bahkan tidak mencoba menyembunyikan senjatamu lagi malam ini, Anindya," ucapnya parau, suaranya yang bariton mengalun rendah, bergetar halus di dekat daun telingak
"Penerbanganmu kembali ke Singapura dijadwalkan lusa jam sepuluh pagi, Anindya," ucapnya datar, suaranya sudah kembali sedingin es korporat seolah keintiman brutal beberapa menit lalu tidak pernah terjadi di atas meja rapat ini. "Haryo sudah disingkirkan dari komite keuangan pusat. Sekarang, fokuslah pada penyelesaian integrasi bursa dengan Merlion Ventures, dan pastikan tidak ada lagi kurir swasta yang keluar dari menara ini tanpa sepengetahuan tim keamananku." Aku turun dari meja mahoni dengan kaki yang agak bergetar, memunguti pakaianku yang berserakan di atas lantai marmer. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, mengambil blazer abu-abu gelapku yang kini kusut, dan meraba saku dalamnya. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan buku catatan digital dari pengacara Pandu masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. Aku menatap punggung tegap Arkana
"Aku menikmati melihatmu menjadi apa yang seharusnya kau menjadi, Anindya. Seorang penguasa yang tidak lagi memiliki belas kasihan," bisiknya parau, tangan kanannya merayap kasar ke tengkukku, mencengkeram rambutku dengan erat hingga aku terpaksa mendongak menatap matanya yang memancarkan kegelapan mutlak. "Kau marah karena aku mengujimu? Skenario Haryo pagi ini adalah kepastian yang kubutuhkan untuk melihat apakah kau sudah cukup kuat untuk memegang Singapura tanpaku. Dan kau membuktikannya dengan sangat sempurna, Anindya. Kau membenciku, tapi tubuh dan logikamu telah sepenuhnya terbiasa dengan ritme kekuasaanku." "Aku membencimu karena kau telah merusak seluruh sisa kemanusiaanku, Arkana!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak riasan tegas yang kupasang sejak subuh. Aku memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. "Kau meranca
Aku mengepalkan tangan kiriku di bawah meja mahoni hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku, meminjam rasa sakit fisik untuk mengunci amarah yang murni yang hampir meledak dari balik zirah blazerku. Aku menegakkan punggung, meletakkan pulpen montblanc-ku dengan denting kaku yang memotong seluruh kasak-kusuk di ruangan. "Pak Haryo, dan para pengacara yang terhormat," suaraku mengalir jernih, tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup merobek setiap jengkal keangkuhan di wajah mereka. "Dugaan yang Anda bawa ke meja ini hari ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kepanikan yang menggelikan dari sisa-sisa pengikut faksi Baskoro yang takut kehilangan sisa pengaruh mereka di menara ini." Aku menekan layar tablet di depanku, memproyeksikan sebuah dokumen legalitas bermaterai internasional langsung ke layar besar di ujung ruangan. "Selisih waktu transaksi yang Anda sebut sebagai 'di luar jam bursa resmi' adalah karena transaksi tersebut dieksekusi menggunakan sistem Over-Th
Aku terbangun tepat saat cahaya abu-abu fajar menyusup melalui celah gorden kamar hotel yang asing. Kepalaku berdenyut, sisa dari ketegangan semalam yang tidak kunjung surut. Aku menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong, menyadari Arkana benar-benar menepati ucapannya untuk tidak menyentuhku lebih
Hujan turun membasahi Jakarta tepat saat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku berdiri di depan lobi gedung perkantoran yang sudah mulai sepi, meremas tali tas bahuku hingga jemariku memutih.Lantai paling atas gedung ini adalah tempat di mana Arkana Wijaya menghabiskan malamnya untuk
Aku hanya punya waktu tiga jam untuk memejamkan mata dalam ketakutan. Begitu alarm berbunyi, aku langsung mandi air dingin, berharap rasa menggigil ini bisa melunturkan sisa aroma kayu cendana yang masih menempel di kulitku.Pakaian formal yang kupakai pagi ini terasa seperti baju zirah yang sesak
"Lagi," kataku pada bartender, sambil menyodorkan gelas martini kosong yang keempat.Pria di balik bar itu menatapku ragu. "Mbak, ini sudah terlalu banyak untuk satu malam.""Aku ke sini untuk minum, bukan untuk mendengar khotbah kesehatan," jawabku dingin. Aku tidak butuh simpati dari siapa pun







