Mag-log inUsai kegentingan melawan kawanan serigala mereda, rombongan kecil itu kembali mengayunkan langkah menerobos ketebalan malam. Suasana Hutan Camar Hitam kini terasa jauh lebih tenang dan tenteram. Sang buaya putih berjalan merayap di garis depan membuka jalur, sementara pasangan singa jantan dan betina mengapit di sisi kiri dan kanan, mengawal langkah Teja, Linda, Panda, dan Sari Okta dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Kehadiran tiga binatang pemangsa puncak itu secara kuat membungkam semua ancaman monster hutan lainnya yang berada di sekitar lintasan.Sari Okta yang semula dicekat ketakutan hebat perlahan mulai merasa aman. Melihat bagaimana sepasang singa raksasa itu melangkah patuh di samping Teja, rasa takjub di dalam dada sang selebgram cantik kian membuncah.Rombongan meniti jalur pendakian yang semakin terjal. Sudut kemiringan tanah yang menanjak curam serta paparan angin malam yang bertiup kencang memaksa stamina Linda, Panda, dan Sari Okta bekerja pada tingkat optimal.Pun
Aroma yang lebih pekat dan menakutkan muncul dari arah sana.Sari Okta menolehkan kepalanya secara perlahan ke arah semak di sebelah kirinya.Seketika itu juga matanya melotot luar biasa!Dua ekor singa raksasa berukuran melebihi tubuh serigala, dengan bulu surai keemasan dan sepasang taring melengkung bagaikan pedang ganda tampak melangkah keluar dari kegelapan.Mata kuning mereka melotot tajam, mengunci lurus raga mulus Sari Okta yang berada dalam jarak kurang dari dua meter dari posisi keduanya berada.Napas sang selebgram cantik seketika terhenti. Seluruh persendian tubuhnya membeku kaku bagaikan batu, sementara pandangan matanya berkunang-kunang hebat akibat lonjakan rasa takut yang melompati batas kemampuan mentalnya.“Si-singa! Ada Singa! Astaga, makin runyam!“Namun Linda dan Panda yang mengenali pasangan singa itu justru tersenyum dan segera mendekat ke arah dimana Sari Okta berada."Tenang, Sar! Jangan panik!" seru Linda dengan nada tenang sembari menepuk lembut bahu Sari Ok
Pertarungan berjalan sengit. Linda dan Panda sangat lincah tapi tetap butuh waktu untuk mengatasi satu per satu serigala karena ketahanan fisik monster purba tersebut yang teramat tangguh.Sementara itu, Teja bergerak bagaikan dewa kematian di garis depan."Maju kalian semua!" sentak Teja nyaring.Teja melesat secepat kilat, menerobos kerumunan pemangsa. Belati baja di tangan kirinya menyambar secepat kilat, memotong urat leher dua serigala sekaligus, sementara telapak tangan kanannya yang terbalut hawa murni Qi keemasan dihantamkan tepat ke kepala serigala ketiga hingga hancur berkeping-keping.Di samping Teja, sang buaya putih mengamuk buas. Ekor bajanya melesat memutar, menghempaskan tiga serigala raksasa hingga tubuh mereka melayang dan hancur menabrak tebing batu. Sisa-sisa kawanan serigala yang terluka parah melolong ketakutan, melangkah mundur perlahan membelakangi arena pertempuran yang sudah dibanjiri darah."Cuma segini kemampuan kalian?!" ejek Panda sembari mengusap kerin
"Dia sahabatku, Sar. Binatang tiga meter ini sudah jinak sama aku," tutur Teja santai.Pria berambut gondrong ala dreadlock itu terus mengusap moncong tebal bersisik perak sang buaya putih. Sentuhan telapak tangannya yang hangat bagaikan memberikan ketenangan mutlak bagi sang reptil raksasa, membuat hewan ganas itu menundukkan kepalanya makin rapat di samping paha Teja.Janda muda berparas cantik jelita itu menelan ludah dengan susah payah. Meskipun ia menyaksikan sendiri bagaimana reptil raksasa itu tunduk dan bertingkah menggemaskan di bawah cengkraman Teja, ukuran tubuhnya yang fantastis serta ingatan saat buaya itu membantai sang lipan raksasa dalam hitungan detik masih menyisakan getaran merinding di sekujur raganya."Kamu tenang saja, Sar. Dia nggak bakal melukaimu selama ada aku," tambah Teja sembari menyunggingkan senyum menenangkan."I-iya, Ja... Tapi aku tetep nggak berani deket sama dia," bisik Sari Okta jujur dengan senyuman canggung, memilih bersembunyi di balik bahu te
Teja melangkah maju beberapa hasta, menggeser posisinya untuk melindungi Linda, Panda, dan Sari Okta di belakang punggung tegapnya. Pria berambut panjang ala dreadlock itu memasang kuda-kuda kokoh tatkala lipan raksasa berukuran sebesar tubuh manusia itu meliuk penuh ancaman di atas celah cadas.Teja melesat cepat, melayangkan satu sabetan belati baja kerasnya tepat ke arah segmen tubuh bagian depan sang monster. Namun, bukannya menembus daging, bilah tajam itu justru memercikkan bunga api saat menghantam cangkang luar lipan tersebut. Kulit berlapis-lapis milik monster melata itu begitu keras dan tebal, memancarkan kilau keabu-abuan dengan kerapatan sel yang tak ubahnya lembaran seng tempaan.Lipan itu mendesis nyaring, mengatupkan sepasang capit besarnya yang meneteskan lendir beracun.Monster itu memiliki kecerdikan bertarung yang teramat culas. Meskipun bagian kepalanya terus berhadapan dan menahan gempuran Teja dari depan, tubuh panjangnya yang meliuk fleksibel secara acak mel
Durasi waktu menuju puncak gunung sesuai pengalaman dari pertandingan adalah sekitar setengah hari. Jika siang itu mereka berjalan, maka tengah malam nanti mereka akan tiba di sana.Mereka mulai menyusuri kedalaman hutan yang tak umum karena semua tanamannya tumbuh melebihi tumbuhan normal.Langkah kaki mereka disambut oleh pemandangan rimba purba yang teramat ganjil. Batang-batang pohon pinus dan beringin raksasa menjulang tinggi hingga puluhan meter, menghalangi hampir seluruh paparan sinar matahari siang dan menciptakan suasana temaram yang lembap di bawah pepohonan. Pakis-pakisan liar tumbuh merimbun setinggi dada manusia, sementara rumput dan akar-akar tua menjalar tebal dengan diameter sebesar lengan pria dewasa.Aroma tanah basah berpadu dengan uap hawa murni pegunungan yang sangat pekat, memberikan sensasi hangat yang menyengat halus di dalam pembuluh darah Teja."Gila... Pohon-pohon di sini gede-gede banget!" celetuk Sari Okta sembari mengatur hembusan napasnya. Meskipun b
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







