Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 415. Bukan Untuk Itu

Share

415. Bukan Untuk Itu

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-09-08 10:35:16

Maserati Quattroporte hitam milik Teja membelah keheningan malam yang mulai mendingin.

Mobil Teja meluncur cepat malam itu menuju rumah Sari Okta.

Bangunan berarsitektur minimalis modern yang tertata rapi di kawasan perumahan elit kelas atas itu menjadi tempat tinggal sang selebgram papan atas.

Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit mengemudi, kendaraan Teja sudah berbelok memasuki pelataran rumah yang tampak asri tersebut.

Teja mematikan mesin kendaraan, melangkah tegap keluar dari mo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   428. Lebih Ringan

    Teja menghentak sangat brutal untuk mengejar orgasmenya. Pria berambut panjang ala dreadlock itu mencengkeram erat dua pinggul mulus Panda yang masih terangkat di atas matras empuk. Pinggul tegapnya berpacu dalam kecepatan tinggi yang luar biasa, memompa batang raksasanya secara berulang-ulang tanpa henti. Setiap hentakan keras yang ia luncurkan menghantam telak dinding terjauh rahim Panda, memicu suara kocokan basah yang bergema riuh di dalam ruangan tenda yang tertutup rapat.Gejolak energi Qi di dalam saraf perut bawah Teja meledak-ledak bagaikan lahar panas yang menemukan muara penyalurannya. Hawa murni kebiruan bercampur keemasan berpusar kencang di seluruh jaringan tubuhnya siap memompa lonjakan puncak kenikmatannya.“O-oh, Ja. Geli… ohh, kebas banget punyaku. Uhh!“ gadis keturunan Tionghoa berparas Oriental nan jelita itu tak sanggup lagi membendung gejolak nikmat yang kembali menghantam tubuhnya. Meski ia berusaha menyumbat mulutnya sendiri dengan punggung tangan, rintihan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   427. Tak Terbayangkan

    "Nungging, Nda!" perintah Teja sembari sejenak melepas miliknya dari liang legit Panda.Suara lecutan basah bergaung halus tatkala bagian jumbo bongsor milik Teja terbebas dari cengkraman ketat selangkangan sang pesilat cantik. Permukaan kejantanan Teja yang mengkilap basah oleh lelehan pelepasan murni Panda tampak mengacung tegap, dipenuhi tonjolan urat-urat berotot yang memancarkan suhu hangat energi Qi.Panda yang masih terengah-engah usai meluapkan orgasme pertamanya langsung mengangguk patuh. Dengan sisa-sisa tenaga dan ketahanan fisiknya yang masih ada, gadis keturunan Tionghoa itu membalikkan tubuh mulusnya di atas matras empuk.Panda merangkak, mengangkat belahan bokong sekalnya yang kenyal tinggi-tinggi ke udara. Kain lingerie hijau transparan yang tersingkap ke atas memamerkan keindahan punggung mulusnya yang meliuk anggun serta belahan paha padat dan celah liangnya yang masih merekah basah kemerahan.Teja bergerak merapat di belakang pinggul Panda. Tangan kekarnya memega

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   426. Detik-detik Penting

    “Iya, Teja... masukkan sekarang, Sayang. Aku udah nggak tahan lagi," bisik Panda dengan suara yang hampir tak terdengar, diiringi anggukan pasrah dan tatapan mata sipitnya yang berbinar penuh gairah.Dengan memegang erat dua pinggul mulus Panda yang dilapisi kain hijau transparan, Teja memajukan pinggul tegapnya dalam satu dorongan yang bertenaga. Batang raksasa milik sang master pijag muda yang sudah memerah hangat dan membesar maksimal mulai menerobos celah kenikmatan milik gadis keturunan Tionghoa tersebut.Ukurannya yang luar biasa jumbo seketika meregangkan dinding kewanitaan Panda hingga batas optimal. Meski cairan pelumas alami dari gairah Panda melimpah ruah, rasa penuh yang mengganjal amat padat di dalam sana membuat pinggul Panda terangkat kecil.Ukuran keperkasaan Teja yang berada di luar nalar memang tak bisa terbenam secara utuh tanpa membahayakan organ dalam wanitanya. Sejauh ini, hanya milik Sari Okta yang bisa menelan ukuran besar miliknya secara maksimal. Di urutan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   425. Khawatir Terdengar

    Panda yang sering merasa kesepian di toko herbalnya segera bergerak agresif.Gadis keturunan Tionghoa berparas Oriental nan jelita itu memang merindukan momen-momen kehangatan seperti ini. Hari-harinya yang sunyi di antara deretan toples akar-akaran dan aroma jamu kering seketika sirna setiap kali ia berada di dalam dekapan Teja. Dengan gelegak gairah yang meluap-luap serta keinginan untuk memanjakan pria gagahnya itu, Panda mengambil inisiatif untuk melakukan serangan terlebih dahulu.Panda merayap di hadapan Teja yang kini berlutut tegap di dalam ruangan tenda yang hangat. Tangannya yang mulus dan halus merogoh pinggang celana panjang hitam Teja.Ia oun melucuti celana Teja dengqn gerakan agak tergesa dan memburu.Celana panjang dan celana dalam Teja meluncur turun ke batas lutut dalam sekali tarik. Benda raksasa milik sang master pijat muda seketika terbebas penuh di udara, tegang kokoh, memerah hangat, dan mengkilap oleh dorongan pembuluh darah di bawah kulitnya.Ukuran terbesa

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   424. Membaca Pikiran

    Di tengah gelapnya malam puncak gunung Hutan Camar Hitam, hanya mengandalkan cahaya api unggun yang berkobar lembut menghalau hawa dingin, Teja mulai bergerak melatih bela diri fisiknya.Pria berambut panjang ala dreadlock itu menanggalkan pakaian atasnya, membiarkan raga tegapnya yang dipenuhi otot kokoh terpapar langsung oleh tiupan angin malam pegunungan yang menusuk tulang. Namun, bukannya menggigil, permukaan kulit Teja justru memancarkan uap hangat tipis. Pendar energi Qi kebiruan bercampur keemasan bergejolak hebat di dalam pusat energi di perut bawahnya, mengalir deras membasahi seluruh saluran saraf di dalam tubuhnya.Jurus demi jurus ia lancarkan di atas batuan cadas puncak.'Langkah kaki harus lebih kokoh... tekanan udara di puncak ini benar-benar membebaniku,' gumam Teja seorang diri di sela-sela sapuan kakinya.Gerakan Teja semula mengalir begitu tenang bagaikan hisapan angin malam, lalu mendadak berubah menjadi sabetan-sabetan mematikan berkecepatan tinggi yang membela

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   423. Tiga Tenda

    Usai kegentingan melawan kawanan serigala mereda, rombongan kecil itu kembali mengayunkan langkah menerobos ketebalan malam. Suasana Hutan Camar Hitam kini terasa jauh lebih tenang dan tenteram. Sang buaya putih berjalan merayap di garis depan membuka jalur, sementara pasangan singa jantan dan betina mengapit di sisi kiri dan kanan, mengawal langkah Teja, Linda, Panda, dan Sari Okta dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Kehadiran tiga binatang pemangsa puncak itu secara kuat membungkam semua ancaman monster hutan lainnya yang berada di sekitar lintasan.Sari Okta yang semula dicekat ketakutan hebat perlahan mulai merasa aman. Melihat bagaimana sepasang singa raksasa itu melangkah patuh di samping Teja, rasa takjub di dalam dada sang selebgram cantik kian membuncah.Rombongan meniti jalur pendakian yang semakin terjal. Sudut kemiringan tanah yang menanjak curam serta paparan angin malam yang bertiup kencang memaksa stamina Linda, Panda, dan Sari Okta bekerja pada tingkat optimal.Pun

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status