Home / Romansa / Amnesti Sang Eksekutor / Chapter 4: Koneksi Yang Salah

Share

Chapter 4: Koneksi Yang Salah

Author: Adelia
last update publish date: 2026-04-23 17:48:31

Lampu-lampu kota Jakarta tampak seperti aliran cahaya yang kabur dari balik jendela mobil Arkana. Aku duduk membatu di kursi penumpang, meremas jemariku yang terasa dingin sementara pria di sampingku mengemudi dengan ketenangan yang memuakkan.

​Kami tidak menuju ke kantor lain, melainkan ke hotel bintang lima di mana ia menyewa kamar suite permanennya. Aku tahu apa yang mungkin terjadi, dan anehnya, ada bagian dari diriku yang lebih memilih kehancuran ini daripada harus pulang ke apartemen sepi dan mengingat wajah Pandu.

​"Turun," ucapnya singkat setelah mobil berhenti sempurna di lobi pribadi.

​Aku mengikutinya masuk ke dalam lift yang bergerak cepat menuju lantai teratas. Keheningan di antara kami terasa begitu tebal hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu liar.

​Begitu pintu kamar terbuka, Arkana melemparkan kunci mobilnya ke atas meja marmer. Ia berbalik, menatapku dengan sorot mata yang tidak lagi sedingin saat di ruang rapat tadi siang.

​"Kamu punya waktu untuk berubah pikiran, Anindya," suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Keluar dari pintu itu sekarang, dan anggap kesepakatan kita tidak pernah ada."

​Aku menatapnya, mencari setitik keraguan di matanya, tapi yang kutemukan hanyalah tantangan. Jika aku keluar, aku menyelamatkan harga diriku tapi menghancurkan sepuluh nyawa rekan timku.

​"Aku tidak akan pergi," jawabku dengan suara yang lebih stabil dari yang kuduga.

​Arkana melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan panas yang memancar dari tubuhnya. Ia meletakkan tangannya di tengkukku, ibu jarinya mengusap garis rahangku dengan kelembutan yang terasa sangat berbahaya.

​"Kenapa? Karena timmu, atau karena kamu ingin aku menghapus jejak pria itu dari kepalamu?" tanyanya tepat di depan bibirku.

​Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku menjinjit, menarik kerah kemejanya, dan membungkam bibirnya dengan ciuman yang penuh dengan rasa frustrasi dan kemarahan.

​Ciuman itu disambut dengan balasan yang jauh lebih agresif. Arkana meraup bibirku, menyesapnya seolah ia sedang mencoba mengambil paksa seluruh oksigen yang kupunya.

​Punggungku menabrak dinding dingin, namun tubuh Arkana yang keras menekanku dengan intensitas yang membuat lututku lemas. Tangannya bergerak ke pinggangku, menarikku begitu rapat hingga tidak ada lagi celah di antara kami.

​Napas kami memburu, saling beradu dalam keheningan kamar yang mewah itu. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang keras di dadaku, sebuah ritme yang entah bagaimana terasa jauh lebih jujur daripada kata-katanya.

​Namun, tepat saat tangannya mulai bergerak naik untuk membuka kancing blusku, Arkana mendadak berhenti. Ia melepaskan tautan bibir kami, menyandarkan keningnya di keningku sambil memejamkan mata rapat-rapat.

​"Aku tidak ingin kamu melakukannya hanya karena merasa berutang budi padaku, Anindya," bisiknya dengan suara serak yang sarat akan pengendalian diri.

​Aku terengah-engah, menatapnya dengan tatapan bingung dan perasaan yang campur aduk. "Bukankah ini yang kamu inginkan? Bukankah ini harga yang kamu minta?"

​Arkana melepaskan tangannya dari tubuhku, melangkah mundur sejauh dua tindak. Ia kembali mengenakan topeng dinginya, merapikan kemejanya yang sedikit berantakan seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi.

​"Aku menginginkan asisten yang kompeten, bukan wanita yang menyerahkan dirinya karena terpaksa," ucapnya datar. "Gunakan kamar di sebelah sana. Kita berangkat jam enam pagi."

​Aku berdiri mematung di tengah ruangan, merasakan kehampaan yang mendadak menyerang setelah tensi panas tadi. Ia baru saja memberiku kesempatan untuk bernapas, tapi di saat yang sama, ia baru saja menunjukkan bahwa dia punya kendali penuh atas harga diriku.

​Aku melangkah menuju kamar yang ia tunjuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Malam ini aku tidak kehilangan kesucianku, tapi aku sadar aku telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: kendali atas perasaanku sendiri.

​Aku berbaring di atas tempat tidur yang luas, menatap langit-langit kamar sambil mendengarkan suara hujan di luar. Bayangan ciuman Arkana tadi terasa jauh lebih nyata dan menghantui daripada bayangan pengkhianatan Pandu selama tujuh tahun.

​Di balik dinding kamar ini, ada pria yang bisa menghancurkan hidupku hanya dengan satu tanda tangan. Dan entah kenapa, memikirkan hal itu membuatku merasa jauh lebih takut daripada saat aku menghadapi Pandu tadi malam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 77

    Aku turun dari meja marmer rias dengan kaki yang agak bergetar, memunguti jubah mandi sutra hitamku yang berserakan di atas lantai. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, memakai kembali jubah itu, dan meraba kompartemen tas kerjaku. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan salinan dokumen Swiss masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana yang kini berjalan menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh kembali. ​"Aku akan menyelesaikan integrasi bursa itu, Arkana," ucapku dengan suara yang terdengar lebih dalam, lebih sepi, mengalir tanpa riak emosi yang biasa ia gunakan untuk memancing haskatku. "Aku akan memastikan seluruh modal Merlion Ventures masuk ke dalam sistem kita. Tapi ingat satu hal... angka-angka yang kau siapkan di peladen pusat itu bukan lagi rahasiamu sendiri. Kau boleh merasa menang karena telah menguasai

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 76

    ​"Maka seret aku, Arkana! Aku tidak pernah takut mati bersamaku!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak ketenangan kaku yang kubangun sejak rapat komisaris selesai. Aku membalas cengkeramannya pada kulit bahunya dengan kuku-kukuku, merobek sisa kain kemeja hitamnya dengan sisa kekuatan yang kupunya, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. ​Ia tidak memberiku ruang lagi untuk bernapas atau memikirkan penerbangan jam sepuluh pagi menuju Singapura lusa. Arkana membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan tuntutan dominasi yang absolut. Lidahnya menjelajah dengan paksa, menghancurkan seluruh sisa pertahanan psikologis dan logika hukum di kepalaku dalam hitungan detik. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, meronta di bawah kungkungannya dengan keputusasaan yang liar, namun tubuhku, pengkhianat terbesar yang selalu merindukan rasa sakit dari se

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 75

    Ia telah melepaskan jas tiga lapisnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang seluruh kancing atasnya dibiarkan terbuka, mengekspos dada bidangnya yang tegap dan urat lehernya yang menegang halus. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah gelas kristal berisi wiski dengan es batu yang sudah mencair setengahnya. Aroma cendana, tembakau mahal, dan alkohol yang pekat langsung menjajah indra penciumanku, mereduksi pasokan oksigen di sekitarku hingga dadaku terasa sesak. ​Arkana berhenti tepat di belakangku, menatap pantulan kami di cermin rias yang besar. Sepasang matanya yang sedalam palung obsidian menyisir garis leherku yang terekspos, sebelum tatapannya turun dan mengunci ponsel rahasia di atas meja marmer. Seringai tipis, senyum predator yang selalu memicu alarm bahaya di otakkku, perlahan muncul di sudut berduri bibirnya. ​"Kau bahkan tidak mencoba menyembunyikan senjatamu lagi malam ini, Anindya," ucapnya parau, suaranya yang bariton mengalun rendah, bergetar halus di dekat daun telingak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 74

    ​"Penerbanganmu kembali ke Singapura dijadwalkan lusa jam sepuluh pagi, Anindya," ucapnya datar, suaranya sudah kembali sedingin es korporat seolah keintiman brutal beberapa menit lalu tidak pernah terjadi di atas meja rapat ini. "Haryo sudah disingkirkan dari komite keuangan pusat. Sekarang, fokuslah pada penyelesaian integrasi bursa dengan Merlion Ventures, dan pastikan tidak ada lagi kurir swasta yang keluar dari menara ini tanpa sepengetahuan tim keamananku." ​Aku turun dari meja mahoni dengan kaki yang agak bergetar, memunguti pakaianku yang berserakan di atas lantai marmer. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, mengambil blazer abu-abu gelapku yang kini kusut, dan meraba saku dalamnya. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan buku catatan digital dari pengacara Pandu masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 73

    ​"Aku menikmati melihatmu menjadi apa yang seharusnya kau menjadi, Anindya. Seorang penguasa yang tidak lagi memiliki belas kasihan," bisiknya parau, tangan kanannya merayap kasar ke tengkukku, mencengkeram rambutku dengan erat hingga aku terpaksa mendongak menatap matanya yang memancarkan kegelapan mutlak. "Kau marah karena aku mengujimu? Skenario Haryo pagi ini adalah kepastian yang kubutuhkan untuk melihat apakah kau sudah cukup kuat untuk memegang Singapura tanpaku. Dan kau membuktikannya dengan sangat sempurna, Anindya. Kau membenciku, tapi tubuh dan logikamu telah sepenuhnya terbiasa dengan ritme kekuasaanku." ​"Aku membencimu karena kau telah merusak seluruh sisa kemanusiaanku, Arkana!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak riasan tegas yang kupasang sejak subuh. Aku memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. "Kau meranca

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 72

    Aku mengepalkan tangan kiriku di bawah meja mahoni hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku, meminjam rasa sakit fisik untuk mengunci amarah yang murni yang hampir meledak dari balik zirah blazerku. Aku menegakkan punggung, meletakkan pulpen montblanc-ku dengan denting kaku yang memotong seluruh kasak-kusuk di ruangan. ​"Pak Haryo, dan para pengacara yang terhormat," suaraku mengalir jernih, tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup merobek setiap jengkal keangkuhan di wajah mereka. "Dugaan yang Anda bawa ke meja ini hari ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kepanikan yang menggelikan dari sisa-sisa pengikut faksi Baskoro yang takut kehilangan sisa pengaruh mereka di menara ini." ​Aku menekan layar tablet di depanku, memproyeksikan sebuah dokumen legalitas bermaterai internasional langsung ke layar besar di ujung ruangan. "Selisih waktu transaksi yang Anda sebut sebagai 'di luar jam bursa resmi' adalah karena transaksi tersebut dieksekusi menggunakan sistem Over-Th

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 7: Ruang Tanpa Pilihan

    Jarak yang tersisa di antara kami hanya hitungan milimeter. Aku bisa mencium aroma kopi hitam dan mint dari napas Arkana, bercampur dengan wangi maskulin yang kini mulai masuk ke dalam mimpinya setiap malam. Pria ini baru saja mengunci pintu kantor, mengubah ruangan mewah ini menjadi penjara prib

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 6: Meja yang Berjarak

    Suasana kantor pagi ini terasa jauh lebih dingin daripada AC yang menderu di langit-langit. Aku duduk di meja kecilku di sudut ruangan Arkana, mencoba fokus pada layar laptop meski aku tahu puluhan pasang mata sedang membicarakan keberadaanku di balik pintu kaca ini.​Tadi pagi, saat aku

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 2: Algojo Ruang Rapat

    Aku hanya punya waktu tiga jam untuk memejamkan mata dalam ketakutan. Begitu alarm berbunyi, aku langsung mandi air dingin, berharap rasa menggigil ini bisa melunturkan sisa aroma kayu cendana yang masih menempel di kulitku.​Pakaian formal yang kupakai pagi ini terasa seperti baju zirah yang sesak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 1: Gelas Terakhir

    ​"Lagi," kataku pada bartender, sambil menyodorkan gelas martini kosong yang keempat.​Pria di balik bar itu menatapku ragu. "Mbak, ini sudah terlalu banyak untuk satu malam."​"Aku ke sini untuk minum, bukan untuk mendengar khotbah kesehatan," jawabku dingin. Aku tidak butuh simpati dari siapa pun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status