Home / Romansa / Amnesti Sang Eksekutor / Chapter 3: Perjanjian Di Atas Meja

Share

Chapter 3: Perjanjian Di Atas Meja

Author: Adelia
last update publish date: 2026-04-23 17:30:25

Hujan turun membasahi Jakarta tepat saat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku berdiri di depan lobi gedung perkantoran yang sudah mulai sepi, meremas tali tas bahuku hingga jemariku memutih.

​Lantai paling atas gedung ini adalah tempat di mana Arkana Wijaya menghabiskan malamnya untuk membedah nasib perusahaan orang lain. Aku sempat berpikir untuk lari, memblokir nomornya, dan menghilang dari kota ini selamanya.

​Namun, wajah rekan-rekan setimku yang tadi pagi menatapku penuh harap terus terbayang di kepala. Jika aku tidak datang, besok pagi mereka semua akan menjadi pengangguran karena kesalahanku di malam itu.

​Aku melangkah keluar dari lift dan disambut oleh keheningan koridor yang terasa mencekam. Di ujung ruangan, melalui dinding kaca yang luas, aku bisa melihat sosok Arkana yang sedang berdiri membelakangiku, menatap lampu-lampu kota.

​"Anda terlambat dua menit, Anindya," suaranya memecah kesunyian tanpa perlu menoleh sedikit pun.

​Aku menelan ludah, mencoba mengatur napas yang mendadak terasa sesak. "Jalanan macet karena hujan, Pak Arkana. Saya rasa dua menit tidak akan mengubah keputusan profesional Anda."

​Arkana berbalik perlahan, melepaskan kacamata bacanya dan meletakkannya di atas meja kerja yang sangat rapi. Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, tatapan yang sama seperti saat ia mengurungku di ruang rapat tadi pagi.

​"Dua menit bagi saya adalah harga untuk sepuluh kepala karyawan di departemen Anda," ucapnya sambil melangkah mendekat. "Tapi karena Anda sudah di sini, silakan duduk."

​Aku duduk di kursi di hadapan mejanya, berusaha menjaga punggungku tetap tegak meski seluruh tubuhku ingin bersembunyi. Di tengah meja, anting perakku masih tergeletak di sana, bersandingan dengan map cokelat berisi surat likuidasi divisi pemasaran.

​"Apa yang Anda inginkan? Kenapa saya harus ke sini malam-malam hanya untuk mengambil anting?" tanyaku langsung, tidak ingin berbasa-basi lebih lama lagi.

​Arkana tertawa rendah, suara yang membuat bulu kudukku meremang. Ia menarik kursi kerjanya, duduk tepat di depanku hingga jarak kami hanya terpisah oleh meja kayu jati yang dingin.

​"Anting itu hanya alasan agar Anda tidak punya pilihan selain datang, Anindya," ia memajukan tubuhnya, menatapku tajam. "Saya tahu Anda sedang butuh uang banyak untuk melunasi cicilan mobil pria bernama Pandu itu, bukan?"

​Duniaku serasa berhenti berdetak saat mendengar nama itu keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa dia tahu detail yang sangat privat itu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?

​"Jangan berani-berani mencampuri urusan pribadi saya," desisku dengan kemarahan yang mulai membakar rasa takutku.

​Arkana menyeringai tipis, seolah kemarahanku adalah hiburan baginya. "Seorang eksekutor harus tahu kelemahan korbannya sebelum melakukan pemangkasan. Dan kelemahan Anda adalah kesetiaan bodoh pada pria yang baru saja bertunangan dengan orang lain."

​Ia menggeser map cokelat itu ke arahku, membukanya perlahan hingga aku bisa melihat deretan nama teman-temanku di sana. Di bagian paling bawah, tanda tangannya sudah tergores setengah, tinggal menunggu tekanan terakhir untuk meresmikan pemecatan massal itu.

​"Saya bisa merobek dokumen ini sekarang juga," ucapnya sambil menyentuh pinggiran kertas itu dengan jarinya yang panjang. "Dan saya bisa memastikan departemen Anda tetap aman, setidaknya untuk satu tahun ke depan."

​Aku menahan napas, menatap dokumen itu dengan mata yang mulai memanas. "Apa syaratnya? Tidak ada makan siang gratis bagi orang seperti Anda, kan?"

​Arkana menyandarkan punggungnya, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sederhana. Jadilah asisten pribadi saya selama proses likuidasi perusahaan ini berlangsung."

​"Maksud Anda asisten sekretaris?" tanyaku bingung.

​"Bukan. Saya butuh seseorang yang tahu seluk beluk kotor di dalam kantor ini, dan seseorang yang bisa saya awasi selama dua puluh empat jam," ia menekankan kalimat terakhirnya. "Termasuk menemani saya di setiap perjalanan bisnis dan... urusan pribadi lainnya."

​Aku mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku-kukuku melukai telapak tanganku sendiri. Ini bukan sekadar tawaran pekerjaan; ini adalah upaya untuk memilikiku secara utuh di bawah kendalinya.

​"Anda ingin menjadikan saya tawanan Anda?" suaraku bergetar karena rasa hina yang luar biasa.

​"Saya menyebutnya sebagai transaksi yang adil untuk menyelamatkan sepuluh nyawa rekan Anda," balasnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​Ia mengambil pulpen emasnya, memutarnya di antara jemarinya dengan gerakan yang sangat tenang. "Pilihan ada di tangan Anda. Menjadi asisten saya dan menyelamatkan tim Anda, atau keluar dari ruangan ini sekarang juga dan biarkan mereka semua kehilangan pekerjaan besok pagi."

​Aku menatap anting perak itu, lalu beralih ke wajah Arkana yang sedingin batu. Di dalam kepalaku, aku membayangkan wajah rekan-rekanku yang mungkin sedang menggendong anak mereka di rumah.

​"Kenapa harus saya?" tanyaku lirih.

​Arkana bangkit dari kursinya, berjalan memutar hingga ia berdiri tepat di belakangku. Ia meletakkan tangannya di bahuku, sentuhan yang terasa panas meski terhalang kain jas yang kukenakan.

​"Karena dari semua orang di bar itu, hanya Anda yang berani menantang saya dengan mata yang begitu hancur," bisiknya di dekat telingaku.

​Aku menutup mata rapat-rapat, merasakan kekalahan yang paling menyakitkan dalam hidupku. Aku tidak punya pilihan lain jika aku masih ingin memiliki sedikit saja martabat di depan timku.

​"Baik," ucapku akhirnya, suaraku terdengar seperti orang yang baru saja menyerahkan nyawanya. "Saya terima tawaran Anda."

​Arkana menarik tangannya dari bahuku, kembali ke sisi meja dengan senyum kemenangan yang sangat tipis. Ia merobek dokumen likuidasi itu tepat di depan mataku, membuang potongan-potongannya ke tempat sampah seolah itu hanyalah kertas tak berharga.

​"Keputusan yang cerdas, Anindya Larasati," ia mengambil anting perakku dan menggenggamnya erat. "Sekarang, ambil tas Anda. Kita mulai tugas pertama Anda malam ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 77

    Aku turun dari meja marmer rias dengan kaki yang agak bergetar, memunguti jubah mandi sutra hitamku yang berserakan di atas lantai. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, memakai kembali jubah itu, dan meraba kompartemen tas kerjaku. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan salinan dokumen Swiss masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana yang kini berjalan menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh kembali. ​"Aku akan menyelesaikan integrasi bursa itu, Arkana," ucapku dengan suara yang terdengar lebih dalam, lebih sepi, mengalir tanpa riak emosi yang biasa ia gunakan untuk memancing haskatku. "Aku akan memastikan seluruh modal Merlion Ventures masuk ke dalam sistem kita. Tapi ingat satu hal... angka-angka yang kau siapkan di peladen pusat itu bukan lagi rahasiamu sendiri. Kau boleh merasa menang karena telah menguasai

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 76

    ​"Maka seret aku, Arkana! Aku tidak pernah takut mati bersamaku!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak ketenangan kaku yang kubangun sejak rapat komisaris selesai. Aku membalas cengkeramannya pada kulit bahunya dengan kuku-kukuku, merobek sisa kain kemeja hitamnya dengan sisa kekuatan yang kupunya, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. ​Ia tidak memberiku ruang lagi untuk bernapas atau memikirkan penerbangan jam sepuluh pagi menuju Singapura lusa. Arkana membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan tuntutan dominasi yang absolut. Lidahnya menjelajah dengan paksa, menghancurkan seluruh sisa pertahanan psikologis dan logika hukum di kepalaku dalam hitungan detik. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, meronta di bawah kungkungannya dengan keputusasaan yang liar, namun tubuhku, pengkhianat terbesar yang selalu merindukan rasa sakit dari se

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 75

    Ia telah melepaskan jas tiga lapisnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang seluruh kancing atasnya dibiarkan terbuka, mengekspos dada bidangnya yang tegap dan urat lehernya yang menegang halus. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah gelas kristal berisi wiski dengan es batu yang sudah mencair setengahnya. Aroma cendana, tembakau mahal, dan alkohol yang pekat langsung menjajah indra penciumanku, mereduksi pasokan oksigen di sekitarku hingga dadaku terasa sesak. ​Arkana berhenti tepat di belakangku, menatap pantulan kami di cermin rias yang besar. Sepasang matanya yang sedalam palung obsidian menyisir garis leherku yang terekspos, sebelum tatapannya turun dan mengunci ponsel rahasia di atas meja marmer. Seringai tipis, senyum predator yang selalu memicu alarm bahaya di otakkku, perlahan muncul di sudut berduri bibirnya. ​"Kau bahkan tidak mencoba menyembunyikan senjatamu lagi malam ini, Anindya," ucapnya parau, suaranya yang bariton mengalun rendah, bergetar halus di dekat daun telingak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 74

    ​"Penerbanganmu kembali ke Singapura dijadwalkan lusa jam sepuluh pagi, Anindya," ucapnya datar, suaranya sudah kembali sedingin es korporat seolah keintiman brutal beberapa menit lalu tidak pernah terjadi di atas meja rapat ini. "Haryo sudah disingkirkan dari komite keuangan pusat. Sekarang, fokuslah pada penyelesaian integrasi bursa dengan Merlion Ventures, dan pastikan tidak ada lagi kurir swasta yang keluar dari menara ini tanpa sepengetahuan tim keamananku." ​Aku turun dari meja mahoni dengan kaki yang agak bergetar, memunguti pakaianku yang berserakan di atas lantai marmer. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, mengambil blazer abu-abu gelapku yang kini kusut, dan meraba saku dalamnya. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan buku catatan digital dari pengacara Pandu masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 73

    ​"Aku menikmati melihatmu menjadi apa yang seharusnya kau menjadi, Anindya. Seorang penguasa yang tidak lagi memiliki belas kasihan," bisiknya parau, tangan kanannya merayap kasar ke tengkukku, mencengkeram rambutku dengan erat hingga aku terpaksa mendongak menatap matanya yang memancarkan kegelapan mutlak. "Kau marah karena aku mengujimu? Skenario Haryo pagi ini adalah kepastian yang kubutuhkan untuk melihat apakah kau sudah cukup kuat untuk memegang Singapura tanpaku. Dan kau membuktikannya dengan sangat sempurna, Anindya. Kau membenciku, tapi tubuh dan logikamu telah sepenuhnya terbiasa dengan ritme kekuasaanku." ​"Aku membencimu karena kau telah merusak seluruh sisa kemanusiaanku, Arkana!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak riasan tegas yang kupasang sejak subuh. Aku memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. "Kau meranca

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 72

    Aku mengepalkan tangan kiriku di bawah meja mahoni hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku, meminjam rasa sakit fisik untuk mengunci amarah yang murni yang hampir meledak dari balik zirah blazerku. Aku menegakkan punggung, meletakkan pulpen montblanc-ku dengan denting kaku yang memotong seluruh kasak-kusuk di ruangan. ​"Pak Haryo, dan para pengacara yang terhormat," suaraku mengalir jernih, tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup merobek setiap jengkal keangkuhan di wajah mereka. "Dugaan yang Anda bawa ke meja ini hari ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kepanikan yang menggelikan dari sisa-sisa pengikut faksi Baskoro yang takut kehilangan sisa pengaruh mereka di menara ini." ​Aku menekan layar tablet di depanku, memproyeksikan sebuah dokumen legalitas bermaterai internasional langsung ke layar besar di ujung ruangan. "Selisih waktu transaksi yang Anda sebut sebagai 'di luar jam bursa resmi' adalah karena transaksi tersebut dieksekusi menggunakan sistem Over-Th

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status