เข้าสู่ระบบPagi mendekati subuh, Toni tiba di bandara. Langkah kaki pria paruh baya itu terlihat tergesa-gesa tatkala keluar dari pintu kedatangan bandara. Raut wajahnya dipenuhi rasa cemas, membayangkan kondisi putra semata wayangnya yang kini tengah terbaring lemah. Buan dan Budi yang sudah menanti di pelataran penjemputan segera melangkah sigap menyambut kedatangan rombongan tersebut.Tak hanya sendiri, Toni ditemani oleh kekasih pertama dan kedua Teja yakni Nana dan Linda. Selain itu, Bintang dan Pedro yang merupakan tangan kanan Teja di kota asal juga ikut mengawal Toni.Nana dan Linda berjalan persis di samping Toni dengan wajah yang tak kalah cemas. Dua gadis cantik dari kampung halaman Teja itu tak mampu menyembunyikan kebingungan dan rasa takut kehilangan yang membakar dada mereka sejak menerima kabar buruk dari Jakarta. Sementara itu, Bintang dan Pedro berjalan tegap mengapit di belakang, menjaga keselamatan Toni serta para wanita dengan kewaspadaan penuh."Selamat datang di Jakart
"Kamu kekasihnya Teja juga?" Bianca membeo.Suara putri pengusaha perhotelan itu terdengar sedikit bergetar, menahan gejolak rasa tak percaya sekaligus cemburu yang mendadak menjejali rongga dadanya. Matanya bergantian menatap tubuh Teja yang terbaring lemas dan sosok Berliana yang berdiri begitu tegap dan anggun di samping ranjang."Sebaiknya hal itu kita bahas nanti saja. Yang paling penting sekarang kita harus kompak buat kesembuhan Teja dulu," ucap Berliana bijak.Usianya yang berada lima tahun di atas Teja dan Bianca membuatnya jauh lebih mampu berpikir tenang dan dewasa dalam mengendalikan situasi. Berliana memegang pundak Bianca pelan, menyalurkan ketenangan agar emosi di antara mereka tak memecah fokus utama malam itu.Bianca terpaksa mengangguk dan menyimpan kegundahan hatinya untuk sementara waktu.Wanita berambut bob pendek itu menghembuskan napas berat, menyingkirkan sejenak ego asmaranya demi keselamatan pria yang sangat dicintainya. Ia menggeser posisinya mendekati ra
Teja tergolek tak sadarkan diri di atas sebuah ranjang rumah sakit.Ruangan perawatan kelas VIP di Rumah Sakit Militer Jakarta itu terasa begitu hening dan dingin. Di sekelilingnya ada Buan, Budi, dan Berliana yang menatapnya dengan frustrasi. Bau obat-obatan dan antiseptik memenuhi ruangan, berpadu dengan ketegangan dari ketiga orang tersebut.Pemuda bertubuh tegap itu terbaring kaku dengan selang infus dan alat pemantau detak jantung yang terpasang di tubuhnya.Pakaian hitam yang dikenakannya saat pertarungan telah diganti dengan pakaian pasien berwarna putih bersih. Namun, di balik bagian dada kemeja pasien yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, nampak luka memar menghitam. Pukulan dari dua telapak tangan Joharsyah tidak hanya menghancurkan pintu jati kediaman itu, tetapi juga mengacaukan kembali susunan aliran tenaga dalam serta merusak jaringan otot di dada Teja sangat parah."Untung saja tadi Komandan Berliana dan pasukannya datang tepat waktu dan menghentikan kebuasan Joha
Teja dan dua tangan kanannya menghentikan langkah. Seorang pria tua berambut dan berjenggot serba putih muncul dari bagian dalam rumah. Diperkirakan usianya sudah di atas delapan puluh tahun.Pria tua itu mengenakan beskap dan blangkon tradisional berdesain batik gelap. Meskipun usianya sudah sangat senja, postur tubuhnya masih tampak kokoh dan gesit.Setiap langkah kakinya di atas lantai keramik seolah menyebarkan tekanan udara yang berat di sekeliling ruangan perjamuan."Siapa kamu?" tanya Teja. Pemuda bertubuh tegap itu menatap pada sosok sesepuh yang baru muncul tersebut. Buan dan Budi di sampingnya seketika memperketat kewaspadaan, merasakan adanya bahaya baru yang jauh lebih besar dari keberadaan Johar sebelumnya."Aku Joharsyah, kakek sekaligus yang paling senior di keluarga ini," jawab pria tua itu dengan tekanan suara yang dalam dan berat.Joharsyah menghentikan langkahnya tepat di samping tubuh Johar yang masih terbaring lemah. Pandangan matanya menyapu kondisi cucunya ya
Teja maju memburu lagi. Langkah kaki pemuda bertubuh tegap itu membelah lantai keramik dengan kecepatan yang sukar dipercaya. Hawa murni berwarna biru keemasan membungkus rapat seluruh raga tegapnya, memancarkan tekanan atmosfer yang begitu berat hingga membuat puluhan tamu undangan tertahan napasnya."Kali ini balasan buat serangan yang tadi bikin dua tanganku lemas!" seru Teja tegas.Teja melakukan pukulan melingkar mengincar dua tangan Johar.KRAK!Dua pukulan beruntun yang dialiri tumpuan hawa murni tingkat lima lebih sepertiga itu mendarat telak di persendian siku dan lengan Johar. Benturan dahsyat tersebut menghancurkan tulang dan jaringan otot sang pimpinan keluarga dalam sekejap mata.Tak hanya lemas, dua tangan Johar langsung patah saat itu juga.Kedua lengan milik Johar kini terkulai ke bawah dalam sudut yang tak wajar. Tulang-tulang di lengannya patah, tak sanggup lagi menahan gempuran tenaga dalam Teja yang begitu kuat."Arghh!" Johar meraung kesakitan dengan pikiran ma
"Waktu habis, Anak Muda. Sudah waktunya kau bertemu ajalmu," ucap Johar sembari melompat, mengarahkan tinju bersalut aura merah energi Qi-nya ke arah tempurung kepala Teja. Gerakannya menunjukkan keyakinan diri tinggi.Pria paruh baya itu meluncur dari udara dengan wajah yang dipenuhi senyum kemenangan. Hantaman hawa murni berwarna merah pekat membungkus rapat kepalan tangan kanannya, memicu tekanan udara yang cukup berat dan mematikan, mengincar kepala pemuda yang terbaring lunglai di atas lantai tersebut.DUAR!Tinju Johar membentur, namun bukan pada kepala Teja, melainkan pada lantai keramik yang langsung rusak porak-poranda terkena pukulan itu. Tubuh Teja sudah menghilang dari sana!Pecahan keramik dan debu tebal tercipta seketika di titik benturan. Johar merasakan tinjunya hanya menghantam udara kosong."Ke-kemana dia?!" pekik Johar kaget setengah mati.Mata pria paruh baya itu membelalak lebar. Rasa percaya diri yang tinggi seketika sirna digantikan oleh kepanikan yang luar bia
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







