INICIAR SESIÓNTeja perlahan menjauhkan wajahnya dari paha mulus Berliana usai menelan tuntas lelehan nikmat wanitanya. Pemuda bertubuh tegap itu memanjat naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuh berototnya terlentang di tengah peraduan sembari menatap penuh kehangatan pada sang perwira TNI yang masih terkulai pasrah memburu napas.Berliana mengerjapkan matanya yang redup dan sayu. Sisa-sisa kejutan orgasme pertama masih membuat otot-otot pahanya bergetar halus. Namun, tatkala matanya mendapati keperkasaan Teja yang berdiri tegak, keras, dan siap bertempur di samping pinggulnya, gelombang gairah baru seketika kembali membakar relung batin sang wanita."Kamu sudah siap, kan, Sayang?" bisik Berliana dengan nada suara manja.Berliana mengumpulkan kembali sisa tenaganya. Dengan pergerakan yang anggun dan sensual, perwira militer berambut bondol pendek itu memindahkan tubuh moleknya hingga berada tepat di atas perut enam persegi milik Teja. Rambut pendeknya yang berantakan memberikan kesan liar da
Teja memegang lembut kedua bahu mulus Berliana, membantunya berdiri dari posisi berlutut di atas karpet empuk. Wajah cantik perwira TNI itu tampak memerah dengan bibir basah yang merekah, memancarkan pesona kewanitaan yang begitu menggoda di bawah cahaya lampu kamar.Teja menatap sepasang mata Berliana yang berbinar sayu. Tanpa menunggu lebih lama, ia mendorong pelan tubuh molek sang kekasih hingga terlentang di atas kasur empuk berseprai putih bersih."Sekarang giliran aku yang memanjakan kamu, Berli," bisik Teja penuh pengertian dan perhatian.Berliana meliukkan tubuhnya pelan, merentangkan kedua kakinya yang jenjang. Matanya menatap Teja yang kini merangkak perlahan di antara kedua pahanya."Te-teja... pelan-pelan, Sayang. Ini yang pertama buatku..." desah Berliana halus, kedua tangannya mencengkeram erat seprai kasur saat merasakan helaan napas hangat Teja mulai menyapu permukaan kulit paha bagian dalamnya.Teja tidak langsung menyerang pusat kepekaan Berliana. Pemuda bertubuh t
Dalam keheningan ruang makan, keduanya kembali menyatukan bibir.Berliana mempererat lilitan lengannya di tengkuk Teja, menikmati tiap lumatan hangat yang disalurkan pemuda berambut gondrong tersebut. Teja merengkuh erat pinggang ramping Berliana, membiarkan gelombang gairah meluap sepenuhnya di antara mereka.Teja lalu membopong tubuh wanita cantik berambut bondol pendek itu sembari menatap dalam-dalam sepasang matanya."Kamar kamu di mana, Berli?" bisik Teja dengan suara rendah yang sarat akan hasrat.Berliana yang berada dalam dekapan tegap Teja hanya bisa tersenyum tipis dengan binar mata yang sayu. Jemari lentiknya terulur menunjuk ke arah lorong pendek di samping ruang tengah."Pintu kayu di sebelah kanan, Sayang... Bawa aku ke sana," balas Berliana dengan desahan pelan.Tanpa menurunkan sedikit pun dekapan di badannya, Teja melangkah tegap memotong lorong rumah singgah tersebut. Setiap pijakan kakinya tenang, menahan bobot padat dan ideal milik sang perwira TNI tanpa rasa be
Berliana meletakkan kunci mobilnya di atas meja ruang tamu, lalu membalikkan badan menatap Teja. Senyuman manis dan hangat terukir di wajah cantiknya."Hari ini aku mau masak yang spesial buat kamu, Ja. Kamu duduk santai saja di ruang tengah ya," ujar Berliana sembari melepas sepatu dan melangkah santai menuju dapur bersihnya.Namun, Teja tidak berniat sedikit pun untuk duduk sendirian di ruang tengah. Pemuda bertubuh tegap itu justru mengekor rapat dari belakang. Begitu Berliana mengambil apron berwarna cokelat muda di dekat kulkas, Teja langsung melangkah mendekat dari arah belakang dan melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang ramping perwira TNI cantik tersebut."Siapa yang mau duduk di depan kalau ada pemandangan seindah ini di dapur?" bisik Teja lembut tepat di samping telinga Berliana.Teja mendaratkan kecupan-kecupan hangat di ceruk leher Berliana, menyerap aroma wewangian lembut khas yang selalu membuatnya tergila-gila. Berliana terkekeh pelan, kepalanya sedikit mirin
Karena kondisi sudah sangat kondusif, keesokan paginya Toni, Nana, Linda, Bintang, dan Pedro kembali ke Surabaya.Suasana di pelataran kediaman Jim pagi itu diselimuti rasa hangat. Setelah memastikan keadaan Jakarta benar-benar aman dari sisa ancaman keluarga Johar, rombongan dari daerah tersebut berpamitan untuk kembali.Pelukan hangat dan pesan-pesan kasih sayang melayang tenang di antara para wanita sebelum akhirnya kendaraan operasional mengantar mereka menuju bandara.Teja tetap berada di kota Jakarta untuk memeriksa arus pekerjaan SPN bersama Buan dan Budi.Pemuda berambut gondrong itu kini duduk tegap di dalam ruang kerja utama kantor cabang SPN Jakarta. Lembar demi lembar berkas administrasi, daftar klien, hingga laporan rekam jejak para anggota pengamanan swasta di bawah naungannya diperiksa dengan cermat."Pastikan para sekuriti yang dikirim ke berbagai perusahaan itu sudah sepenuhnya mengantongi sertifikat kelayakan, Pak Budi, Pak Buan. Kita bekerja secara resmi dan harus
Tawa bangga dan desah napas lega seketika membumbung di ruang tamu mewah tersebut. Bianca dan Nana langsung memeluk lengan Teja erat-erat, memandangi kekasih mereka dengan binar kebanggaan yang sangat. Linda tersenyum manis sembari mengelus bahu Teja, sementara Berliana menyunggingkan senyum tipis nan anggun, merasa lega luar biasa karena ancaman terbesar di Jakarta telah ditumbangkan."Luar biasa... Teja, kamu benar-benar membuatku terkagum-kagum," puji Jim menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa hormat.Toni yang sejak tadi diam menyandarkan punggungnya akhirnya terkekeh pelan. "Bagaimana, Pak Buan? Tidak rugi kan aku terbang jauh-jauh dari Surabaya?""Sama sekali tidak rugi, Pak Toni! Ini pemandangan paling memuaskan yang pernah saya lihat sepanjang hidup!" sahut Buan tertawa lebar."Lalu bagaimana nasib keluarga mereka sekarang, Ja?" tanya Berliana mengalihkan fokus pembicaraan pada kepastian konflik.Teja membetulkan posisi duduknya, menatap Berliana dan Jim dengan pandangan
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan







