Beranda / Romansa / Amnesti Sang Eksekutor / Chapter 5: Bayangan Sang Algojo

Share

Chapter 5: Bayangan Sang Algojo

Penulis: Adelia
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 17:40:24

​Aku terbangun tepat saat cahaya abu-abu fajar menyusup melalui celah gorden kamar hotel yang asing. Kepalaku berdenyut, sisa dari ketegangan semalam yang tidak kunjung surut. Aku menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong, menyadari Arkana benar-benar menepati ucapannya untuk tidak menyentuhku lebih jauh semalam.

​Pukul enam pagi lewat dua menit, aku sudah berdiri di ruang tengah dengan pakaian yang sedikit kusut namun tetap rapi. Arkana sudah di sana, duduk di sofa sambil menyesap kopi hitam tanpa gula, matanya tertuju pada tablet yang menampilkan grafik penurunan saham perusahaanku.

​"Kamu terlambat dua menit dari jadwal bangun yang saya instruksikan di kepala saya," ucapnya tanpa menoleh sedikit pun.

​Aku tidak menjawab, hanya berdiri kaku sambil menunggu instruksi selanjutnya. Pria ini tidak butuh asisten yang pintar menjawab; dia butuh asisten yang patuh dan bisa bergerak cepat.

​Perjalanan menuju kantor terasa seperti menuju tiang gantungan. Begitu kami melangkah masuk ke lobi, semua mata tertuju pada kami. Berita tentang asisten manajer pemasaran yang tiba-tiba mendampingi sang eksekutor menyebar secepat api di atas bensin.

​Rekan-rekan setimku menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca, ada kelegaan karena departemen mereka belum dibubarkan, tapi ada juga kecurigaan yang menusuk. Aku menunduk, berjalan satu langkah di belakang Arkana, merasa seperti pengkhianat di tanah kelahiranku sendiri.

​"Siapkan daftar aset non-produktif di departemenmu," perintah Arkana begitu kami sampai di ruang kerjanya yang baru. "Saya mau dokumennya ada di meja saya sebelum makan siang."

​"Aset non-produktif?" suaraku sedikit bergetar. "Maksud Anda... daftar karyawan yang kinerjanya di bawah standar?"

​Arkana menyandarkan punggungnya, menatapku dengan tatapan bosan. "Jangan memakai bahasa halus, Anindya. Di dunia saya, manusia adalah angka. Jika angka itu merah, maka dia harus dihapus."

​Aku duduk di meja kecil yang disediakan tepat di sudut ruangannya, berhadapan langsung dengan layar laptop yang kini terasa seperti senjata pembunuh. Jemariku membeku di atas keyboard. Bagaimana bisa aku menuliskan nama teman-temanku sendiri?

​Bagaimana bisa aku memasukkan nama Pak Danu yang sebentar lagi pensiun, atau Maya yang baru saja melahirkan? Namun, setiap kali aku ragu, aku melihat map cokelat di sudut meja Arkana, pengingat bahwa jika aku tidak melakukan ini, semua nama itu akan dihapus sekaligus.

​"Pandu menelepon kantormu tadi pagi," suara Arkana tiba-tiba memecah keheningan yang menyesakkan itu.

​Jantungku mencelos. Aku mendongak, menemukan Arkana sedang menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Dia mencari mobilnya. Rupanya dia baru sadar kalau akses pembayaran cicilannya sudah kamu blokir," lanjutnya dengan senyum miring yang menghina.

​"Itu bukan urusan Anda," desisku, merasa privasiku kembali diinjak-injak.

​Arkana bangkit, berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan mejaku. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja, memerangkapku dalam aromanya yang kini mulai terasa familiar.

​"Sekarang itu menjadi urusan saya, karena mulai detik ini, semua beban finansialmu adalah tanggung jawab kontrak kita," ia mengambil ponselnya, lalu menggeser sebuah pesan singkat ke arahku. "Saya sudah melunasi sisa cicilan mobil itu dan menarik unitnya ke gudang saya. Kamu tidak perlu lagi berurusan dengan pria itu."

​Aku ternganga. "Apa? Kamu tidak berhak melakukan itu! Aku tidak minta kamu melunasinya!"

​"Saya tidak suka asisten saya diganggu oleh masalah remeh seperti penagih utang atau mantan kekasih yang tidak tahu diri," ucapnya dengan nada final. "Sekarang, kembali bekerja. Waktu saya terlalu mahal untuk membahas pria yang bahkan tidak bisa membeli cincin tunangannya sendiri."

​Kemarahan dan rasa malu bercampur menjadi satu di dadaku. Di satu sisi, aku merasa sangat lega karena beban itu hilang, tapi di sisi lain, aku sadar bahwa Arkana baru saja memutus satu-satunya ikatan yang tersisa dengan masa laluku untuk menggantinya dengan rantai miliknya.

​Setiap jam yang berlalu di ruangan itu terasa seperti selamanya. Aku harus melihatnya memecat orang-orang dari departemen lain melalui telepon dengan nada yang sangat datar, seolah dia hanya sedang memesan makan siang.

​Saat jam istirahat tiba, ia tidak mengizinkanku keluar. Ia memesan makanan mewah yang dikirim langsung ke ruangan, memaksa kami untuk makan dalam keheningan yang mencekam.

​"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyaku akhirnya, meletakkan garpuku. "Kamu punya segalanya. Kenapa harus menghabiskan waktu untuk menghancurkan perusahaan kecil dan menyiksa orang seperti aku?"

​Arkana menatapku diam, matanya yang sedalam obsidian itu seolah sedang membedah jiwaku. "Karena dunia tidak butuh orang yang terlalu banyak bermimpi, Anindya. Dunia butuh orang yang tahu cara bertahan hidup di antara puing-puing."

​Ia bangkit, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke jalanan Jakarta yang sibuk. "Dan kamu, adalah salah satu dari puing-puing yang menarik untuk diperbaiki."

​Sore harinya, saat kantor mulai sepi, Arkana menutup laptopnya dan mengambil jasnya. "Ikut saya. Kita ada janji temu di luar kantor."

​"Bisnis?" tanyaku singkat.

​"Urusan pribadi," jawabnya tanpa penjelasan lebih lanjut.

​Ia berjalan mendahuluiku menuju lift. Saat pintu lift tertutup, hanya ada kami berdua di ruang sempit yang bergerak turun itu. Keheningan yang tercipta kali ini terasa berbeda, bukan lagi karena takut, tapi karena rasa sesak yang mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

​Begitu sampai di lobi, aku melihat Pandu berdiri di sana, wajahnya merah padam karena marah. Ia tampak ingin merangsek maju begitu melihatku, tapi langkahnya terhenti saat matanya bertemu dengan tatapan dingin Arkana.

​Arkana tidak berhenti, ia hanya merangkul bahuku dengan posesif. "Jalan terus, Anindya," bisiknya di telingaku. "Jangan menoleh pada sampah yang sudah kamu buang."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 77

    Aku turun dari meja marmer rias dengan kaki yang agak bergetar, memunguti jubah mandi sutra hitamku yang berserakan di atas lantai. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, memakai kembali jubah itu, dan meraba kompartemen tas kerjaku. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan salinan dokumen Swiss masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana yang kini berjalan menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh kembali. ​"Aku akan menyelesaikan integrasi bursa itu, Arkana," ucapku dengan suara yang terdengar lebih dalam, lebih sepi, mengalir tanpa riak emosi yang biasa ia gunakan untuk memancing haskatku. "Aku akan memastikan seluruh modal Merlion Ventures masuk ke dalam sistem kita. Tapi ingat satu hal... angka-angka yang kau siapkan di peladen pusat itu bukan lagi rahasiamu sendiri. Kau boleh merasa menang karena telah menguasai

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 76

    ​"Maka seret aku, Arkana! Aku tidak pernah takut mati bersamaku!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak ketenangan kaku yang kubangun sejak rapat komisaris selesai. Aku membalas cengkeramannya pada kulit bahunya dengan kuku-kukuku, merobek sisa kain kemeja hitamnya dengan sisa kekuatan yang kupunya, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. ​Ia tidak memberiku ruang lagi untuk bernapas atau memikirkan penerbangan jam sepuluh pagi menuju Singapura lusa. Arkana membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan tuntutan dominasi yang absolut. Lidahnya menjelajah dengan paksa, menghancurkan seluruh sisa pertahanan psikologis dan logika hukum di kepalaku dalam hitungan detik. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, meronta di bawah kungkungannya dengan keputusasaan yang liar, namun tubuhku, pengkhianat terbesar yang selalu merindukan rasa sakit dari se

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 75

    Ia telah melepaskan jas tiga lapisnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang seluruh kancing atasnya dibiarkan terbuka, mengekspos dada bidangnya yang tegap dan urat lehernya yang menegang halus. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah gelas kristal berisi wiski dengan es batu yang sudah mencair setengahnya. Aroma cendana, tembakau mahal, dan alkohol yang pekat langsung menjajah indra penciumanku, mereduksi pasokan oksigen di sekitarku hingga dadaku terasa sesak. ​Arkana berhenti tepat di belakangku, menatap pantulan kami di cermin rias yang besar. Sepasang matanya yang sedalam palung obsidian menyisir garis leherku yang terekspos, sebelum tatapannya turun dan mengunci ponsel rahasia di atas meja marmer. Seringai tipis, senyum predator yang selalu memicu alarm bahaya di otakkku, perlahan muncul di sudut berduri bibirnya. ​"Kau bahkan tidak mencoba menyembunyikan senjatamu lagi malam ini, Anindya," ucapnya parau, suaranya yang bariton mengalun rendah, bergetar halus di dekat daun telingak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 74

    ​"Penerbanganmu kembali ke Singapura dijadwalkan lusa jam sepuluh pagi, Anindya," ucapnya datar, suaranya sudah kembali sedingin es korporat seolah keintiman brutal beberapa menit lalu tidak pernah terjadi di atas meja rapat ini. "Haryo sudah disingkirkan dari komite keuangan pusat. Sekarang, fokuslah pada penyelesaian integrasi bursa dengan Merlion Ventures, dan pastikan tidak ada lagi kurir swasta yang keluar dari menara ini tanpa sepengetahuan tim keamananku." ​Aku turun dari meja mahoni dengan kaki yang agak bergetar, memunguti pakaianku yang berserakan di atas lantai marmer. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, mengambil blazer abu-abu gelapku yang kini kusut, dan meraba saku dalamnya. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan buku catatan digital dari pengacara Pandu masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 73

    ​"Aku menikmati melihatmu menjadi apa yang seharusnya kau menjadi, Anindya. Seorang penguasa yang tidak lagi memiliki belas kasihan," bisiknya parau, tangan kanannya merayap kasar ke tengkukku, mencengkeram rambutku dengan erat hingga aku terpaksa mendongak menatap matanya yang memancarkan kegelapan mutlak. "Kau marah karena aku mengujimu? Skenario Haryo pagi ini adalah kepastian yang kubutuhkan untuk melihat apakah kau sudah cukup kuat untuk memegang Singapura tanpaku. Dan kau membuktikannya dengan sangat sempurna, Anindya. Kau membenciku, tapi tubuh dan logikamu telah sepenuhnya terbiasa dengan ritme kekuasaanku." ​"Aku membencimu karena kau telah merusak seluruh sisa kemanusiaanku, Arkana!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak riasan tegas yang kupasang sejak subuh. Aku memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. "Kau meranca

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 72

    Aku mengepalkan tangan kiriku di bawah meja mahoni hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku, meminjam rasa sakit fisik untuk mengunci amarah yang murni yang hampir meledak dari balik zirah blazerku. Aku menegakkan punggung, meletakkan pulpen montblanc-ku dengan denting kaku yang memotong seluruh kasak-kusuk di ruangan. ​"Pak Haryo, dan para pengacara yang terhormat," suaraku mengalir jernih, tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup merobek setiap jengkal keangkuhan di wajah mereka. "Dugaan yang Anda bawa ke meja ini hari ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kepanikan yang menggelikan dari sisa-sisa pengikut faksi Baskoro yang takut kehilangan sisa pengaruh mereka di menara ini." ​Aku menekan layar tablet di depanku, memproyeksikan sebuah dokumen legalitas bermaterai internasional langsung ke layar besar di ujung ruangan. "Selisih waktu transaksi yang Anda sebut sebagai 'di luar jam bursa resmi' adalah karena transaksi tersebut dieksekusi menggunakan sistem Over-Th

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 7: Ruang Tanpa Pilihan

    Jarak yang tersisa di antara kami hanya hitungan milimeter. Aku bisa mencium aroma kopi hitam dan mint dari napas Arkana, bercampur dengan wangi maskulin yang kini mulai masuk ke dalam mimpinya setiap malam. Pria ini baru saja mengunci pintu kantor, mengubah ruangan mewah ini menjadi penjara prib

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 6: Meja yang Berjarak

    Suasana kantor pagi ini terasa jauh lebih dingin daripada AC yang menderu di langit-langit. Aku duduk di meja kecilku di sudut ruangan Arkana, mencoba fokus pada layar laptop meski aku tahu puluhan pasang mata sedang membicarakan keberadaanku di balik pintu kaca ini.​Tadi pagi, saat aku

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 2: Algojo Ruang Rapat

    Aku hanya punya waktu tiga jam untuk memejamkan mata dalam ketakutan. Begitu alarm berbunyi, aku langsung mandi air dingin, berharap rasa menggigil ini bisa melunturkan sisa aroma kayu cendana yang masih menempel di kulitku.​Pakaian formal yang kupakai pagi ini terasa seperti baju zirah yang sesak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 1: Gelas Terakhir

    ​"Lagi," kataku pada bartender, sambil menyodorkan gelas martini kosong yang keempat.​Pria di balik bar itu menatapku ragu. "Mbak, ini sudah terlalu banyak untuk satu malam."​"Aku ke sini untuk minum, bukan untuk mendengar khotbah kesehatan," jawabku dingin. Aku tidak butuh simpati dari siapa pun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status