Masuk"Kenapa perkebunan ini nggak dikelola sama suami aja, Mbak?" pancing Teja.Pria berambut gondrong itu menyunggingkan senyuman tipis, melemparkan pertanyaan bernada gurauan halus untuk mencairkan suasana hening yang sempat membungkus teras berlantai papan kayu tersebut. Sepasang mata keemasannya menatap lekat paras tegas Berliana yang tampak tenang di bawah sinar matahari sore."Haha, boro-boro punya suami, Ja, kenal cowok luar aja jarang kalau udah kerja militer gitu," sahut Berliana tertawa lepas.Tawa renyah meluncur dari bibir tebal berwujud eksotis milik wanita berpangkat tentara itu. Garis-garis ketegangan di wajah ayunya seketika terkikis, menggantikan kepedihan masa lalu dengan keceriaan alami.Teja mengangguk dan merasa cukup lega karena tak perlu memijat istri orang yang bisa berujung salah paham.Sebagai master pijat legendaris yang memegang teguh prinsip kehormatan dan keselamatan profesinya, memijat wanita berstatus istri orang selalu memiliki potensi risiko konflik sosi
Teja melangkah ke teras yang berlantai papan kayu.Derap langkah tegapnya memicu derit halus dari papan kayu jati tua yang tertata rapi di pelataran teras. Angin sore perbatasan kota yang membawa aroma dedaunan basah dan tanah perkebunan berhembus sejuk, menyibak helai-helai rambut gondrong ala dreadlock Teja yang terikat rapi. Sepasang mata keemasan sang master muda menatap lurus ke arah pintu ukir semi kuno yang terbuka perlahan dari dalam.Seorang wanita muncul dari dalam rumah menyambutnya. Usianya sekitar 25 hingga 27 tahun.Tatapannya tajam, rambutnya lebih pendek dari gaya rambut bob Bianca, tubuhnya tegap seperti sudah terbiasa bekerja keras.Wanita itu melangkah keluar gestur penuh ketegasan. Balutan kaos polos ketat berwarna hijau zaitun melingkupi bagian atas tubuhnya, menunjukkan dengan jelas kerapatan serat otot bahu, dada bidang yang membusung kencang, serta lengan tegap yang padat berisi. Potongan rambut bondol pendeknya terpotong sangat rapi, membingkai garis rahan
"Kalau kamu tanya ayah, ayah pasti berharap angka seratus persen buat kemenanganmu," tutur Toni penuh harap."Tapi… ini semua kembali sama kamu, Nak. Kamu yang menjalaninya, dan kamu juga harus ingat kalau keluarga besar Johar itu adalah keluarga bela diri yang terus lestari dari generasi ke generasi," lanjut Toni memberi penekanan.Reputasi keluarga Johar di Jakarta memang bukanlah sekadar gertakan kosong. Sebagai keturunan langsung dari dinasti praktisi bela diri tempo dulu yang menguasai berbagai cabang pertarungan selama berdekade-dekade, Johar dipastikan memiliki simpanan teknik rahasia dan daya gempur yang teramat mematikan.Teja mengangguk dan membulatkan tekad agar bisa memenuhi harapan sang ayah, para kekasihnya, dan juga dirinya sendiri."Ya udah, balik kamar yuk, Ja. Jangan lupa, terus latih pernapasan di mana pun kamu berada, meski sambil rebahan mau tidur sekalipun," imbau Toni sembari menyunggingkan senyuman teduh."Iya, Yah. Pasti," pungkas Teja rendah dengan suara ser
Teja memutar tubuhnya menghadap kolam renang.Pria berambut gondrong ala dreadlock itu menggeser pijakan kedua kakinya sedikit merenggang, mengunci posisi tubuh tegapnya di atas lantai batu alam di pinggir kolam. Angin malam yang bertiup sepoi-sepoi membuat kaos ketat tebal berwarna gelap yang melekat di dada berototnya melekat semakin kencang, menampilkan kerapatan fisik dari seorang ahli bela diri tingkat ahli tahap fondasi yang begitu sempurna.Sepasang mata tajam Teja menusuk lurus menembus permukaan air kolam renang pribadinya yang membias warna biru jernih di bawah temaram pendar lampu taman. Seluruh gangguan pikiran di sekelilingnya mendadak sirna. Keheningan batin yang sempurna membungkus raga sang master pijat muda legendaris tersebut.Ia menarik napas untuk melakukan pernapasan tenaga dalam, kemudian mengangkat satu telapak tangan menghadap lurus ke permukaan air kolam renang.Aliran udara di sekeliling jemari kekar Teja seketika mengalami distorsi. Di dalam aliran energi
"Baru pulang, Ja?" sambut Toni di ruang tengah saat Teja baru melangkahkan kaki memasuki rumah megahnya.Suara berat dan hangat milik sang ayah bergaung lembut di tengah kemewahan ruang tamu berarsitektur klasik modern tersebut. Toni yang mengenakan pakaian santai tampak duduk tenang di atas sofa kulit, menatap putra semata wayangnya."Iya, Yah. Barusan nganter Nana pulang," jawab Teja santai sembari menyunggingkan senyum tipis."Kamu bersih-bersih dulu deh, terus makan malam sana, itu udah ayah siapin. Habis itu ayah tunggu di pinggir kolam renang," ujar Toni sembari bangkit dari kursi dan melangkah tegas menuju pintu belakang rumah mereka.Teja mengangguk dan berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga.Di dalam kamarnya yang luas di lantai tiga, Teja melepas celana kasual serta kaos ketat hitamnya, membasuh wajah serta menyegarkan tubuhnya di kamar mandi. Rasa lengket dari sisa gel pijag beraroma lavender tersapu bersih oleh air dingin, menyisakan aroma wangi sabu
Teja mencengkeram erat pinggul mulus Nana yang menungging sensual. Pria bertubuh tegap itu memompa pinggulnya maju dan mundur secara beruntun dan maksimal."Uhh... Jo! Hentakanmu beneran bikin gila... AHH!" jerit Nana begitu bingar sembari menempelkan dada ranum dan wajah ayunya di atas kasur empuk.Posisi menungging sempurna ini membuat batang keperkasaan Teja yang terbesar se-Indonesia menghujam semakin jauh ke dalam rahim Nana. Meski hanya separuh panjang batang perkasanya yang sanggup tertampung di dalam sana, sudut tancapan dari arah belakang itu menekan persis di pusat saraf paling peka milik sang penyanyi cantik.Setiap kali pinggul Teja bergerak melesak ke depan, dua gumpalan bokong kenyal di bagian belakang tubuh Nana bergetar hebat. Punggung mulusnya yang basah oleh peluh dingin tampak melengkung kaku.Teja semakin meningkatkan tempo pendorongannya. Pria berambut gondrong ala dreadlock itu memiringkan sedikit ayunan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menggosokkan seluruh pe
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih







