Startseite / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 226. Jangan Terulang Lagi

Teilen

226. Jangan Terulang Lagi

last update Veröffentlichungsdatum: 29.07.2026 20:42:41

"Kamu harus memahami batasanmu sendiri, Ja. Memaksakan otot membesar maksimal justru bakal merusak fisikmu. Memacu kerja jantung berlebihan juga nggak baik. Intinya, jangan berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik!" nasihat Toni.

"Baik, Yah. Aku bakal perhatikan itu," jawab Teja patuh.

Pemuda itu menganggukkan kepalanya perlahan, menanamkan baik-baik setiap kata petuah dari sang ayah ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

Ia sadar betul bahwa pengoptimalan jalur fisik dan
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   334. Puas Sepuas-puasnya

    Tempo hentakan Teja di atas lantai granit tepi kolam semakin menjadi-jadi. Bunyi kecipak basah beradu dengan guncangan tubuh sintal Septa bergema kian riuh, memantul di dinding-dinding kaca ruangan kolam tertutup yang penuh uap hangat tersebut."Ah-ah, nikmat banget, Sayang. Punyamu yang segede ini bikin aku melayang! Uh!" desah Septa histeris dengan leher mendongak tinggi.Dua bongkahan dadanya yang besar berguncang hebat seirama dengan genjotan bertenaga dari pemuda di atasnya. Jemari lentik Septa mencengkeram erat bahu kekar Teja, meninggalkan bekas goresan kemerahan tatkala hantaman milik Teja terus menembus batas terdalam kewanitannya."Ughh... Bu Septa tahan dikit ya, aku percepat lagi nih..." bisik Teja di depan telinga Septa. Pria berambut panjang itu memegangi pinggul padat Septa, menahan posisi janda muda itu agar setiap sodokannya mendarat tepat di titik peka Septa."A-apaa? Tahan sedikit lagi? Oh-oh, tapi aku udah nggak kuat banget, Sayang," jerit Septa semakin tak terk

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   333. Melumpuhkan Saraf

    "Pernah sekali sih, tapi itu sampai bikin lawan mainku hampir pingsan," sahut Teja santai sembari mengelus pelan pinggang mulus Septa yang masih terasa hangat dalam dekapannya.Septa membalikkan tubuhnya perlahan di dalam air, menatap lurus ke dalam manik mata Teja dengan tatapan kesungguhan yang bercampur gairah membara."Aku mau juga bantu kamu, Ja! Nggak apa-apa meski aku sampai pingsan sekalipun. Yang penting aku bisa ikut bahagia pas kamu bisa orgasme," ujar Septa memberikan penawaran yang begitu tulus. Janda muda itu menyatukan jemarinya di belakang tengkuk Teja, seolah siap menyerahkan seluruh sisa tenaganya demi memuaskan pemuda di hadapannya tersebut.Teja terkekeh halus, menyapu sejumput rambut basah yang menempel di pelipis Septa. "Kita lihat nanti ya, Bu Septa."Septa memang sedikit di bawah Nana dan Linda kecantikannya. Tapi, auranya sebagai janda muda yang bertubuh menarik memiliki kesan tersendiri bagi Teja. Lekuk tubuhnya yang matang, kesintalan yang padat, serta keb

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   332. Memang Susah

    Lenguhan Septa terdengar semakin kencang di tengah hangatnya uap kolam. Tubuhnya meliuk-liuk resah saat jemari Teja merayap semakin berani, mengusik area sensitif yang membuat seluruh syaraf di tubuh janda muda itu menegang hebat."Ahh... Ja... Udah, Ja, aku nggak tahan lagi..." rintih Septa dengan napas yang memburu.Wanita berparas jelita itu membalikkan tubuhnya, menatap Teja dengan mata sayu penuh gairah yang sudah membara di puncak ubun-ubun. Jemari lentiknya meraba dada bidang Teja yang basah, menyusuri garis otot kekar itu hingga turun ke bawah, melewati perut kotak-kotak Teja dan berakhir dengan meremas perlahan milik Teja yang menegang besar di dalam air."Masukin sekarang, Ja... pliss, di dalam air hangat ini... Aku pengen ngerasain sensasinya sekarang!" pinta Septa meminta penyatuan tanpa bisa ditahan lagi.Teja memandang paras ayu Septa yang bersimbah uap air dengan senyum miring yang begitu memikat. 'Hm. Bu Septa ini adalah wanita keenam dalam targetku menuju peningkat

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   331. Ukurannya Sudah Kembali

    Tak lama kemudian, Teja tiba di rumah megah Septa. Mobil Pajero Sport putihnya terparkir rapi di pelataran yang dipayungi pepohonan rindang. Pria berambut panjang itu melangkah santai menuju pintu utama yang sudah terbuka sedikit karena memang telah menanti kedatangannya.Janda muda berusia tiga puluh tahun itu menyambut kedatangan Teja dengan gaun tidur satin merah muda yang sangat ketat. Kain mengkilap itu mencetak setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan bentukan bahan halus yang menukik tajam di setiap gundukannya.Payudara Septa yang besar dan kencang nampak menyembul malu-malu di antara celah gaun tidur bagian atasnya. Belahan dada yang ada di sana terlihat begitu curam dan melenakan tatapan mata Teja.Teja menjadi teringat kesintalan tubuh polos Septa saat ia gagahi di ranjang sebelumnya. Bayangan kehangatan dan kehenyalan kulit janda kaya itu kembali terlintas sejenak di benaknya, membuat desiran hawa hangat di dalam dada Teja."Langsung ke kamar atas aja yuk,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   330. Makanan Mewah

    "Baik, Bu. Nanti begitu longgar akan aku kabarin Bu Septa," ucap Teja menutup pembicaraan dengan nada ramah.Teja meletakkan ponselnya di dasbor."Pasien, Jo?" tanya Nana yang duduk di sampingnya."Iya, mau pijet," sahut Teja singkat sembari memfokuskan pandangannya pada jalanan yang mulai padat."Apa kita tunda aja acara makan-makannya? Pekerjaanmu lebih penting, Jo," lanjut Nana penuh rasa pengertian. Gadis itu menatap Teja dengan perhatian yang tulus, tidak ingin kesibukan sang pria idolanya terganggu hanya demi memanjakan mereka."Nggak perlu, Na. Aku tadi udah bilang kalau sudah senggang baru hubungi dia kok," balas Teja menenangkan.Teja melanjutkan mengemudi. Kendaraan bernomor polisi pilihan itu menyusuri jalan protokol kota hingga melaju pelan berbelok masuk ke sebuah area parkir yang sangat luas.Pajero Sport putih Teja memasuki sebuah restoran besar dan terlihat mewah. Bangunan dua lantai berarsitektur modern dengan lampu-lampu gantung besar itu langsung menyapa pandangan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   329. Manusia Hina Dina

    "Masalah ini sebaiknya Pak Yulio saja yang memutuskan," ucap Teja. Pria berambut panjang itu melangkah mundur perlahan, mengembalikan kewenangan eksekutif penuh kepada sang CEO yang berdiri tegap di sampingnya."Pak Yulio, mohon berdiskusi dengan manajer keuangan dan yang lainnya untuk memeriksa sepak terjang dua manajer ini sebelumnya," imbuhnya dengan nada tenang nan tegas.Yulio mengangguk paham. Pengalaman pahitnya hampir terbunuh oleh pengkhianatan keluarga membuat pria berjambang lebat itu semakin peka terhadap potensi kebusukan di dalam lingkar bisnisnya."Kamu mau pulang dulu atau mau ke ruanganku, Ja?" tanya Yulio menatap sahabat sekaligus pemilik separuh saham perusahaannya itu."Aku balik aja, Pak. Oh iya, sekalian aku mau nitip dua sahabatku ini buat ikut wawancara seleksi karyawan," Teja menunjuk ke arah Endro dan Jesen yang masih berdiri mematung kaku di dekat pintu.Yulio menoleh pada Sri, memberikan tatapan dingin yang langsung membuat tubuh wanita paruh baya itu berg

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status